I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
54. Serangan Malam


__ADS_3

Aku terbaring lemas di sofa empuk. "Hah .... Bagaimana mungkin ini terjadi?"


"Bukankah itu salahmu sendiri?" Elena tertawa menanggapi keluhanku. "Siapa suruh terlalu mengandalkan Authority of Author."


"Kamu menuai apa yang kamu tabur." Dia tertawa lebih keras seusai berkata demikian.


Aku tahu ini sebagian salahku tapi kau tidak perlu tertawa sekeras itu, 'kan?


Kau membuatku merasa begitu menyedihkan ....


Apa yang kukeluhkan, katamu? Tentu saja kelasku.


Tidak, aku tak akan mengeluh jika aku mendapat kelas berlevel tinggi dan bagus tetapi kasusku kali ini ....


Aku tidak begitu ingin membicarakannya.


Kemarin sore aku pergi menuju kuil dengan tujuan mengganti kelas Servant-ku namun daftar kelas yang dapat kuambil sama sekali di luar dugaan.


Semua daftar kelas yang ditampilkan oleh altar kelas untukku hanyalah kelas biasa dan rendahan.


Tidak ada satupun kelas petarung atau kelas berguna lainnya.


Altar kelas memberikan pilihan antara Commoner, Walker, Wanderer, Watchmen, dan Fool ....


Apa-apaan kelas terakhir itu?!


Apa ini ejekan dari altar kelas atau justru dunia ini sendiri menganggap aku bodoh?!


Aku tidak pernah mendengar ataupun menulis kelas Fool seumur hidupku!


Tapi, kalau mengabaikan namanya yang terdengar seperti ejekan, kelas Fool mempunyai suatu skill keunggulan aneh, yaitu ....


Infinite Fool (-) ; dapat melepaskan semua batas pertumbuhan pengguna sampai tak terhingga bagaikan orang bodoh.


Melihat skill ini aku berpikir ulang sejenak dan mengambil Fool sebagai kelas pertama, sementara aku memutuskan Watchmen sebagai kelas keduaku.


Aku tidak tahu akan seperti apa atau syarat kenaikan level kelas Fool serta perkembangan skill yang mungkin kudapat, tapi kelas ini menarik untuk diambil.


Omong-omong, Watchmen adalah skill yang berfokus pada daya lihat untuk mengamati seperti namanya.


Ada kemungkinan status Dex-ku akan lebih cepat berkembang dan untuk Fool ... aku tidak tahu status mana yang akan naik lebih cepat.


Yah, tak perlu ambil terlalu pusing mengenai itu.


Aku hanya perlu berlatih dan melihat seberapa jauh statusku bertambah berkuat kedua kelas ini.


"Elena, bagaimana rencanamu?" Aku bertanya memastikan. "Sain meminta agar operasi ini dilakukan serahasia mungkin, jadi tolong sesuaikan."


Elena menghela nafas sambil memijat dahi. "Aku tahu. Aku juga paham sebab akibatnya jika hal ini tersebar luas di kalangan awam."

__ADS_1


"Tapi, aku tak pernah menyangka kamu mempunyai hubungan dengan ksatria terkuat andalan Gilard sekaligus pemimpin ordo ksatria Pedang Kabut Emas." Dia tertawa kecil.


Kau jangan coba-coba menganggap hubunganku dan Sain sebagai sesuatu yang kau pikirkan.


Jangan kira aku tidak tahu jalan pikiranmu, wanita sinting.


Kesampingkan candaannya, Elena menjelaskan bahwa dia memang berencana menyelesaikan masalah ini tanpa terbongkar oleh publik.


Dan untuk itu, pertama kami harus menyusup ke dalam kediaman keluarga Ruliand demi mencari tahu di mana lokasi budak-budak dari pasar gelap dibawa.


Pabrik pembuatan gula milik keluarga Ruliand sudah lama terekspos publik sehingga mustahil mereka memproses hal-hal sekeji itu di tempat terbuka.


Mereka pasti mempunyai tempat persembunyian tertentu untuk melakukan itu.


"Baik, kamu ingin aku menyusup dan mencari lokasi ini, 'kan?" Aku memandang Elena.


Dia mengangguk pelan. "Begitulah."


"Tapi, menyusup ke dalam rumah bangsawan tidaklah mudah. Keamanan mereka sangatlah ketat, apalagi keluarga Ruliand adalah bangsawan bergelar Count III." Elena mengingatkan. "Apa kamu mempunyai cara untuk melakukan itu?"


Aku tersenyum tipis. "Kamu pikir siapa aku?"


