
Keesokan harinya pada siang menjelang sore aku tiba di Rosel tanpa kendala.
Gustav memberikan kartu identitas sebelum aku pergi dari kediaman sehingga aku bisa masuk tanpa kendala—yang tentunya dikenakan pajak masuk sebesar sepuluh koin perunggu.
Rilet sepertinya tidak memberikan pajak keluar-masuk kota ketika aku pergi berburu monster di luar gerbang, mengapa Rosel menuntut pajak masuk?
Saat aku bertanya mengenai hal tersebut kepada penjaga gerbang, dia terlihat kebingungan dan menjelaskan bahwa Rilet juga mempunyai pajak masuk.
Hanya saja pajak masuk di Rilet dihitung sekali masuk dan tak perlu membayar lagi kecuali setelah beberapa bulan pergi dan kembali.
Rosel menerapkan pembayaran pajak ini seminggu sekali bagi yang hendak keluar ataupun masuk kota.
"Terlebih lagi, pajak masuk Rilet hanya satu koin perunggu ...." Aku menggerutu sambil berjalan. "Apa-apaan dengan kota ini?"
Berbeda dari Rilet, penduduk Rosel nampaknya tak sehidup dan seceria kota kelahiranku.
Maksudku, mereka masih cukup ceria secara sekilas namun suasana kota ini terasa lebih suram dan mencengkam.
Mungkinkah ini diakibatkan Rachiel menetapkan pajak tinggi? Aku tidak akan heran jika itu kasusnya.
Aku sering membaca kasus seperti ini di berbagai novel fantasi bahwa bangsawan dengan kekuatan tertentu akan menjadi sombong serta korup seiring berjalannya dia menjadi penguasa, apalagi Gustav telah memberitahuku bahwa Rachiel memang orang yang tinggi hati dan suka memamerkan harta.
Ugh, lebih baik aku tak terlibat dengan keluarga Gozet selama berada di kota ini.
.... Ah, aku salah.
Aku seharusnya tak mengatakan sesuatu seperti itu!
Lihat! Baru saja dipikirkan sesosok seperti tuan muda berpenampilan mewah yang dikawal beberapa prajurit bersenjata muncul tak jauh dariku!
Baji-ngan! Aku harusnya tahu kata-kata sejenis itu justru memicu bendera!
Apanya yang penulis novel fantasi jika kau melupakan hal sedasar itu!
Kau bodoh, Fain! Sangat teramat bodoh!
Hmm? Oh, dia hanya lewat begitu saja?
Terima kasih telah menghindarkanku dari pertemuan pembawa masalah, takdir.
Yah, karena krisis kecil telah berhasil kulalui, pertama-tama yang kubutuhkan sekarang adalah penginapan.
Mengingat hari sudah menjelang sore aku butuh tempat bermalam di sini.
Aku hanya ingin tinggal dua sampai tiga hari di tempat ini sebelum melanjutkan perjalananku.
Setelah bertanya-tanya kepada warga sekitar aku berhasil menemukan sebuah penginapan layak, namun ....
"Satu malam 70 koin perunggu."
Buset, 40 koin lebih mahal dari penginapan di Rilet padahal tidak jauh berbeda secara fasilitas maupun pelayanan—meski pelayanannya sedikit lebih buruk dari Rilet.
Pegawai penginapan serta warga yang duduk di ruang makan tidak terlihat begitu bersahabat.
Aku segera mengangkat kaki dari tempat tersebut dan mencari penginapan lain tetapi semua tempat yang kukunjungi tak begitu berbeda secara harga, bahkan beberapa mematok harga lebih mahal.
Apa karena memang pajak kota yang tinggi, ya?
__ADS_1
Oh, Rachiel merupakan bangsawan Viscount I yang sebentar lagi akan menjadi Count V, bukan? Mungkinkah itu penyebabnya?
Semakin tinggi pangkat bangsawan penguasa kota pajak juga akan meningkat?
Aku tak tahu banyak mengenai tata serta cara kerja kebangsawanan di Gilard mengingat kerajaan ini hanya latar yang hancur di novelku, jadi aku hanya asal mengambil kesimpulan sebagai penulis novel fantasi.
Memang benar aku tidak bermasalah mengenai keuangan tetapi aku juga sedang mengumpulkan dana untuk memenuhi kesepakatanku dengan Gustav, dan jumlahnya sangat mengerikan.
Sebisa mungkin aku tak ingin menghabiskan terlalu banyak pengeluaran daripada pendapatan.
Aku menghela nafas berat. "Kalau situasinya seperti ini akan lebih baik jika tidur di kabin kayu di alam liar saja."
Tapi, aku sudah terlanjur masuk ke kota.
Penjaga gerbang bisa curiga mengapa aku yang baru saja masuk langsung keluar lagi.
Apa lebih baik aku tidur sambil terbang di langit menggunakan Gravito Flight Sphere memanfaatkan Multi Mind?
Bukan ide buruk tapi bisa jadi aku malah disangka ancaman kalau ada yang tak sengaja melihatku tidur menggantung di langit, terutama saat pagi hari tiba.
.... Tunggu, bukankah aku bisa kembali ke lokasi kemarin aku bermalam dan kembali kemari sesudah bangun menggunakan Instant Warp? Tidak buruk juga.
