I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
13. Kemampuan Authority of Author


__ADS_3

"Tujuh ratus lima puluh dua Goblin?!" sang resepsionis menjerit.


Huh? Memangnya aku sudah menghabisi Goblin sebanyak itu, ya? Aku tidak menghitung sama sekali.


Nampaknya aku terlalu kelewat batas menguji kemampuan Kinesis.


Aku harus merenungkan hal ini nanti.


Resepsionis menatapku ragu. "Fain, apa kau sungguh menghabisi Goblin sebanyak itu sendirian?"


"Aku tidak menghitung setiap Goblin yang kuhabisi tapi aku memang memburu setiap Goblin yang kutemui sendirian," jawabku tanpa rasa bersalah ataupun ragu. "Lagipula, kartu sentinel juga berkata demikian, 'kan?"


Si resepsionis memperhatikan kartu sentinelku dengan seksama. "Kartu sentinel memang sulit dimanipulasi dan jikapun dimanipulasi, keanggotaan sentinel akan dicabut dan diberikan hukuman yang sesuai oleh negara atas dasar pemalsuan informasi."


"Tapi, ini tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa seorang sentinel yang baru saja mendaftar mengalahkan 752 Goblin sendirian?"


"Kamu sudah melihat bagaimana sihirku tadi, 'kan?" Aku menunjuk beberapa properti serikat yang hancur berkat kegaduhan pagi tadi di sudut ruangan. "Kuserahkan bagaimana caraku menghabisi semua Goblin itu pada imajinasimu."


Resepsionis tersenyum kecut atas tanggapanku dan memilih untuk tak bertanya lebih jauh sebelum mengembalikan kartu sentinelku.


"Lalu, bagaimana dengan kristal sihir mereka? Apa kau tak membedah dan mengambilnya?" Dia menengok ke belakangku mencari tumpukan kristal sihir dari para Goblin.


Dia lalu melanjutkan. "Biarpun tidak ada satupun bagian tubuh Goblin yang berguna, kristal sihir mereka tetap berharga mengingat bisa menjadi sumber energi berbagai alat sihir."


"Kerajaan akan membeli sebanyak mungkin kristal sihir dari para monster yang telah diburu oleh sentinel."


Kasihan sekali para Goblin ini. Selain kristal sihir mereka para Goblin tak ada manfaatnya sama sekali kecuali mengancam kedamaian peradaban sekitar.


"Aku menyimpannya dalam Storage."


Setelah berkata demikian aku mengeluarkan puluhan hingga ratusan kristal sihir seukuran satu ruas jempol dan menumpuknya di meja resepsionis—yang mana tentu saja mengundang kegaduhan lagi dari pihak sentinel maupun pegawai serikat.


Si resepsionis tidak bisa lagi menahan senyum profesionalnya dan menjerit keras.


Pada akhirnya aku diminta untuk menunggu selagi seluruh kristal sihir tersebut diperiksa.


"Bisakah aku kembali besok dan mengambil bayaranku?" Aku mengusulkan. "Aku belum mencari penginapan, jadi aku ingin mencari tempat istirahat sebelum hari sepenuhnya menjadi gelap."


"Si-silahkan .... Fain bisa datang lagi besok ...." Dia menjawab dengan ekspresi letih.


Yah, nampaknya aku harus memaklumi saja. Tidak mudah memeriksa 752 kristal sihir yang tiba-tiba muncul di depannya.


Kalau begitu .... "Menuju penginapan kita pergi!"


***


"Satu kamar 10 koin perunggu per malam, ya? Berarti 1.000 koin besi." Aku bergumam di kasur sesudah mendapatkan kamar.

__ADS_1


Kalau diibaratkan sekeping koin besi sama dengan seribu rupiah maka ... satu juta rupiah per malam?


Bujug gile! Sejuta hanya untuk menginap satu malam?! Sama sekali tidak masuk akal!


Sepertinya aku harus membuang logika kehidupan lamaku untuk bisa beradaptasi di dunia ini.


Buang nilai rupiah dari kepalamu, Fain. Akal sehatmu bisa hancur jika kau menghitung betapa tingginya nilai koin emas dibanding rupiah berdasarkan perbandingan tadi.


Yah, kesampingkan itu, seharusnya sekarang sudah masuk waktu makan malam.


Hmm? Aku mau pergi ke restoran, katamu? Tidak, aku akan tetap di kamar.


Aku ingin menguji suatu fitur yang terdapat pada superphone.


Aku mengambil superphone dari Storage dan memencet-mencet beberapa kali lalu tidak lebih dari 10 detik kemudian, sebuah sinar putih samar-samar terpancar di hadapanku.


