
Sesudah membahas masalah ponsel aku dan Gustav beralih ke kesepakatan kami dua minggu sebelum ulang tahun kelima belasku.
Aku menyerahkan 15 koin emas kepada Gustav. "Ayahanda, ini baru sebagian tapi nanti aku akan membayar sisanya setelah menerima bayaran dari Sain."
"'Dari Sain', huh?" Gustav menerima koin tersebut. "Kamu nampak dekat dengan Pemimpin Pedang Kabut Emas. Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak juga." Aku menggeleng.
Melalui pembicaraan kami sejauh ini aku dapat mengetahui bahwa Gustav telah diberitahu Sain mengenai pekerjaanku sebagai pengeksekusi keluarga bangsawan korup nan kejam untuk kerajaan.
Dan Sain ... serta sebagian pihak istana juga mengetahui aku merupakan anak haram Gustav meski telah diusir sesuai hukum kebangsawanan.
Mereka sepertinya mempunyai dokumen atau catatan kelahiran setiap anak pada keluarga bangsawan dan dari itu, mereka dapat menangkap hubunganku dengan Gustav serta keluarga Ardenheim, lalu namaku yang mendadak terdengar di Rosel.
Beruntungnya hanya pihak istana yang mengetahui hal ini dan mereka memutuskan untuk merahasiakan semuanya demi menghindari situasi tak diperlukan, mengingat semua keluarga bangsawan korup pasti akan mengincarku.
Jika fakta mengenai kami terkuak maka keluarga Ardenheim serta kota Rilet dapat menjadi incaran mereka sebagai kunci dan sandera agar aku menuruti mereka.
Tentu saja, meskipun mereka berniat berbuat demikian aku tak akan tinggal diam dan segera mengatasi hal tersebut sebelum disusul kehancuran mereka.
Aku tidak akan berbelas kasihan terhadap orang-orang seperti mereka, apalagi jika sampai mencelakai keluarga serta orang terdekatku.
Apa yang akan kulakukan, katamu?
Yah, anggap saja sesuatu yang akan membuat mereka menyesal telah menantang dan mencari masalah denganku.
Gustav menghela nafas. "Aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan ke depannya namun berhati-hatilah."
"Aku sudah menerima informasi dari Sain bahwa para 'bangsatwan' sedang ribut mendiskusikan bagaimana cara mengatasimu," kata Gustav mengingatkan.
"Tidak perlu khawatir, Ayahanda." Aku tersenyum. "Kalau mereka memang ingin datang maka mereka bisa datang kapanpun dan akan selalu kusambut sepenuh hati."
Gustav mendesah sambil menggelengkan kepala. "Justru itulah yang kukhawatirkan. Sikapmu yang terlalu terang-terangan justru membuat semuanya makin kacau."
"Kalau masalah itu Ayahanda dapat mengurusnya, bukan?" Aku tertawa geli melihat reaksi Gustav.
Dia tidak tahu lagi harus membalas seperti apa dan hanya menerima permintaanku.
Meski terlihat keberatan, Gustav tak menolak dan bersedia membantuku mengurus segala sesuatu dari balik bayang.
Ini memungkinkanku bergerak lebih bebas.
"Omong-omong, Fain." Gustav memanggilku. "Apa yang akan kau lakukan terhadap Gisele setelah kesepakatan ini? Menikah?"
Aku mengelus dagu sejenak. "Tidak, kurasa menikah masih terlalu dini bagi kami."
"Aku mempunyai rencana sementara bersangkutan dengan Gisele." Aku kemudian menjabarkan niatku terhadap Gisele.
Gustav membuka mata lebar-lebar. "Kau serius?"
__ADS_1
Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Gustav.
Dia mengusap janggutnya berpikir mengenai hal yang kuberitahu.
"Baik, aku rasa tidak ada masalah dengan itu." Gustav menyetujui rencanaku sebelum menyeringai. "Kamu biarpun terlihat tergila-gila terhadap Gisele sepertinya kamu mewarisi gen ayahmu, huh?"
Berisik kau, ayah bodoh.
Aku melakukan ini karena tidak sengaja bukan memang ingin.
Lagipula, aku memiliki paras lebih tampan dan kekuatanku juga lebih kuat darimu.
Tidak ada salahnya satu atau dua gadis tambahan terpikat padaku, 'kan? Meski yang satu tidak bisa lagi disebut gadis.
***
Setelah diskusiku bersama Gustav berakhir, aku meninggalkan Gustav di ruang kerja agar pekerjaannya dapat selesai, lalu aku melangkah menuju gudang bobrok tempatku tinggal selama lima belas tahun.
Tempat ini tidak banyak berubah—karena baru tiga minggu aku pergi—tapi kelihatannya tetap terjaga dan terawat.
Meski kubilang terjaga dan terawat sekalipun Gisele hanya membersihkan tempat ini sewaktu-waktu aku kembali.
Dia tak bisa memperbaiki atau merenovasi gudang bobrok ini sendirian mengingat Gisele bukanlah pelayan serba bisa seperti di kebanyakan kisah fantasi.
Yah, yang perlu kulakukan hanyalah merenovasi gudang ini. Tidak ada masalah berarti.
Aku juga telah mendapatkan izin Gustav untuk berbuat sesukaku terhadap gudang ini—walau dia telah menyiapkan kamar layak di dalam kediaman untukku, tapi aku menolak.
"Kak Fain!" Suara pria memanggilku.
