
Kedatanganku di kota asing membuatku tidak tahu arah namun berkat bantuan aplikasi peta pada superphone, aku dengan mudah menemukan markas ordo ksatria Pedang Kabut Emas di area bangsawan.
Tidak, mungkin lebih tepatnya ini area kastil?
Setahuku Castelan memiliki luas lebih dari lima ratus kilometer persegi dan sekitar 50 kilometernya sendiri merupakan area kastil, lalu dua ratus kilometer tak termasuk area kastil merupakan wilayah bangsawan.
Luas yang mengerikan untuk kerajaan berlatar abad pertengahan, bukan?
Aku sampai merinding saat mendengar hal ini dari Gustav kemarin lewat superphone.
Aku kemudian melangkah menuju arah ordo ksatria Pedang Kabut Emas dan disambut tidak ramah oleh para ksatria, sama seperti ketika aku memasuki area kastil.
.... Kalau dipikir lagi, bukankah Elena berpindah ke area bangsawan dekat kastil? Dia mungkin memiliki koneksi atau bahkan pernah mengunjungi kastil itu sendiri.
Wanita itu benar-benar tidak bisa ditebak.
"Maaf, aku ingin bertemu pemimpin ksatria, Alsain von Adamantalis." Aku menunjukkan lencana pemberian Sain di Rosel.
Sikap ksatria penjaga langsung berubah saat aku menunjukkan lencana tersebut. "Maafkan atas kelancangan kami, Ksatria Terhormat!"
Ksatria Terhormat? Apa itu gelar atau julukan? Lencana ini mengandung kuasa semacam itu?
Aku tidak pernah mendengar ini, Sain!
"Omong-omong, Ksatria Terhormat, orang di sebelah sana ...." Salah satu ksatria penjaga menunjuk Saluja.
Aku menoleh. "Oh, dia Saluja von Salues. Aku menangkapnya atas permintaan Pemimpin Ksatria dan Yang Mulia karena merencanakan pemberontakan."
"Saluja von Salues?!"
Tentu saja mereka bereaksi demikian.
Siapa yang mengira bangsawan bergelar Duke I berencana kudeta terhadap kerajaan dan orang sepertiku menangkap Saluja, penyihir yang digadang-gadang sebagai penyihir ruang dan waktu terhebat sekaligus terkuat di seluruh Gilard?
Aku tak akan menyangkal itu.
Mereka segera mengamankan Saluja sesudah memastikan identitasnya dan aku melepas ikatan logam dari badan Saluja menggunakan borgol khusus sihir yang dapat mengacaukan sihir ketika dikerahkan.
Walau kalian menggunakan borgol biasa orang ini tidak akan bisa apa-apa mengingat seluruh statusnya kuturunkan hingga mencapai 10 poin.
Aku kemudian diarahkan menuju suatu ruangan besar dan mewah, bahkan terdapat pelayan menyuguhi teh kepadaku selagi menunggu.
Hmm, teh ini enak tapi tidak senikmat buatan Gisele padahal menurut Appraisal skill Cooking Gisele hanya sekitar level 5 dan kelas Servant-nya belum mencapai 8, sementara pelayan ini sudah berganti kelas menjadi Master Servant—dua tingkat di atas Servant biasa setelah Advanced Servant.
Apa karena Gisele spesial untukku?
__ADS_1
Aku pernah mendengar rasa masakan seseorang akan berbeda bergantung seberapa spesial orang tersebut di hati mereka.
Apa ini yang disebut kekuatan cinta?
.... Apa? Aku mengakui diriku tergila-gila terhadap Gisele. Ada masalah?
"Oh, Fain." Suara familier terdengar di telingaku. "Kamu sungguh datang."
Aku menoleh dan menemukan Sain mengenakan seragam berwarna abu-abu ringan bernuansa emas tanpa pelindung badan di pintu.
Saing merebahkan bokong di sofa depanku. "Kau tahu, aku terkejut ketika mendengar kabar bahwa kamu akan datang hari ini melalui Gustav."
"Jujur, aku sama sekali tidak percaya kamu mampu tiba di Castelan tepat keesokan harinya setelah kabar mengenai kehancuran Rudania tersebar luas." Sain memasang senyum kecut. "Kamu juga dapat menggunakan sihir ruang dan waktu, huh?"
Hmm, aku sedikit terganggu terhadap kabar kehancuran Rudania yang juga telah tersebar luas padahal aku baru kemarin menghancurkan kota kekuasaan keluarga bajingan itu, tapi perkataan Sain memang tidak salah.
Aku mengangguk menyesap teh. "Yah, aku belum bisa mengendalikan sihir ruang dan waktu dengan baik, jadi aku meminta orang lain memindahkanku kemari."
Sain terlihat bingung sesaat tapi segera mengangguk memahami maksudku.
Mungkin dia mengira aku menggunakan penyihir ruang dan waktu dari keluarga Salues yang pernah mengunjungi Castelan namun mengingat Elena hanya memakai kemampuan Instant Warp dari tongkat barunya, aku tak akan menyangkal Sain.
