
Seusai urusan jual-beli dengan Elena selesai, dia lalu menyewaku sebagai pengawal tambahan sampai ke Matildam dengan bayaran 30 koin perunggu karena hanya tinggal berjarak satu hari.
Ditambah, dia juga ingin aku membawa jasad monster yang aku dan sentinel pengawal lain kalahkan pada Spatial Storage dan mendapat tambahan 10 koin perunggu.
Tidak buruk.
Aku tak menghitung secara pasti namun setidaknya budgetku sekarang dua koin emas dan beberapa koin perak serta perunggu.
Delapan koin emas lagi maka aku dapat menyelesaikan kesepakatanku dengan Gustav.
"Fain ...." Helda sang sentinel berkelas Sorceress memanggil. "Kalau boleh tahu kamu mengalahkan Hobgoblin dan Orclander dengan apa? Aku tak melihat ada jejak sihir pada jasad mereka tadi."
"Itu hanya skillku. Aku memutar aliran darah mereka secara terbalik," jawabku menjelaskan.
Saat ini aku sedang duduk mengintari api unggun di tengah kegelapan malam bersama para sentinel pengawal, dan juga Elena serta pelayan perempuannya.
"Memutar aliran darah secara terbalik?" Narla si sentinel Healer kebingungan. "Ada skill semacam itu juga? Apa yang terjadi jika aliran darah berputar terbalik?"
"Sederhana saja." Aku menjawab. "Katup jantung mereka akan rusak dan tidak bisa bernapas baik, lalu beberapa detik berselang terjadi pendarahan pada ketujuh lubang kepala."
Tidak, ini bukan sindrom Eisenmenger yang memang penyakit bawaan tapi benar-benar merubah aliran darah normal menjadi terbalik secara tiba-tiba.
Siapapun yang terkena kemampuan ini dapat dipastikan mati seketika.
Terdengar menyeramkan, bukan? Tetapi dengan cara ini aku bisa membunuh monster tanpa merusak material yang harusnya dapat dijual.
Lagipula, aku juga perlu melatih Hemokinesis dari Kinesis siapa tahu berguna ke depannya.
Tadi itu memang kesempatan sempurna untuk mencoba Hemokinesis.
Hmm? Entah mengapa semua orang jadi melihatku dengan tatapan ketakutan—kecuali satu orang.
"Fain benar-benar berpengetahuan, ya." Elena tertawa kecil. "Meskipun itu kemampuan yang belum pernah kudengar, tidak ada yang berpikir memutar aliran darah lawan secara terbalik."
"Cara yang sungguh efektif untuk membunuh lawan tanpa takut merusak tubuh luar mereka."
Hei, jangan berbicara seakan aku adalah pembunuh bayaran veteran.
Lihatlah, para sentinel menjadi takut lagi padaku meski telah menyelesaikan kesalahpahaman kecil tadi siang.
Setelah mendengar namaku tentu saja mereka takut jika aku akan membunuh mereka mengingat julukanku adalah Pembunuh Bangsawan, tetapi aku menjelaskan panjang kali lebar mengenai alasanku menghabisi Rachiel dan menghancurkan keluarga Gozet.
Kekhawatiran mereka memang berkurang namun bukan berarti mereka melepaskan kewaspadaan terhadapku, terutama dua lelaki yang sejak tadi mengawasiku dengan pandangan tajam.
Sentinel berkelas Rogue bernama Shaun, sementara sang Warrior kalau tak salah mengenalkan diri sebagai Galus.
__ADS_1
Kalian tidak salah mewaspadaiku tapi bisakah setidaknya hentikan tatapan seakan ingin membunuhku kapan saja?
Meski terlihat begini hatiku juga rapuh.
Aku meregangkan tubuh sesudah berdiri. "Hari sudah larut. Mari bersiap tidur."
"Tidur?" Bisco sang Archer mengerutkan dahi. "Kamu tidak berniat menyerahkan jaga malam sepenuhnya kepada kami, 'kan?"
"Oh, tenang saja. Aku akan mengerjakan bagianku." Aku mengangguk dan mengerahkan Beast Summon.
Cerberus muncul dari lingkaran sihir Beast Summon dan membuat kelompok Shaun segera bersiaga.
Aku menepuk leher Cerberus sambil tersenyum. "Tenang, dia bukanlah musuh. Dia monster panggilanku."
Aku membujuk mereka menurunkan senjata dan menjelaskan aku juga mempunyai skill pemanggilan, lalu aku menggunakan Cerberus untuk berjaga saat aku beristirahat pada malam hari.
Butuh beberapa waktu namun mereka semua menerima dan kembali duduk meski tak melepaskan pandangan dari Cerberus.
