
Aku berubah kembali ke wujud manusia sesudah orang narsis tersebut pergi.
"Bagaimana menurutmu, Fain?" Elena memasang ekspresi serius.
Aku menyandarkan tubuh di punggung sofa. "Satu hal. Aktingmu bagus."
"Aku bukan bicara mengenai aktingku." Elena menghela nafas. "Aku bicara tentang Elias."
Aku terkekeh. "Tidak buruk secara penampilan dan sikap kebangsawanannya."
"Kuyakin kalian bisa menjadi pasangan serasi," jawabku tersenyum jahil.
Elena tertawa geli. "Oh, hentikan candaan tak lucumu itu."
Kalau tidak lucu lantas mengapa kau tertawa?
Yah, kesampingkan itu ....
"Aku ingin mendengar pendapatmu terlebih dulu." Nada bicaraku menjadi lebih serius. "Kupikir kamu memiliki beberapa kecurigaan pada orang itu, bukan?"
Elena tersenyum tipis. "Tidak buruk, tuan penulis."
"Kamu membacaku dengan tepat." Dia menghela nafas panjang.
Elena lalu menceritakan kecurigaan dari sisinya mengenai Elias.
Bisnis gula serta bahan penyedap rasa lain sangatlah diminati di dunia berlatar abad pertengahan ini.
Bukan hanya gula tetapi permintaan pasar terhadap garam serta beberapa jenis rempah juga tinggi dan kerajaan manapun akan berusaha keras meningkatkan produksi bahan-bahan ini demi kemakmuran penduduk dan pertumbuhan ekonomi mereka.
Dan jika menyakut gula, keluarga Ruliand memang tercatat mendirikan pabrik dan memproduksi gula secara mandiri untuk mengembangkan bisnis keluarga sejak dua generasi lalu.
Sayangnya, hasil gula yang mereka produksi hanya biasa-biasa saja sehingga tidak begitu laku di pasaran dan kalah saing dari gula hasil wilayah lain.
Namun, semua itu berubah semenjak sekitar lima tahun lalu—itu waktu yang bersamaan dengan ditunjuknya Rachiel sebagai penguasa Rosel.
Entah bagaimana atau dengan cara apa kualitas gula hasil produksi keluarga Ruliand meningkat drastis dan menembus sekaligus menghancurkan pasar gula.
Tak ada yang mengira gula dari wilayah Matildam yang selama ini disangka hanya gula biasa-biasa saja seketika menyingkirkan semua pesaing berat di pasar yang sama dalam kurun lima tahun.
"Awalnya aku juga senang-senang saja mengingat kualitas gula hasil produksi keluarga Ruliand melebihi jauh melebihi rata-rata." Elena menjabarkan pendapatnya. "Tetapi, setelah diam-diam menyelidiki secara teliti aku menemukan dua hal janggal."
Hmm .... Dan apakah kejanggalan tersebut?
Elena mengangkat jari telunjuk. "Pertama, penguasa kota Matildam, Karaes, jatuh sakit bertepatan pada tahun di mana gula produksi keluarga Ruliand meroket tinggi."
"Beberapa bangsawan dan pedagang teliti mencurigainya namun hampir mereka semua menganggap itu hanyalah kebetulan belaka," lanjut Elena sebelum mengangkat jari tengah.
__ADS_1
"Kedua, keluarga Ruliand diam-diam membeli budak dari pasar gelap dalam jumlah besar secara berkelanjutan." Dia menghela nafas panjang. "Apakah tidak ada kecurigaan dalam hal ini?"
Luar biasa.
Elena mampu mencari tahu sampai tahap ini murni dengan deduksi semata.
Jauh berbeda dariku yang mendapatkan semua dalam sekejap mengandalkan Eyes of Hidden Truth—kecuali bagian Karaes jatuh sakit.
Aku sama sekali tak menduga penguasa kota sedang terbaring lemah di kasurnya sejak gula keluarga Ruliand meledakkan pasar gula.
Ini jelas mencurigakan.
"Sekilas keluarga Ruliand membeli budak untuk digunakan sebagai tenaga kerja." Elena mendesah. "Tetapi, jika digunakan sebagai tenaga kerja maka seharusnya tidak perlu membeli budak dalam jumlah banyak terus-menerus."
"Itu hanya akan memberatkan anggaran produksi."
Mata Elena seketika menjadi tajam. ".... Kecuali para budak itu terlibat dalam proses produksi gula secara langsung."
"Kamu mengerti maksudku 'kan, Fain?" Dia mengalihkan pandangan menujuku.
Aku mengangguk menyetujui pernyataan tersebut.
Elena menghela nafas berat nan panjang sebelum berdiri dari kursi dengan tangan menumpu pada meja. "Aku mempunyai dugaan kuat mengenai proses produksi gula mereka tetapi aku tidak bisa menemukan bukti."
Harus kuakui pikiran serta kemampuan deduksi Elena amatlah tajam.
Aku hanya bisa mengatakan Elena sungguh luar biasa.
"Omong-omong sejak kapan kau mulai menyelidiki keluarga Ruliand?" Aku bertanya merasa penasaran. "Dan kapan kamu mencurigai mereka?"