Ketika aku menoleh mataku menemukan Leonard berlari menuju arahku sambil membawa pedang kayu ditemani oleh Seratina dari belakang.
Dia berusaha mengatur nafas. "Kak Fain, kapan Kakak tiba? Ayah tak memberi kabar mengenai kedatanganmu hari ini."
.... Sepertinya rahasia Gustav mengontakku dari kejauhan bukan lagi rahasia di rumah ini.
"Kakak baru saja sampai tadi siang." Aku tersenyum memandang Leonard. "Dan nampaknya kamu berlatih begitu keras, Leonard."
"Tentu saja!" Dia berseru keras. "Aku tak akan menyia-nyiakan skill Holy Knight hasil doa Kakak dengan bermalas-malasan!"
Aku mengangguk puas sebelum mengerahkan Vitakinesis kepada Leonard yang membuat dia terbelalak hebat.
"Tubuhku tidak lagi sakit atau lelah! Apa yang Kakak lakukan?" Dia menatapku penuh penasaran.
Aku mengedipkan sebelah mata. "Hanya sedikit trik kecil."
"Kamu ingin berlatih lebih lama, 'kan? Dengan begini kamu bisa berlatih lagi sampai matahari terbenam." Aku mengacungkan jempol.
Leonard berseru riang sebelum berterima kasih dan melanjutkan latihannya lagi, sementara Seratina menghela nafas sambil menggelengkan kepala melihat sikap anak kandungnya tersebut.
__ADS_1
"Anak itu semakin giat berlatih semenjak mendapatkan skill Holy Knight." Seratina mendesah memandangku. "Dan motivasinya sekarang adalah si anak haram."
"Ibunda Pertama, mengapa kamu terdengar tidak puas?" Aku mengeluh.
Seratina mengalihkan pandangan menuju Leonard yang kini berlatih menebas boneka kayu. "Tentu saja, dia akhir-akhir ini lebih bersemangat dalam menjalani latihan pedang daripada pelajaran kebangsawanan."
Dia bercerita sebagai pewaris keluarga Ardenheim, meskipun mendapatkan Extra Skill Holy Knight yang terbilang langka, Leonard juga perlu mempelajari etika serta ilmu-ilmu kebangsawanan agar tak mempermalukan keluarga Ardenheim sekaligus dirinya sendiri di hadapan bangsawan lain.
Kalau dia hanya fokus pada latihan pedang ada kemungkinan Leonard menjadi kepala keluarga otak otot seperti Rachiel di Rosel.
Aku tidak yakin dia akan separah Rachiel hingga menaikkan pajak Rilet ke tahap keterlaluan saat menjabat sebagai kepala keluarga Ardenheim, tapi aku harap Leonard tak sampai menjadi idiot nan keras kepala.
"Oh, omong-omong tentang pedang, aku mendengar apa yang kamu lakukan di Rosel dari suamiku." Seratina kembali menatapku. "Apakah kamu benar-benar yakin akan melawan para bangsawan tak becus itu terang-terangan?"
Aku tersenyum tipis. "Tentu saja. Kelebihanku adalah berbuat onar."
"Bukankah Ibunda Pertama yang mengatakan itu dulu?" Aku memasang senyum genit.
"Dulu, ya, dulu." Seratina menggerutu. "Pandanganku padamu sekarang sedikit berubah."
Dia tidak lagi seketus ketika pertama kali kami bertemu sesudah kejadian cacar tersebut.
Itu melegakan.
Oh, ya, aku berhasil membangkitkan sebagian ingatan Fain asli menggunakan Mnemokinesis terhadap diriku sendiri, sehingga aku sedikit banyak mengetahui seberapa 'kejam' keluarga Ardenheim memperlakukan Fain di masa lalu.
Tapi, yah, sekarang semua telah berubah.
Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
"Mengenai Leonard, apakah sudah ada yang mengajukan surat pertunangan?" Aku bertanya mengalihkan topik.
Seratina segera menggeleng. "Sayangnya, belum ada."
Dia menjelaskan meskipun kabar Leonard mendapatkan skill Holy Knight telah tersebar di kalangan bangsawan, keluarga Ardenheim tetaplah hanya keluarga bergelar Viscount II dan Rilet bukanlah kota besar nan makmur seperti kota kekuasaan bangsawan lain walau di tingkat sama.
Lagipula, Leonard baru saja memperoleh Holy Knight sehingga kekuatan serta keterampilannya sama sekali belum memenuhi standar ksatria Gilard.
Leonard von Ardenheim belum menjadi material pertunangan yang bagus jika dilihat dari keluarga bangsawan lain.
Sementara di sisi lain ... Charla sudah menerima surat lamaran dari beberapa keluarga bangsawan dari tingkat Viscount atau lebih tinggi, dan semua itu membuat Seratina menggerutu.
"Aku paham jika anak laki-laki butuh suatu pencapaian agar dapat bersaing dalam dunia bangsawan." Seratina mulai terlihat kesal. "Tapi, beraninya mereka meremehkan Leonard-ku!"
"Awas saja kalau mereka tiba-tiba mengirimkan surat lamaran ketika Leonard menghabisi monster kelas tinggi dan menjadi terkenal! Aku tak akan memberi ampun!"
Wuah, Seratina mulai sewot sendiri. Aku bisa kena sembur kalau berada di sini terus.
Aku harus kabur ... tapi, ke mana?
__ADS_1
Tempat tinggalku ada di sini.