Yah, kurasa wajar mewaspadai anak ini mengingat Cerberus merupakan monster kuat yang setidaknya perlu ditangani oleh sekelompok sentinel peringkat merah atau lebih.
Aku mencari tempat luas di sekitar dan mengeluarkan miniatur kabin kayu untuk tempat peristirahatan malam ini—yang tentunya membuat kelompok Shaun menjerit, tak terkecuali Elena yang kini melotot begitu hebat.
"Fain, apa itu alat sihir?!" Elena langsung berseru.
Aku berpikir sejenak. "Daripada alat sihir mungkin lebih mirip artifak."
Tanpa peduli kelompok Shaun yang berdiskusi panas, aku memasuki kabin setelah memberi perintah jaga pada Cerberus sekaligus memberi camilan kesukaannya.
Aku sempat membuat toples camilan tanpa batas baru sebelum memberikan toples lama kepada anak panti, jadi semua senang tak ada yang rugi.
".... Apa ini?" Elena memasang ekspresi kacau begitu masuk ke dalam kabin mengekori diriku. "Semua ini milik kabin?"
"Begitulah. Sudah ada perabotan ini ketika aku menemukannya," balasku tak ingin membeberkan kebenaran tentang kabin kayu ini.
Melihat Elena masuk ke dalam kabin, kelompok Shaun mengikuti dari belakang dengan kewaspadaan tinggi sebelum mulai ternganga.
Semua ini baru nan asing bagi mereka, jadi kurasa wajar mereka semua bereaksi demikian.
"Aku punya dua kamar cadangan di lantai atas," kataku menunjuk tangga lantai dua. "Satu kamar untuk para gadis dan satu lagi untuk lelaki."
"Tidak." Shaun segera menyerobot dan duduk di lantai. "Kami akan tidur di sini saja. Biarkan nona Elena dan pelayannya tidur dalam satu kamar."
Galus mengangguk sebelum mengikuti Shaun. "Aku setuju. Satu kamar mustahil mengakomodasi bagi empat orang, bukan?"
Kalau dipikir lagi benar juga.
__ADS_1
Kamar tidur cadangan pun hanya memiliki masing-masing dua kasur tunggal.
Aku mengangguk menyetujui saran Shaun dan Galus. "Kalau begitu akan kubawakan selimut untuk kalian."
"Tapi, kalian tidak perlu tidur di lantai." Aku menepuk dua sofa empuk pada ruang tengah. "Tidurlah di sini. Setidaknya lebih nyaman daripada lantai keras."
Mereka berdua saling berpandangan sejenak namun mengikuti arahanku, dan saat mereka duduk di sofa bokong keduanya segera tenggelam.
"Wuah! Apa ini?! Pantatku seperti terserap!"
"Empuk gila! Apa ini sungguh kursi?!"
Berkat itu ketiga gadis kelompok Shaun segera ikut mencoba sofa tersebut dan wajah mereka semua terlihat bahagia.
Omong-omong, mana Elena dan pelayan ... nya ....
"Fain, apa ini?!" Elena berseru menunjuk kompor di bagian dapur sebelum kujawab dan langsung pindah menatap televisi tipis di ruang tengah. "Kalau yang ini?!"
"Ini kipas?! Seperti kipas sihir yang digunakan bangsawan?!"
"Wah, kotak ini dingin!"
"Lampu ini tidak ditenagai oleh sihir?!"
.... Dia ribut sendiri bersama pelayannya mengelilingi interior kabin sambil berseru keras.
Apa tidak masalah dia dibiarkan seperti ini?
Suaranya bisa menarik perhatian monster di sekitar—atau tidak.
Kabin ini juga mempunyai fungsi meredam suara dari dalam secara misterius.
Lagipula, jika monster mulai berdatangan maka Cerberus dapat mengurusnya.
Tapi, kalau begini terus aku bisa menebak apa yang akan Elena katakan berikutnya.
"Fain!" Elena datang kepadaku dengan mata berbinar-binar. "Jual kabin ajaib dan seluruh perabotan ini kepadaku!"
"Berapa yang kau mau? Aku bersedia membayar 100 koin emas putih—tidak, sepuluh koin kristal untuk seluruh kabin ini!"
Tawaran yang menggiurkan tapi aku harus menolak.
Menurutmu apa yang terjadi jika kabar mengenai aku memiliki benda seperti ini tersebar luas?
Para pedagang pasti akan memburuku.
__ADS_1
Aku harus memastikan mereka merahasiakan ini kalau bukan mengubah ingatan mereka menggunakan Mnemokinesis dari Kinesis.