I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
20. Dasar Bangsawan Licik!


__ADS_3

Bagaimana aku harus menjelaskan ini?


Gustav, ayah kandungku yang seorang bangsawan, bertanya mengenai sumber kekuatan yang membuatku tiba-tiba kuat hanya dalam beberapa hari.


Aku tidak mungkin memberitahukannya mengenai Authority of Author, 'kan?


Aku tak keberatan jika harus menjelaskan identitas asliku sebagai reinkarnator asalkan dia bisa menjaga rahasia namun untuk Authority of Author ....


Ini sangat tabu mengingat di dunia ini juga terdapat eksistensi bernama dewa—meski mereka hanyalah makhluk luar biasa kuat dalam pandangan makhluk fana.


Aku bisa dipancung jika aku mengaku sebagai dewa—meski aku tak akan membiarkan hal itu terjadi bagaimanapun caranya.


Lagipula, aku bukan tipe orang yang bisa memendam rahasiaku seorang diri.


Jika itu rahasia orang lain mulutku dapat tertutup rapat tapi mengenai rahasiaku sendiri maka akan sulit.


Dan juga, aku tak begitu pandai berbohong dan otakku juga tidak seencer Gustav ataupun orang-orang pintar lainnya.


Jikapun aku berbohong dan suatu saat ketahuan maka itu hanya akan menyebabkan masalah lebih besar.


Aku menghela napas panjang sebelum menatap mata Gustav. "Ayahanda, sebelum itu ada yang ingin kudiskusikan dan aku ingin pembicaraan ini hanya untuk kita berdua saja."


"Apa Ayahanda bisa menjajikan hal itu bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa?"


Ekspresi Gustav seketika berubah begitu aku menyinggung pertaruhan nyawa.


"Apa kamu sedang mengancamku, Fain?" Sorot mata Gustav menajam.


Aku menggeleng dan membalas tanpa gentar. "Aku bukan mengancam, Ayahanda. Tapi, apa yang akan kukatakan dapat membuatku dikejar oleh seluruh dunia jika tersebar dan kalau Ayahanda ingin mengetahuinya, maka Ayahanda juga harus mempersiapkan diri."


Wajah Gustav sekilas tidak berubah banyak namun aku bisa melihat bahwa dia syok sekaligus tidak percaya, namun nampak enggan mundur.


Aku sedikit banyak paham perasaannya ketika dilimpahkan tanggung jawab untuk menjaga rahasia yang bisa membuat seluruh dunia memburu sewaktu-waktu rahasia ini bocor.


Beberapa waktu berlalu tanpa suara tapi aku tetap sabar menunggu jawaban Gustav sampai akhirnya dia memecah keheningan.


"Ceritakan kepadaku," kata Gustav bertekad.


Aku kemudian menjelaskan asal muasalku yang merupakan reinkarnator dari bumi, mengenai kemampuan yang dapat merubah ras serta memberiku skill, dan juga pengetahuan tentang seluruh dunia ini dari masa lalu hingga masa depan.


Tentu aku tak menyinggung Authority of Author secara langsung—meski sedikit kupancing—mengingat rahasia ini akan kupendam sampai pada aku siap menghadapi semuanya atau kematian menjemputku.


Setelah aku selesai bercerita aku dapat melihat kegugupan Gustav beserta keringat dingin membasahi dahi serta lehernya.


Yah, pada dasarnya aku seperti memberitahukan Gustav bahwa aku adalah titisan dewa atau dewa itu sendiri, tapi ketika dia bertanya mengenai hal tersebut aku langsung menepisnya.

__ADS_1


"Ayahanda, aku bukanlah titisan dewa apalagi dewa itu sendiri." Aku menggeleng pelan. "Kalau harus disederhanakan bisa dibilang aku hanyalah pengamat dunia ini."


Benar, aku bukanlah dewa—atau setidaknya dewa yang mereka kenal.


Aku hanyalah penulis dunia ini.


Aku tidak berbohong, 'kan?


Gustav jatuh dalam depresi seusai mendengarkan seluruh ceritaku sampai selesai.


"Meskipun kamu hanya pengamat bukankah itu artinya kamu adalah bagian para dewa, Fain?" Gustav secara ragu bertanya disertai sedikit takut. "Kalau kamu mengetahui segala sesuatu di dunia ini, bahkan dari masa lalu hingga masa depan ... itu artinya kamu bukan sekedar dewa ...."


"Kamu adalah dewa dari para dewa."


"Pfft—"


"Huh?"


Sial, aku terlalu lengah sampai keceplosan!


Yah, secara harafiah keberadaanku memang bisa disebut demikian .... Tapi, mendengarnya langsung dari orang lain seperti ini membuat perutku tergelitik!


Editor, pembaca, siapapun tolong hentikan perasaan gelitik di perutku ini!


