I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
84. Rencana Pemberontakan


__ADS_3

Kematian Seluja menjadi pukulan keras bagi keluarga Salues.


Prajurit serta penyihir pihak Salues berlarian menyebar tak tentu arah di tanah namun semuanya memiliki tujuan sama, yaitu keluar dari kota.


Para penyihir ruang dan waktu menghilang satu demi satu dari jalanan maupun kediaman Salues—tidak, mungkin lebih tepatnya istana?


Kediaman mereka sangatlah megah sampai bisa kusebut istana, dan penampilannya menyerupai bangunan khas ala timur tengah di bumi, tetapi semegah apapun bangunan tersebut, di hadapanku semua dapat berakhir menjadi reruntuhan.


Hmm, pertarunganku melawan Salas dan Seluja, lalu menghabisi para penyihir elit, tentu saja membuat mereka lari terkocar-kacir ketakutan tak ingin mati.


Tentu saja, dilihat dari status serta koleksi skillnya Seluja bisa dibilang salah satu kalau bukan satu-satunya penyihir ruang dan waktu terkuat yang dimiliki keluarga Salues.


Selain status Mag dan Wis-nya melebihi 5.000 poin, hampir seluruh skill Seluja berlevel maksimal, dan tentunya dia juga mempunyai Unique Skill bernama Space-Time Overity—ditambah dia diberkati oleh dewa roh, waktu, dan ruang sekaligus.


Belum pula terdapat darah roh ruang dan waktu mengalir di pembuluh darahnya ....


Argh, bagaimana mungkin Gilard bisa kalah dari Raja Kekacauan kalau mereka mempunyai orang sekuat itu?!


Kesampingkan diriku yang mampu bergerak melebihi waktu itu sendiri menggunakan Chronokinesis, seharusnya Seluja tak akan kalah melawan siapapun ... kecuali Chaos Impelda mengutus salah satu jenderal terkuat mereka.


Aku memang tidak menulis detail bagaimana Gilard hancur pada gempuran Chaos Impelda yang dipimpin oleh Raja Kekacauan tapi mengirim jendreal terkuat ke barisan depan musuh ... kurasa itu wajar, sih, ya.


Apalagi lawannya adalah Gilard, salah satu kerajaan besar dan kuat di seluruh Alesgard.


Abaikan itu ....


"Hitungan mundur kehancuran Rudania tinggal empat menit, huh." Aku bergumam memandang penghitung detik pada layar superphone.


Total waktu pertarungan itu sekitar enam menit, ya? Kurasa wajar mengingat aku juga sudah mulai lelah.


Ingat bagaimana Chronokinesis memerlukan konsentrasi penuh hanya dengan Chrono Static Field berukuran tiga meter?


Ya, mentalku saat ini benar-benar kelelahan.


Berkat naik menjadi level 5, kinerja pikiran ketiga Multi Mind telah meningkat menjadi lebih luwes dalam menjalankan perintah rumit, dan sebagai tambahan aku juga telah mendapatkan pikiran keempat meski belum matang.


Pikiran keempat hanya mampu melaksanakan perintah dan proses sederhana sehingga aku memutuskan tidak menyerahkan kendali Chronokinesis pada pikiran keempat.


.... Ah, kalian bertanya bagaimana cara kerja pikiran-pikiran ini tanpa mempengaruhi pikiran utamaku?


Itu sederhana.


Mereka hanyalah pikiran dan kesadaran pembantu di dalam kepalaku tetapi, bukan berarti mereka seperti orang lain dalam tubuhku.


Kalau harus kujelaskan secara ringkas mungkin ini mirip seperti multi-tasking pada komputer. Mereka dapat membagi pekerjaan secara terpisah dan mandiri, namun komponen utamanya tetaplah tunggal.

