I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
43. Bendera yang Berkibar


__ADS_3

Dua hari telah berlalu semenjak aku memberikan skill kepada Brook, Harold, dan Shena.


Aku sempat mengajari mereka cara bertarung sesuai keahlian masing-masing namun sayangnya, aku bukanlah petarung jarak dekat handal.


Aku hanya mengajari Brook dan Harold hal dasar mengenai pertarungan jarak dekat secara teori dan untuk Shena sendiri, aku masih bisa memberikan beberapa masukan.


Setelah dua hari kulatih kira-kira seperti inilah status mereka.


---


Brook / Male


Brawler (1) / 14 tahun


Str : 25, Vit : 41, Agi : 18, Dex : 15, Mag : 4, Wis : 12, Luk : 8


---


Skill : Brute Strength (1), Martial Arts (1)


Extra Skill : Celestial Body (1)


---


Harold / Male


Commoner (1) / 13 tahun


Str : 16, Vit : 18, Agi : 31, Dex : 51, Mag : 7, Wis : 6, Luk : 12


---


Skill : Observation (3), Spear Arts (10)


Extra Skill : Holy Spear Arts (4), Spear Insight (1)


---


Shena / Female


Tailor (2) / 13 tahun


Str : 5, Vit : 7, Agi : 4, Dex : 48, Mag : 32, Wis : 15, Luk : 20


---


Skill : Sewing (4)


Extra Skill : Divine Summoning (1)


---


Ya, aku tahu, skill yang kuberikan kepada Brook dan Shena terlalu kuat sampai bisa dibilang curang sehingga aku memberikan satu skill bonus untuk Harold.


Spear Insight sendiri bukanlah skill aktif sehingga Brook dan Shena tak keberatan.


Celestial Body, Spear Insight, dan Divine Summoning merupakan skill-skill yang memang terdapat di dunia ini sehingga masuk ke dalam kategori Extra Skill.


Spear Insight (1) ; dapat meningkatkan pemahaman pengguna terhadap teknik tombak hingga tahap tertentu.


Celestial Body (1) ; dapat memperkuat tubuh pengguna hingga tingkat tertentu.


Divine Summoning (1) ; dapat memanggil makhluk jinak tertentu dari dimensi lain. Hanya bisa tiga monster yang dapat dipanggil dalam satu waktu.


Meskipun deskripsinya sangat pendek dan simpel, serta sedikit ambigu Celestial Body dan Divine Summoning adalah skill yang teramat kuat dan langka.


Ambil saja Celestial Body Brook sebagai contoh.


Aku mendaratkan pukulan seperempat dari kekuatan penuhku dan dia hanya terhempas tak merasa sakit padahal perbedaan status Str-ku dan Vit Brook hampir berbeda dua kali lipat—mengingat aku hanya mengeluarkan seperempat kekuatan penuhku.

__ADS_1


Jika aku memukul sekuat tenaga sekalipun mungkin Brook hanya mengalami patah tulang tak fatal.


Di sisi Shena, dia mampu memanggil monster-monster kecil menggunakan Divine Summoning.


Aku sempat menguji kekuatan monster panggilan Shena menggunakan Cerberus dan tentu saja, Shena kalah telak.


Memang benar kekuatan monster-monster tersebut tidaklah seberapa mengingat status Mag-nya masih belum mencukupi standar Divine Summoning tetapi cukup berguna dalam pertarungan kelompok—meski aku sedikit iri dia bisa langsung memanggil tiga monster sekaligus.


Lagipula, seiring level skill dan status Mag-nya bertambah, Shena dapat memanggil monster yang bahkan jauh lebih kuat dari Cerberus.


Shena maupun Brook masih dapat berkembang menjadi lebih kuat daripada sekarang.


Dan untuk Harold ....


"Hah!" Harold mendorong tongkat kayu namun hanya berhasil membelah udara.


Aku maju selangkah dan menjegal kakinya, membuat Harold sukses terpelanting keras di tanah.


Dia meringis kesakitan. "Kak Fain terlalu kuat. Bagaimana bisa aku menang melawan orang sekuat Kak Fain?"


"Bukan begitu." Aku menepis pendapat Harold. "Kamu sudah menguasai ilmu tombakmu cukup baik tapi kamu masih menyisakan banyak celah."


Aku meraih tangan Harold dan membantunya berdiri. "Kebiasaan burukmu adalah terlalu memusatkan perhatian saat menyerang sampai tidak memperhatikan sekitarmu."


"Teknik tombak bukan hanya terdiri dari satu tusukan melainkan rangkaian ayunan serta gerakan yang terhubung. Tidak jauh berbeda seperti teknik pedang," kataku mengingatkan.


Harold tertunduk malu mendengar nasehatku.


Dari ketiga penjaga panti Harold-lah yang paling cepat berkembang—mengingat aku memberinya Spear Insight yang mempercepat pemahamannya terhadap ilmu tombak.


Meski begitu, dia terlalu ceroboh dan seperti kataku, dia cenderung hanya fokus menyerang beruntutan namun tak menghubungkan serangan tersebut.


Mungkin Harold adalah tipe karakter berdarah panas yang tak bisa diam jika dalam novel.


Tapi, jika mengesampingkan kelemahan tersebut maka Harold memang patut disebut pemimpin kelompok penjaga panti.


"Baik, latihan hari ini sudah cukup." Aku menepuk tangan sekali. "Pastikan kalian membersihkan diri sebelum makan malam."


Tidak perlu kecewa begitu. Kalian sudah sangat luar biasa untuk usia kalian.


Angkat dagu kalian dan berbangga dirilah—tapi jangan terlalu tinggi kalau tak ingin mendapat jitakan ala Gustav dariku.


Aku memang anomali jadi jangan jadikan aku sebagai standar pembanding.


