
Sedang apa sekelompok prajurit bersenjata datang ke panti asuhan? Memangnya ada kriminal bersembunyi di panti?
Selain aku yang baru saja memberitahukan lokasiku tinggal ke Rosetta kurasa tidak ada.
Ya, aku kriminal karena baru pagi menjelang siang tadi hampir membunuh Rachiel sang penguasa kota.
Tapi, aku tidak peduli apakah diriku dicap sebagai kriminal atau bukan.
Dia yang menyerang duluan. Tentu saja kubalas sepenuh hati.
Hmm, mau bagaimanapun juga kurasa tidak mungkin mereka langsung mencariku.
Baru beberapa jam aku menghadapi Rachiel dan aku yakin si pria sombong itu belum sadar mengingat banyaknya darah yang hilang dan mungkin terkena syok atau stroke dikalahkan secara tak terduga olehku.
Vitakinesis memang dapat mempercepat penyembuhan seseorang namun jumlah sel darah merah tak akan bisa diproduksi secepat itu, dan misalpun mampu maka tenaga target akan terkuras habis.
Kesampingkan pembahasan Vitakinesis, apa yang para prajurit lakukan di panti kalau tidak mencariku?
Tingkatkan indra pendengaran darah naga dan gunakan Aerokinesis untuk meniup sedikit suara menujuku ....
.... Oh, masalah pajak perlindungan, ya?
Semalam Risa juga bercerita Rachiel menarik dana bantuan dari panti karena tak menghasilkan apa-apa dan lagi, mereka justru diminta membayar pajak perlindungan selama tinggal di Rosel seperti warga lainnya.
Dan kali ini bukan Rachiel yang mendatangi panti melainkan sang anak pertama, Archiles von Gozet.
Sungguh mubazir nama Archiles digunakan pada anak ini.
Archiles setahuku diambil dari nama Achilles yang merupakan pahlawan mitologi Yunani dan anak bernama Archiles ini, dia nampaknya tidak begitu kuat.
Aku juga tidak suka bagaimana dia mengandalkan Rachiel dan nama keluarganya untuk menekan Risa serta anak panti padahal dia sendiri tak bisa melakukan apa-apa.
Jenis orang yang menjijikkan.
Haruskah aku turun tangan?
Yep, mari kita masuk.
Instant Warp.
"Wah!" Risa menjerit keras dan terjatuh begitu aku muncul tepat di sampingnya. "Fa-Fain?! Sejak kapan kamu berada di sana?!"
"Baru saja. Aku menggunakan sihir." Aku tertawa sejenak sebelum membantu Risa berdiri. "Jadi, ada apa di sini?"
Risa menjelaskan siapa rombongan prajurit ini dan alasan mereka kemari ... dan, yah, semua sesuai yang kudengar.
Mereka datang untuk menagih pajak perlindungan.
"Pajak perlindungan, ya?" Aku mengusap dagu. "Berapa total pajak panti sampai sekarang?"
Risa sedikit ragu namun membeberkan nominal hutang pajak mereka. "Sekitar 600 koin perak."
__ADS_1
Kalau disederhanakan berarti 6 koin emas?
.... Itu jumlah yang teramat banyak.
Seberapa tinggi pajak perlindungan di kota ini?
Jika diasumsikan panti belum membayar pajak sama sekali semenjak kedatangan Rachiel dan Gozet sekeluarga maka ... sepuluh koin perak per bulan?
Bagaimanapun juga itu jauh kelewat batas untuk kota kecil seperti Rosel, Rachiel!
"Baji-ngan! Beraninya kalian mengabaikanku!" Seorang berbadan gemuk dan pendek berseru. "Kau! Kau yang tiba-tiba muncul! Siapa kau?! Kau seorang sentinel?!"
"Diam kau, babi ngepet." Aku membalas acuh tak acuh. "Aku sedang berpikir. Jangan ganggu."
Bagaimana kalimat provokasiku? Tidak berliku-liku dan langsung tepat sasaran, bukan?
Lihatlah, si babi ngepet segera kepanasan dan memerintahkan prajurit untuk maju menangkapku—tidak, dia mengoreksi agar membunuhku di tempat.
