
Pernyataanku mengenai serangan Raja Kekacauan mengundang kejutan dari semua orang yang mendengarnya, terkecuali Gustav yang memang sudah mengerti dan mempercayaiku sejak aku menjabarkan rahasiaku.
"Fain." Eizan memanggilku dengan wajah serius. "Atas dasar apa kamu berasumsi demikian?"
Aku menggeleng pelan. "Tidak pada dasar apapun. Aku hanya memperoleh mimpi nyata sekitar sebulan lalu."
"Tidak didasarkan apa-apa?" Dahi Eizan mengerut hebat.
Tentu saja, aku tiba-tiba mengutarakan omong kosong tanpa bukti seperti ini sama sekali tak bisa dipercaya.
"Eizan, aku tidak memintamu percaya tetapi aku akan memberi peringatan keras." Aku memandang pria muda tersebut. "Ketika pasukan Raja Kekacauan menyerang maka tidak akan ada yang tersisa dari Gilard."
"Semua pemandangan yang kamu kenali akan rata dengan tanah."
Eizan nampak tak mempercayai perkataanku, namun mengingat aku memiliki kemampuan serta darah berbagai campuran ras, dia tidak semerta-merta mengabaikan peringatanku.
Menurut perkataan Leonard kemarin, keluarga Lastaria merupakan keluarga bangsawan bergelar Earl III yang menguasai kota bernama sama di sebelah timur Gilard.
Keluarga Lastaria adalah salah satu keluarga bangsawan tua di Gilard yang sekitar empat ratus tahun lalu diberi gelar oleh Raja Gilard pada masa tersebut, dan mendirikan kota dari awal pondasi hingga berdiri megah sampai sekarang.
Bagi keluarga bangsawan yang mendirikan kota secara mandiri seperti itu, maka raja akan menganugerahi kota tersebut dengan nama keluarga mereka seperti kota Blustania yang juga didirikan serta dikuasai oleh keluarga Blustania hingga detik ini.
Dalam kasus Rilet, sejauh yang kutahu dari buku sejarah di perpustakaan kediaman, dulunya merupakan kota yang dibangun oleh keluarga Rilet, tetapi keluarga tersebut jatuh dan hancur sehingga penguasa baru ditunjuk menggantikan keluarga Rilet.
Kalau tak salah keluarga Ardenheim merupakan penguasa ketiga Rilet, dan satu-satunya keluarga yang bertahan selama lebih dari seratus lima puluh tahun terlepas dari kondisi geografis Rilet yang tak begitu strategis.
Dan kembali ke topik awal, sebagai bangsawan bergelar Earl III keluarga Lastaria diharuskan berhati-hati dalam mengambil tindakan agar tak menyebabkan runtuhnya silsilah keluarga mereka sehingga reaksi Eizan terhadap perkataanku cukup wajar.
Aku justru heran jika dia menelan mentah-mentah pernyataanku mengenai serangan Raja Kekacauan.
"Fain, kalau Raja Kekacauan benar-benar menyerang Gilard seperti yang kamu katakan, bukankah Rilet akan menjadi salah satu sasaran pertama selain Blustania dan Hosean?" Seratina berkomentar sembari memegang dagu setelah berpikir sejenak.
Aku mengangguk menyetujui analisis sederhana Seratina. "Rilet merupakan salah satu kota paling selatan Gilard dan peradaban yang akan hancur pertama kali pastinya adalah Blustania, lalu disusul Hosean, kemudian Rilet sebelum pasukan mereka menyebar dan menghapus Gilard dari peta dunia."
Kalau latar yang kutulis pada novel tidak berubah maka wilayah Raja Kekacauan berpusat pada benua raksasa yang membentang dari selatan hingga ke tengah dan mencangkup hampir setengah daratan dunia, Urulabia.
__ADS_1
Terdapat beberapa negara pada benua tersebut seperti di Alesgard, tetapi semuanya tunduk terhadap Kekaisaran Kekacauan yang dikuasai oleh Raja Kekacauan, Chaos Impelda, sehingga pada dasarnya Benua Urulabia merupakan daerah kekuasaan multak Raja Kekacauan dari ujung hingga ujung satunya.
Dan kami, Gilard merupakan negeri yang terletak di bagian selatan Alesgard dan kerajaan terdekat dari Urulabia menjadi korban pertama Raja Kekacauan.
"Maka dari itu aku mengusulkan Rilet dan Gilard memperkuat pertahanan militer secara besar-besaran." Aku berkata mengumpulkan perhatian. "Kalau tidak, Gilard hanya akan menjadi kenangan kelam."
Gustav berdeham. "Tapi, untuk memperbesar kekuatan militer diperlukan ekonomi yang kuat juga."
"Kita tidak bisa mengharapkan prajurit bertempur tanpa pertahanan dan persediaan logistik," lanjut Gustav khawatir.
