I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
42. Tiga Anugerah


__ADS_3

Saat ini aku sedang duduk di kamar pribadiku ditemani oleh Risa di sebelah dan sang biang kerok keributan barusan ini.


"Jadi, tidak ada alasan lain, Harold?" Aku bertanya menyilangkan dua tangan menatap anak lelaki tersebut.


Dia bergemetar di kursinya tak berani menjawab selain dengan anggukan sederhana.


Aku menghela nafas panjang sebelum mengangkat suara. "Dengar, Harold. Meskipun kamu tidak sengaja menguping bukan berarti kamu harus membeberkan semuanya."


"Bagaimana jika yang kamu dengar adalah hal yang berbahaya seperti bisnis ilegal budak rahasia oleh orang jahat?" Aku menjelaskan. "Kalau mereka sampai mengetahui kamu mendengar rahasia mereka maka mereka harus melenyapkanmu tidak peduli kau menguping secara sengaja atau tidak."


"Kamu paham apa yang Kakak maksud, 'kan?"


Harold sekali lagi mengangguk dan kali ini terlihat begitu ketakutan sampai ingin menangis.


Meski terdengar kekanakan namun reaksi Harold bukan tidak wajar.


Pada sebagian besar cerita fantasi umumnya tokoh utama atau sampingan akan sangat dewasa walau baru berusia cilik seperti Harold, namun kisah dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.


Aku bisa mengatakan dengan jelas meskipun di dunia ini terdapat kasus seperti yang kumaksud terdapat perbedaan besar antara Harold dan anak-anak seperti itu.


Jika dibandingkan anak berusia 12 tahun yang berpikiran dewasa dalam kisah fantasi di bumi berasal dari kalangan kelas atas seperti bangsawan ataupun pedagang kaya yang mendapat pendidikan formal, sementara Harold hanyalah rakyat jelata.


Terlebih lagi dia merupakan yatim piatu tanpa orangtua.


Aku tahu Risa dapat membaca, menulis, serta menghitung dan terkadang dia mengajari anak-anak calistung di sela-sela waktu luang, tetapi pengetahuan Risa dibatasi oleh status rakyat jelatanya.


Dia mengaku hanya belajar secara mandiri dengan meniru orang-orang di sekitar pada masa lalu sehingga jika itu urusan sosial ataupun pengetahuan dunia gelap seperti yang kukatakan kepada Harold tadi, Risa sama sekali tidak mengerti.


Dia bahkan juga baru menyadari bahaya menguping dan membeberkan rahasia bisa berakibat sangat fatal meski rahasia tersebut tergolong jahat dan layak diketahui banyak orang agar pemilik rahasia tersebut dapat dituntut ke sidang pengadilan.


Itulah mengapa kaum bangsawan sering memandang rendah kaum jelata.


Aku menghela napas kecil dan menepuk kepala Harold. "Yah, bukan berarti aku akan menghukummu tapi aku ingin kamu lebih berhati-hati lain kali, oke?"


"Hal kecil sesepele ini dapat menimbulkan masalah besar." Aku mengusap kepala pemuda tersebut disertai senyuman.


Harold masih terlihat merasa bersalah dan ketakutan.


Kalau begini sih aku tak bisa melakukan apa-apa selain menjelaskan kembali dan menunggu Harold paham aku tidak sedang memarahinya.


Aku hanya ingin dia paham dunia tidaklah sebaik diriku ataupun Risa.


Harold merupakan salah satu anak panti tertua sehingga mau tak mau dia harus mengerti sedikit cara kerja dunia sebelum masuk ke dalam lingkaran masyarakat.


Dunia ini tidaklah sebaik yang anak-anak kira.


Namun, itulah tugas orang dewasa untuk membimbing dan mengarahkan anak-anak agar dapat beradaptasi tanpa harus tertelan ke dalamnya dan menjadi korban—meski secara biologis aku juga belum bisa dikatakan dewasa.


"Oh, ya, Risa." Aku menoleh menuju Risa. "Bisakah kamu memanggil dua anak tertua lainnya kemari? Aku ingin membicarakan sesuatu."


Risa terlihat heran namun tak menolak.


Aku tahu kamu mengira aku akan memarahi mereka seperti Harold, tapi bukan itu maksudku.

__ADS_1


Dia memanggil dua anak berusia sebaya dengan Harold menuju kamarku tak lama kemudian.


Satu lelaki dan satu lagi perempuan—jika dihitung bersama Harold maka dua lelaki.


"Brook, Harold, dan Shena." Aku memanggil nama mereka yang diikuti sikap tegap.


Aku tertawa kecil melihat reaksi ketiganya. "Tidak perlu tegang begitu. Aku tak memanggil kalian untuk dimarahi."


Ekspresi mereka berubah menjadi kebingungan terutama Harold yang berada di tengah.


Mari kita mulai perkenalan terlebih dahulu dimulai dari yang paling tinggi.


Pemuda berbadan besar di sebelah Harold bernama Brook.


Dia merupakan anak bertubuh kuat dan kekar, dan juga tinggi—lebih tinggi dariku padahal usianya sepantaran Leonard.


Perawakan Brook memperlihatkan statusnya berpusat pada kekuatan dan pertahanan fisik, Str dan Vit. Kelasnya adalah Brawler mengingat dia sering melakukan pekerjaan fisik untuk membantu Risa serta anak panti lain.


Beralih ke tengah, Harold—anak yang tak sengaja menguping pembicaraanku dengan Risa semalam—adalah anak berusia satu tahun lebih muda dari Brook.