__ADS_1


Dan kembali ke topik pergerakan yang melebihi waktu, aku menyerahkan bagian paling berat kepada pikiran kedua dan ketiga, sementara pikiran keempat berperan sebagai kesadaran tambahan yang mengawasi sekeliling agar tidak terkena serangan kejutan.


Kendaliku terhadap Kinesis sudah meningkat jauh dari pertama kali aku membuatnya.


Dulu paling banyak aku hanya mampu mengerahkan satu atau dua Kinesis menggunakan pikiran utamaku tapi sekarang, berkat pemakaian Kinesis terus menerus, aku dapat mengendalikan sampai empat hingga lima Kinesis sekaligus tanpa bantuan Multi Mind jika kupaksa.


Tentu saja hal itu hanya berlaku bagi Kinesis sederhana seperti Cryokinesis atau Pyrokinesis.


Jika Kinesis rumit seperti Chronokinesis, maka aku memerlukan bantuan pikiran kedua dan ketiga, dan dalam kasus dunia abu-abu sebelumnya aku mendorong kinerja kedua pikiran tambahanku sampai batas maksimal, ditambah sebagian konsentrasi pikiran utamaku menjaga percepatan waktu yang melebihi waktu itu sendiri.


Kalau diumpamakan pikiranku seperti mempunyai slot untuk menggunakan Kinesis dan satu slot ini dapat memproses satu kemampuan Kinesis sederhana, tetapi jika itu Kinesis gabungan atau kemampuan rumit maka memerlukan dua atau tiga slot.


Dalam kasus Chronokinesis ... kemampuan ini memakan empat slot sendiri hanya untuk Chrono Mind Accel.


Jika itu Chrono Accel atau Chrono Static Field maka kepalaku benar-benar penuh mencurahkan segala konsentrasiku.


Selagi aku bergerak dalam kecepatan tak terbayangkan tersebut, aku tidak bisa menggunakan Kinesis lain karena mencurahkan semuanya demi Chronokinesis.


Sebagai tambahan, semakin mahir kendaliku terhadap Kinesis maka semakin banyak pula Kinesis yang dapat digunakan bersamaan oleh pikiran kedua dan ketigaku.


Aku menghela napas berat. "Tapi, itu sangat melelahkan."


Rasanya otakku seperti mau meledak jika saja pertarungan di dunia abu-abu tadi berjalan dua atau tiga menit lebih lama.


Setidaknya, aku akan menamakan teknik melebihi dunia tanpa waktu sebagai Chrono Overboundary dan dunia abu-abu tadi sebagai Chrono Frozen World.


Saat aku masih beristirahat selagi pikiran keempat mengambil alih Gravito Flight Sphere, seorang pria terbang mendekatiku.


Cara terbangnya mulus seperti Seluja, itu berarti penguasaan sihir ruang dan waktunya sama atau lebih tinggi dari pria botak tersebut.


"Kamukah Alfain sang Pembunuh Bangsawan yang dirumorkan itu?" Dia berbicara. "Kau jauh melampaui ekspetasiku sampai berhasil menghabisi Seluja, putra pertamaku, yang digadang-gadang sebagai jenius sihir ruang dan waktu melebihiku."


Putra pertama?


Aku mengangkat alis. "Berarti kamukah kepala keluarga Salues, Saluja von Salues?"


"Benar, akulah Saluja von Salues. Penyihir ruang dan waktu terhebat di seluruh Gilard." Dia mengangguk dengan mata sayu.


Kalau dia Saluja berarti usianya sudah lebih dari 200 tahun mengingat Seluja, putra pertamanya, berusia 158 tahun.


Dia menghentikan penuaan dengan sihir ruang dan waktu, huh?


Yah, Seluja juga sama sih tapi, insting vampir dan roh hantuku dapat merasakan kekuatan sihir Saluja melebihi anaknya.


"Kamu datang kemari berarti kamu siap menyerahkan kepalamu?" Aku melipat tangan di dada.