"Jika menyangkut masalah ekonomi Ayahanda tidak perlu khawatir." Aku berdiri dan menepuk dada bangga sambil tersenyum. "Aku sudah memikirkan solusi untuk Rilet."
Gustav mengernyitkan dahi sesaat mendengar pernyataanku dan pandangannya jatuh pada piring puding di hadapannya menyadari maksudku. "Jangan bilang ...."
Benar sekali, pak tua.
Kelas Advanced Merchant-mu memang bukan pajangan.
"Selama Ayahanda mengizinkan maka akan kubuat Rilet menjadi kota paling makmur seantero Gilard," ujarku disertai senyum lebar.
Tidak akan kubiarkan Rilet menjadi puing abu serta reruntuhan seperti yang kutulis di novel.
Kalau memang takdir Gilard hancur di tangan Chaos Impelda dan Raja Kekacauan, maka akan kulawan takdir yang telah kutulis sendiri di masa lalu tersebut.
Dan aku mempunyai kekuatan untuk melakukannya.
***
Waktu pagi dan siang kuhabiskan untuk berdiskusi dengan Gustav, sementara aku mengisi waktu soreku dengan memburu monster yang berkeliaran di sekitar Rilet.
Baru pada malam harinya aku menyusun rencana serta kemungkinan yang bisa kuambil untuk memajukan Rilet.
Eizan tidak percaya aku seorang diri dapat meningkatkan kekuatan militer sekaligus ekonomi Rilet sekaligus mempersiapkan pertempuran menghadapi Raja Kekacauan dalam kurun waktu dua bulan, tetapi dia tak mencegah dan membiarkanku berbuat sesuka hati.
Gustav juga sependapat dengan Eizan, namun dia memikirkan kemungkinan serangan Raja Kekacauan sungguh nyata dan menyatakan akan membantu sejauh yang dia bisa sebagai seseorang yang lebih berpengalaman dalam bidang perekonomian.
__ADS_1
Apa yang akan kulakukan demi meningkatkan perekonomian Rilet, katamu? Sederhana.
Lihat bagaimana tanggapan Ardenheim sekeluarga terhadap vla cokelat?
Ya, aku berniat memproduksi cokelat beserta olahannya dan membuat pandangan warga Gilard, dan mungkin juga dunia, terhadap cokelat terjungkir balik lalu tergila-gila dengan salah satu produk konsumsi paling laris dari bumi ini.
"Hei, Fain." Gisele memanggil sambil berbaring di kasur. "Apa Raja Kekacauan benar-benar akan menyerang?"
"Kamu mungkin meragukan perkataanku tapi biarpun tidak terjadi sekalipun, tak ada salahnya meningkatkan kesejahteraan Rilet, 'kan?" Aku membalas tanpa mengalihkan perhatian.
Gisele menggerutu. "Memang benar, sih, tapi ...."
"Kamu tampaknya mengerahkan semua konsentrasi terhadap pekerjaanmu dan berkat itu, perhatianmu terhadapku rasanya akan sedikit berkurang." Dia bangkit dan memelukku dari belakang merajuk.
Aku tertawa kecil menanggapi. "Maaf, tapi kita benar-benar tidak mempunyai waktu."
"Aku janji setelah ini selesai kita bisa lebih bebas," kataku meraih tangan lembut Gisele yang menggantung di leherku.
Gisele tidak membalas dan mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di meja kerjaku.
"Apa ini?" Dia menunjuk kertas bergambarkan sebuah bangunan.
Aku melirik kertas tersebut sekilas dan menjelaskan. "Ah, itu adalah desain pabrik cokelat."
"Pabrik?" Gisele mengangkat alis. "Kamu mau mempekerjakan warga Rilet di sana?"
Aku mengangguk. "Ya, terutama para perempuan yang biasanya menganggur selain mengerjakan pekerjaan rumah."
"Aku sudah meminta Ayahanda untuk merekrut dan melatih para pria dan pemuda sehat sebagai prajurit tambahan meski tidak seberapa." Aku meregangkan badanku sejenak setelah selesai menyusun desain serta rencana peningkatan ekonomi Gilard. "Kita akan butuh setiap tenaga tak peduli sekecil apapun itu."
Omong-omong, apa aku perlu mempekerjakan anak-anak panti asuhan di Rosel dalam proses produksi cokelat? Selain menjadi tenaga tambahan aku juga bisa mengawasi perkembangan mereka.
Tentu saja aku tak akan memberi pekerjaan berat kepada mereka. Mungkin hanya pekerjaan ringan seperti memanen biji dan merawat kebun cokelat.
Biasanya mustahil bagi pohon sebesar cokelat tumbuh dan berbuah hanya dalam kurun waktu dua bulanan tetapi dengan bantuan Authority of Author, tak ada yang tak mungkin bagiku.
__ADS_1
Setelah aku selesai membuat rencana, Gisele menarikku menuju kasur dan ... ya, aku tidak perlu menjelaskan yang satu ini lebih lanjut, bukan?