I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
25. Wajah Menakutkan


__ADS_3

"Makan malam sudah siap!" Aku berseru dari ruang makan memanggil anak-anak panti.


Mereka segera datang berlarian dengan riang—dan bekas camilan berceceran di baju dan serta tangan mereka.


Aku menyuruh mereka cuci tangan terlebih dahulu sebelum menyantap makan malam.


"Kak Fain, apa ini?" Seorang anak bertanya sembari menusuk benda kenyal menggunakan garpu.


"Jangan dibuat mainan begitu." Aku duduk bersama mereka di meja makan. "Itu namanya tahu. Enak, loh."


Anak-anak lain ikut berhenti memainkan tahu dan memandangku heran, bahkan Mia serta Risa juga tidak kalah bingung.


Salah satu anak di sampingku menarik baju dan menunjuk landasan tahu di piring. "Kak Fain, kalau yang ini?"


"Yang ini nasi. Makanan yang paling bisa membuat kenyang tapi hambar kalau tidak dimakan bersama lauk."


Mereka berganti menusuk nasi di piring masing-masing kali ini.


"Fain, ini ...." Kali ini gantian Risa bertanya. "Ini bukannya telur?"


"Telur?!"


"Bulatan kuning yang dikelilingi warna putih ini namanya telur?!"


"Heh, jadi ini yang namanya telur, ya."


.... Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Mereka terlalu menyedihkan sampai tak tahu seperti apa telur mata sapi.


"Sudah sudah. Cukup bertanyanya." Aku menepuk tangan sekali. "Ayo segera makan. Kalian pasti lapar, 'kan?"


Makan malam pun dimulai dengan jeritan anak-anak yang terlihat begitu gembira sesudah mengicip sesendok.


Tahu, telur, dan nasi adalah tiga makanan bergizi dan ringan untuk mereka yang kurang gizi—meski aku tidak bisa mengatakan nasi adalah makanan ringan.


"Jangan lupa makan sayurannya juga," ujarku mengingatkan sambil memasukan sesuap porsiku.


Benar, ini adalah makanan sederhana dan murah namun mewah! Javanese salad—atau yang biasa dikenal sebagai nasi pecel!


Kesampingkan sebutan elit nasi pecel, nampaknya anak-anak menikmati hidangan mereka.


Beberapa di antara mereka sampai berlari mengelilingi ruang makan—hei, kalau makan ya makan saja! Jangan berlarian!

__ADS_1


Yah, aku tidak tahu pasti seberapa besar gizi yang terkandung dalam nasi pecel ini tetapi ini lebih baik daripada mereka harus kelaparan.


Aku memang bukan pakar tapi menilik kondisi bangunan panti serta anak-anak, kehidupan mereka bisa dikatakan amat keras sampai anak sekecil Mia sekalipun harus mengemis.


Aku berencana untuk tinggal selama dua sampai tiga hari di kota ini namun melihat kondisi panti serta anak-anak yang tinggal di sini, aku tak tega meninggalkan mereka.


Sebut saja aku naif atau terlalu baik, tapi kalau itu artinya menolong sesama yang membutuhkan maka aku tak keberatan.


Setelah makan malam berakhir anak-anak berterima kasih dan bermain bersamaku, termasuk Mia serta ketiga anak berusia di atas 10 tahun yang memandangku penuh curiga tadi.


Hehehe, rencana mencuri hati melalui perut sukses besar!


Tapi, bermain bersama belasan anak sekaligus cukup melelahkan juga, ya.


Pada akhirnya kami bermain sampai waktu tidur.


Risa mendatangiku setelah hampir semua anak tidur. "Fain, terima kasih telah memberi anak-anak ini makanan. Mereka terlihat puas sekali saat makan."


"Baru pertama kali ini mereka tertidur begitu pulas." Risa tersenyum memandangi anak-anak tidur.


"Tidak masalah. Aku senang bisa membantu." Aku mengangguk.


Itu bukan kebohongan.


"Omong-omong, Risa, bisakah kamu memberitahuku kenapa panti asuhan bisa terlantar begini?" Aku bertanya. "Seingatku panti asuhan kota mendapatkan dana bantuan dari penguasa."


Di Rilet juga terdapat panti asuhan tetapi kondisinya seperti panti asuhan biasa di bumi. Mereka mendapat dukungan dari pajak kota melalui Gustav.


