
Begitu jarak kelompok besar monster menurut aplikasi peta semakin surut, kami mendarat di suatu tempat tak jauh dari kelompok tersebut.
"Bagaimana kesan penerbangan pertamamu, Leonard .... Sepertinya tidak perlu kutanyakan, ya." Aku tersenyum kering memandang Leonard yang kini sibuk mengeluarkan isi perut di semak belukar.
Wajah Leonard menjadi pucat selesai memuntahkan sarapan di perut.
Dia memandang ke arahku dengan mata ikan mati. "Kakak ... kamu sengaja membalas dendam padaku atau apa?"
"Anggap saja demikian." Aku tertawa kecil sebelum mengerahkan Vitakinesis kepada Leonard agar meredakan gejala mual serta pusing yang dialaminya.
Sesudah mual dan pusing Leonard menghilang, aku memberikan sebuah pedang logam biasa yang sesuai dengan tubuhnya, lalu makanan ringan seperti roti sebagai tambahan untuk mengganjal perut.
Mata Leonard kembali bersinar saat menggigit roti tersebut. "Kakak, apa ini?! Roti ini begitu lembut dan terdapat suatu isian manis bercampur di dalamnya!"
"Itu namanya roti isi selai cokelat." Aku terkekeh geli melihat reaksi Leonard pertama kali merasakan cokelat.
Yah, di dunia yang peradabannya tertinggal jauh dari bumi ini mungkin belum memiliki teknik pengolahan pangan yang terlalu maju, dan sebagian besar masakan hanya dibuat secara sederhana seperti memanggang, membakar, atau merebus.
Tanpa memakai pengetahuanku sebagai penulis dunia ini sekalipun aku bisa menebak hal ini saat anak-anak panti kota Rosel menyaksikanku menggoreng sesuatu ketika menyiapkan makan malam dengan tatapan penuh keheranan serta penasaran.
Aku sempat melihat terdapat minyak goreng dijual pada Perusahaan Daedalus cabang Matildam tetapi selain teknik menggoreng merupakan hal asing di kalangan warga maupun bangsawan, harganya cukup mahal bagi rakyat jelata.
Ketika aku bertanya Elena menjelaskan bahwa memproduksi minyak goreng cukup sulit jika hanya didasarkan ingatan samar-samarnya mengenai proses pembuatan minyak goreng di bumi, dan permintaan minyak goreng tidak begitu mulus di pasaran.
Elena mengaku sebagian besar orang dunia ini bahkan mengira minyak goreng adalah minyak bakar sehingga saat orang-orang berbondong-bondong membeli, mereka semua kecewa dan mengajukan protes keras.
Itulah mengapa Elena hanya memproduksi minyak goreng dalam kuantitas sangat kecil.
Aku turut bersimpati terhadap Elena.
Produk sesederhana minyak goreng yang berpotensi meningkatkan variasi kuliner saja mengalami kesulitan dalam penjualan, apalagi sesuatu yang lebih rumit seperti olahan cokelat.
Yah, kesampingkan dulu masalah cokelat, aku menemukan satu monster level rendah ... uhh, daripada monster ini sih lebih condong ke hewan buas.
"Leonard, tarik pedangmu dan ambil posisi." Aku memerintahkan Leonard dan menunjuk ke arah babi seukuran manusia dewasa berkepala batu tersebut. "Kamu akan menghadapi Stonehead Boar ini."
Ekspresi Leonard seketika kacau menyadari sosok babi berkepala batu itu. "Kakak, aku memang sudah berlatih sendirian cukup lama tapi langsung melawan Stonehead Boar seperti ini terlalu mengejutkan!"
"Oh, ayolah, jangan merengek begitu. Kamu laki-laki, 'kan?" Aku berucap menanggapi jeritan Leonard.
Aku lalu mengerahkan Myokinesis kepada Leonard. "Nah, aku sudah memberimu penguatan otot sementara. Kalahkan lawanmu dan jadilah lelaki sejati."
"Omong-omong aku tak akan membantumu selain memberikan beberapa masukan. Semangat," kataku mengangkat dua jempol.
__ADS_1
Dia ingin melayangkan protes tetapi tak punya kesempatan karena Stonehead Boar sudah menerjang menuju arahnya.
Leonard menghindari terjangan lurus Stonehead Boar dengan mudah dan terlihat kagum terhadap kekuatan aneh yang membuat tubuhnya terasa lebih ringan serta kuat.
Stonehead Boar mengambil manuver berputar dan menyerang Leonard sekali lagi dengan terjangan seperti sebelumya dan adik lelaki berambut merah gelapku tersebut kembali menghindar.
Dan pemandangan lari, terjang, menghindar antara dua makhluk berspesies berbeda ini telah berulang kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir.
Mereka sudah seperti bermain kejar-kejaran.
"Leonard, lemaskan bahumu. Jangan terlalu tegang. Bawa santai saja." Aku berkata memberi masukan.
Leonard menggerutu masih terlihat panik. "Kakak mudah berkata seperti itu! Bagaimana aku bisa menenangkan diri kalau begini?!"
"Apa maksudmu? Di pertarungan sesungguhnya musuh tak akan membiarkanmu menarik bernapas." Aku mengingatkan. "Kuasai dirimu dan cermati gerakan lawanmu baik-baik."
"Cermati tapi bagaimana?!" Leonard berseru sesudah menghindari terjangan si babi batu.
Hmm, sudah kuduga hasilnya pasti begini.
Bagaimanapun juga sebagai seorang anak remaja yang selama ini berlatih seorang diri secara tiba-tiba diminta menghadapi lawan pertamanya, memang wajar Leonard bereaksi demikian.
