
Sesudah menjanjikan sebuah pusaka kepada Elena, dia lalu memberikan imbalanku sesuai perjanjian sekitar 15 koin emas dan sebagai tambahan, aku juga meminta Elena agar mengurus para budak sebagai ganti senjata pusaka.
Tentu aku juga melepas kerah perbudakan memakai Material Shaper untuk merubah bentuk kerah tersebut agar mereka terbebas dari budak, dan akhirnya menerima sujud sembah sekali lagi dari mereka sebagai bentuk terima kasih.
Para budak yang memiliki tempat berpulang akan diberi bekal perjalanan, sementara bagi yang tidak, Elena berencana untuk mempekerjakan sebagian dari mereka sebagai pegawai tambahan di Perusahaan Daedalus cabang Matildam.
Jumlah para budak yang kuselamatkan terlampau banyak tetapi berkat kemurahan hati Elena—yang sedikit kudorong—sebagian besar budak melakukan perjalanan kembali menuju rumah mereka masing-masing dan hanya tersisa sekitar 70 orang dari 250 budak.
Kemungkinan besar sebagian besar para budak merupakan budak ilegal yang ditangkap secara rahasia di bawah hidung kerajaan.
Gilard sendiri melegalkan sistem budak, namun budak yang dimaksud legal hanyalah budak kriminal dan mereka yang secara sukarela menjual diri menjadi budak, dan Gilard mempunyai hukum tersendiri mengenai perbudakan.
Aku sendiri tidak begitu keberatan terhadap sistem perbudakan selama tak menyalahi hak asasi kemanusiaan dan dilakukan secara wajar, tapi jika itu menyangkut budak ilegal hasil penculikan maka aku jelas menentang keras.
Setelah mengonfirmasi niat Elena terhadap para budak, aku kembali ke penginapan dan mengemas barang-barangku—yang sebenarnya berada di Spatial Storage namun aku tetap perlu memberitahu resepsionis aku akan meninggalkan penginapan.
Ke mana aku akan pergi, katamu?
Tentu saja kembali ke Rilet, memangnya ke mana lagi?
Saat ini aku memegang setengah dari jumlah total kesepakatanku dengan Gustav dan menurut persetujuannya, aku dapat membawa Gisele pergi dari kediaman Ardenheim selama aku membayar 10 koin emas sebagai pembayaran awal.
Dan dengan alasan tersebut, aku berpindah ke gerbang masuk Rilet menggunakan Instant Warp.
"Kota ini tidak banyak berubah, huh." Aku tersenyum memandang kampung halamanku di dunia ini.
Meski kukatakan tak banyak berubah, Rilet nampaknya lebih ramai dari sebelumnya.
Mungkinkah itu karena Gustav menerapkan beberapa hal yang kuberitahu dari bumi?
Aku tidak mengerti banyak tentang perdagangan tetapi aku memang memberikan banyak ilmu mengenai kepengurusan kota yang kudapat dari internet—serta beberapa buku berisi serupa kepada Gustav.
Peradaban dunia ini masih sangatlah primitif jika dibandingkan dengan bumi sehingga ilmu kepengurusan kota dan wilayah dari bumi, serta banyak beberapa pengetahuan umum lain, membuat Gustav bersemangat mempelajari semuanya.
Walaupun usia Gustav sudah mencapai kepalan empat bukan berarti tidak boleh belajar, 'kan?
Tak ada kata terlambat untuk belajar.
"Hmm? Fain?" Seseorang memanggil dari suatu arah. "Oh, kau sungguh Fain!"
Aku menoleh menuju suara tersebut. "Calvin? Sedang apa kau di sini?"
__ADS_1
Calvin, sang ketua serikat sentinel cabang Rilet sekaligus sentinel peringkat perunggu, bergegas melangkah mendekat.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Dingin sekali dirimu setelah beberapa minggu tak bertemu." Calvin mendesah menanggapi.
Kalau kuhitung berdasarkan hari keberangkatanku dari Rilet maka baru sekitar tiga minggu lebih tiga hari. Memangnya selama itu, ya?
Aku cukup disibukkan dengan urusan panti di Rosel dan urusan Elias di Matildam selama ini, jadi waktu tiga minggu ini terasa singkat bagiku.
Kalau dipikir lagi, aku sudah menetap di Matildam selama empat hari demi mengurus desa Orclander dan si baji-ngan Elias.
Waktu sungguh berjalan cepat ketika kamu banyak beraktivitas.
