
Begitu aku diusir secara resmi dari kediaman Ardenheim aku pergi ke pusat kota Rilet. Kota di mana Gustav menjalankan kewajibannya sebagai bangsawan.
Rilet bukanlah kota yang teramat besar ataupun makmur namun suasana kota dan penduduknya bisa dikatakan bahagia. Sebuah kota normal yang biasa-biasa saja.
Dan sekedar informasi, kediaman Ardenheim terletak di pinggiran kota entah mengapa. Padahal di berbagai novel dan cerita kediaman penguasa kota selalu berada di tengahnya.
Dunia ini sendiri—yang mana merupakan dunia novel yang kutulis sendiri—tidak terlalu jauh berbeda, tapi seringnya aku tidak menulis detail lokasi per kota.
Mungkin dunia ini menyesuaikan latar serta lokasi yang tak kutulis detail dengan sendirinya.
Yah, abaikan itu ....
"Aku tak menyangka kota di negara yang kubuat hancur ini dalam novel akan sehidup ini," kataku bergumam.
Sejujurnya, aku hanya menulis Gilard telah hancur enam bulan sebelum cerita dalam novelku bergerak dan hanya itu saja, tidak ada tambahan latar lain kecuali beberapa peristiwa di masa depan yang akan menjadi titik penentu jalannya cerita.
Aku jadi merasa sedikit bersalah telah membunuh dan menghapus senyuman orang-orang ini di novelku.
Tapi, yah, tak ada gunanya juga menyesal.
Aku telah menyelesaikan novelku sampai titik di mana Raja Kekacauan akan dikalahkan oleh sang karakter utama, jadi sudah jauh dari kata terlambat untuk mengulangi semuanya—ditambah, jika aku memulihkan latar suram ini seperti sedia kala pembacaku pasti akan protes.
Lagipula, itu juga akan menyebabkan paradoks yang tidak sepenuhnya kumengerti dan plothole dalam cerita. Aku sebisa mungkin menghindari itu.
Omong-omong, hal yang harus kulakukan sesudah diusir dari rumah adalah mencari penginapan tentu saja sebagai tempat beristirahat.
Aku mempunyai uang pemberian Gustav dan kupikir cukup untuk tinggal satu atau dua hari di sini sebelum melanjutkan perjalananku.
Tetapi, sebelum itu ....
"Selamat datang di Serikat Sentinel! Apakah kamu ingin mendaftar sebagai sentinel?"
Yep, inilah harus dilakukan pertama kali.
Aku mengangguk. "Ya, aku ingin menjadi sentinel. Apa memerlukan tes?"
"Tidak perlu. Siapapun bisa menjadi sentinel asalkan mereka mampu memenuhi kuota permintaan yang tersedia." Resepsionis menjelaskan.
Sentinel merupakan sebuah profesi yang memenuhi permintaan dari warga sekitar yang telah diproses oleh serikat.
Singkatnya sentinel adalah petualang versi novelku.
__ADS_1
Sebutan 'petualang ini' dan 'petualang itu' sudah terlalu menjemukan padahal kerjaannya hanya seperti sukarelawan namun dibayar per permintaan yang berhasil dikerjakan.
Di dunia fantasi dengan tema 'isekai' seperti ini pekerjaan sejenis sentinel dan petualang merupakan pekerjaan paling mudah untuk menghasilkan uang melalui kemampuan curang sang karakter utama.
Tentu saja aku juga salah satunya, menurutmu kenapa aku mengambil pekerjaan ini?
"Baik, Alfain, benar?" Resepsionis memanggilku setelah mengisi formulir pendaftaran sentinel. "Ehm, kelasmu adalah Servant, kelas non-kombatan. Apa kamu yakin ingin menjadi sentinel?"
"Aku yakin." Aku mengangguk. "Aku berencana untuk mengganti kelasku di kuil nanti, tapi karena tidak ada kuil di kota ini jadi aku kemari lebih dulu."
"Ah, begitukah. Kalau begitu silahkan mengganti kelas secepat mungkin sebelum mengambil permintaan pembasmian yang berbahaya, ya."
Oh, dia menerima alasanku begitu saja?
Yah, aku memang menuliskan serikat sentinel tidak begitu mempedulikan asal-usul calon anggotanya di novel, jadi kurasa tak perlu heran.
Dan, yah, seperti tipikal novel 'isekai' lainnya, niat mendaftarku menjadi sentinel mengundang cemooh dari sentinel lainnya.
Maksudku, bocah yang baru dewasa dan bekelas Servant mau menjadi sentinel? Itu sungguh lelucon lucu dalam pandangan orang normal.
Aku bisa menebak alur selanjutnya.
Seisi serikat tertawa lantang menanggapi lelucon sang sentinel.
