I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
68. Vampir


__ADS_3

Seratina kembali mengawasi latihan Leonard setelah menumpahkan keluh kesahnya kepadaku yang tak ada hubungannya dengan semua itu.


Memangnya apa salahku sampai kena semprot terhadap kesalahan yang tidak kuperbuat?


Aku tak mengerti.


"Kak Fain!" Seruan manis seorang gadis menggema di telingaku.


Suara tersebut berasal dari Charla yang berlari kecil menujuku sambil melambaikan tongkat sihir. "Jawablah keinginanku, apa yang kuinginkan adalah gelembung air! Water Magic ; Bubble Pop!"


Gelembung-gelembung air bermunculan dari lingkaran sihir pada tongkat Charla dan semuanya mengapung indah di udara.


Dia berjalan mendekatiku dengan tatapan penuh harap. "Bagaimana, Kak Fain? Apa Charla sudah jadi penyihir?"


"Tentu saja." Aku tersenyum dan mengusap lembut kepala gadis kecil berambut putih keperakan tersebut. "Charla hebat bisa membuat gelembung air sihir sebanyak ini."


Charla tertawa girang mendapat pujian dariku.


"Nona Charla!"


Pria muda berusia sekitar awal 20-an tahun keluar dari pintu rumah dengan nafas sedikit tak beraturan.


Huh? Siapa itu?


Wajahnya terlihat asing dan dia tidak berpakaian seperti pelayan kediaman .... Oh, mungkinkah dia guru sihir Charla?


Dilihat dari penampilan berjubah dan berkacamata, lalu tubuh kurus kerempeng serta aura sihir di sekitarnya .... Ya, tidak salah lagi orang ini adalah penyihir ahli.


Pria tersebut mengarahkan tongkat sihir kecil di tangan kepadaku dan merapal mantra. "Jawablah panggilanku, apa yang kuinginkan adalah rantai sihir penjerat! Mana Magic ; Magic Chain!"


Selang sepersekian detik kemudian rantai semi-transparan muncul dari lingkaran sihir di bawah kakiku dan mengikat sekaligus mengekang seluruh tubuhku.


Charla terperanjat melihatku terikat oleh rantai sihir dan menoleh ke arah sang pria. "Eizan, apa yang kamu lakukan?! Lepaskan Kakak!"


"Tidak bisa, nona Charla!" Dia membalas cepat. "Nona Charla, segera menjauhlah dari orang ini! Dia berbahaya!"


"Apa maksudmu menjauh dari kakak?! Dia adalah Kak Fain, kakakku!" Charla memprotes keras tindakan Eizan.


Eizan tidak bergeming terhadap keputusannya. "Nona Charla, ini demi kebaikan dan keselamatanmu! Menjauh darinya sekarang juga!"


.... Hei, aku tahu ini sedikit terlambat tapi apa maksudmu tiba-tiba datang dan merantaiku dengan sihir di tengah kediaman Ardenheim? Kamu cari mati?


"Tidak mau!" Charla memelukku sambil berteriak. "Lepaskan Kak Fain sekarang juga!"


Eizan berdecak sebelum sekali lagi merapal mantra. "Jawablah panggilanku, apa yang kuinginkan adalah tangan sihir tak terlihat! Mana Magic ; Magic Hand!"

__ADS_1


Sebuah tangan semi-transparan mirip rantai sihir tercipta dari tongkat sihir Eizan dan meraih tubuh kecil Charla yang tengah memberontak lalu menarik Charla ke dekapannya.


...


....


.....


"Hei, bajingan." Aku menepuk dan mencengkeram pundak si pria dari belakang memakai Instant Warp. "Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu."


"Huh?"


Eizan tampak kebingungan tapi aku tak akan memberi ampun.


"Wraith Magic ; Soul Terror," ucapku menatap dalam-dalam matanya ketika dia menoleh ke arahku.


Seketika itu juga tubuh Eizan terbujur kaku dan Charla melepaskan diri dari genggaman si pria lalu kembali memelukku.


Eizan jatuh berlutut dengan tubuh bergemetar hebat disertai ekspresi penuh horor serta ketakutan hingga mulutnya mengeluarkan busa ... ehm, aku tidak menggunakan racun, loh.


Apa yang sebenarnya dia saksikan dari Soul Terror?


Seingatku, Soul Terror merupakan sihir roh hantu yang menguatkan ingatan dan imajinasi target terhadap ketakutan mendalam target, lalu memvisualkan ketakutan tersebut melalui pikiran dan halusinasi.


Aku memang belum terlalu memahami maupun menguasai sihir-sihir spesialisasi ras yang kumiliki tetapi sebagai penulis dunia ini, aku sedikit banyak aku mengetahui cara kerja serta kemampuan tiap sihir mereka meski tak sepenuhnya.


