I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
36. Kunjungan Bangsawan


__ADS_3

Hari-hari damaiku berlanjut dikelilingi oleh anak tak berdosa di panti.


Sudah sekitar tiga hari berlalu sejak keruntuhan keluarga Gozet dan penduduk bersuka cita atas kejadian tersebut.


Yah, itu hal wajar mengingat mereka telah tertindas oleh pajak tak masuk akal Rachiel.


Sekarang Rosel dipimpin oleh sosok walikota yang telah kehilangan kekuasaan semenjak Rachiel serta keluarga Gozet ditunjuk sebagai penguasa Rosel lima tahun lalu.


Dan saat ini ... aku berhadapan dengan Gustav di kamarku.


"Dasar anak bodoh!" Dia berseru keras sebelum menjitak kepalaku.


Aku meringis kesakitan. "Tapi, Ayahanda, mereka yang mencari masalah lebih dulu! Aku hanya membalas apa yang mereka mulai!"


"Lagipula, aku melakukan apa yang menurutku benar! Aku tak menyesali perbuatanku!" balasku membela diri.


Sayangnya, jawabanku justru mengundang jitakan lain.


"Memang benar kamu tak melakukan hal salah tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa kau mengumumkan permusuhanmu kepada semua bangsawan sekaligus kerajaan!" Dia memarahiku. "Apa kau mengerti akibatnya?"


Aku mengerti—tidak, aku sangat mengerti.


"Aku tahu, Ayahanda." Aku mengangguk pelan memegangi kepalaku yang mulai tumbuh benjol. "Jika itu soal bangsawan dan kerajaan yang perlu kulakukan hanyalah menghadapi mereka, bukan? Sesimpel itu."


Dan jitakan lain mendarat di kepalaku.


Aku menjerit keras tak bisa menahan rasa sakit lebih lama lagi.


Apa yang kau lakukan?! Kepalaku sudah mendapat dua jitakan keras dan sekarang kau menjitak di tempat yang sama lagi?!


Ubun-ubunku mungkin sudah retak kalau bukan berkat status Vit tinggi dari darah nagaku!


"Bodoh! Kalau begini caranya aku bisa ditugaskan membunuhmu oleh istana!" katanya lantang sesudah menjitakku sekali lagi.


Dia lalu menunjuk mukaku. "Apa kamu tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Gisele jika dia mendengar perintah untuk membunuhmu?!"


...


....


.....


Aku menyesalinya.


Aku menyesal tidak memikirkan perasaan Gisele.


Gustav menghela nafas berat melihatku bersimpuh di depan kakinya sebelum menarikku berdiri. "Bangunlah, nak."


"Aku tahu kau mempunyai kekuatan besar tapi semua itu juga disertai tanggung jawab yang besar pula." Dia berkata sembari menepuk pundakku.


Siapa kau? Paman Ken? Apa dunia ini memiliki manusia laba-laba?


Aku ingin membalas balik semua kalimat Gustav tapi tak mampu menemukan kata-kata yang tepat.


Pada akhirnya aku hanya tertunduk dan pasrah menerima seluruh omelannya.


"Kalau kamu paham maka terapkan hal itu." Gustav memijat dahi sebelum berbalik dan melangkah keluar kamar. "Jangan sampai terulang lagi."


Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangkat suara. "Ayahanda, aku tidak bisa berjanji tak akan mengulang hal serupa di masa depan."


"Hah?" Gustav menghentikan langkah dan menoleh ke arahku dengan ekspresi kaget dan kesal bercampur.


Wuah, ini dia wajah penjahat Gustav yang menjadi bahan gosip para pelayan di kediaman Ardenheim bahwa Gustav adalah orang kejam tanpa ampun.


Tapi, aku tak akan mundur.


Tidak setelah aku menentukan jalanku.


"Ayahanda, aku akan mengulanginya lagi jika situasi mendukung," kataku menatap mata Gustav dalam-dalam. "Meskipun hal itu berpotensi membuatku diburu oleh seluruh bangsawan Gilard atau bahkan seisi dunia, aku akan mengulang perbuatanku lagi dan lagi."