"Yah, bagaimanapun juga kamu seorang ketua serikat." Aku memasang senyum kecut. "Tidak biasanya ketua serikat sentinel berkeliaran di luar serikat."
"Ah, soal itu ...." Calvin menggaruk pipi sebelum mulai menjelaskan.
Aktivitas monster di sekitar Rilet belakangan ini terlihat aneh dan sangat tak wajar sampai berkumpul serta membentuk kelompok masing-masing sesuai ras juga spesies mereka, bahkan tak jarang sentinel melaporkan terdapat beberapa kelompok monster berspesies campuran.
Dan demi memastikan kebenaran laporan tersebut Calvin berangkat menuju lokasi yang dimaksud sentinel dan menemukan semuanya sesuai seperti yang dikatakan para sentinel.
Kelas Calvin adalah Rogue dan dia mempunyai pertumbuhan status serta koleksi skill yang memumpuni dalam bidang sejenis pengintaian, terlebih lagi dia juga merupakan sentinel peringkat perunggu—meski kurang aktif karena pekerjaannya sebagai ketua serikat menghalangi.
Apa sentinel yang mencapai peringkat perunggu akan ditawari posisi ketua serikat cabang di suatu kota atau wilayah oleh serikat pusat?
Kurasa kemungkinannya tidak kecil mengingat semua dua ketua serikat yang kutemui berperingkat perunggu.
Aku mengangguk memahami situasi Rilet. "Aku akan bantu memeriksa dan kalau memungkinkan membasmi beberapa kelompok monster tersebut nanti."
"Tapi, untuk sekarang aku akan pergi ke kediaman Ardenheim terlebih dahulu," kataku melanjutkan.
"Ya, kurasa aku akan meminta bantuanmu juga mengenai hal itu." Calvin mengangguk setuju dan menepuk punggungku. "Nikmati waktumu bersama Gisele tercintamu."
Hei, si baji-ngan satu ini!
Kampret, dia langsung kabur setelah berkata demikian.
Tapi, yah, Calvin memang tidak salah sih.
Aku ingin menikmati waktu berduaanku bersama Gisele selama beberapa hari ini.
Aku segera melanjutkan langkahku menuju kediaman Ardenheim yang terletak di pinggiran kota.
__ADS_1
Di sana aku menemukan sesosok gadis berambut ungu gelap berpakaian pelayan tengah menyapu halaman dengan rajin.
Dia masih terlihat begitu indah dan cantik meski kutinggal kurang lebih setengah bulan.
Ah, dia melihat ke arahku.
"Fain!" Gisele segera mendekat dan memberiku pelukan. "Kapan kamu datang? Kenapa tidak bilang-bilang?"
Aku tersenyum mengusap kepala Gisele lembut. "Aku baru saja tiba dan ... apa maksudmu tidak bilang-bilang?"
"Oh, tuan Gustav berkata dia mempunyai cara untuk berkomunikasi denganmu walau terpisah jarak jauh," jawab Gisele polos.
"Aku juga mendengar perbuatanmu menghancurkan penguasa kejam kota Rosel dari tuan Gustav, loh."
.... Gustav itu ... dia mengatakan hal-hal yang tidak perlu.
"Yah, banyak yang terjadi." Aku tertawa kecut. "Akan kuceritakan semuanya nanti, tapi pertama-tama aku perlu bertemu ayahanda."
Gisele mengangguk dan menuntunku memasuki kediaman.
Aku disambut oleh beberapa pelayan yang bekerja selagi aku melangkah.
Apa ini hanya perasaanku saja atau aku memang menjadi lebih dihormati oleh mereka?
Padahal mereka dulu hanya membatasi berkontak denganku seminimum mungkin karena aku merupakan anak haram dari keluarga Ardenheim.
Gisele mengetuk pintu ruang kerja Gustav. "Tuan Gustav, Fain datang berkunjung."
"Fain?!" Gustav berseru keras dari dalam ruangan.
Aku dapat mendengar suara barang-barang jatuh dari balik pintu sebelum terbuka menampilkan Gustav serta isi ruangan yang berantakan.
"Salam, Ayahanda." Aku memberi hormat ala bangsawan. "Ayahanda terlihat lelah. Apa ada masalah?"
Gustav menghela nafas panajng. "Hanya masalah aktivitas monster di sekitar Rilet belakangan dan ...."
"Seorang anak bodoh yang berbuat sesuka hati tanpa memikirkan akibatnya." Dia menatapku tajam.
Huh? Apa maksudmu melihat ke arahku?
Apa aku melakukan kesalahan?
__ADS_1