Yah, bukan berarti aku bisa memakai sihir elemen seperti api atau air mengingat hanya mereka yang mendapatkan skill berjenis sihir yang mampu menggunakan sihir tersebut terlepas dari sihir keistimewaan ras tertentu.


Tapi, orang ini .... Apa dia benar-benar guru sihir Charla?


Aku, sih, tidak sudi adikku disentuh oleh orang yang langsung asal serang ketika pertama kali bertemu.


Ah, kalau diingat lagi aku belum memakai satu jatah Authority of Author yang tersisa hari ini, ya?


Bagaimana kalau kugunakan Authority of Author untuk menulis ulang takdir serta realita Eizan agar dia tidak bisa menyentuh Charla seumur hidupnya seperti kutukan?


Tidak tidak, kalau hanya seperti itu akan terlalu ringan, dan dia mungkin tak akan menyerah jika saja ingin mempersunting Charla menjadi tunangan .... Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi!


Oh, aku terpikirkan suatu ide bagus.


Oke, Authority of Author, giliranmu beraksi.


Tubuh Eizan memancarkan cahaya putih redup sesaat sebelum akhirnya menghilang dan dia membuka mata, bangkit menunjukku sambil marah-marah.


"Kau bajingan! Lepaskan nona Charla!" Eizan mengarahkan tongkat sihir kepadaku. "Kalau tidak, aku akan menghanguskanmu jadi abu!"

__ADS_1


Percaya diri sekali perkataanmu bahkan setelah tepar tak berdaya di hadapan Soul Terror.


Aku menghela nafas sambil menenangkan Charla yang kini bersembunyi di balik punggungku. "Maaf, ya, Eizan von Lastaria. Charla adalah adikku."


Dia terbelalak saat kusebut nama lengkapnya.


"Meski bukan saudara kandung tapi kami masih berbagi darah yang sama dari Gustav." Aku menatap balik Eizan setajam mungkin. "Walau kamu merupakan guru sihir Charla, kamu tetaplah orang luar."


"Kamu tidak punya hak memisahkan kami."


Eizan menggertakkan gigi. "Omong kosong! Mana mungkin nona Charla mempunyai saudara vampir seperti dirimu!"


"Ditambah lagi kamu dapat menggunakan Wraith Magic milik roh hantu!" Eizan melanjutkan sambil mempersiapkan sihir api.


Oh, dia bisa mengetahui darah vampir mengalir dalam tubuhku? Padahal dia tidak punya skill pendeteksi apapun menurut Appraisal.


Ini menarik.


"Katakan sesukamu tapi kalau kau menyerangku menggunakan sihir api maka kamu bisa membakar Charla juga." Aku tersenyum sinis menantang Eizan. "Ayo, coba saja kalau berani."


Eizan tidak bisa berkata-kata namun tak menurunkan tongkat sihir. Dia terlihat frustasi.


Charla sedikit ketakutan terhadap hardikan Eizan di balik punggungku dan aku mengelus kepalanya lembut sambil tersenyum. "Tenang saja, aku tak akan membiarkan Charla terluka apapun yang terjadi."


Charla terlihat lebih tenang tapi masih sedikit takut sementara Eizan bimbang akan mengerahkan sihir atau tidak.


Terlepas dari kecurigaannya terhadapku, Eizan nampaknya benar-benar peduli dengan Charla.


Aku dapat memastikan hal tersebut melalui Eyes of Hidden Truth.


Tapi, aku tak akan menyerahkan Charla kepada orang sepertimu! Tidak dalam seribu tahun sekalipun!


"Ada apa kalian ribut-ribut?" Gustav bersuara dari jendela pada lantai dua. "Eizan dan Fain? Apa yang kalian masalahkan?"


Eizan segera berseru sebelum diriku. "Tuan Gustav, vampir ini hendak menculik nona Charla! Aku tidak bisa menghadapinya seorang diri!"


"Mohon tuan Gustav membantuku!" Dia memohon kepada Gustav tanpa melepas perhatian dariku.


Gustav memasang wajah heran. "Vampir?"


Dia lalu menoleh ke arahku dan tertawa keras. "Dengar itu, Fain! Kamu disebut vampir!"


Meski tidak salah tapi kau tak perlu tertawa sekeras itu, 'kan?


Lihatlah sekarang Eizan terlihat sangat kebingungan mendengar reaksimu—ditambah Leonard dan Seratina berlari mendatangi kami bertiga termasuk Charla di belakangku.

__ADS_1


Bagaimana kau akan menjelaskan ini, eh, Gustav?


__ADS_2