
Keesokan harinya aku bangun di pagi hari dan segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan—meski tidak banyak yang perlu kusiapkan.
Semua barang serta kebutuhanku berada di dalam Spatial Storage.
Aku tak perlu membawa banyak barang bawaan selain baju dan diriku sendiri.
Dan saat ini aku berada di tengah lautan anak-anak panti.
"Kak Fain, jangan pergi!"
"Kalau tidak ada Kak Fain kami mungkin tak akan bertahan!"
"Kak Fain, kalau kakak memang akan pergi bawa aku juga! Aku akan menemani perjalananmu sebagai istri!"
Hei, perkataan terakhir kalian bisa membuatku mendekam di balik jeruji besi dingin!
Anak gadis di panti ini memang terlalu berbahaya.
Sekarang aku bisa mendengar suara sirene berdering makin keras di pikiranku!
"Kalian jangan merepotkan Kak Fain!"
Seruan tersebut merebut perhatian anak-anak panti dan diriku sekaligus.
Mataku menemukan sesosok gadis kecil berdiri sambil berkacak pinggang yang merupakan sumber seruan.
Itu ... Mia?
Tidak tidak, Mia seharusnya masih berusia 7 tahun.
Tak mungkin gadis cilik tersebut memiliki tatapan mendominasi seperti itu!
Biar kuperiksa dengan Appraisal .... Dia sungguh Mia.
Huh? Apa yang terjadi?
Mengapa Mia yang selama ini kukenal cengeng dan penakut tiba-tiba berubah menjadi dewasa?
Mustahil dia bisa menjadi sosok diandalkan dalam waktu singkat ini terlepas dari status anak panti paling muda, 'kan?
Auranya terasa berbeda.
Dia lalu berjalan mendekat dan entah mengapa, anak-anak panti yang tadi mengerumuni dan mencegahku untuk pergi membuka jalan bagi Mia.
Mia kini berada tepat dua langkah di depanku.
"Kak Fain, terima kasih telah membantu kami meskipun kami hanya bisa merepotkan Kak Fain," ujar Mia bersama senyuman manisnya yang tak berubah sejak pertama kali kami bertemu.
Aku tertegun.
Merepotkan apanya? Mereka justru telah banyak membantuku.
Aku berjongkok dan menepuk kepala Mia. "Kalian sama sekali tidak menyusahkan Kakak, kok. Sebaliknya, kalian malah menyelamatkanku."
Benar, senyuman kalian telah menyelamatkanku.
Sebelum kemari aku bingung dan tak tahu apa yang harus kulakukan dengan kekuatan yang hampir mahakuasa ini namun setelah melihat anak-anak panti yang malang tersenyum, aku memutuskan agar menggunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang seperti mereka.
Aku terlalu sibuk mengutamakan rute kabur egoisku bersama Gisele sebelum Raja Kekacauan menyerang sampai melupakan masih banyak orang baik dan murni yang pantas diselamatkan seperti anak-anak ini dan Risa.
"Benarkah?" Mia sedikit terbelalak. "Kami dapat membantu Kakak?"
Aku tersenyum cerah mengusap kepala Mia dan anak-anak yang di dekatku. "Tentu saja."
__ADS_1
"Berkat kalian Kakak menemukan jalan terbaik untuk perjalanan Kakak," kataku lembut sambil mengisyaratkan agar mereka semua mendekat. "Kalian semua berharga bagi Kakak dan Kakak tidak akan menelantarkan kalian."
Mereka melangkah maju dan aku merangkul anak-anak panti sejauh yang kumampu dan berbisik. "Kakak berjanji."
Tidak ada tangisan ataupun rengekan.
Mereka semua hening menikmati momen terakhir mereka bersamaku sebelum aku berangkat meninggalkan Rosel.
Setelah beberapa saat anak-anak panti kembali tersenyum dan menerima kepergianku.
Aku kemudian mengalihkan pandangan menuju trio penjaga panti. "Berlatihlah dengan giat dan lindungilah adik-adik kalian."
Harold, Brook, dan Shena mengangguk tanpa suara berusaha menahan air mata.
Oh, benar juga. Aku mempunyai sesuatu untuk mereka.
Aku melangkah mendekati ketiganya dan memberikan mereka masing-masing senjata yang sesuai.
Brook menerima sarung tangan logam yang terlihat berat namun ringan dan memiliki pertahanan sekeras mithril—karena memang terbuat dari mithril—sebuah jenis logam fantasi yang ringan tetapi juga teramat kuat.
Aku memberikan Harold sebuah tombak berwarna merah gelap dengan dua bilah kapak di bagian mata tombaknya. Sebuah tombak jenis halberd, tombak berkapak.
Lalu, Shena menggenggam tongkat logam berukiran cantik dihias beberapa ornamen indah disertai tiga permata pada ujung tongkat.
"Ini senjata ekslusif kalian." Aku berkata setelah memberikan ketiganya senjata tersebut. "Tidak ada yang bisa memakai kemampuan senjata ini dengan maksimal kecuali kalian."
"Jadi, gunakan mereka dengan baik. Jangan sampai hilang, oke?" Aku mengangkat jempol.
Ketiganya tak bisa menahan air mata dan memelukku sambil menangis keras kesulitan berterima kasih.
