
Pada pagi hari ketika sarapan akhirnya Lilia memberanikan diri untuk menampakkan diri meski terlihat sedikit gelisah.
"Lilia, percayalah kepada Fain." Gustav berkomentar melihat istri keduanya belum menyentuh hidangan di piringnya. "Kalau Fain berkata kamu sudah sembuh maka kamu tidak apa-apa."
Lilia tertunduk. "Suamiku, kamu mudah mengatakan itu karena tidak terkena cacar."
"Cacar merupakan penyakit yang persentase kematiannya tinggi." Lilia mendesah. "Aku tak tahu cara seperti apa yang Fain gunakan, tapi tetap saja aku khawatir."
"Oh, soal itu Ibunda Kedua tidak perlu khawatir." Aku membalas selagi mendorong troli makanan ke ruang makan.
Aku lalu mengambil hidangan di troli dan membagikan kepada semua yang hadir di ruangan satu per satu. "Aku mempunyai kemampuan khusus yang dapat memanipulasi sumber penyakit."
"Aku sudah menghilangkan segala sumber cacar dari rumah ini sehingga untuk sementara waktu Ardenheim sekeluarga tak perlu khawatir terhadap cacar," kataku menambahkan.
Sulit menjelaskan jika aku melenyapkan virus cacar yang masih asing di dunia ini menggunakan Nosokinesis jadi aku meringkas semuanya sebagai sumber penyakit, walau tidak salah juga menyebut virus sebagai sumber penyakit.
Gustav mengangguk setuju. "Yah, jangan dipikirkan terlalu jauh kalau menyangkut Fain."
"Dia sudah di luar logika kita dan jika kalian berusaha memahaminya, kalian hanya akan mendapatkan akal sehat kalian runtuh." Gustav lalu menyesap teh pagi yang disediakan pelayan.
Leonard serta Eizan mengangguk menyetujui perkataan Gustav.
"Ayahanda, apakah kamu mendengar itu dari Sain?" Aku menatap Gustav datar merasa curiga.
Dia mengabaikanku dan hanya menikmati tehnya.
Aku memang belum memastikan tapi sudah jelas kalimat barusan dia dengar dari Sain yang bersumber dari Elena.
Bagaimana ini .... Aku benar-benar dianggap orang aneh oleh Ardenheim sekeluarga—ditambah satu orang luar.
"Kesampingkan itu ...." Seratina berkata mengalihkan topik. "Apa ini, Fain? Apakah ini sejenis makanan?"
Dia menusuk benda kenyal pada piring kecil memakai sendok menatap penasaran.
Aku mengangguk. "Benar, ini namanya puding. Sebuah makanan penutup."
"Aku mengumpulkan kalian untuk mencicipi puding agar aku tahu pendapat kalian mengenai makanan baru ini." Aku berkata lalu membagikan puding yang tersisa kepada para pelayan yang berdiri di tepi ruangan termasuk Gisele.
Di antara semua yang memandangi puding dengan ragu hanya Leonard dan Charla yang nampak berbinar-binar merasa tertarik.
__ADS_1
"Kak Fain, apakah saus gelap di atas puding ini sama dengan isian roti isi selai cokelat kemarin?" Leonard bertanya sambil mencolek vla di atas puding.
Aku mengangguk. "Tepat sekali. Namanya adalah vla cokelat. Kalian bisa menyebutnya saus puding meski tidak terbatas hanya pada puding."
Mereka semua—terutama Gustav, Seratina, Lilia, serta Eizan—bereaksi terhadap kata 'cokelat' dari mulutku.
"Fain, kamu berkata ini adalah saus cokelat?" Gustav mengikuti Leonard mencolek vla puding. "Bukankah cokelat merupakan obat pahit mahal yang dijual di ibukota?"
Ah, jadi cokelat sudah mulai diolah di dunia ini, huh?
Tapi ... apa barusan? Aku tidak salah dengar? Cokelat dijadikan obat?
Gustav menyadari kebingunganku dan menjelaskan bahwa cokelat merupakan produk terkenal yang berasal dari Ibukota Gilard, Castelan, diproduksi oleh serikat tabib untuk membantu meredakan stres serta depresi.
Memang benar cokelat dapat membantu meredakan stres dan depresi tetapi cokelat tidak begitu populer sebagai obat, karena rasanya sangatlah pahit.
Beberapa bangsawan mencoba memakan cokelat menggunakan gula namun kadar pahitnya hanya berkurang sedikit dan terlebih lagi, harga obat cokelat ini cukup mahal sampai hampir menyentuh sekeping koin perak untuk satu dosisnya saja sehingga membuatnya hampir tidak laku.
Uhh ... ya, bagaimana aku harus mengatakannya .... Tidakkah mereka mencampur gula atau susu saat proses pembuatan? Bukankah itu langkah terpenting dalam membuat cokelat konsumsi?
Peradaban abad pertengahan memang beda.
"Leonard telah memastikan hal itu kemarin." Aku melirik ke arah Leonard yang tengah berusaha keras menahan diri agar tidak makan lebih dulu sebelum Gustav sang kepala keluarga.