Ya, aku tahu, sangat tipikal novel 'isekai'. Menyedihkan.
Aku sangat menyedihkan tidak bisa menulis latar lebih bagus dan berbeda dari kebanyakan novel bertema 'isekai' lainnya.
Aku mengabaikan gelak tawa para sentinel dan menerima kartu keanggotaan sentinelku dari sang resepsionis beberapa saat kemudian.
"Ini kartumu, Alfain. Jangan sampai hilang kalau tidak mau mengganti rugi satu koin emas untuk kartu lainnya, oke?"
Hmm, biaya ganti ruginya tidak salah dari novelku. Berarti nilai uang dunia ini mungkin juga tak berbeda dari novelku.
Mata uang di dunia ini terdiri dari enam jenis yang jika diurutkan dari nilai terendah hingga tertinggi terdapat koin besi, koin perunggu, koin perak, koin emas, koin emas putih atau platinum, dan terakhir koin kristal.
Satu koin perunggu bernilai 100 keping koin yang bernilai lebih rendah dan begitu seterusnya hingga koin kristal.
Tapi, kalau aku tak salah ingat nilai tukar sebuah benda di banyak wilayah tidak bisa dibilang sama mengingat banyak faktor yang harus diperhitungkan seperti kondisi geografis, keamanan wilayah, biaya transportasi, jarak antar wilayah, dan lainnya.
Sebuah pedang seharga 10 koin perak di Rilet bisa saja bernilai 10 koin perunggu atau malah 12 koin perak di tempat lain.
__ADS_1
Aku sendiri tidak terlalu pandai dalam menentukan nilai benda dan hal ekonomis seperti ini, jadi aku biasa melewati dan menjelaskan seadanya saja di dalam novel.
Aku harus mulai mempelajari perbedaan dunia ini dan novelku secara mendetail nanti.
"Hei, bocah! Kamu berani mengabaikanku?!"
Seorang sentinel—yang nampaknya mencemoohku tadi—mendatangi dan menggebrak meja resepsionis tempatku memperhatikan kartu sentinelku.
Aku menengok ke arahnya dengan wajah datar. "Kau punya masalah denganku, 'kan? Jangan libatkan si resepsionis. Tidak bisakah kamu melihat dia nampak ketakutan?"
"Baji-ngan kecil!"
Dia mengangkat tinju dan berniat menghantamku namun belum sempat kepalannya terbenam di wajahku, badan besar sang sentinel sudah terlempar jauh hingga menghancurkan beberapa properti serikat.
Aku dapat melihat beberapa sentinel di sekitar terkejut setengah mati mendapati sosok sentinel yang mencari gara-gara denganku terhempas begitu saja tanpa perlu kusentuh.
Aku tahu hal seperti ini sangat klise dan tipikal namun kalau dilihat baik-baik, ekspresi terkejut dan tak percaya di wajah mereka cukup menghibur.
Jadi, ini perasaan puas menghajar orang idiot?
Sekarang aku paham mengapa karakter dengan sifat liar dan barbar di novelku—dan novel lain—selalu terlihat puas setelah memberi pelajaran kepada para idiot.
Aku melangkah pelan mendekati sang sentinel yang terkapar di lantai dengan darah mengalir dari hidung beserta wajah kaget dihias sedikit takut.
"Kau! Apa yang kau lakukan kepadaku?!" Dia melolong.
Aku mengangkat tangan kiri dan memainkan jemari sejenak sebelum belasan pisau angin melayang di telapak tanganku. "Hmm, kau buta atau apa? Ini sihir. Kamu tahu sihir, 'kan?"
Dia sekali lagi membelalakkan mata tak percaya melihat pisau-pisau angin di tanganku. "Tidak mungkin! Mustahil seorang berkelas Servant bisa menggunakan sihir secepat itu tanpa mantra!"
Yah, menurut pandangan dunia ini memang mustahil, sih. Aku tidak akan menyangkal itu.
"Lalu, peduli apa dirimu terhadapku? Kelasku adalah Servant dan sesuai katamu, Servant tak mungkin menggunakan sihir seperti ini." Aku tersenyum sinis. "Jadi, menurutmu apakah diriku ini?"
Terlihat jelas di wajahnya bahwa hati sentinel tersebut tertanam ketakutan dan putus asa yang begitu dalam oleh imajinasi liarnya sendiri berkat kata-kata terakhirku.
Dia lalu kehilangan kesadaran beberapa saat kemudian.
Aku mendengus sebelum melenyapkan pisau angin di tanganku dan mengambil selembar permintaan yang tersedia di papan permintaan, lalu menyerahkannya kepada sang resepsionis dan melangkah keluar gedung serikat.
"Aku pergi bekerja dulu."
__ADS_1