Toh, kurasa tidak masalah.
Dia bisa mengambil pengalaman ini sebagai pembelajaran.
Peluru batu segera melesat cepat menghantam kepala batu mahluk berkaki empat tersebut dan menumbangkannya dalam satu gerakan.
Leonard terduduk di tanah menghela napas lega dan menatapku sambil menggerutu. "Kakak, kalau bisa melakukan itu sejak awal maka lakukanlah. Aku hampir saja mati diseruduk babi."
"Tidak lucu jika calon Holy Knight tewas diseruduk Stonehead Boar, 'kan?" Leonard mengeluh berturut-turut.
"Kalau aku membantumu dari awal namanya bukan latihan, dong." Aku menggelengkan kepala. "Lagipula, tujuanku membawamu kemari agar kamu mengerti bagaimana pertarungan yang sesungguhnya melawan makhluk hidup bukan boneka kayu ataupun latih tanding."
"Bagaimana? Sudah mendapat gambaran kasarnya?"
Leonard terdiam sesaat sebelum memejamkan mata. "Hmm, rasanya jauh berbeda dibanding ketika latih tanding melawan Kakak. Ini lebih seperti ...."
Dia lalu bergumam merenungkan hasil pertarungan nyata pertamanya.
Bagus, dia mulai belajar memahami esensi pertarungan hidup dan mati—meski tidak bisa dikatakan hidup dan mati juga mengingat lawannya hanyalah babi berkepala batu.
Stonehead Boar tidak termasuk golongan monster karena tak memiliki kristal sihir, melainkan dikategorikan sebagai spesies hewan buas yang bermutasi akibat menetap di daerah padat Mana dalam waktu lama, dan hal ini membuat mereka bermutasi menjadi sesuatu lain.
__ADS_1
Kalau harus disamakan ini makhluk yang bermutasi akibat terkena radiasi nuklir namun dalam ranah aman.
Singkat cerita, Stonehead Boar hanyalah spesies babi hutan biasa berkepala batu tanpa keistimewaan tertentu.
"Kakak." Leonard bangkit sambil membawa pedang di tangan. "Biarkan aku mencobanya lagi."
Oh, sorot mata yang bagus.
Dia sama sekali tak terlihat seperti anak tukang mengeluh barusan.
Kami kemudian mencari musuh di sekitar dan menemukan Stonehead Boar lain yang segera menerjang begitu menyadari keberadaanku dan Leonard.
Leonard segera mengambil posisi sementara aku mengerahkan Presence Erasure agar perhatian Stonehead Boar ataupun Leonard tak teralih kepadaku.
Stonehead Boar berlari lurus mengarah menuju Leonard tetapi tidak seperti sebelumya, kini kuda-kuda Leonard tak bergeming dan dapat terlihat matanya terpusat pada babi berkepala batu tersebut.
Leonard menarik napas dalam-dalam sembari menyiapkan pedang dan saat Stonehead Boar mencapai jarak tertentu, Leonard merendahkan lutut dan memutar badan keluar dari lajur lari si babi, lalu mengayunkan pedangnya memotong keempat kaki Stonehead Boar sekaligus.
.... Anak ini .... Kalau dia serius dia bisa dengan mudah mengalahkan Stonehead Boar pada pertarungan keduanya!
Dan juga, apa-apaan itu barusan? Merendahkan lutut sampai hampir menyentuh tanah? Menebas empat kaki pendek Stonehead Boar dalam satu ayunan?
Leonard benar-benar jenius dalam ilmu pedang, hei!
"Kakak! Aku berhasil!" Leonard berseru sambil melompat-lompat girang seperti anak kecil yang baru menyelesaikan teka-teki sulit pertamanya.
Aku bertepuk tangan sesudah melepas Presence Erasure. "Selamat atas kemenangan pertamamu. Itu teknik bagus. Kakak sangat terkesan kamu bisa mempelajari dan menerapkan semuanya hanya dalam satu pertarungan saja."
"Benar, 'kan!" Leonard membusungkan dada merasa bangga atas pujianku. "Aku adalah calon Holy Knight di masa depan! Tak mungkin aku kalah dari Stonehead Boar untuk kedua kalinya!"
Aku tertawa kecil sebelum menunjuk ke Stonehead Boar yang dikalahkan Leonard. "Tapi, kamu tahu, kamu belum membunuhnya dan dia sedang mengeluarkan rintihan kematian."
"Itu artinya ...." Aku menunjuk ke daerah sekitar dan diikuti oleh ekspresi Leonard kian menggelap.
Di sana terdapat banyak Stonehead Boar berkumpul setelah mendengar jeritan kematian rekan mereka dan mereka semua memusatkan perhatian kepada Leonard seorang.
Wajah Leonard memucat dan perlahan menoleh ke arahku. "Kak, kali ini Kakak akan membantuku, 'kan?"
"Tentu saja tidak." Aku memasang senyum polos. "Kamu menuai apa yang kamu tabur."
Aku lalu melompat ke dahan pohon terdekat dan melambai. "Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga bagimu! Bagaimanapun juga guru terbaik adalah pengalaman itu sendiri!"
"Tidak!" Leonard menjerit keras.
__ADS_1
Dan begitulah bagaimana pertarungan mati-matian antara belasan Stonehead Boar melawan sang Holy Kniht masa depan dimulai yang diawali oleh jeritan keputusasaan pewaris keluarga Ardenheim tersebut.
Selamat menjalani latihan sparta ala Alfain, adik kecilku yang polos.