Gustav masih merasa ragu namun memilih untuk menutup mata lalu mengambil sesendok puding disertai vla dan ... aku tak menyangka Gustav yang terkenal berekspresi datar dan tegas bisa menjerit sekeras itu.
"Manis! Apa ini benar-benar cokelat?!" Gustav tanpa ragu menyuap sesendok lagi. "Dan apa pula ini?! Tekstur kenyal dan lembut seperti Slime namun jauh lebih enak!"
.... Memangnya kau pernah memakan Slime?
Aku tahu aku menuliskan Slime jenis terlemah memang bisa diolah menjadi makanan sejenis puding meski hambar di novel tetapi, biasanya orang-orang yang memakan ini hanyalah orang serba kekurangan yang tak mampu memenuhi kebutuhan pangan.
Melihat reaksi Gustav, Seratina dan Lilia, serta lainnya mulai memakan puding satu per satu dan tanggapan mereka kurang lebih serupa dengan Gustav.
Kelihatannya puding dan vla cokelat dapat diterima baik di dunia ini.
Tapi, kalau aku berniat menggunakan puding demi meningkatkan pendapatan Rilet maka semua akan bergantung kepada diriku mengingat aku hanya membuat ini dari puding bubuk instan.
Resep puding sederhana tanpa puding bubuk instan buatan pabrik sulit dicari di internet tetapi, kurang lebih aku paham bahan-bahan serta cara membuatnya.
__ADS_1
Aku harus bereksperimen mengenai puding terlebih dahulu nanti malam.
Nah, kesampingkan masalah puding terdapat hal yang lebih mendesak daripada kebangkitan perekonomian Rilet.
"Ayahanda." Aku memanggil Gustav sesudah duduk di bangku kosong pada meja makan. "Bagaimana persiapan pertempuran besar?"
Gustav menghabiskan pudingnya sambil menghela napas berat sebelum menjawab. "Tidak bagus sama sekali."
Dia lalu menjelaskan bahwa semua prajurit di Rilet merupakan ksatria bawahan keluarga Ardenheim dan sebagai bangsawan Viscount berpangkat II, jumlah pasukan pribadi Ardenheim bahkan tidak sampai seratus orang.
Gustav memang terlahir sebagai putra sulung keluarga Ardenheim namun dia lebih mendekatkan diri pada ilmu perdagangan dibanding kebangsawanan murni, sehingga pamor Ardenheim tidaklah kuat jika dibandingkan keluarga bangsawan murni setingkat.
Dahulu ketika masih berpangkat Viscount IV keluarga Ardenheim jumlah prajurit pribadi mereka masih di atas 200, tetapi perlahan jumlah tersebut menurun selama beberapa dekade terakhir hingga pada masa jabatan Gustav, prajurit yang tersisa tidak sampai 100 orang.
Tidak sampai seratus orang, huh? Itu menyedihkan.
Pasukan keluarga bergelar Baronet atau Baron saja mungkin mencapai seratus atau dua ratus orang namun keluarga Ardenheim bergelar Viscount, gelar yang satu tingkat di atas Baron, justru hanya memiliki di bawah seratus orang itu bagaimana ceritanya?
"Kamu ... barusan memikirkan sesuatu yang tidak sopan, ya?" Dahi Gustav mengerut seolah membaca pikiranku.
Aku tersenyum kecut menanggapi. " Aku bukannya berpikir tidak sopan tapi hanya melihat fakta yang ada."
Jika aku tak salah menghitung maka sudah sekitar 23 hari berlalu semenjak aku secara resmi diusir dari kediaman ini, dan itu berarti waktu kami secara kasar hanya tinggal 77 hari sebelum Raja Kekacauan menyerang.
Rilet harus memperkokoh pertahanan demi menghalau serangan tersebut mengingat kami berada di daerah selatan yang menjadi salah satu kota paling pertama diserang.
Apa mungkin merekrut, melatih, dan menyiapkan pasukan berskala besar hanya dalam waktu 77 hari?
Aku memang dapat menggunakan Chrono Static Field dari Chronokinesis jika benar-benar dibutuhkan tetapi, aku ingin menghindari pemakaian kekuatan Chronokinesis atau Kinesis berkemampuan selain memanipulasi elemen di tempat publik.
Itu dapat membuatku semakin dianggap ancaman oleh keluarga bangsawan lain ataupun kerajaan Gilard itu sendiri jika aku dengan ceroboh menggunakannya.
Meskipun saat ini aku bekerja sama dengan kerajaan sebagai pengeksekusi keluarga bangsawan korup yang merugikan negara, bukan berarti mustahil bagi mereka memutuskan untuk menghabisiku sesudah masalah internal ini selesai.
Aku dan Gustav sama-sama mendesah merasa tak mempunyai solusi untuk kekuatan militer Rilet yang serba kekurangan.
"Hei, apa yang sedang kalian bicarakan tiba-tiba menyinggung pasukan Rilet di tengah sarapan?" Seratina yang sejak tadi diam menyimak sembari menikmati puding mengangkat suara.
Gustav memandangku memastikan apakah dia harus menjawab pertanyaan Seratina atau tidak.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang dan dengan berat hati menyatakan. "Dalam dua bulan lebih seminggu lagi Raja Kekacauan akan menyerang Gilard."