I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
78. Negosiasi Cokelat


__ADS_3

Tiga hari kemudian aku kembali ke Matildam menggunakan Instant Warp dan mendatangi Perusahaan Daedalus menemui Elena di ruang kerja.


"Jadi, ini cokelat buatan keluarga Ardenheim?" Elena memandangi cokelat batangan di tangannya. "Apa keluargamu mendapat pasokan biji cokelat dari tempat tertentu?"


Aku menggeleng. "Tidak, kami memproduksi biji cokelat secara mandiri."


"Huh? Aku tidak pernah mendengar lahan Rilet berpotensi menjadi perkebunan cokelat." Elena mengernyit keheranan.


Elena kemudian menjelaskan secara singkat bahwa semua perkebunan dan hasil panen cokelat merupakan hak khusus—secara tersirat dan rahasia umum—serikat tabib untuk memproses obat cokelat di Ibukota Gilard, Castelan, sehingga perdagangan dan perkembangbiakan pohon cokelat seperti menjadi sebuah larangan tak tertulis selama tidak bergabung ke dalam serikat tabib.


Selain itu, tidak ada yang mengetahui cara memproses cokelat dan jikapun demikian, permintaan pasar mengenai cokelat sangatlah buruk mengingat cokelat terkenal sebagai obat pahit yang tak tertolong kadar kepahitannya.


Kesimpulannya, tidak ada gunanya menanam ataupun mengembangbiakkan cokelat.


"Ditambah semua biji dan perkembangbiakan cokelat dimonopoli oleh serikat tabib." Elena mengeluh kemudian menggigit cokelat batangan. "Sekalipun aku mampu membuat produk cokelatku sendiri menggunakan pengetahuan bumi, tanpa biji atau benih aku tak mampu berbuat apa-apa."


Elena terbelalak mengunyah cokelat batangan. "Manis! Kamu mencampurnya dengan susu dan gula?"


"Begitulah." Aku mengangguk pelan. "Kalau tidak manis maka cokelat tak akan diminati, bukan?"


Aku kemudian mengeluarkan sebuah kantung berisi bubuk cokelat dan menunjukkannya kepada Elena. "Kami juga menyediakan produk sampingan seperti cokelat bubuk."


Mata Elena berbinar-binar memandangi cokelat bubuk.


Dalam sekali lihat saja aku bisa mengetahui ketertarikanmu terhadap cokelat bubuk dan cokelat batangan ini, kau tahu.


Kamu gagal sebagai pedagang kalau memperlihatkan ketertarikanmu secara terang-terangan.


Yah, mengingat sebagian besar gadis bumi menyukai hal-hal manis dan dunia ini sangat tertinggal dalam berbagai bidang termasuk kuliner, kurasa aku bisa memahami reaksinya.


"Jual kepadaku!" Elena berseru keras. "Berapa yang kau mau?!"


"Hei, tenang dulu. Mana ketenangan ala pedagangmu dengan skill Poker Face?" Aku tersenyum kering melihat Elena.


Dia menggebrak meja. "Kamu laki-laki tidak mengerti seberapa pentingnya camilan dan manisan bagi seorang perempuan!"


Jangan sewot padaku! Salahmu sendiri kurang berusaha!—Meski aku tak berhak mengatakan itu karena mengandalkan kemampuan curangku!


"Tenanglah, aku memang berniat menjual ini melalui perusahaanmu." Aku kemudian menjelaskan kedatanganku kemari.


Perusahaan Daedalus memang berfokus utama dalam bidang properti, namun Elena mendirikan banyak cabang yang bergerak di sektor barang harian sehingga produk konsumsi seperti cokelat juga dapat mereka jual.


Aku mengutarakan Rilet telah memulai perkebunan dan produksi cokelat tetapi, bahan tambahan seperti susu dan gula tidak bisa mereka hasilkan dengan cepat, meski aku mampu mempercepat prosesnya menggunakan Chronokinesis.


Tapi, jika aku melakukan itu maka semuanya akan bergantung kepadaku dan Rilet tidak akan bisa mandiri.