"Aku tidak akan berhenti sampai orang-orang yang mabuk akan kekuasaan dan kewenangan sadar bahwa nilai nyawa mereka tidaklah berbeda."

__ADS_1


Apa yang kukatakan adalah sesungguhnya.


Aku bukan berbuat onar sembarangan.


Aku sudah berpikir sungguh-sungguh dan telah memutuskan akan kubuat apa kekuatan ini.


Ambisi tanpa kekuatan adalah hal bodoh dan kekuatan tanpa ambisi adalah sia-sia.


Itu kutipan salah satu novel fantasi favoritku semasa hidup di bumi.


Ini adalah resolusiku terhadap dunia ini.


Hmm? Gustav kenapa kau melepas sepatu—


"Aduh!" Aku seketika menjerit mendapat lemparan tapak sepatu tepat di muka.


Apa-apaan?! Beraninya dia menghina tekadku dengan tapak sepatu kotor ini!


Aku memungut sepatu Gustav dan hendak melemparnya kembali tetapi niat tersebut hilang tanpa jejak begitu mendengar kata-kata Gustav.


"Lakukan sesukamu, dasar anak bodoh!" Dia berseru sambil melangkah keluar kamar. "Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu maka kembalilah ke Rilet!"


"Tidak peduli apa yang kau lakukan Rilet akan selalu menjadi rumahmu!"


Setelah berkata demikian dia pergi meninggalkanku yang terdiam seribu bahasa.


Aku tidak habis pikir.


Sebenarnya orang ini keras atau lembut?


Sikap dan ucapannya selalu berbanding terbalik.


Andaikan tidak berjalan pincang karena sebelah sepatumu berada di tanganku kau mungkin akan terlihat lebih keren, Gustav.


"Sampaikan salamku kepada Gisele, ayah bodoh!" ujarku melambai.


Dan entah bagaimana sepatu lain dapat mendarat dengan sempurna di mukaku.


***


Sesudah kunjungan Gustav suasana panti menjadi sedikit muram.


"Kak Fain, kau tidak apa-apa?"


"Ayahmu memarahimu, 'kan?"


"Kepalamu terasa sakit?"


Aku tidak apa-apa selama kalian tak membenciku.


Kepedulian anak-anak memang obat paling manjur!


Aku tersenyum dan mengusap kepala anak panti satu per satu. "Aku tidak apa-apa."


"Meski terlihat galak dan keras, dia adalah ayah kebanggaanku," lanjutku menenangkan mereka. "Kalian tak perlu khawatir."


Anak-anak cenderung merasa takut terhadap suara keras dan bernada kasar seperti Gustav tadi jadi kurasa wajar jika mereka mengkhawatirkanku.


Aku cemas mereka akan berkecil hati namun nampaknya mereka dapat kembali riang seperti biasa.


Tapi, saat ini yang lebih kukhawatirkan justru Risa.


Risa menatapku sedikit ketakutan. "Fain .... Kamu anak penguasa Rilet?"


"Anak haram tepatnya." Aku mengangguk memberi jawaban singkat. "Aku sudah diusir dari keluarga, jadi secara resmi aku bukan siapa-siapa selain seorang sentinel bernama Fain."


Dia terlihat tidak percaya tetapi setelah menjelaskan situasiku dia menjadi lebih tenang.


"Begitu." Risa menghela napas panjang. "Aku tak menyangka kamu pernah melalui masa lalu seperti itu."


Senyum merekah di bibirku. "Terima kasih atas simpatimu, tapi aku tidak apa-apa. Dia juga melakukan itu demi melindungku."

__ADS_1


"Aku sama sekali tak mempermasalahkannya."


Benar, terlepas dari sifat keras dan tegasnya, Gustav merupakan sosok ayah bertanggung jawab yang menyayangi anaknya—terlepas anak resmi ataupun haram.


