
Pertemuanku dengan rombongan ksatria Pedang Kabut Emas membuahkan hasil tak terduga.
Siapa yang menyangka mereka justru memberikan tawaran sedermawan itu kepada seorang kriminal sepertiku?
Yah, semua karena kekuatan dan keberanianku yang menghancurkan keluarga bangsawan.
Alsain—Sain berkata dia dan rombongannya akan beristirahat di penginapan malam ini sebelum berangkat kembali menuju ibukota.
Aku penasaran, mereka sebenarnya ordo ksatria atau pembawa pesan?
Aku sedikit kasihan terhadap mereka yang jauh-jauh datang dari ibukota hanya untuk memberikan tawaran seperti itu.
Mungkin ada baiknya aku memberikan ponsel kepada Sain besok agar kami dapat lebih mudah berkomunikasi.
Lagipula, tidak mungkin aku pergi ke ibukota Gilard, Castelan, setiap kali ingin melapor atau berkonsultasi.
Setelah makan malam selesai aku memanggil Risa untuk berbicara serius.
"Aku akan pergi dalam dua atau tiga hari lagi," kataku berat.
Risa nampak sedikit terkejut tetapi segera memasang senyum dan duduk di sebelahku. "Kenapa kamu membuat wajah enggan seperti itu? Bukankah kamu memang sedang dalam perjalanan dan hanya singgah di kota ini sebentar?"
Ah, jadi dia memang sadar niatku, ya.
Yah, kurasa tidak perlu heran mengingat Risa sudah berusia di atas 20 tahun.
Dia memang seorang wanita dewasa.
"Aku hanya merasa berat meninggalkan anak-anak." Aku tertawa kecil. "Maksudku, mereka mungkin akan menangis dan merengek agar aku tidak pergi."
"Bukan mungkin tapi pasti," ujar Risa ikut tertawa.
Kami berbincang sejenak mengenai anak-anak dan kondisi panti.
Berkat Repair bangunan panti yang awalnya bobrok dan bisa rubuh kapan saja dapat ditinggali secara layak dan aman.
Halaman panti juga sudah lumayan bersih berkat kerja keras anak-anak memotong dan membersihkan rumput panjang.
Mereka juga membuat kebun kecil di halaman belakang untuk sumber pangan darurat jika saja hal serupa terjadi lagi di Rosel.
Aku bukan ingin sombong, tapi kenyataannya kehidupan anak panti belakangan ini cukup membaik karena kedatanganku.
Gizi mereka juga terpenuhi berkat masakanku.
Memang benar terdapat sebagian anak yang masih kurus tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain merawat dan memberi mereka makanan bergizi semampuku.
Aku ingin tinggal dan membantu mereka lebih lama lagi tetapi jika aku berlama-lama di sini, selain dimarahi oleh Gisele aku juga tidak bisa mencapai tempat tujuanku tepat waktu.
Aku harus segera bergerak sebelum serangan Raja Kekacauan menghapus Gilard dari peta.
"Oh, ya, Risa." Aku menarik tangan Risa dan menyerahkan sepuluh koin emas. "Ambil ini."
__ADS_1
Risa seketika terbelalak dan hendak mengembalikan namun aku menahan tangannya. "Fain, apa yang kamu lakukan?! Aku tidak mungkin menerima semua ini secara cuma-cuma!"
"Tidak tidak, aku tak memberimu tanpa mengharapkan balasan!" Aku segera menahan Risa ketika dia berniat kabur dan berusaha mengembalikan koin-koin emas tersebut.
Dia seketika terdiam lalu duduk kembali di sebelahku dengan wajah memerah.
"Kalau begitu ... bilang sejak awal ...." Risa berkata sebelum mulai melepas baju—bukan itu!
Aku buru-buru menghentikan Risa. "Apa yang kamu lakukan? Aku tak pernah memintamu membayar dengan tubuhmu!"
"Ta-tapi, kalau bukan tubuhku maka apa yang perlu kulakukan?!" Suara Risa sedikit melejit dan terdiam, menatapku dengan tatapan jijik. "Jangan-jangan seleramu adalah anak-anak?"
"Fain, kamu sadar itu kejahatan besar, 'kan?"
Jangan asal menuduhku sembarangan tanpa alasan jelas!
Aku suka anak-anak tapi secara general, bukan dalam artian romantis atau seksual, sialan!
Aku menghela nafas berat sambil memijat dahi. "Kenapa kesimpulanmu bisa sampai sana? Apa kamu pernah melihat aku memandang anak-anak panti seperti predator menetapkan mangsa?"
"Kalau dipikir lagi benar juga," jawab Risa secepat kilat.
Kamu sengaja membuatku kesal atau apa?
"Tidak, aku hanya ingin kamu menjaga dan mengurus anak-anak panti seperti biasa." Aku menggaruk kepala. "Gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan mereka dan bangunan panti."
"Harusnya bisa bertahan selama satu atau dua tahun kalau berhemat, 'kan?"
