I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
50. Pertemuan Dua Reinkarnator


__ADS_3

Elena juga seorang reinkarnator sepertiku? Apakah itu mungkin terjadi?


Tidak, dalam kasusku, aku adalah transmigrator yang menetap pada tubuh anak berusia 14 tahun yang ditakdirkan mati karena cacar.


Kalau aku mendapat kesempatan ini maka itu berarti semua orang di bumi juga bisa memperoleh kesempatan serupa.


Aku menghela napas berat merasa seluruh tubuhku lemas. "Begitu rupanya. Tidak heran mengapa kamu menjual produk seperti sabun dan sampo dalam harga murah."


"Kamu terkejut?" Elena terkekeh menanggapi reaksiku. "Bagaimana? Apa kamu sekarang siap berbicara denganku?"


Aku mendengus pelan. "Sekalipun aku menjawab tidak kamu pasti akan mengoceh."


"Lagipula, kamu sudah membawaku paksa kemari." Aku memperbaiki postur duduk. "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?"


Dia mengangguk sekali dan mulai bercerita.


Elena bereinkarnasi menjadi bayi dalam keluarga saudagar kaya Heindrich 24 tahun lalu.


Dia juga mengaku mati di bumi setelah tertabrak oleh truk.


Ah, tuan truk berulah lagi.


Mengapa selalu truk yang mengawali kisah isekai?


Aku sendiri mati karena ... entahlah, mungkin kelelahan atau kelaparan akibat menulis naskah novel terakhir selama tiga hari berturut-turut hampir tanpa beranjak dari kursi sama sekali, jadi aku berhak mengajukan komplain.


Kesampingkan keluhanku, Elena menggunakan berbagai pengetahuan dari bumi yang bisa dia ingat untuk membangun dan memperluas Perusahaan Daedalus yang diwariskan oleh ayahnya.


Perusahaan Daedalus dulu hanya berfokus dalam bidang properti namun setelah kelahiran Elena, dia menambahkan banyak produk baru terutama dari segi kecantikan dan perawatan ke dalam perusahaan.


Berkat produk tersebut Perusahaan Daedalus meledak di pasaran dan berhasil meraih posisi sebagai salah satu perusahaan terbesar dan tersukses di seluruh Gilard.


Tapi, ada satu masalah besar tergiang di benak Elena semenjak dirinya lahir.


"Kamu tahu latar dunia ini?" Dia menatapku serius. "Dunia ini berlatar sebuah novel fantasi populer di Indonesia yang berjudul Pedang Pahlawan Jatuh dan Bintang Kekacauan."


"Di awal novel itu hanyalah novel membosankan yang tak menarik sama sekali tetapi setelah membaca lebih jauh, terdapat banyak plot twist di pertengahan cerita."


Hei, jangan bilang novelku membosankan!


Aku mengangguk. "Tentu saja aku tahu karena akulah penulis novel tersebut."


Suasana ruangan seketika menjadi hening.


"Kamu penulis novel Pedang Pahlawan Jatuh dan Bintang Kekacauan?" Elena memandang tak percaya.


"Apa aku harus menjabarkan semua detail isi novelku kepadamu?" Aku bertanya balik. "Tokoh utama merupakan anak haram dari sebuah keluarga bangsawan Kerajaan Hutan Haltasina di Benua Ruigarna, lalu—"


"Oke cukup! Aku paham!" Elena berseru menghentikan penjelasanku.


Dia menghela napas panjang nan berat. "Kamu sungguh penulis novel Pedang Pahlawan Jatuh dan Bintang Kekacauan?"


"Aku memang mengira kamu adalah reinkarnator tapi aku tak pernah menyangka penulisnya sendiri akan bereinkarnasi ke dalam novelnya sendiri," gerutu Elena.


Yah, siapa yang bisa mengira? Aku sendiri sampai terheran-heran ketika membuka mata dan mendapati diriku berada dalam tubuh Fain.