__ADS_1


Saluja tertawa pelan. "Tidak, aku ingin membuat penawaran denganmu."


Penawaran? Atas dasar apa dia menganggap aku akan menerima tawaran tersebut?


Dia kemudian melemparkan sesuatu yang segera kutangkap menggunakan Telekinesis.


"Ini ...." Dahiku mengerut hebat sebelum kembali memandang Saluja. "Kamu membunuh anakmu sendiri?"


"Dia idiot dan tak berguna, ditambah dia membuat orang sekuat dirimu tersinggung." Saluja memasang senyum tipis. "Bagaimana? Apakah kamu bersedia mendengar tawaranku terlebih dahulu?"


Aku menatap kepala Salim yang dilempar Saluja sejenak sebelum membuangnya jatuh ke bawah. "Setidaknya aku akan mendengarkan."


Saluja kemudian mengatakan rencana besar yang telah dia persiapkan selama dua ratus tahun terakhir.


Kalau perlu kuringkas sepadat mungkin maka tujuan Saluja hanya satu, yaitu mengambil alih kerajaan Gilard dan mengklaim tahta istana.


Sungguh tokoh antagonis tipikal.


"Dengan kekuatanku sebagai penyihir ruang dan waktu terhebat dan kekuatanmu yang mampu mengalahkan anakku, Seluja, si jenius sihir ruang dan waktu, kita berdua tak akan terkalahkan." Saluja merentangkan kedua tangan ke langit. "Gilard akan menjadi milik kita!"


"Dan ketika aku menjadi raja akan kuangkat dirimu sebagai tangan kananku." Saluja tersenyum puas.


Dia lalu melipat dan kembali menatapku. "Bagaimana tawaranku? Kamu bersedia menerimanya, 'kan?"


Aku menghela napas panjang menanggapi ambisi serta kebodohan Saluja.


Aku lalu mendekatkan superphone ke bibir sebelum berkata. "Begitulah katanya, Sain. Bagaimana menurutmu?"


"Tidak pernah kusangka sekali pun...." Suara Sain dari pengeras suara superphone terdengar geram. "Seorang Duke pangkat I, kepala keluarga Salues, berniat mengkudeta Yang Mulia Gilard dan kerajaan!"


"Suara ini ... Alsain von Adamantalis?!" Saluja membelalakkan mata mendengar suara Sain.


Sain dari panggilan superphone yang kualihkan menjadi mode speaker menjawab. "Benar, aku Alsain, Ketua Ordo Ksatria Pedang Kabut Emas!"


"Saluja von Salues! Aku telah mendengar seluruh rencana pemberontakanmu!" Sain berseru keras. "Atas nama Yang Mulia dan Ketua Ordo Ksatria, Alfain, aku akan mengizinkanmu menghancurkan Rudania dan seluruh keluarga utama maupun cabang Salues yang tersebar di seluruh Gilard tanpa terkecuali."


"Dan jika memungkinkan bawalah kepala Saluja dengan tanganmu sendiri ke Ibukota Gilard."


Setelah menyatakan itu Sain menutup panggilan dan aku mengembalikan superphone ke Spatial Storage.


Aku memasang senyum sarkas melihat ekspresi kacau Saluja. "Hei, mana senyum penuh kemenanganmu barusan? Nyalimu tidak langsung ciut setelah rencanamu diketahui oleh pihak istana, 'kan?"


"Jangan langsung takut begitu dong." Aku tersenyum lebar. "Lagipula, kamu memang berniat memberontak terhadap Gilard."


"Kalau kamu sungguh ingin memberontak maka lanjutkanlah sampai selesai. Jangan berhenti di tengah-tengah." Aku menertawai wajah penuh amarah Saluja.

__ADS_1


Aku kemudian memainkan jari menuang minyak ke dalam api. "Majulah, tua bangka bau tanah. Biar kupersembahkan kepalamu kepada Alsain dan Yang Mulia."


__ADS_2