I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
81. Mengejar Dendam


__ADS_3

Aku segera berpindah menuju panti asuhan menggunakan Instant Warp dan memeriksa seruan para anak-anak.


Mereka membawaku ke dalam ruangan di mana aku menemukan ... enam tubuh anak terbaring dengan anak panah menancap di bagian-bagian badan mereka.


"Wraith Magic ; Soul Detection." Aku mengerahkan sihir hantu untuk memastikan keselamatan mereka tapi ....


Empat nyawa anak panti telah melayang.


Aku tanpa sadar mengepalkan tangan sekuat tenaga hingga meneteskan darah menyaksikan pemandangan tersebut.


.... Tidak, tenangkan dirimu dulu, Fain.


Jangan terbawa emosi.


Masih ada dua anak yang masih hidup.


Kamu masih bisa menyelamatkan mereka.


Aku mengerahkan Odynokinesis untuk meredakan rasa sakit keduanya lalu mencabut semua anak panah menggunakan Telekinesis sekaligus, kemudian memakai Vitakinesis menyembuhkan seluruh luka mereka.


Pandanganku jatuh kepada tubuh Mia ... anak panti pertama yang kutemui kini digotong oleh anak-anak lain kemari sambil menangis.


Mia terkena panah di bagian belakang kepala, dada, perut, tangan, serta leher, tapi dia masih hidup.


Aku mengulangi proses sebelumnya kepada Mia dan nyawanya berhasil berhasil kuselamatkan tetapi tidak dengan keempat anak sisanya.


Risa menangis di posisi berlutut memandangi anak-anak panti yang terkena anak panah dan kehilangan kesadaran.


Menurut kesaksian anak-anak panti lain, anak panah juga menghujani panti asuhan dari belakang dan saat itu terjadi, anak-anak yang sedang memanen tanaman di kebun secepatnya dihabisi tanpa perlawanan oleh hujan anak panah.


Mia sempat melindungi beberapa anak panti dari hujan anak panah dan berakhir demikian.


"Ini salahku ...."


Ya, ini salahku memberikan anak-anak tak berdosa ini sumber daya terbaik tanpa memikirkan konsekuensinya.


Ini juga salahku terlalu percaya terhadap kemampuan Authority of Author yang kuanggap mutlak tanpa kelemahan.


.... Ini semua salahku.


"Mereka keparat-keparat berasal dari keluarga Salues, ya?" Aku mengepalkan tangan sampai mengucurkan darah lebih banyak.


Aku melangkah menuju keluar panti dan berpesan kepada Risa dan anak-anak lain. "Rawat yang masih hidup."


Bajingan-bajingan itu ....


Aku tidak akan memaafkan keluarga Salues.


Akan kuhancurkan mereka semua tanpa terkecuali.


.... Hmm? Suara ledakan?


Aku menoleh ke sumber suara tersebut dan menemukan Rosetta sedang mengamuk menghadapi prajurit serta penyihir Salim yang masih tersisa.

__ADS_1


"Penguasa bajingan!" Dia mengerahkan berbagai sihir sekaligus. "Kalian tidak ada bedanya—tidak, kalian lebih bajingan dari keluarga Gozet!"


Dia akhirnya datang, huh? Dari mana saja kau selama ini, hei, perawan tua?


Tidak, apa mungkin bujangan perempuan tua lebih tepat? Dia sudah tidak lagi perawan.


Tapi, kedatanganmu tak mengundang kekecewaanku, Rosetta.


Aku kemudian berpindah ke samping Rosetta menggunakan Instant Warp. "Rosetta, lumpuhkan penyihir tapi jangan bunuh mereka—tidak, setidaknya sisakan satu atau dua orang."


"Wuah! Fain?!" Rosetta menjerit kaget menyadari aku tiba-tiba muncul di sampingnya. "Kapan kamu kembali?"


"Itu tidak penting. Kita bahas nanti." Aku berkata tanpa emosi. "Lakukan saja permintaanku."


Rosetta nampak kebingungan terhadap nada suaraku namun tak berani bertanya.


Dia lalu memusatkan sihirnya kepada para penyihir yang masih tersisa.


Di sisi lain aku memanggil Cerberus menggunakan Beast Summon. "Habisi semua prajurit di belakang panti. Jangan sisakan satupun kecuali penyihir."


"Buat para penyihir lumpuh dan seret mereka semua kemari," perintahku pada Cerberus yang segera bergerak menjalankan perintah.


Aku kemudian melangkah mendekati Salim yang .... Hmm? Dia tidak ada di sini?


Di mana dia? Prajurit—tidak, dia tak akan menyamar sebagai prajurit ataupun penyihir.


.... Ah, mungkinkah dia kabur dengan cara berteleportasi ke Rudania?


Tanpa keberadaan Salim aku lalu menghabisi para prajurit yang tersisa tanpa ampun.


Kinesis dan Form Shifter kugunakan sekaligus untuk membabat habis mereka.


Aku bergerak dengan tangan dan kaki yang telah berubah menjadi bilah tajam pada pinggirannya, sementara pikiran kedua dan ketiga mengerahkan Kinesis menghabisi prajurit di sekitar.


Tidak butuh waktu lama bagiku dan Rosetta, sang ketua serikat cabang Rosel sekaligus sentinel peringkat perunggu, membantai lebih dari seratus pasukan keluarga Salues.