"Jadi, kamu mau Perusahaan Daedalus menyediakan susu dan gula sebagai gantinya?" Elena mengangkat alis.


Aku mengangguk setuju. "Dan bahan lain sebagai variasi cokelat batangan seperti kacang atau vanila jika memungkinkan."

__ADS_1


"Lalu, mengurus penjualan dan pemasarannya, huh?" Elena melipat tangan berpikir sejenak. "Tidak buruk. Ini bisa dianggap kerja sama, 'kan? Jadi, berapa yang kamu mau?"


"Tujuh puluh lima persen," jawabku secepat kilat.


Elena langsung menggebrak meja lagi. "Tujuh puluh lima persen itu keterlaluan! Aku menuntut 50%!"


"Kami menanam sekaligus merawat pohon dan memproduksi cokelatnya sementara kalian menyediakan bahan tersier dan penjualan." Aku memasang senyum tanpa gentar. "Dilihat bagaimanapun juga kami memegang kunci utama penjualan cokelat."


"Tujuh puluh."


"Biarpun kalian memproduksi dari awal bukan berarti kalian harus seserakah itu!" Elena bersikeras. "Empat puluh lima ...."


Aku maju. "Pikirkan kemungkinan tidak laku di pasar. Cokelat sama sekali tak populer di kalangan manapun."


"Kalau tidak laku kalian akan mengalami kerugian cukup besar, 'kan?" Senyumku sama sekali tidak luntur. "Enam puluh lima."


"Bodoh! Cokelat manis jelas-jelas akan menjadi gebrakan besar di pasar ataupun bidang perkulineran dunia ini!" Elena memukul meja berulang kali. "Empat puluh! Tidak bisa lebih dari itu!"


Aku mengangguk dengan senyum puas. "Terima kasih telah berbisnis bersama kami."


Elena menggeram kesal menanggapi sindiranku.


Aku memang bukan pembisnis handal atau sejenisnya tapi setidaknya aku tahu dalam urusan negosiasi, sebutkan nilai paling tinggi yang bisa diambil secara wajar agar terdapat peluang negosiasi lebih besar.


Mengingat ini aku jadi ingin memukul diriku sendiri di masa lalu.


Andaikan waktu itu aku tahu nilai mata uang Gilard maka aku tak akan menawarkan kesepakatan senilai 30 koin emas kepada Gustav.


Aku mengangguk. "Tentu saja. Aku paham mengenai itu."


"Omong-omong, aku sudah membawa beberapa hasil produksinya. Kamu tidak keberatan langsung kuserahkan?" Aku bertanya.


Elena menatapku tajam sebelum menghela napas dan memperbolehkanku.


Kami melangkah menuju gudang dan aku kemudian mengeluarkan boks-boks kayu berisi cokelat batangan dari Spatial Storage sebanyak ... uhh, berapa ini? Sepuluh? Dua puluh kotak?


Elena tercengang memandang tumpukan kotak kayu tersebut dan memeriksa salah satunya.


"Hei, Fain ...." Dia menoleh kepadaku dengan kaku. ".... Katakan, ada berapa banyak cokelat batangan dalam satu kotak ini?"


Aku memejamkan mata menghitung perkiraannya. "Mungkin seratus cokelat per kotak?"


Dan dia sontak menggoyangkan badanku sekuat tenaga sambil menjerit keras mengenai masalah suhu dan penyimpanan.


Meskipun Perusahaan Daedalus mempunyai ruang penyimpanan bawah tanah agar dapat menyimpan produk konsumsi dengan suhu serendah mungkin, namun dalam kasus cokelat, suhu normal Matildam saja bisa membuat mereka meleleh saat musim panas.


Kurasa itu wajar mengingat bagian selatan Gilard beriklim subtropis dan Matildam lebih menjorok ke garis khatulistiwa dunia ini karena berdekatan dengan Rilet serta Blustania.


Beruntungnya, sekarang baru akan masuk pertengahan musim semi sehingga suhu sekitar masih terbilang dingin.