Itu akan merepotkan kalau aku harus menjelaskan semuanya.
Aku mengangkat alis menanggapi. "Maksudnya?"
Sain menjelaskan sebagai ksatria dia diharuskan mempunyai indra dan insting tajam, apalagi sebagai pimpinan ordo ksatria terbaik Gilard.
Tentu saja, kau mempunyai skill Extra Instinct. Dalam bidang intuisi secara kasar kamu tak tertandingi oleh siapapun.
Dan berkat itu, serta kemampuan pembaca aura yang telah dikembangkan melalui latihan, Sain dapat melihat secara samar-samar bahwa aku memiliki darah keturunan naga dan vampir yang bercampur.
Sain pernah menanyakan apakah keturunan keluarga Ardenheim mempunyai dua garis darah tersebut kepada Gustav melalui ponsel tetapi ayahku menolak keras menjawab pertanyaan tersebut tidak peduli apapun yang Sain katakan.
Gustav secara tak terduga menjaga kesepakatan tentang rahasiaku dari orang lain, huh?
Tapi, dia tak bisa melawan kehendak kedua istrinya.
Aku turut berduka.
Apa suatu saat aku akan bernasib sama mengingat calon istriku saat ini ada tiga?
.... Mungkin aku akan memperoleh nasib setengah kali lipat lebih buruk daripada Gustav suatu saat.
"Sekarang aku bisa merasakan aura sejenis roh hantu dan sesuatu asing terpancar dari tubuhmu." Mata Sain menyipit. "Kamu tidak sedang mempraktikkan ilmu terlarang, 'kan?"
__ADS_1
Aku menggeleng pelan. "Tentu saja tidak. Aku punya skill yang memungkinkanku menyerap darah serta kemampuan ras lain."
"Jadi, aku tak akan heran kalau kamu atau orang lain melihatku seperti monster suatu saat nanti." Aku tersenyum kecil sebelum menyesap tehku.
Tatapan Sain memicing tajam seolah menembus tubuh dan mencari tahu identitas sebenarnya diriku tetapi setelah beberapa saat, dia menyerah sembari menghela nafas panjang.
"Yah, selama kau tidak membahayakan kerajaan dan warga kurasa tak masalah." Sain bersandar di punggung sofa.
Aku memasang senyum tipis. "Asalkan kerajaan ataupun penduduk tidak mencari gara-gara terhadapku terlebih dahulu seperti yang dilakukan keluarga Gozet dan Salues, maka aku tak akan berbuat apapun."
Sain segera bereaksi terhadap perkataanku.
"Apakah itu ancaman, Fain?" Sain menegakkan punggung memandangku.
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. "Daripada ancaman mungkin lebih tepatnya sebuah peringatan kecil."
"Jangan berburuk sangka, Sain." Aku meletakkan cangkir teh ke meja. "Aku tak berniat melawan Yang Mulia ataupun seluruh Gilard."
"Aku hanya akan melawan siapapun yang menggangguku atau orang-orang terdekatku dengan alasan atau motif yang tak bisa kuterima," lanjutku menatap balik mata tajam Sain tanpa gentar.
Sain melepaskan aura besar menanggapiku. "Bahkan jika itu kerajaan?"
"Bahkan jika itu seluruh dunia." Aku mengeluarkan aura yang tak kalah besar membalas Sain.
Kami berdua saling menatap dan beradu aura di ruangan tersebut selama beberapa saat sebelum Sain mengalah dan mulai tertawa, yang membuatku secara spontan menarik kembali auraku.
Apa yang salah sampai dia tertawa seperti itu?
"Ah, maafkan aku. Sudah lama aku bertemu orang yang berani menghadapi bahkan membalas auraku di luar pertarungan." Sain masih tertawa sebelum memasang senyum kecil. "Bukan hanya kerajaan tapi juga seluruh dunia? Aku belum pernah menemukan orang yang hendak melawan dunia hanya demi orang-orang tercintanya."
"Tapi, aku tidak membenci orang sepertimu, sebaliknya aku justru cukup menyukaimu." Sain melepas senyum lembut seperti biasanya.
.... Kalau kau menyukaiku dalam artian romantis maka aku akan segera pergi dari sini!
Aku masih lurus dan mempunyai Gisele di Rilet!
Yah, kesampingkan candaan nyeleneh itu, nampaknya Sain tipe orang berpikiran terbuka.
Itu melegakan mengingat semua bangsawan yang kutemui selain Ardenheim sangat berpikiran sempit—terkecuali keluarga Ruliand yang mungkin hanya putra tertuanya saja yang bermasalah.
Dia juga tampak dan menurut penilaian Eyes of Hidden Truth, dapat dipercaya.
Alsain von Adamantalis .... Aku memilih untuk percaya padamu.
Dan untukmu, temanku yang dapat dipercaya, aku mempunyai kabar buruk.
__ADS_1