
Kekalahan Salas dan kedua puluh bawahannya menghebohkan warga Rudania.
Beberapa hanya menjerit dan mengutukku, sebagian diam menyaksikan, lalu sisanya dan berjumlah paling sedikit segera berkemas melarikan diri dari Rudania.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum berseru sekuat tenaga. "Keluar kau, Salim! Biar kuambil kepalamu sebelum aku meratakan kota ini menjadi tanah!"
Seruanku sontak membuat orang-orang di bawah bergemetar hebat merasa takut.
Tentu saja, biarpun Salas dan bawahannya mungkin bukanlah pasukan elit tetapi, aku mampu menghabisi dua puluh penyihir ruang dan waktu dalam sekejap tanpa terluka sedikitpun.
Dalam pandangan orang awam, siapa yang tak merasa gentar menyaksikan hal ini?
Dan berkat ini, lebih banyak penyihir mendaki tangga udara mendatangiku. Jumlah mereka sekitar ... seratus? Dua ratus?
Mungkin sekitar itu.
"Namaku Selas, putra ketiga puluh satu ...."
"Namaku Sulas, putra ...."
"Namaku—"
"Banyak bacot!" seruku mengayunkan pedang besar hasil rampasan pertarungan sebelumnya.
Satu tebasan pedang tersebut melepaskan ratusan gelombang energi berwarna kehijauan dan menghabisi sebagian besar dari mereka sekaligus dalam sekejap.
Mereka jatuh ke tanah benar-benar seperti hujan sekarang.
Sulas silus sulos saja semua! Kenapa nama kalian semua mirip?!
Apa orangtua kalian tidak bisa memberikan nama bagus untuk kalian?!
Wajah kalian memang berbeda tapi, nama kalian kembar semua! Aku tidak bisa membedakan mana yang Salus mana yang Selos!
.... Uhh, saking kesalnya aku tanpa sadar membantai mereka semua tanpa terkecuali menggunakan Chrono Slasher—pembelah waktu—dari Chronokinesis.
Siapa suruh jadi orang idiot nan menyebalkan. Sesali kebodohan kalian di alam kematian!
Saat aku masih terbawa emosi suara tepuk tangan terdengar merebut perhatianku.
Di sana aku menemukan seorang pria botak berpenampilan serupa mirip Salas tapi lebih seperti biksu.
"Luar biasa. Kamu mampu mengalahkan semua adik-adikku dan bawahannya dalam waktu sesingkat ini." Dia bertepuk tangan sambil tersenyum lebar.
Aku memandang si pria botak tak senang. "Dan kamu?"
"Oh, di mana kesopananku." Dia memberi hormat ala bangsawan. "Aku Seluja von Salues, putra tertua sekaligus pewaris keluarga utama Salues."
"Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan Alfain sang Pembunuh Bangsawan," lanjutnya tersenyum tipis.
Putra tertua, huh? Auranya nampak berbeda dari saudara idiotnya.
Mari kita periksa .... Appraisal!
---
Seluja von Salues / Male
Master Chronomancer (7) / 158 tahun
Str : 540, Vit : 410, Agi : 860, Dex : 740, Mag : 8.240, Wis : 7.470, Luk : 950
__ADS_1
---
Skill : Advanced Space-Time Magic (10), Master Space-Time Magic (10), Over Space-Time Magic (9), Space-Time Resist (10), Space-Time Immune (10), Space-Time Manipulation (10), Space-Time Bending (10), Minor Time Reversal (10), Time Reversal (10), Major Time Reversal (4), Dimensional Rift (3), Temporal Rift (4), Space-Time Chamber (5), Magic Up (10), Wisdom Up (10)
Extra Skill : God of Spirit Blessing (10), God of Time Blessing (10), God of Space Blessing (10)
Unique Skill : Space-Time Overity (8)
Special Skill : Appraisal (10), Space-Time Magic (10), Space-Time Spirit Trait (-)
---
.... Orang ini berusia 158 tahun? Dengan penampilan semuda itu?