__ADS_1


"Kalau masalah itu tidak perlu khawatir." Aku kemudian mengambil sebuah tongkat kayu sepanjang satu meter dari Spatial Storage dan menyerahkannya kepada Elena. "Ini pusaka yang kamu minta kapan hari."


Tongkat kayu ini merupakan tongkat sihir biasa—atau setidaknya itulah yang orang lain pikirkan berdasarkan penampilan sederhananya—tetapi, aku sudah memodifikasinya menggunakan Authority of Author dan Skill Enchant.


Tongkat kayu tersebut terdiri dari lima bagian.


Satu batang kayu berada di tengah sebagai pondasi utama, tiga batang yang telah kubentuk sedemikian rupa menjadi meliuk-liuk dan berkepala ular pada tiap ujungnya dengan Material Shaper, serta satu bagian berbentuk mahkota kecil di atas ketiga kepala ular.


Oh, terdapat juga tiga mutiara berwarna berbeda pada tiap mulut sang kepala ular.


Aku pikir Authority of Author tak akan cukup jika aku harus menambahkan banyak kemampuan pada tongkat ini jadi, aku hanya memberikan ketahanan atas pelapukan serta daya hancur hingga tahap tertentu, serta regenerasi ulang ketika terdapat bagian rusak.


Sisanya aku menggunakan Skill Enchant untuk menambahkan kemampuan lain berdasarkan koleksi skillku.


Skill Enchant (3) ; dapat memberikan efek atau kemampuan skill pengguna terhadap suatu benda. Hanya bisa lima efek atau kemampuan yang dapat ditumpuk sekaligus pada satu benda.


Yep, itulah mengapa aku mengerahkan Skill Enchant untuk membuat alat produksi cokelat di pabrik Ardenheim.


Awalnya aku hanya mampu menumpuk tiga kemampuan skill di satu benda pada level satu tetapi seiring penggunaannya meningkat, level Skill Enchant bertambah dan jumlah tumpukan kemampuan skill pada suatu benda bertambah dua.


"Kamu mengatakan tongkat ini memungkinkanku menggunakan sihir naga, vampir, dan setan?" Elena membelalakkan mata memandangi tongkat barunya tersebut.


Aku mengangguk. "Benar sekali. Terlebih lagi, aku menanamkan beberapa skill seperti Over Regeneration, Instant Warp, Presence Erasure, Spatial Storage, False Data, Soul Immune, Cryokinesis, Pyrokinesis, Aerokinesis dan Beast Summon-ku ke dalam tongkat ini."


Itulah mengapa aku membagi tongkat ini menjadi lima bagian.


Kalau hanya satu bagian saja maka tidak bisa kuberikan banyak kemampuan sekaligus, 'bukan?


Memang benar aku tak punya skill langsung mengenai sihir naga dan vampir tetapi, aku dapat membagi sebagian karakteristik kedua ras tersebut pada benda yang kuinginkan.


Hebat, bukan?


Sayangnya, saat aku melakukan percobaan, aku tak bisa menanamkan Authority of Author pada benda target.


Sepertinya Unique Skill memang keberadaan istimewa atau Authority of Author saja yang memang tidak bisa dianugerahkan.


Yah, itu sedikit melegakan mengingat kalau aku sungguh mampu memberikan Authority of Author, maka orang-orang di masa depan dapat menjadi sekuat diriku dan keseimbangan dunia akan hancur jika mereka mendapatkan barang tersebut.


Lagipula, tongkat yang peluk Elena segenap hati sekarang ini mungkin sudah bisa dikategorikan sebagai harta nasional.


Masalah keamanan biarkan dia saja yang mengurus.


"Sudah kuputuskan." Elena kemudian menoleh kepadaku sesudah puas memeluk tongkat barunya. "Fain, nikahi aku."


"Aku menolak," balasku spontan.


"Kenapa?!"


Kau pasti hanya ingin kekuatan Authority of Author dan berbagai macam kemampuanku agar membuatmu serta keluarga Heindrich menjadi lebih kaya, 'kan?

__ADS_1


Tentu saja aku menolak.


Enak saja kau mau memanfaatkanku semudah itu.


__ADS_2