Butuh beberapa waktu sampai gelombang tawaku mereda dan akhirnya bisa kembali menghadap Gustav yang kini terlihat bingung sekaligus ketakutan.


Tidak, aku tak sedang berbohong.


Aku berkata demikian karena memang aku juga membaca novelku, jadi aku tak sepenuhnya sedang berbohong.


Aku kemudian menjelaskan kembali secara ringkas bahwa yang kulakukan sebagai pengamat hanyalah mengamati—atau lebih tepatnya seperti membaca buku, karena memang benar aku membaca.


Perasaan gusar Gustav nampaknya tidak segera hilang namun aku dapat mengetahui dia sudah lebih tenang.


"Begitu, ya. Aku paham."


"Tapi, kalau kamu bereinkarnasi merasuki tubuh Fain ...." Gustav memberanikan diri. "Apa itu artinya Fain yang asli ...."


"Sayangnya, yang Ayahanda khawatirkan benar." Aku mengangguk.


Fain yang asli, jiwa Fain di dunia ini sudah pergi ke alam kematian karena cacar parah sebelum aku bereinkarnasi.


Gustav terlihat sedikit terganggu namun dia paham dan dapat menerimanya dengan cepat.


"Begitu ...." Gustav menunduk menatap meja. "Nasib ibu dan anak rupanya tidak jauh berbeda."

__ADS_1


Aku merasa sedikit bersalah atas kematian Fain tetapi di saat yang sama, diriku di bumi juga bernasib serupa meski bukan karena cacar.


"Ayahanda." Aku memanggil Gustav yang kini menatapku. "Aku memang bukan Fain tetapi setelah menerima tubuhnya sebagai medium reinkarnasi, aku akan mencoba mengharumkan nama Fain dengan caraku sendiri."


Fain mungkin bernasib malang namun aku berterima kasih kepadanya yang telah memungkinkanku bereinkarnasi ke dunia novelku sendiri.


Aku akan membalas kesempatan yang diberikan Fain ini dengan caraku.


Gustav masih terlihat emosional setelah mendengar kematian Fain, tapi dia dapat menenangkan diri dengan cepat.


Seperti yang diharapkan dari seorang bangsawan. Dia memang profesional dalam pekerjaannya sebagai penguasa Rilet sekaligus Viscount II.


"Terima kasih, Fain."


Oh, Gustav mengucapkan terima kasih. Ini hanya yang teramat langka.


Aku berdeham sejenak. "Omong-omong, Ayahanda tadi bertanya mengenai sumber kekuatanku. Apa Ayahanda ingin kuberikan suatu kekuatan?"


"Kekuatan maksudmu .... Kamu bisa memberiku kekuatan?"


"Yah, kurang lebih." Aku mengangguk. "Anggap saja sebagai ganti merahasiakan semua ini."


Mungkin ini bukan keputusan bijak menggunakan Authority of Author untuk menulis ulang skill Gustav namun jika itu berarti membuat dia mampu melindungi keluarga Ardenheim dari serangan besar-besaran Raja Kekacauan nanti, kurasa tidak ada salahnya.


Aku juga belum menggunakan Authority of Author untuk hari ini jadi menulis ulang skill Gustav masih memungkinkan.


Gustav nampak merenung sejenak sebelum kembali mengangkat suara. "Daripada kekuatan bisakah aku meminta sebuah senjata? Seperti pusaka khusus yang hanya bisa digunakan oleh keluarga kita saja."


Oh, senjata, ya? Kurasa aku bisa membuat sesuatu seperti itu dengan Authority of Author.


Tapi ....


"Maaf, Ayahanda. Aku hanya bisa memberi kekuatan bukan membuat sesuatu seperti itu." Aku terenyum pahit melihat ekspresi kecewa Gustav.


Memang benar aku dapat menciptakan pusaka terhebat yang bahkan mampu membunuh dewa menggunakan Authority of Author, tetapi aku juga berpikir apa yang akan terjadi jika keluarga Ardenheim tiba-tiba memiliki pusaka sehebat itu?


Benar, ada kemungkinan keluarga Ardenheim akan menjadi target banyak pihak.


Bukan mustahil bila pihak kerajaan menuntut Gustav untuk menyerahkan pusaka itu kepada kerajaan meski yang hanya dapat digunakan oleh keturunan Ardenheim.


Gustav nampak sedikit kecewa tapi anehnya dia tak larut terlalu dalam.


Apa dia sejak awal tidak berharap banyak?


Gustav menghela napas berat. "Jadi, kamu sekalipun tidak mahakuasa, ya. Itu melegakan."

__ADS_1


Jadi itu maksudmu meminta senjata pusaka?! Dasar bangsawan licik—tidak, ayah licik!


__ADS_2