Elena menggigit bibir. "Aku menyelidiki mereka sekitar tiga tahun lalu dan baru mendapat asumsi tersebut pada awal tahun ini."
Menyelidiki selama tiga tahun tanpa mengabaikan pekerjaannya sebagai direktur utama Perusahaan Daedalus .... Elena benar-benar luar biasa.
Aku menaruh hormat padamu, Elena.
"Baik, semua kepingan sudah berhasil dikumpulkan." Aku menepuk tangan menarik perhatian Elena. "Hasil akhir pun telah terlihat."
"Maukah kamu mendengar pendapatku?" tanyaku tersenyum tipis.
Aku kemudian menjelaskan keberadaan dan cara kerja Eyes of Hidden Truth-ku kepada Elena sebelum akhirnya membeberkan semua yang kudapat dari hasil diskusi Elena dan Elias sesaat barusan.
Kesimpulan akhir Elena tak jauh meleset dari kebenaran yang Eyes of Hidden Truth dapatkan.
Elena menggebrak meja sekuat tenaga. "Baji-ngan itu!"
"Aku seharusnya mempercayai intuisiku!" Dia berseru keras melampiaskan emosi dalam kondisi wajah pucat pasi.
__ADS_1
Benar, gula hasil produksi keluarga Ruliand dalam lima tahun terakhir berbahan dasar budak—singkatnya, manusia.
Menurut Eyes of Hidden Truth, keluarga Ruliand menyerap setiap sari serta nutrisi budak-budak yang dibeli dari pasar gelap sebagai bahan dasar gula mereka.
Dan bukan hanya sekedar sari dan nutrisi, tetapi juga semua bagian tubuh mereka.
Daging, darah, organ, sampai ke tulang semua dipakai demi meningkatkan kualitas gula hasil produksi keluarga Ruliand.
Aku tidak tahu bagaimana cara Elias mengubah seluruh tubuh manusia menjadi gula mengingat Eyes of Hidden Truth hanya memperlihatkan kebenaran dari kebohongan yang terucap, tetapi semua ini adalah benar.
"Kalau mengingat kondisi penguasa kota, Karaes, yang terbaring lemah di kasur karena sakit kemungkinan besar semua adalah akal-akalan Elias." Aku melanjutkan. "Bisa jadi dia meracuni ayahnya sendiri agar dapat melakukan hal sekeji ini."
Aku merinding sekaligus jijik mengetahui gula yang dikonsumsi orang-orang Gilard ternyata terbuat dari intisari manusia itu sendiri.
Beruntung aku belum mengonsumsi makanan apapun di kota ini.
Aku tidak sudi menjadi kanibal meski hanya sekedar ditipu.
"Bukan bisa jadi tapi sudah jelas dia meracuni tuan penguasa." Elena menggertakkan gigi tak kuasa menahan amarah.
Dia kemudian menceritakan Karaes adalah orang jujur dan patut dikagumi.
Meskipun terdapat sejarah kelam dalam catatannya—walau tak sampai membunuh, merampok, atau sesuatu sejenisnya—Karaes melakukan itu demi warga Matildam.
Emosi Elena perlahan surut selagi bercerita tentang Karaes. "Aku pernah bertemu beliau sekali sebelum aku mewarisi perusahaan ini dari ayahku."
"Sorot mata serta senyuman tuan Karaes terlalu murni dan tulus untuk seorang bangsawan." Elena tersenyum tipis mengingat kembali sosok Karaes yang pernah dia temui.
"Aku tidak bisa memaafkan Elias setelah berbuat hal sekeji itu." Tangan Elena mengepal begitu erat sebelum menatapku. "Fain, aku tahu ini tak ada hubungannya denganmu tapi maukah kau membantuku menangkap dan menghabisi bajingan itu?"
Aku mengangkat alis dan memasang senyum. "Bagaimana soal bayaranku?"
"Hmph, masalah besar seperti penipuan terhadap seluruh negara dan kamu masih mempedulikan masalah uang?" Elena mengubah senyum tipisnya menjadi sinis.
"Tentu saja." Aku mengangkat bahu dan mengedipkan sebelah mata kepada Elena. "Aku ini sentinel bukan pahlawan tanpa pamrih."
Elena tertawa geli menanggapiku. "Kau tahu, kamu tak cocok mengedipkan mata seperti itu meski wajahmu cukup tampan."
"Hah? Kau cari ribut?" Aku segera membalas tak terima.
Kami terkekeh bersama sesaat dan akhirnya mencapai kesepakatan.
"Bantu aku dan akan kubayar sesuai hasil kerjamu." Elena mengulurkan tangan.
Aku menyambut tangan Elena. "Aku sudah terlanjur terlibat. Tentu saja aku akan membantu."
Dan begitulah bagaimana kami mulai mempersiapkan rencana menghancurkan Elias—tidak, seluruh keluarga Ruliand yang terlibat mengecualikan Karaes sang kepala keluarga yang menjadi korban tak bersalah.
__ADS_1
Bersiaplah, Elias, aku akan mengungkap kebenaran di balik senyum bodohmu itu.