__ADS_1


"Kalau kamu memang sungguh penulisnya berarti itu dapat mempersingkat topik yang ingin kubicarakan." Elena menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali bersuara. "Fain, kamu tahu krisis besar yang akan melanda kerajaan ini, 'kan?"


Aku mengangguk lagi.


Tentu saja, aku memulai perjalanan demi mencegah hal itu—meski awalnya hanya berniat kabur bersama Gisele ke negeri tetangga.


"Kamu mungkin bisa kabur ke negeri lain sebelum serangan Raja Kekacauan terjadi tapi aku ...." Dia membuang nafas berat. "Posisiku sebagai direktur utama Perusahaan Daedalus tidak memungkinkanku bertindak serupa."


Elena menyelonjorkan tangan dan menempelkan pipi pada meja kerja tak memiliki semangat. "Apa aku akan mati di sini? Kurang dari dua bulan lagi?"


"Mungkin." Aku segera bangkit dan melangkah menuju pintu keluar. "Berjuanglah pada saatnya tiba."


"Hei, setidaknya tunjukkan sedikit rasa pedulimu terhadap salah satu pembacamu!" Dia bereaksi keras saat aku hendak pergi.


Mengapa aku harus peduli padamu?


Kamu mungkin pembacaku di bumi tetapi di sini kita tak mempunyai hubungan apapun.


Tapi, jika aku pergi dari ruangan ini maka ada kemungkinan dia akan mengejarku ke seluruh penjuru Matildam.


Aku tak ingin hal itu terjadi sehingga aku duduk kembali.


"Lalu, kamu mau aku melakukan apa?" Aku mengambil posisi duduk paling nyaman bagiku. "Meskipun aku kuat bukan berarti aku dapat mengalahkan Raja Kekacauan saat ini juga."


Wajah Elena mengerut. "Tidak bisakah kau menggunakan hakmu sebagai penulis dan menghapus eksistensi Raja Kekacauan itu sendiri?"


.... Walau hanya sekedar bercanda dia dapat menebak aku sungguh mempunyai kuasa sebagai penulis cerita di dunia ini tanpa bukti sama sekali.


Insting wanita memang mengerikan.


Perkataan Elena memang tidak salah.


Skill Multi Race-ku sekarang sudah mencapai level tiga dan slot rasku bertambah dua, namun aku tak bisa mengubah rasku menjadi dewa.


Mengingat Authority of Author dapat menulis ulang segalanya aku pikir suatu saat aku dapat mengubah rasku menjadi ras dewa jika level Authority of Author naik ke level tujuh atau lebih tinggi, tapi untuk saat ini aku tak mampu.


Karakter utama yang akan mengalahkan Raja Kekacauan berhasil menghabisi musuh bebuyutan dunia hanya setelah dia berhasil menjadi setengah dewa, dan berdasarkan asumsi tersebut aku merasa Authority of Author belum mampu melakukan hal semahakuasa itu.


"Aku memang mempunyai kuasa seperti yang kamu sebutkan namun saat ini aku tidak bisa melakukan apa yang kamu pinta." Aku menggeleng pelan.


Elena tertegun mendengar perkataanku. "Huh? Kamu sungguh memiliki kekuatan sebagai penulis?"


"Begitulah." Aku mengangkat alis. "Menurutmu mengapa aku mampu menghabisi ratusan hingga ribuan monster meski baru menjadi sentinel tiga minggu lalu?"


Aku kemudian membuka rahasia mengenai keberadaan, kemampuan, serta batasan Authority of Author kepada Elena tanpa ragu.


Mengingat dia mengakui bahwa aku adalah penulis dunia ini dan seorang reinkarnator dari bumi, maka tidak ada salahnya dia mengetahui keberadaan Authority of Author.


Ditambah, dia juga tak mempunyai niat buruk terhadapku berdasarkan penilaian Eyes of Hidden Truth.


"Kamu ... sungguh mempunyai skill semahakuasa itu ...?" Elena tersenyum kaku tapi wajahnya terlihat berantakan.