Cerberus juga kembali ke sisiku sambil menenteng beberapa penyihir dari belakang panti di rahangnya.


Rosetta melangkah mendekat. "Fain, apa yang terjadi di dalam panti?"


".... Empat anak terbunuh." Aku menjawab sedikit merasa enggan.


Dia membelalakkan mata sesaat dan menggigit bibir sembari memeluk dirinya sendiri. "Maaf .... Aku tidak bisa menepati janjiku."


"Tidak, kamu tak salah apa-apa." Aku menggeleng. "Kamu disibukkan oleh posisimu sebagai ketua serikat sentinel yang mulai kembali berbisnis, bukan?"


"Aku memahami kondisimu."


Rosetta tidak bisa menjawab. Semua perkataanku tepat sasaran.


Dengan tiadanya keluarga Gozet yang menekan serikat sentinel cabang Rosel, para sentinel lokal kembali berbisnis dan serikat sentinel sedikit demi sedikit pulih meski sangat lambat, dan butuh waktu beberapa bulan atau tahun untuk sampai ke titik sebelum kedatangan Rachiel serta keluarga Gozet.


Tidak mudah baginya yang disibukkan oleh urusan serikat untuk mengawasi sekaligus menjaga panti asuhan. Itu tugas berat bagi satu orang saja.

__ADS_1


Aku tidak bisa menyalahkan Rosetta dalam hal ini.


"Aku melakukan permintaanmu." Rosetta memberanikan diri mengangkat suara sebelum menoleh ke para penyihir. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?"


Para penyihir bersembunyi—tidak, lebih tepatnya berlindung di balik kubah penghalang berwarna hijau semi-transparan dengan wajah penuh ketakutan.


"Space-Time Magic ; Time Field Barrier, huh?" Aku melangkah dan mencoba menyentuh penghalang tersebut tetapi aku tak mampu menembusnya. "Kalian semua mampu menggunakan sihir ruang dan waktu, ya?"


.... Oh, tidak buruk juga.


Mereka semua mempunyai skill Space-Time Magic, dan beberapa di antaranya bahkan sudah memperoleh Advanced Space-Time Magic, lalu mereka yang memiliki Advanced Space-Time Magic semuanya berkelas Space-Time Mage.


Memang benar Time Field Barrier merupakan salah satu sihir pelindung tingkat tinggi yang dapat menghentikan waktu hampir sepenuhnya pada penghalang sihirnya, sehingga sangat sulit untuk ditembus jika bukan dengan sihir sejenis.


Tapi, itu bukan masalah untukku.


Aku mengangkat tangan dan berkata. "Chrono Break."


Penghalang tersebut hancur dan pecah menjadi ribuan keping sebelum menghilang menjadi cahaya begitu Chrono Break—teknik Chronokinesis yang menghancurkan berbagai jenis anomali aliran waktu—beraksi.


Mereka semua menjerit ketakutan dan beberapa mengerahkan sihir serangan ruang dan waktu kepadaku namun semuanya percuma, aku meliputi tubuhku sendiri menggunakan Chronokinesis agar menjadi kebal terhadap serangan sihir ruang dan waktu mereka.


Aku merubah sebelah tanganku menjadi bilah pedang panjang dan memenggal salah satu dari mereka yang membuat Space-Time Mage lain menjerit. "Teleportasikan aku ke Rudania."


"Cepat lakukan kalau tidak mau ...." Aku sekali lagi mengayunkan pedang tangan menebas kepala satu Space-Time Mage lagi. ".... Bernasib seperti mereka."


Terdapat sekitar 16 Space-Time Mage berkumpul di sini dan aku telah membunuh dua.


Masih tersisa 14 jadi, seharusnya mereka mampu memindahkanku ke Rudania yang berjarak kurang lebih satu bulan dari Rosel menggunakan kereta kuda kalau menyatukan sihir mereka.


Mereka terlihat ragu tetapi, aku segera merengut satu nyawa Space-Time Mage lainnya yang membuat mereka menjerit ketakutan dan mengangguk setuju.


"Bagus." Aku mengangguk kemudian menoleh ke arah Rosetta. "Rosetta, jaga anak-anak."


Dia segera menggeleng. "Tidak, aku akan ikut."


"Aku mungkin tak bisa membantu banyak tapi aku ingin menyaksikan keruntuhan keluarga Silues yang membuatmu marah." Rosetta tersenyum tipis. "Anggap saja aku sebagai saksi mata, dan aku hanya akan mengambil referensi jika suatu saat aku tak sengaja memicu kemarahanmu."


Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. "Baik, kamu boleh ikut."


Rosetta mengangguk mantap dan melangkah ke sampingku.


"Cerberus, jaga mereka agar tidak kabur." Aku memberi perintah kepada Cerberus yang disambut oleh geraman gigi tajam mengarah kepada para penyihir ruang dan waktu.


Aku menggenggam tangan Rosetta untuk berjaga. "Kirimkan kami ke Rudania."


"Kalau sampai aku mengetahui kami tiba di tempat selain Rudania ...." Aku menunjuk jasad Space-Time Mage yang telah kubunuh tadi. "Kalian mengerti, 'kan?"


Space-Time Mage yang tersisa mengangguk berulang kali kemudian merapalkan sihir mereka.


"Space-Time Magic ; Extra Major Teleport – Rudania!"


Dalam sekejap aku dan Rosetta berpindah dan pandangan kami berubah seketika.

__ADS_1


__ADS_2