I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
14. Huh? Seriusan?


__ADS_3

Keesokan harinya aku pergi menghampiri serikat sentinel sesuai janji untuk mengambil bayaranku atas 752 kristal sihir Goblin.


"Fain, total bayaranmu sebesar 77 koin perunggu." Resepsionis menyerahkan tumpukan koin perunggu kepadaku sebelum lanjut menjelaskan. "Terdapat dua kristal sihir Goblin Chief di antara kristal sihir Goblin yang kau berikan."


Oh, aku mengalahkan dua Goblin Chief? Aku sama sekali tidak sadar.


Kalau aku tak salah ingat Goblin Chief adalah sosok Goblin kuat yang hampir menjadi Hobgoblin, tapi berdasarkan ingatanku kemarin aku tidak melihat ada Goblin kuat.


Hampir semua Goblin mati dalam sekali serang jadi aku tak mengetahui ada Goblin Chief di antara gerombolan Goblin tersebut.


Maksudku, aku menyerang beberapa desa Goblin dengan tujuan mencari tahu kemampuan Kinesis, jadi, yah, aku tak begitu memperhatikan.


Tapi, kalau memang begitu, ya, baguslah.


Setidaknya dalam beberapa bulan Goblin tidak akan menjadi ancaman berarti bagi Rilet.


Aku mengambil bayaran serta kartu sentinelku dari sang resepsionis .... Huh?


"Kartu sentinel biru?" Aku mengangkat alis mengenggam kartuku yang telah berubah warna. "Aku naik pangkat?"


Si resepsionis tersenyum kecut menjawabku. "Bagaimana tidak? Fain telah menghabisi 752 Goblin seorang diri. Kalau kamu tak naik pangkat maka serikat bisa kehilangan muka."


Benar juga, masuk akal.


Sama seperti pekerjaan petualang di berbagai cerita fantasi lainnya, sentinel juga memiliki peringkat yang didasarkan oleh warna kartunya.


Jika diurutkan dari yang paling rendah terdapat sentinel putih, biru, hijau, kuning, oranye, merah, ungu, perunggu, perak, emas, dan terakhir hitam sesuai pencapaian mereka.


Tentu saja, seiring peringkat mereka meningkat para sentinel semakin diakui kekuatan serta keberadaannya—dan bayaran mereka tentu juga semakin tinggi.


Saat ini aku bertujuan untuk menaikkan peringkat setinggi mungkin sambil menjalankan permintaan dengan bayaran bagus mengingat kesepakatanku dengan Gustav.


Aku harus mengumpulkan 30 koin emas dalam waktu kurang dari lima tahun—tidak, setidaknya aku harus mampu mendapatkan 10 koin emas dalam rentang kurang dari tiga bulan untuk membawa Gisele kabur dari negara ini.


Untuk itu aku akan mengincar peringkat setinggi mungkin sebagai sentinel.


"Oh, jadi kamu yang bernama Fain?"


Salah seorang pria mendatangiku sesudah aku memasukkan koin-koinku ke Spatial Storage.


Dia berbadan besar namun langsing dan berkepala botak, serta terdapat banyak bekas codet di wajah dan ubun-ubun botaknya.


Dia bersandar di meja resepsionis sambil tersenyum sinis. "Jadi, kamu yang kemarin menghajar sentinel kuning dan membuatnya pingsan secara memalukan?"


"Aku tidak tahu dia sentinel peringkat apa tapi jika yang kau maksud peristiwa kemarin, maka itu benar." Aku mengangguk dan menatap mata pria tersebut dengan tajam. "Lalu, apakah kamu ingin menjadi yang berikutnya?"

__ADS_1


Pria itu menyeringai lebar sebelum tertawa. "Sombong sekali cara bicaramu, Nak! Tidak banyak yang berani berbicara seperti kepadaku dalam beberapa tahun terakhir! Kau menarik!"


Huh? Apa-apaan orang ini? Apa dia sentinel peringkat merah atau lebih tinggi?


Kalau benar sebisa mungkin aku tak mau mencari gara-gara dengan orang sekuat itu—setidaknya belum saatnya.


"Ah, aku belum mengenalkan diri, ya?" Pria berbadan bongsor botak itu berdiri tegak sebelum mengenalkan diri. "Namaku Calvin D Grayman! Sentinel peringkat perunggu sekaligus ketua serikat cabang Rilet!"


Sentinel perunggu dan ketua serikat? Orang ini ...?


"Hmm? Apa-apaan wajah itu? Kamu tak mempercayaiku, ya?"


Aku menghela nafas sembari mengangkat bahu. "Setengahnya, ya. Aku tak bisa langsung percaya."


"Lagipula, jika kamu ketua serikat mengapa harus repot-repot menemuiku di sini? Aku bukan sentinel papan atas."


"Perkataanmu ada benarnya juga," gumam Calvin mengelus dagu.


Apa tidak masalah orang seperti ini menjabat sebagai ketua serikat cabang? Dia terlihat seperti bukan tipe pemikir—yah, aku juga sih.


Calvin kembali menyeringai. "Memang kau bukan sentinel peringkat tinggi tapi pencapaianmu menghabisi ratusan Goblin dan dua Goblin Chief dalam sehari itu juga bukan termasuk peringkat rendah, kau tahu."