Risa nampak enggan menjelaskan tapi akhirnya bercerita.


Dan, ya, sesuai alur cerita klise semua karena Rachiel sang penguasa kota.


Menurut penuturan Risa, Rachiel dan keluarga Gozet baru menjadi penguasa Rosel sekitar lima tahun lalu. Sebelum itu Rosel hanya dipimpin oleh walikota.


Biar kutegaskan, di dunia ini penguasa kota dan walikota adalah dua hal berbeda.


Kalau harus kuringkas maka penguasa kota lebih seperti raja kota dan walikota merupakan perdana mentrinya.


Penguasa memberikan perintah utama sementara walikota melaksanakan.


Sama seperti Rosel, Rilet pun mempunyai walikota untuk membantu Gustav menjalankan kota dari sisi warga.


Kau tahu pendapat bangsawan dan rakyat jelata seringkali bertolak belakang, bukan? Maka dari itu walikota akan selalu ada di setiap kota sebagai penunjang kota dari sisi jelata.

__ADS_1


Dan di Rosel, semenjak kedatangan Rachiel dan keluarga Gozet, sang walikota dipaksa menaikkan pajak rakyat dan memberikan kenyamanan bagi Gozet sekeluarga.


Walikota sempat menolak namun sebagai seorang ksatria berkemampuan tinggi, Rachiel mengemukakan alasan pajak tinggi tersebut adalah bayaran bagi perlindungan kota yang setara dengan kemampuannya.


Aku tidak tahu sekuat apa Rachiel ini tapi nyatanya, berdasarkan aplikasi peta pada superphone aku tak melihat ada keberadaan monster sejauh 10 kilometer dari kota.


Pendapat Rachiel memang tidak salah ... sama sekali tidak salah .... Tapi, kesalahannya terletak pada kearoganan yang memandang rendah rakyat jelata.


Maksudku, Risa juga mengatakan Rachiel menekan serikat sentinel di kota ini agar tidak ada sentinel yang memburu monster dan membiarkan dia menghadapi semua monster di sekitar Rosel—padahal serikat sentinel tidak terikat dengan kota atau kerajaan ini.


Dia juga memaksa serikat untuk membayar pajak perlindungan seperti warga Rosel selama masih beroperasi di kota.


Panti asuhan ini pun tidak luput dari pajak perlindungan dan karena tak menghasilkan apa-apa selain gangguan bagi masyarakat, Rachiel menarik dana bantuan yang ditujukan untuk anak-anak di sini.


Aku menghela nafas berat mendengar penjelasan Risa. "Jadi, singkatnya dia penguasa otak otot idiot dan arogan, huh."


"Kalau harus diringkas sedemikian rupa memang tidak salah," jawab Risa tersenyum kecut.


Hmm, bagaimana aku mengatasi ini?


Aku sudah berjanji kepada Gustav untuk tidak mencari gara-gara dengan Rachiel atau keluarga Gozet, tapi aku juga tak bisa meninggalkan Rosel dalam kondisi seperti ini—apalagi hal ini juga dapat mempengaruhi anak-anak panti.


Tidak, bukankah mereka justru sudah terpengaruh oleh kearoganan dan keserakahan Rachiel dan keluarganya?


Mereka hidup semenyedihkan ini berkat kenaikan pajak tinggi yang disebabkan Rachiel.


.... Tunggu sebentar, pajak tinggi?


Alasan dia menaikkan pajak karena bayaran setimpal bagi ksatria berkemampuan setinggi dirinya untuk melindungi kota, bukan?


Jadi, kalau tidak ada monster yang mengancam kota untuk beberapa tahun ke depan maka dia tak lagi bisa menggunakan alasan tersebut untuk menaikkan pajak kota, benar?


Hmm, tapi dia menekan serikat sentinel agar tidak ada sentinel yang memburu monster di sekitar kota.


Ah, dia hanya menekan bukan melarang. Itu berarti tidak ada larangan bagi sentinel yang berburu ataupun menjual material monster.


Paling jauh pun mungkin dia akan mendatangi dan memberiku pelajaran.


Aku memang berjanji kepada Gustav agar tak terilbat dengan keluarga Gozet namun lain cerita jika mereka menyerang lebih dulu.


Hehehe, aku memang jenius.


"Fain .... Kamu membuat wajah menakutkan, kau tahu?"

__ADS_1


__ADS_2