Tubuhnya memang tidak setinggi ataupun sebesar Brook, namun dilihat sekilas saja orang lain dapat mengetahui badan Harold cukup terlatih untuk anak seusianya.


Kelas Harold memang bukan tipe petarung tapi komposisi statusnya cukup menyerupai Rachiel meski perbedaannya melebihi langit dan bumi.


Kemudian terletak paling pinggir kiri terdapat Shena, gadis muda seusia Harold yang terlihat manis dan lemah lembut tetapi jika emosinya tersulut ... dia mungkin lebih menyeramkan dari Rosetta.


Gadis ini memiliki ketangkasan tinggi dan kepandaiannya juga tidak rendah.


Aku sudah memastikan dari jauh-jauh hari mengenai mereka bertiga dan penilaianku tidak salah.


Selain menjadi tiga anak tertua mereka juga sudah memasuki usia remaja—dan mendekati dewasa menurut dunia ini, yaitu 15 tahun.


Sudah waktunya mereka mengemban peran serta tanggung jawab sebagai anak tertua.


"Dengar, aku ingin memberikan kalian sesuatu tapi kalian harus berjanji agar merahasiakan ini dari siapapun." Aku berkata tegas. "Apa kalian bisa melakukannya?"


Mereka saling memandang sesaat merasa ragu sebelum menoleh ke arahku.


Shena mengangkat tangan. "Kak Fain, apa yang ingin kakak berikan kepada kami sampai harus dirahasiakan sedemikian rupa?"


Pertanyaan bagus, Shena.


"Aku akan memberi kalian bertiga skill yang sesuai dengan kemampuan kalian," jawabku singkat. "Dan sebagai gantinya, kalian harus bertambah kuat dan melindungi anak panti."


"Memberikan skill?!"


Mereka bertiga berseru bersamaan.


Tidak perlu berteriak seperti itu.


Aku tahu kalian terkejut dan tak percaya, tapi tenanglah. Jangan bereaksi berlebihan.


Lalu, Risa, perbaiki caramu menatapku seolah memandang orang gila.

__ADS_1


"Benar." Aku mengangguk. "Tetapi, kalian harus merahasiakan bahwa aku adalah orang yang memberikan kalian skill."


Aku kemudian menjelaskan Skill Glutton yang bisa menyerap dan memberikan skill dari serta kepada orang lain—termasuk juga monster selama mereka mempunyai skill yang dapat kuambil.


"Aku telah mengambil skill dari monster serta beberapa orang yang kukalahkan," kataku menambahkan. "Dan aku berencana untuk memberikan beberapa skill tersebut kepada kalian."


"Bagaimana? Apa kalian bersedia menerima kekuatan ini dan melindungi panti?" Aku memasang senyum dingin menambah tekanan pada pundak ketiganya.


Yah, bukan berarti aku akan memberikan semua skill milik Rachiel yang berhasil kurebut mengingat kelebihan serta kekurangan mereka bertiga berbeda-beda.


Aku berencana memberikan skill Rachiel kepada Harold sedangkan untuk Brook serta Shena, aku akan menulis ulang kolom skill mereka menggunakan Authority of Author.


"Kak Fain." Brook mengangkat tangan.


Aku mengalihkan pandangan menuju Brook. "Ada apa?"


"Mengenai skill ini ...." Dia terlihat ragu. "Apakah terdapat bayarannya? Seperti mengurangi usia hidup kami?"


Ah, itu yang membuat kalian ragu? Kalau diingat lagi benar juga.


Skill Glutton ataupun Authority of Author memang tidak memiliki efek samping sejenis tetapi aku pernah membuat karakter antagonis berkemampuan serupa di novelku.


Dia dapat mengambil dan memberikan skill dari dan kepada orang lain mirip Skill Glutton namun harus disertai bayaran mengurangi masa hidup target, tak terkecuali penggunanya.


Dan menurut jalan cerita novel, seharusnya saat ini dia memimpin organisasi kejam berukuran besar.


Aku mengibaskan tangan. "Tidak. Kemampuanku yang satu ini tak memiliki efek samping seperti itu."


"Kalaupun terdapat bayaran serupa maka aku tak mungkin menawari kesempatan ini." Aku tersenyum. "Kalian dan anak-anak panti lain berharga bagiku."


"Aku tidak akan membiarkan kalian mati atau menempuh jalan seperti itu."


Senyum mereka kembali setelah merasa lega terhadap pernyataanku.


"Kak Fain, kalau memang tidak ada efek samping maka aku akan menerimanya!" Harold melangkah maju.


Shena mengikuti Harold. "Aku juga, Kak Fain!"


"Jika itu untuk melindungi panti asuhan serta Kak Risa...." Brook ikut bersuara. "Maka aku akan dengan senang hati menerimanya, Kak Fain."


Bagus, mata mereka menunjukkan bahwa mereka siap menjalankan amanatku.


Aku mengangguk sekali. "Kalau begitu aku akan memberi kalian anugerah."


Aku mengangkat tangan dan mengerahkan Authority of Author serta Skill Glutton bersamaan kepada ketiganya.


Dua jatah Authority of Author hari ini untuk Brook juga Shena dan Skill Glutton pada Harold.


Tubuh Brook dan Shena memancarkan sinar putih khas Authority of Author sementara Harold ... maaf, mungkin kamu akan merasa iri sejenak tapi aku memberikan skill lebih banyak kepadamu, namun Brook dan Shena akan lebih iri padamu.


Dan begitulah bagaimana terlahirnya tiga penjaga panti serta anak yatim piatu dari Rosel.


Namun, itu cerita untuk masa depan.

__ADS_1


__ADS_2