"Aku adalah sang Penulis. Tidak ada yang tidak mungkin bagiku," kataku percaya diri.


Elena membalas dengan senyum mengejek. "Ya, bahkan kelas yang tak pernah terdengar sekalipun dia dapatkan."


Berisik!


Meski sebagian besarnya adalah rasa penasaran.


***


Pada pagi buta sekitar jam dua aku mulai bergerak menuju kediaman Ruliand melalui kegelapan malam dan cahaya tipis bulan.


Hmm, keamanan kediaman keluarga Ruliand memang ketat seperti yang dikatakan Elena.


Aku bisa melihat prajurit berjaga di sana-sini.


Penjaga gerbang masuk saja terdiri atas enam prajurit dan patroli di sekitar halaman juga tidak sedikit. Hitungan kasarku mungkin mencapai belasan.


Itu belum terhitung prajurit di dalam kediaman.


Orang biasa mungkin mendekati mustahil untuk menyusup rumah berkeamanan seketat ini tapi aku tidak bisa dibandingkan dengan orang biasa.


Aku mendarat tepat di depan gerbang masuk berjarak dua puluh meter dari para penjaga.


"Siapa di sana?!" Penjaga gerbang segera mengacungkan senjata sambil berseru yang membuat penjaga lain ikut bersiaga.


Namun sayang, matanya tak melihat apapun selain kegelapan malam.

__ADS_1


Penjaga lain mengerutkan dahi dan memukul kepala sang penjaga yang berteriak. "Apa yang kau lakukan? Kau membuat semuanya menjadi waspada."


"Tapi, aku benar-benar melihat sesuatu di sana!" Penjaga tadi menunjuk ke arah di mana aku berada sesaat lalu.


Mereka berdebat sejenak sebelum aku muncul dari bayangan gerbang dan berbisik pelan. "Wraith Magic ; Sleeping Soul."


Kedua penjaga yang tengah berdebat tersebut jatuh ke tanah tanpa sempat menyadari keberadaanku.


Heh, Wraith Magic ; Sleeping Soul lebih ampuh dari dugaanku meski konsumsi Mana yang diperlukan lebih sedikit dibanding Vampire Magic ; Slumber Mist.


Apa karena wujudku sekarang adalah roh hantu, ya? Mungkin saja.


"Kau!" Empat penjaga di balik gerbang berseru sesudah mengacungkan senjata. "Siapa kau?! Mau apa kau kemari?!"


Aku tersenyum dingin menanggapi sambutan mereka. "Wraith Magic ; Sleeping Soul."


Dalam sekejap ketiga penjaga tumbang tak berdaya dan menyisakan satu orang yang kini bergemetar hebat.


Dia kemudian berlari sambil berteriak memanggil penjaga lain.


Oh, tidak bisa. Kamu tak akan ke mana-mana.


Bayangan di bawah penjaga tersebut melesat menjadi tangan-tangan hitam yang mencengkeram kedua kakinya membuat dia tak bisa bergerak.


Menyadari tidak mampu melepaskan diri dari jeratan tangan-tangan hitam dia berteriak sekuat tenaga berusaha memanggil bantuan, tetapi semua itu percuma.


Aku melangkah mendekati penjaga tersebut. "Tidak ada bantuan yang akan datang."


"Aku mengunci semua suara dalam radius 20 meter." Aku tersenyum kecil dan menatap mata sang penjaga dalam-dalam. "Tidurlah dalam ketakutan, kawanku."


"Wraith Magic ; Soul Terror."


Beberapa detik berselang penjaga tersebut kehilangan kesadaran dalam kondisi celana basah.


Dia sebegitu takutnya sampai terkencing-kencing hanya karena Soul Terror?


Sadis juga sihir roh hantu ini.


Aku jadi merasa sedikit iba terhadap penjaga yang menjadi korban pertama sihir roh hantuku.


Hmm, kalau dipikir lagi semua penjaga tumbang ini dapat memicu keributan jika penjaga patroli menemukan mereka.


Bagaimana bisa aku tak memikirkan hal ini?


Aku terlalu bersemangat menguji sihir roh hantu baruku.


Ya sudahlah, toh, yang perlu kulakukan hanyalah membuat penjaga patroli di halaman kehilangan kesadaran sampai pagi hari tiba.


Ayo lakukan itu.

__ADS_1


Aku mengubah wujudku menjadi roh hantu sepenuhnya menggunakan Form Shifter kemudian menumbangkan belasan penjaga patroli halaman tanpa suara dalam hitungan menit.


Audiokinesis memang paling hebat dalam urusan menyusup.


__ADS_2