Risa menghitung koin emas di tangannya dan mengangguk pelan. "Memang benar kalau digunakan secara berhati-hati uang banyak ini dapat memenuhi kebutuhan anak-anak selama lima tahun."
Sepuluh koin emas mana mungkin bertahan sampai lima tahun untuk memenuhi kebutuhan 20 anak lebih sedikit.
Aku kemudian menepuk kepala Risa. "Jangan pelit terhadap anak-anak. Pastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi dan selalu menjalani hari dengan riang."
"Kalau uang tersebut habis aku bisa memberi dana tambahan lagi di masa depan." Aku bangkit dan meregangkan badan sejenak. "Lagipula, pemilik panti asuhan saat ini adalah diriku."
"Aku tak akan menelantarkan kalian."
Risa terdiam menatapku dengan mulut terbuka lebar tak percaya.
Aku tersenyum jahil melihat reaksinya. "Kejutan."
Aku kemudian menjelaskan sebagai imbalan menghancurkan keluarga Gozet dan menyelamatkan kota, aku meminta Rosetta untuk membeli hak kepemilikian panti asuhan dari kota Rosel dan mengalihkannya kepadaku.
Ditambah, sebagai ketua serikat sentinel dia harus menjaga anak-anak serta panti asuhan dari segala ancaman—tentu saja termasuk seluruh warga Rosel juga.
"Dan begitulah cerita bagaimana aku menjadi pemilik panti ini." Aku membusungkan dada merasa bangga.
Langkah yang tepat, bukan?
Meskipun aku telah menjadi pemilik panti asuhan bukan berarti aku akan menetap di kota ini.
__ADS_1
Anak-anak panti sudah memiliki Risa sebagai pengurus sekaligus penjaga dan Rosetta akan melindungi panti selagi aku meneruskan perjalananku.
Dengan ini aku mungkin bisa menyelamatkan anak-anak yatim piatu malang di luar sana dan memberikan tempat tinggal bagi mereka di sini.
Yah, mungkin pekerjaan Risa akan menjadi lebih berat namun itu adalah tanggung jawabnya sebagai pengurus panti.
Aku sebagai pemilik panti bertanggung jawab atas dana dan perawatan gedung.
Jika itu masalah anak-anak dapat kuserahkan kepada Risa.
Lagipula, dia telah mengasuh dua puluh anak sendirian dalam kondisi sulit selama lima tahun terakhir.
Aku yakin dia mampu melakukan tugasnya meski jumlah anak yang harus dia urus bertambah beberapa orang.
Hmm, kalau aku menyelamatkan lebih banyak anak-anak yatim piatu malang di luar sana dan memindahkan mereka ke sini maka bebannya akan bertambah.
Mungkin aku perlu mencari seseorang untuk membantu Risa nanti.
.... Ah, mengapa tidak Gisele saja?
Perjalananku masih teramat jauh namun setelah menerima tawaran raja Gilard dari Sain, aku bisa menuntaskan kesepakatanku dengan Gustav jauh lebih cepat dari perkiraanku.
Dia dapat tinggal di sini dan mengurus anak-anak panti bersama Risa selagi aku melanjutkan perjalananku.
Ya, mari kita lakukan itu.
"Fain .... Kenapa kamu begitu memperhatikan kami?" Risa bergetar tampak ingin menangis. "Aku dan anak-anak panti tidak memiliki nilai apapun untuk kau pedulikan. Tidak ada untungnya bagimu membantu kami."
Dia mulai terisak tak kuasa menahan air mata.
Aku menepuk pundaknya dan berkata. "Bukankah aku sudah bilang bahwa aku ingin melindungi orang-orang bernurani bersih sepertimu? Anak-anak pun tidak terkecuali."
"Mereka adalah generasi masa depan. Mereka akan menjadi bibit-bibit perubahan bangsa." Aku memasang senyum tipis. "Mereka adalah harta tak tergantikan dan orang yang akan membimbing mereka adalah kamu, Risa."
"Kamu pun tak tergantikan."
Risa menjatuhkan diri ke dalam pelukanku dan menangis lebih keras.
Benar, meskipun mereka sekarang hanyalah benih kecil yang tak terlihat mungkin suatu saat mereka dapat menjadi pohon besar yang dapat mengguncang dunia.
Aku sudah sering mendengar kisah orang-orang sukses selalu berawal dari ketiadaan dan serba kekurangan.
Dari ketiadaan serta kekurangan inilah jiwa kuat nan pengertian akan tumbuh tanpa mengenal kata menyerah.
Aku akan membantu benih-benih ini sampai mereka tumbuh besar dan sehat hingga akhirnya mandiri dan menopang masyarakat melalui akar kuat serta dedaunan rindang mereka.
Itulah yang kuyakini.
Jika aku bisa memelihara bibit-bibit tersebut maka bukankah itu berarti aku berperan besar dalam perkembangan dunia meski hanya dari balik layar?
Kedengarannya tidak buruk juga.
__ADS_1
Mungkin inilah perasaan orangtua terhadap anak mereka.
Anak-anak memang merupakan benih emas.