Kalau boleh jujur aku mengagumi Gustav daripada merasa tertekan atau takut.


Dia sosok ayah sekaligus bangsawan yang patut dicontoh oleh seluruh kaum bangsawan Gilard.


Setelah mengurus kekhawatiran Risa aku beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.


Menu makan siang hari ini sangat sederhana tapi mampu membuat anak-anak panti berseru girang.


"Nasi goreng!"


"Masakan Kak Fain memang nomor satu!"


"Saat sudah besar nanti aku akan jadi istri Kak Fain!"


Aku senang kalian menikmati masakanku tetapi gadis-gadis sebelah sana, tolong jangan mengatakan sesuatu yang mengundang salah paham!


Aku bisa dipenjara tergantung bagaimana cara kalian berucap!


Hah, aku ingin menikmati makananku dengan tenang tapi ....


"Tidak tidak, kalian tak bisa menjadi istri Fain." Rosetta berkata sesudah menyantap sesendok nasi goreng dari piringnya di sebelahku. "Karena yang akan menjadi istri Fain adalah Kakak!"


Para anak gadis melayangkan protes memenuhi aula makan terhadap balasan Rosetta.


Orang ini, ya ....


Mentang-mentang sudah melakukan ritual untuk membuat bayi denganku dia asal main klaim posisi orang lain saja.


Asal kau tahu, posisi istri pertamaku hanya milik Gisele.


Kalau kau tak keberatan maka kau bisa menjadi istri keduaku nanti.


Poligami merupakan hal wajar di dunia ini—mengingat aku merupakan penulis dunia ini, jadi secara wajar aku tahu—dan Gustav juga memiliki dua istri.


Aku memang tak berniat membangun harem mengingat aku belum menanyakan hal tersebut kepada Gisele, tapi kalau bicara soal tanggung jawab maka aku bisa membesarkan anakku meski tidak terikat secara resmi di buku registrasi pernikahan.


"Jadi, apa keperluanmu kemari, Rosetta?" Aku bertanya masih merasa sedikit terganggu terhadap pernyataannya tadi. "Apa kau mau menggodaku lagi di depan anak-anak?"


Rosetta menyeringai. "Tentu saja tidak. Aku hanya kemari untuk makan siang, kau tahu."


Wanita ini pasti bukan datang hanya untuk makan siang.


Memang benar beberapa hari belakangan ini dia sering kemari pada jam makan siang tetapi dia selalu menggodaku di depan anak-anak panti, bahkan kadang di hadapan Risa.


Tentu saja aku selalu menolak mengingat hal tersebut tidak membawa pengaruh baik bagi anak-anak—meski harus kuakui hasrat seksualku selalu terpancing.


Aku bukan orang luar biasa yang dapat menahan godaan iman sekuat karakter utama novel atau komik.


Aku seorang manusia dan lelaki. Terlebih lagi aku telah memasuki masa puber.


Sudah sewajarnya aku tidak bisa menahan nafsu dan kalah terhadap godaan Rosetta yang begitu memikat.


"Oh, ya, Fain. Ada satu hal yang mungkin menarik minatmu." Rosetta berkata sebelum menyuapiku sesendok nasi goreng.


Aku mengambil tawaran tersebut dan bertanya lagi. "Hmm? Menarik minatku? Apa itu?"


Apakah itu kemunculan labirin? Gempuran sejumlah besar monster yang akan datang mengancam kota?


Oh, mungkinkah ada penampakan naga melintas? Ataukah kabar harta karun legendaris?


Aku sangat tertarik terhadap semua informasi itu!


"Rombongan ksatria dalam jumlah kecil sedang berjalan kemari dari arah ibukota."


Yep, mari lanjut makan saja.


Hmm, nasi goreng buatanku di dunia ini enak sekali, jauh berbeda dibandingkan ketika aku memasak di bumi.

__ADS_1


Apa karena skill Cooking, ya?


__ADS_2