Hei, kalian sudah mendekati usia dewasa. Jangan menangis seperti itu dong.
"Kak Fain, aku pasti akan melindungi adik-adikku!" Brook berseru dengan air mata mengalir deras.
Berhenti menangis, dasar anak beruang cengeng.
Harold memegang tombak pemberianku dan bersumpah. "Aku mungkin tidak bisa membalas semua kebaikan Kak Fain, tapi aku akan berusaha yang terbaik untuk menjaga panti asuhan dan seluruh penghuninya."
Ya, aku akan mengingat perkataanmu. Jangan sampai kau mengecewakanku, Harold.
"Kak Fain, aku tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk berterima kasih atas semua yang Kak Fain lakukan untuk kami." Shena berucap pelan. "Tapi, aku tak akan menggunakan kekuatan ini untuk hal lain selain melindungi."
Tentu, kalau kau malah memakai kekuatan Divine Summoning-mu untuk hal jahat aku akan langsung mendatangi dan menegurmu—kalau bisa jangan sampai membuatku harus membunuhmu.
Aku mengangguk pelan menanggapi ketiganya.
"Rosetta, aku serahkan bimbingan mereka bertiga dan perlindungan anak-anak panti kepadamu." Aku menoleh ke arah Rosetta yang berada di samping Risa.
Rosetta tersenyum tipis. "Serahkan saja padaku."
"Asalkan kamu menyisakan satu tempat dalam daftar istrimu untukku." Dia tertawa jahil sambil berucap demikian.
Kamu masih tidak menyerah tentang menjadi istriku, huh?
Yah, asalkan Gisele tidak keberatan aku mempunyai beberapa istri maka aku pun tak masalah.
"Kak Fain, kenapa cuma Kak Harold dan lainnya yang mendapat hadiah?"
"Kami tidak dapat?"
Ugh, jangan menatapku dengan mata seperti itu, anak-anak.
Kalian memang sengaja mengincar kelemahanku, ya?
__ADS_1
"Tenang saja, aku juga mempunyai sesuatu untuk kalian semua."
Aku kemudian mengeluarkan dua puluh lebih sedikit kalung kayu dan membagikannya kepada anak-anak panti.
Kalung-kalung ini kubuat menggunakan Authority of Author secara massal dan memberikan suatu perlindungan bagi penggunanya—dalam kasus ini, perlindungan dalam kalung hanya akan aktif jika pemakainya adalah anak-anak panti asuhan ini.
Jadi, kalaupun kalung tersebut dicuri mereka hanya akan menjadi kalung kayu hias biasa tanpa keistimewaan apapun.
Lalu, yang terakhir ....
"Risa." Aku melangkah mendekat. "Maaf, aku tak bisa memberikan jawaban sekarang."
"Aku harus memastikan persetujuan Gisele."
Risa mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Aku tak keberatan menunggu."
Semalam aku tak sengaja mengangkat bendera romantis dengan Risa dan akibatnya sama seperti Rosetta, dia ingin menjadi istriku.
Nampaknya aku tanpa sadar memasuki rute harem.
Aku memang tak berniat membuat harem namun kalau sudah begini aku bisa apa?
Aku tidak tega menolak Risa yang kelihatannya benar-benar menyukaiku.
Mari serahkan semua itu kepada Gisele saat aku bertemu dengannya lagi setelah mengumpulkan 10 atau 30 koin emas.
Baik, perpisahaan cukup sampai sini saja.
Kalau lebih lama dari ini mungkin aku akan berakhir tinggal selama semalam lagi.
"Oh, ya, Fain."
Saat aku hendak melangkah, Risa menarik bahuku dan memberikan kecupan ringan pada bibirku sewaktu aku menoleh.
Dia tersenyum manis. "Sampai jumpa."
Uhh, itu mengejutkan.
Tapi, rasanya tidak buruk juga.
"Ya, sampai jum—bufh!"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat Rosetta maju dan merebut bibirku dengan paksa lalu ... aku tidak perlu menjelaskannya, 'kan?
"Nah, itu yang namanya ciuman," ucap Rosetta menjilat bibirnya masih memegang pipiku seusai memberikan ciuman panas kemudian memandang Risa. "Kamu harus belajar lebih banyak mengenai pria, Risa."
Wajah Risa seketika memerah dan menunjuk Rosetta. "Mesum! Tidak tahu malu!"
Rosetta memasang pose kemenangan sementara Risa mengeluarkan berbagai umpatan sopan kepada ketua serikat sentinel sinting itu.
Dan berkat itu anak-anak gadis protes dan meminta ciuman dariku.
.... Aku harap mereka tidak menjadi wanita seperti Rosetta di masa depan.
Aku menghela napas panjang dan pada akhirnya mencium mereka di dahi satu per satu sebelum benar-benar mengangkat kaki dari Rosel.
Hei, ciuman di dahi itu aman! Aku bukan pedofil!
Sial, suara sirene di kepalaku tidak mau memudar!
Yah, kesampingkan hal itu, aku menikmati hari-hariku bersama anak-anak panti di kota ini.
Aku akan kembali dalam waktu dekat dan hingga saat itu tiba ....
__ADS_1
"Sampai jumpa, Rosel."