Yah, dia punya banyak skill sihir berhubungan dengan waktu namun, yang paling membuatku tertarik adalah Unique Skill Space-Time Overity-nya.
Baru kali ini aku menemukan orang dengan Unique Skill selain diriku semenjak aku mati dan bereinkarnasi ke dunia ini.
Space-Time Overity (8) ; dapat meningkatkan pemahaman dan afinitas pengguna terhadap segala hal mengenai ruang dan waktu secara signifikan. Dapat mempengaruhi level skill berhubungan dengan ruang dan waktu.
Jadi, singkatnya orang ini jenius di antara jenius sihir ruang dan waktu, huh?
Dan lagi, Space-Time Spirit Trait? Dia memiliki darah roh ruang dan waktu?
Itu jelas-jelas terlalu curang!
Hei, pencipta dunia, bukankah orang ini terlalu curang untuk ukuran manusia?!
Aku tidak ingat pernah menulis orang sekuat ini di novelku!
.... Omong-omong, kalau terdapat orang sekuat Seluja mengapa Gilard bisa musnah karena serangan Raja Kekacauan? Bukankah itu tidak masuk akal?
"Oh, mengapa kamu tiba-tiba terdiam? Apakah kamu menyesal telah melawan keluarga Salues?" Seluja tertawa ringan memandangku. "Kamu takut setelah merasakan kekuatanku? Takut terhadap waktu mutlakmu yang akan habis?"
"Singa? Tikus?" Seluja mengerutkan dahi dan menghela nafas. "Begitu. Rupanya kamu hanyalah orang bodoh."
Dalam sekejap Seljua telah berada di hadapanku dan mendorong belati kecil masuk ke dalam dada kiri menuju jantungku.
"Padahal aku berharap kamu menyerah dan ingin kujadikan tangan kananku." Dia berkata sambil menggelengkan kepala sebelum menendang tubuhku jatuh.
Ah, ini sakit .... Perasaan di dadaku terasa sakit ....
Tapi ....
Aku menepuk pundak Seluja dari belakang dan berbisik. "Terima kasih atas kehormatan posisi tersebut namun, aku tak membutuhkannya."
Seluja terbelalak sejenak dan tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Dia sudah melayang sejauh 30 meter dariku.
"Apa-apaan?! Kenapa kau masih hidup?!" Seluja berseru sambil menunjukku. "Aku tadi jelas-jelas menusuk dadamu menggunakan belati ruang dan waktu yang mampu mengabaikan resistansi ruang dan waktu!"
Dia lalu membuka lebar-lebar mata dan menyadari sesuatu. "Kau ... mempunyai skil klon?"
"Hmm, sedikit meleset." Aku menggoyangkan jari telunjuk menjawab pertanyaan Seluja dan kembali memasang senyun mengejek. "Kamu tidak sadar sama sekali, huh?"
"Bocah sombong keparat!" Seluja menggeram dan mengerahkan sihir yang membuat dia secara mendadak muncul di belakangku kemudian mengayunkan sebuah pedang besar—yang ternyata dia rebut dari tanganku.
Aku gantian menghilang dari hadapan Seluja dan muncul tepat di atas kepala si penyihir ruang dan waktu botak. "Aih, jangan begitu. Kehilangan ketenangan di tengah pertarungan hanya akan membawa bencana."
Belum sempat dia membalas aku mendorong kepala botak Seluja dengan ujung kakiku pelan yang membuat emosinya semakin mengamuk.
"Bajingan kecil!" Dia mengerahkan Mana dan sihir besar, lalu menghilang dari pandangan semua orang termasuk diriku.
__ADS_1
Aku tersenyum tipis. "Kau pikir aku tidak bisa melakukan hal serupa?"
Sesudah berkata demikian aku mengalirkan energi waktu pada tubuhku lebih cepat melalui Chrono Accel dan melebihi kecepatan cahaya, kemudian dunia seakan terhenti dan kehilangan warnanya di mataku.
"Kau ... kau juga dapat memasuki dunia tanpa waktu?!" Seluja yang melayang di dunia abu-abu terbelalak hebat melihat sosokku.