Aku mengangguk pelan sebelum memberi peringatan. "Dengar, aku akan memintamu secara baik-baik untuk merahasiakan Authority of Author dari siapapun juga termasuk orang terdekatmu."


"Kalau kamu berniat melanggarnya." Aku mengangkat sebelah tangan mengarah pada Elena disertai sorot mata dingin nan mengintimidasi. "Aku bisa menghapus semua ingatan atau melenyapkanmu sekarang juga."

__ADS_1


Elena segera menggangguk secepat kilat tak berani menentang.


"Aku bersumpah atas nama serta kehidupanku terdahulu, aku tak akan membocorkan rahasia ini!" Elena bersumpah bersungguh-sungguh.


Aku mengangguk puas mendengar sumpah tersebut. "Bagus."


"Selama kamu menepati perkataanmu maka tak ada masalah di antara kita."


Elena memasang senyum kecut terlihat keberatan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Aku kemudian mengeluarkan superphone dan membeli sesuatu di aplikasi toko, lalu menyerahkannya kepada Elena yang kini melotot hebat sampai aku khawatir matanya akan melompat keluar.


"Ini .... Ini!" Dia mengambil benda tersebut dan berseru girang. "Smartphone! Smartphone di isekai!"


Wuah, dia benar-benar sampai menangis hanya karena sebuah smartphone.


Dia pasti sangat merindukan benda yang menjadi poros dunia di bumi ini.


"Omong-omong, smartphone itu hanya smartphone biasa bukan seperti milikku." Aku menggoyangkan superphone di tangan. "Meski terhubung dengan internet bumi, kamu tak akan bisa mengontak siapapun di sana ataupun membeli sesuatu melalui toko daring."


Elena seketika kecewa berat. "Kalau aku tidak bisa membeli barang sesukaku lalu apa guna smartphone ini?"


"Hah?" Aku menatap Elena tajam. "Apa aku mendengar keluhan barusan?"


"Tidak, tak ada keluhan apapun keluar dari mulutku!" Elena langsung menjawab sembari mengambil pose hormat kepadaku.


Aku mendengus pelan. "Kalau begitu rahasiakan Authority of Author dan identitasku sebagai reinkarnator serta penulis dunia ini."


"Siap, pak bos!"


Kau sedang melawak atau apa?


Aku menghela napas panjang.


Aku memang sedikit khawatir terhadap gadis satu ini mengingat dia terseret ke dalam dunia yang kubuat dalam bentuk novel ini tetapi ... yah, setidaknya aku mendapatkan teman yang bisa diajak curhat.


"Omong-omong, Fain." Dia memanggilku. "Bagaimana dengan baterainya? Di dunia ini tidak ada listrik atau pengisi daya untuk smartphone, 'kan?"


"Smartphone itu akan menyerap energi sihir dari sekitar secara otomatis, jadi kau tidak perlu khawatir tentang baterai," jawabku singkat.


Mata Elena kembali berbinar-binar memandangi smartphone barunya seperti anak kecil.


Dia terlihat imut jika bersikap seperti ini.


.... Oh, ya, dia barusan bicara mengenai listrik.


"Berhubung masih di topik serupa, kenapa kamu terlihat begitu heboh saat melihat perabotan di kabin kayu ajaibku?" Aku bertanya penasaran. "Bukankah perabotan tersebut merupakan hal lumrah di bumi?"


Elena segera memasang ekspresi heran. "Aku sudah hidup selama dua puluh tahun lebih di dunia ini."


"Tidakkah kamu mengerti betapa bahagianya aku ketika mengetahui terdapat barang-barang seperti itu yang bisa diperoleh dari labirin?" Dia berkata sinis sebelum menciumi smartphone baru tersebut berulang kali.


Masuk akal.


Ah, benar juga.

__ADS_1


Aku perlu memberitahu gadis ini bahwa kabin ajaib serta seluruh perabotan di dalamnya hanyalah benda yang kuciptakan menggunakan Authority of Author.


Tapi sekarang, biarkan dia berbahagia dengan smartphone kesayangannya dulu.


__ADS_2