"Kalau menurut tebakanku kekuatanmu setidaknya menyamai sentinel merah atau mungkin lebih." Dia tersenyum dingin. "Bukankah begitu?"


"Masuk akal." Aku balas menyeringai. "Aku tak berniat sombong, namun jika itu yang ketua serikat nilai dariku mungkin penilaian tersebut tidak salah."


Aku duduk di kursi yang tersedia di tengah ruangan. "Jadi, ada perlu apa sampai memanggilku kemari? Apa ada permintaan darurat untukku atau sejenisnya?"


"Intuisimu tajam juga." Calvin mengangguk. "Benar, aku mempunyai permintaan darurat kepadamu."


Benar, 'kan. Sudah kuduga.


Ini bukan masalah intuisi tapi aku sudah puluhan atau bahkan ratusan kali membaca novel dan cerita fantasi yang plotnya selalu berujung ke peristiwa seperti ini.


Aku tak akan heran jika permintaan yang dia tujukan padaku berhubungan dengan serangan monster dalam skala besar tertentu.


Meskipun aku secara harafiah adalah penulis dan pencipta dunia ini tetap saja aku tidak dapat menebak pasti permintaan Calvin mengingat latar waktu sekarang adalah 9 bulan sebelum cerita novelku dimulai.


Pada dasarnya selain cara kerja serta aturan dunia, aku tidak tahu pasti apa saja peristiwa yang terjadi di era sebelum Kehancuran Kerajaan Gilard.


"Permintaan apa itu? Apa sekawanan besar Ogre atau Troll sedang mendekat kemari untuk menghancurkan Rilet?" Aku berkata sambil bercanda.


Calvin mengerutkan dahinya menanggapiku dengan serius. "Sepertinya kamu tidak asing dengan peristiwa sejenis ini."


Huh? Seriusan?

__ADS_1


Candaan terselubung tebakanku tidak salah?


Aku memperbaiki posisi dudukku menjadi serius.


"Ketua serikat, kau yakin? Tentang sejumlah besar Ogre dan Troll ini?" Aku bertanya kembali memastikan. "Aku hanya sekedar bercanda saja, loh."


Calvin mendengus. "Tentu saja, aku bisa melihat kamu sama sekali tak serius saat berkata demikian."


Dia lalu berjalan mendekati jendela kaca menghadap ke luar gedung. "Tapi, kenyataannya candaanmu sungguh terjadi. Aku telah memastikan beberapa desa Ogre dan Troll di sekitar Rilet, dan juga desa Orc sebagai tambahan. Laporan ini bisa dipercaya."


Calvin melemparkan beberapa lembar kertas yang nampaknya adalah laporan aktivitas monster di sekitar Rilet.


Aku membacanya sekilas dan menemukan seluruh perkataan Calvin tidak salah.


Aku menghela nafas berat sesudah membaca laporan singkat tersebut sebelum kembali mengangkat suara. "Jadi, apa yang ingin kau minta dariku? Menahan mereka atau berpartisipasi dalam pertempuran besar? Kamu sadar itu sama sekali bukan tugas ringan, 'kan?"


"Benar, aku menyadarinya." Calvin mengangguk kemudian duduk di kursi depanku. "Maka dari itu sebelum mereka sempat menyerang aku ingin kamu membasmi seluruh desa mereka."


Hei, apa aku tidak salah dengar? Dia bilang membasmi seluruh desa Ogre, Orc, dan Troll di sekitar Rilet?


Aku mungkin mempunyai kekuatan setingkat sentinel merah atau lebih tapi menghadapi ratusan hingga ribuan ketiga jenis monster tersebut bukanlah hal mudah bahkan bagiku, apalagi membasmi belasan desa mereka.


Itu sudah di luar nalar.


Aku ingin menolak tetapi di saat yang sama kediaman Ardenheim juga berada di Rilet yang mana merupakan tempat tinggal Gisele.


Jika aku menolak permintaan ini maka kemungkinan besar Rilet akan hancur dan Gisele ....


Sial, aku tak mau membayangkannya sedikitpun!


Aku berdeham sejenak dan menatap Calvin. "Baik, aku menerima permintaanmu."


"Terima kasih. Atas seluruh sentinel di kota Rilet, aku berhutang bu—"


"Tapi, sebagai gantinya aku ingin peringkatku naik setidaknya sampai peringkat kuning dan bayaran yang sepadan sesuai jumlah monster yang kuhabisi."


Aku memberikan tatapan tajam kepada Calvin sebelum sempat dia selesai berbicara.


Calvin terdiam sejenak sebelum menghela nafas berat dan tersenyum kecut. "Tidak masalah. Anggap saja sudah selesai."


Bagus, dengan begini tujuanku membawa kabur Gisele dari Gilard bisa beberapa langkah lebih dekat.


Aku bangkit dari kursi dan melangkah menuju pintu. "Kalau begitu akan segera kukerjakan."


"Huh?" Calvin memasang ekspresi heran sebelum berdiri dan berseru keras. "Tunggu tunggu tunggu, maksudmu sekarang juga?! Tidak perlu persiapan?!"

__ADS_1


"Tentu saja." Aku membuka pintu kemudian meninggalkan ruangan. "Lebih cepat lebih baik, bukan?"


Dan seperti itulah bagaimana awal kisahku mengukir legenda di Rilet dan sejarah dunia dimulai.


__ADS_2