"Mengapa tidak? Aku selalu ingin menguji hal seperti ini, kau tahu." Aku tertawa dan menarik sebuah pedang tipis dari Spatial Storage. "Ayo temani aku bermain, tikus kecil."
Seluja termakan provokasiku dan maju menyerang menggunakan pedang besar Salas tetapi gerakannya sangat lambat di dunia berwarna abu ini.
Aku dapat dengan mudah menangkis tebasannya, lalu kami bertukar serangan lagi, lagi, lagi, dan lagi hingga lebih dari seratus kali.
"Oh, aku lihat kamu sudah terengah-engah." Aku berkomentar melihat kondisi Seluja. "Mana-mu sudah sampai batasnya, bukan?"
"Diam!" Dia maju menyerang sekali lagi dan kali ini lebih cepat.
Pedangnya sukses membelah badanku tanpa kesulitan.
Seluja tertawa lepas. "Hah! Setelah berbicara banyak ternyata kau mati semudah ini!"
"Siapa bilang aku mati?"
Saat Seluja ingin menoleh aku sudah mengayunkan pedangku menciptakan luka besar pada punggungnya dari belakang.
Dia mengerang keras dan berhenti bergerak sepenuhnya.
Alamak, dia keluar dari dunia tanpa waktu.
Sayang sekali, padahal aku masih ingin menguji kekuatan Chronokinesis sampai batasnya dengan kemampuanku sekarang.
Ya sudahlah, kali ini aku menyerah saja.
Aku kemudian mengikuti Seluja keluar dari dunia tanpa waktu dan seluruh warna menyapu dunia abu-abu disertai Seluja yang kembali bergerak.
"Apa-apaan .... Siapa sebenarnya kau?" Seluja dengan nafas tersengal-sengal dan luka di punggung yang telah menutup bertanya. "Bagaimana bisa kau masih hidup? Aku sudah membelahmu menjadi dua!"
Sepertinya dia tak mengerti sama sekali.
Aku tertawa mencemooh Seluja. "Tidakkah kamu paham? Aku yang kamu tebas itu hanyalah bayangan masa laluku."
Mata Seluja terbuka lebar tidak percaya.
"Memang benar kamu membunuh masa laluku tapi, tahukah kamu ...." Aku mendadak muncul di hadapan Seluja dan menghujamkan pedang tipisku menuju jantungnya. "Dengan bergerak sampai melebihi dunia tanpa waktu, masa lalumu tak lagi berarti."
Aku menendang perut Seluja sembari mencabut pedang dari dada si botak. "Kamu hanya akan melihat waktu seperti benang yang bisa ditarik-ulur."
"Dan jika kamu menguasai benang tersebut." Aku mengangkat pedangku lagi. "Maka kamu pun bisa mengendalikan masa lalu sesuai keinginanmu."
Pedangku membelah tubuh Seluja menjadi dua bagian begitu mudah dan dia tak akan mampu menyembuhkan luka tersebut, meski dapat memundurkan waktu sampai ke titik dia belum terluka menggunakan Major Time Reversal yang dapat memutarbalikkan waktu hingga tahap tertentu.
Mengapa, katamu?
Itu karena tebasan barusan bukanlah memotong masa lalu maupun masa sekarang, melainkan masa depan Seluja.
Sekuat apapun atau setinggi apapun kekuatan dan ilmu sihir ruang dan waktunya, tidak ada makhluk fana yang dapat mencapai ketinggian ini kecuali kamu telah menjadi makhluk transendental.
Selamat beristirahat, penyihir ruang dan waktu terkuat seantero Gilard, Seluja von Salues.
Semoga dirimu kelak dapat berhasil memecahkan hasil pertarungan ini dan mencapai dunia melebihi waktu di kehidupanmu selanjutnya.
Momen barusan merupakan pertarungan dengan dan tanpa waktu yang menyenangkan.
__ADS_1
Uhh, dia tidak bisa lagi mendengarku, ya?
Sungguh malang nasib menjadi seorang Seluja.