Instant Warp (-) ; dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain sesuka hati secara instan dalam batas tertentu.
Ya, Instant Warp adalah salah satu skill .... Aku tidak perlu menjelaskan dari mana asalnya, 'kan?
Intinya, aku bisa berteleportasi ke suatu tempat seketika itu juga.
Tentu skill ini terbatas oleh tempat yang telah kukunjungi dan yang dapat kulihat.
Aku tidak bisa berteleportasi ke tempat tujuanku menggunakan Instant Warp meski aku tahu di mana lokasinya.
Instant Wa—
"Permisi!"
"Woah!" jeritku secara spontan.
.... Eh? Apa? Gadis kecil? Sejak kapan dia berada di belakangku?
Aku tidak menyadari keberadaan ... ah, aku nampaknya terlalu larut dalam pikiranku sendiri saat sedang mencari solusi.
Gadis ini terlihat masih berusia 5 tahun dan pakaiannya begitu lusuh dan kotor, serta memiliki beberapa tambalan kain.
Hmm? Dia yang memanggilku kenapa justru dia yang ketakutan?
Aku tidak akan menggigit kok.
Aku kemudian berjongkok dan tersenyum. "Maaf, mengagetkanmu. Aku hanya terkejut."
"Ti-tidak. Aku minta maaf telah mengejutkan kakak," jawabnya masih sedikit takut.
Dia terlihat ketakutan dan was-was tapi sepertinya dia anak baik.
Aku menepuk kepalanya pelan sebelum kembali mengangkat suara. "Jadi, ada apa kamu memanggilku? Apa kau punya urusan?"
"I-itu ...." Gadis kecil tersebut merasa gugup dan memaksa diri untuk menyodorkan kedua tangannya kepadaku. "Bi-bisakah kakak memberiku sedikit makanan atau uang?"
__ADS_1
Dia meminta makanan atau uang?
Dilihat dari penampilannya secara sekilas gadis ini seperti pengemis atau gelandangan tetapi yang membuatku merasa aneh adalah tubuhnya meskipun sedikit kurus, dia tak terlihat seperti kekurangan gizi.
Dan lagi, kulitnya masih begitu bersih dan mulus dibanding pengemis dan gelandangan berdasarkan ingatanku di bumi—yang benar-benar kesulitan, bukan hanya berpura-pura.
Ini hanya tebakan tapi kalau dia bukan pengemis ataupun gelandangan, maka ....
"Kamu .... Mungkinkah kamu berasal dari panti asuhan?"
Gadis itu mengangguk pelan terlihat sedikit sedih. Air mata hampir menitik di ujung mata mungilnya.
Begitu .... Gadis ini berasal dari panti asuhan, ya.
Tidak heran mengapa kulitnya masih terlihat terawat dan badannya tak kekurangan gizi.
Mungkin anak kecil seusia dia lebih diprioritaskan oleh pengurus panti daripada yang lebih tua.
Aku kemudian bertanya selembut mungkin. "Kalau aku boleh bertanya ada berapa anak di panti asuhanmu?"
"Uhm ... satu ... dua ... ehm, tujuh?" Dia makin ingin menangis. "Maaf .... Aku tidak bisa berhitung."
"Tidak, tidak apa-apa." Aku menepuk pundaknya berusaha menenangkan. "Aku tak memaksamu, kok."
Gadis tersebut merasa lebih lega tetapi tak berkata apapun.
Yah, mengingat latar dunia ini adalah sekitar abad pertengahan, jadi aku tak mengharap banyak mengenai angka melek huruf bagi orang biasa—aku pun tidak akan bisa membaca buku jika bukan karena Translation.
Aku merasa iba tapi di saat yang bersamaan aku juga sedang bermasalah.
.... Tunggu, panti asuhan?
Sebuah ide tiba-tiba terbesit di benakku.
"Aku tidak keberatan memberimu sedikit makanan atau uang, tapi bisakah aku mendapat sesuatu sebagai gantinya?" Aku bertanya dengan hati-hati tanpa berniat menyinggung.
Gadis tersebut terlihat bingung dan berpikir sejenak namun dia segera mengangguk.
Ya ampun, gadis ini terlalu lugu dan naif—tapi memang sewajarnya.
Bagaimana kalau aku adalah orang jahat yang berniat menculik dan menjualnya? Apalagi hari sudah hampir gelap dan dia berkeliaran seorang diri.
Itu menakutkan.
Tidak, bukan artinya aku hendak melakukan sesuatu yang buruk kepada gadis sekecil ini.
Aku ini manusia berbudi baik, tahu.
"Kamu tahu, aku sedang kesulitan mencari penginapan di kota ini." Aku tersenyum. "Sebagai ganti makanan, bolehkah aku menginap di panti asuhanmu selama aku tinggal di kota ini?"
"Tentu aku juga akan memberikan makanan kepada teman-temanmu. Bagaimana?"
Mata gadis itu segera berbinar. "Sungguh? Kakak tidak keberatan?"
Aku mengangguk tanpa melunturkan senyuman.
Dia segera melompat dengan girang sebelum menarik tanganku menuntun jalan menuju panti asuhan.
__ADS_1
Bagus, dengan begini masalah tempat tinggal berhasil terselesaikan! Ditambah, aku juga bisa membantu anak-anak malang di panti asuhan!
Satu batu dua burung!