Setelah latihan sore berakhir kami menyantap makan malam bersama anak-anak panti lain seperti biasa namun suasana ruang makan terasa begitu muram.


Anak panti makan tanpa semangat.


Yah, kurasa tidak perlu diherankan mengingat aku akan pergi melanjutkan perjalananku besok.


Aku sudah terlalu lama menetap di kota ini dan jika kalau aku tinggal lebih lama mungkin aku akan merasa lebih enggan berpisah dengan mereka.


Semakin lama menunda perpisahaan maka akan semakin berat hati pula ketika waktunya tiba.


"Hei, mengapa kalian terlihat begitu sedih?" Risa berkata mengumpulkan perhatian anak-anak. "Fain memang akan perjalanannya tapi bukan berarti dia tidak akan kembali, 'kan?"


"Lagipula, pemilik panti asuhan sekarang adalah Fain. Dia tak mungkin tidak kembali." Dia menambahkan bumbu.


Anak-anak berteriak keras dan mulai menanyaiku bersamaan.


Kejadian Harold menguping kemarin lusa nampaknya hanya terfokus pada kepergianku sehingga kabar tentang kepemilikianku atas hak panti asuhan belum terdengar oleh mereka.


"Kak Fain, benarkah itu?"


"Kak Fain adalah pemilik panti asuhan baru?!"


Aku mengangguk pelan disertai senyum kecil. "Ya, aku merupakan pemilik panti asuhan ini. Kalian tidak perlu takut aku tak akan kembali."


"Dan karena aku adalah pemilik panti, aku juga bertanggung jawab atas panti asuhan dan kalian semua. Jadi, pastikan kalian tidak nakal dan menyebabkan masalah," kataku menunjuk mereka semua.

__ADS_1


Anak-anak berseru girang sesudah pernyataan tersebut.


Mereka ini mudah sekali dimanipulasi, ya.


Untungnya perkataan Risa sama sekali tidak salah.


Aku jadi khawatir jika ada orang jahat yang memanfaatkan kenaifan anak-anak ini.


Yah, aku sudah menyiapkan persiapan tertentu mengenai itu dan sekarang panti memiliki tiga penjaga yang dapat diandalkan—meski masih dalam pelatihan.


Mungkin aku perlu meminta Rosetta untuk melatih mereka bertiga sebelum berangkat meninggalkan Rosel.


Setelah makan malam selesai seperti biasa aku menemani anak-anak bermain sambil mengajari Brook, Harold, serta Shena dasar-dasar pengetahuan tentang berbagai macam orang licik di luar sana.


Suatu saat mungkin mereka akan meninggalkan panti dan menjadi sentinel ternama mengingat skill yang kuberikan terbilang luar biasa untuk standar dunia ini.


Mereka setidaknya harus bisa menjaga diri terlebih dahulu sebelum pergi.


Ketika jam tidur sudah lewat aku melangkah menuju halaman untuk menggunakan jatah Authority of Author yang hari ini belum kupakai.


Pertama kebun .... Yep, selesai.


Aku harap ini dapat bekerja baik.


Kedua, area sekitar 50 meter yang berpusat pada panti .... Itu cukup.


Dengan begini aku tidak perlu terlalu khawatir akan ada orang jahat yang dapat mencelakai anak-anak selama berada di panti.


"Fain?" Risa keluar dan mendekatiku. "Apa yang kamu lakukan malam-malam di luar?"


Aku menggeleng. "Tidak ada. Hanya latihan rutin."


"Latihan rutin, ya ...." Dia memandangku curiga.


Aku sungguh melatih Authority of Author. Aku tidak berbohong 'kan?


Risa duduk di tepian teras menggantung dagu di kedua tangan. "Latihan macam apa yang kamu lakukan sampai membuat cahaya terang di sekitar panti?"


"Aku hanya melatih skillku." Aku menghela nafas dan duduk di samping Risa. "Aku kira memperketat keamanan itu penting, jadi sekalian saja aku latihan."


"Oh, rahasiakan ini dari anak-anak."


Risa mendengus pelan. "Rahasia, huh? Berapa banyak rahasia yang kamu simpan sebenarnya? Semua tentangmu selalu saja dirahasiakan."


"Mau itu tentang memberikan skill kepada Harold dan lainnya, asal-usulmu yang merupakan anak haram keluarga Ardenheim, lalu juga kekuatanmu." Risa memasang wajah cemberut. "Aku seperti hampir tak mengetahui apapun mengenai dirimu."


Yah, tidak salah juga, sih.


Aku mempunyai banyak rahasia dan semua rahasia tersebut akan terus kupendam sampai pada waktunya tiba.


"Kalau kamu menjadi wanitaku mungkin suatu saat aku akan memberitahumu," kataku tertawa bercanda.


Aku tak punya niatan untuk membangun harem atau sejenisnya.


Selama aku memiliki Gisele maka itu sudah lebih dari cukup.


.... Tunggu sebentar ....


Risa merupakan pengurus panti dan anak-anak yang telah berjuang keras bertahan selama lima tahun terakhir.


Dia telah melalui banyak lika-liku untuk menghidupi dan mengurus anak-anak panti.


Lalu, suatu hari aku tiba-tiba datang dan membantu mereka tanpa pamrih.


.... Aku bisa menebak ke arah mana percakapan ini berjalan.


"Aku tidak keberatan menjadi wanitamu, Fain." Risa berkata sambil tersenyum selembut sutra memandangku dengan tatapan sayu nan menggoda. "Jadi, maukah kamu menceritakan segala tentang dirimu kepadaku suatu saat nanti, pahlawanku?"


Yep, sudah kuduga.

__ADS_1


Aku tanpa sengaja mengibarkan bendera romantis dengan Risa.


__ADS_2