"Uwooh! Ini sungguhan! Fitur pesan dan kirim superphone benar-benar berhasil!" seruku keras menjerit bahagia.


Apa yang membuatku berseru bahagia sampai hampir meneteskan mata, katamu? Hehehe, apa kau tidak lihat apa yang di hadapanku sekarang?


Benar, nasi goreng khas ala pedagang kaki lima yang sering berjualan di pinggir jalan!


Ah, aromanya sungguh menggugah selera .... Ups, air liurku sampai menetes.


Ayo segera habiskan sebelum penghuni penginapan lainnya curiga akan aroma ini.


"Ah, puas dan kenyang." Aku menepuk perut dengan ekspresi bahagia.


Sudah lama aku tak mengecap makanan yang sesungguhnya. Superphone benar-benar luar biasa!


Aku memang jenius dalam menciptakan inovasi gaib menggunakan Authority of Author.


Omong-omong mengenai Authority of Author, meskipun levelnya sudah naik jadi level dua deskripsinya tetap tidak berubah.


Authority of Author (2) ; dapat mengubah dan menulis ulang realita sesuai imajinasi dan keinginan seperti menulis sebuah cerita. Hanya bisa digunakan sekali sehari.


Aku masih rutin menggunakan Authority of Author sekali sehari untuk meningkatkan levelnya tapi tidak ada yang berubah walau levelnya telah naik.


Sesuai yang kutulis di novel, level skill akan naik seiring banyaknya skill tersebut digunakan dan berkat ini semua level skill buatan Authority of Author juga ikut meningkat karena kugunakan rutin—kecuali False Data.


False Data (1) ; dapat memalsukan data pribadi ketika seseorang mengintip atau melihat status pemilik.


Aku ingat terdapat alat sihir ataupun skill yang bisa menguak status asli seseorang dan mengingat statusku bisa dibilang lemah, koleksi skillku bisa dikatakan cukup tidak masuk akal di dunia.


---


Alfain / Male

__ADS_1


Servant (3) / 15 tahun


Str : 22, Vit : 18, Agi : 15, Dex : 21, Mag : 3, Wis : 13, Luk : 12


---


Skill : Cleaning (3), Cooking (4)


Extra Skill : Translation (3), Appraisal (2)


Unique Skill : Authority of Author (2)


Special Skill : Hyper Growth (3), Eternal Wisdom (2), False Data (1), Experience Multiplier (3), Multi Mind (2), Spatial Storage (2), Form Shifter (2), Equivalent Exchange (2), Material Shaper (2), Kinesis (2)


---


Lebih baik aku menyembunyikan skill-skillku lebih dulu daripada membuat kegaduhan lebih besar sebelum aku mendapat kekuatan yang cukup untuk menghadapi semuanya.


Hmm, kalau dipikir-pikir hampir semua skill dari Authority of Author termasuk dalam daftar Special Skill.


Menurut sistem yang kubuat di novel dan penuturan Gisele, skill biasa adalah skill yang bisa didapatkan sesuai kelas. Extra skill diberikan oleh dewa kepada orang yang pantas mendapatkannya.


Lalu, Unique Skill .... Legenda di novelku tertulis bahwa Unique Skill seperti bakat atau takdir unik seseorang.


Aku sendiri adalah mantan penulis serta pencipta dunia ini, jadi kurasa bakat dan takdirku memang ditujukan sebagai penulis dunia ini.


Kalau begitu tidak mengherankan mengapa aku mempunyai Authority of Author meski belum terlalu kuat.


Selanjutnya ada deretan Special Skill yang menurut novelku adalah skill khusus mirip Unique Skill namun hanya dapat diperoleh melalui garis keturunan ataupun ras.


Dan mengingat aku hanyalah manusia biasa dan tak memiliki garis keturunan khusus, aku tentu tidak mempunyai Special Skill bawaan.


Namun berkat Authority of Author aku berhasil mengisi kolom Special Skill.


.... Kalau dipikir lagi, mengapa aku tidak sadar dunia ini adalah novelku ketika Gisele menjelaskan pengertian status dan skill beberapa hari setelah aku bereinkarnasi?


Aku memang bodoh, ya.


Kesampingkan pengertian status dan skill ini, ada yang ingin kucoba menggunakan Authority of Author.


Aku kemudian menunggu hari berganti sambil bermain game di superphone untuk menghabiskan waktu.


Ketika alarm pengingat superphone berbunyi aku segera menyudahi game-ku dan mengerahkan Authority of Author kepada diriku sendiri.


Sinar putih remang-remang terpancar dari seluruh tubuhku begitu mengaktifkan Authority of Author.


"Oh .... Oh!" Aku berseru gembira melihat perubahan pada tubuhku. "Ini sungguh berhasil!"

__ADS_1


__ADS_2