Anak bangsawan manja itu memang paling mudah diprovokasi, ya.
Menyedihkan.
"Aerokinesis." Aku segera menghempaskan para prajurit yang maju kembali ke barisan mereka.
Semua yang menyaksikan melongo hebat memandangi aku mampu melempar belasan prajurit sekaligus—terkecuali anak panti yang bersorak girang sambil memujiku.
Hehehe, hebat, 'kan, kakak Fain kalian.
Aku yang malu!
Si babi ngepet meledak-ledak. "Baji-ngan! Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?! Kau melawan keluarga Gozet, penguasa kota!"
"Kau pasti mengerti artinya melawan keluarga penguasa kota, bukan?" Dia mendongak sambil memasang menjijikkan.
Nama besar Archiles jatuh lebih rendah dari dasar jurang di tangan orang ini.
"Penguasa kota? Ah, maksudmu si Rachiel?" Aku berkata acuh tak acuh sembari mengorek telinga. "Bagaimana kalau kau pulang dan memeriksa kondisi ayah sombongmu itu?"
Aku kemudian tersenyum dingin. "Mungkin dia tidak akan bisa bangun dari kasurnya lagi, kau tahu."
Tepat sesudah aku berkata demikian senyuman Archiles menghilang digantikan oleh ekspresi terkejut serta takut.
"Ti-tidak mungkin ...." Dia bergumam. "Mustahil ! Kau hanya menggertak!"
"Lagipula, ayahku sekarang sedang menjalankan ekspedisi untuk menumpas Metal Manticore di hutan sebelah timur! Dia tak mungkin bertemu dan bertarung dengan seseorang sepertimu yang baru muncul di sini!"
"Masuk akal, namun bagaimana caramu menjelaskan kedatanganku yang tiba-tiba muncul di tempat ini kalau kau memperhatikan?" kataku tanpa melepas lengkungan senyum dingin di bibir.
Archiles kemudian tersadar dan wajahnya diliputi perasaan takut.
Aku tertawa mencibir. "Benar, tuan besar babi ngepet. Aku dapat menggunakan sihir ruang dan waktu."
__ADS_1
"Aku dapat berpindah tempat kapan dan ke mana saja sesuai kemauanku," tambahku melanjutkan. "Silahkan pilih mau percaya perkataanku atau tidak."
Dan tentu saja, babi ngepet tersebut kabur terbirit-birit bersam sepasukan prajuritnya tak pakai lama.
Huh, dasar bangsawan kelas teri. Sungguh membuat malu nama agung Archiles.
"Wah, Kak Fain hebat!"
"Kak Fain hanya 'wush' dan 'wush', terus bicara sebentar dan mereka langsung kabur!"
"Kak Fain baik dan kuat! Kak Fain tak terkalahkan!"
Jangan memujiku terlalu banyak, anak-anak. Kepalaku bisa tambah besar nanti.
Keluguan anak-anak kecil memang yang terbaik.
Aku memasang senyum dan mengajak anak panti masuk. "Ayo kita makan dulu. Kalian pasti lapar, 'kan?"
"Yey, makan!"
"Masakan Kak Fain!"
Setelah mengajak mereka masuk aku kemudian memasak makan siang menggunakan bahan dari bumi.
Kualitas bahan makanan dunia ini sangat jauh dibanding bahan makanan di bumi.
Nutrisi sayuran di pasar juga tak terlihat baik dan segar sehingga bahan dari bumi yang terawat baik menggunakan pestisida alami serta pupuk berkualitas menjadi yang terbaik bagi anak-anak kurang gizi ini.
Kali ini aku membuat masakan favorit sekaligus andalanku.
"Ayam kecap sudah jadi!" Aku berseru dan mempersiapkan porsi anak-anak panti satu per satu. "Berbaris yang rapi. Jangan khawatir. Semua dapat bagian, kok."
Tentu saja aku tak hanya membuat ayam kecap.
Aku juga memasak hidangan sayuran agar kebutuhan gizi mereka tercukupi.
Omong-omong, Risa menemaniku memasak dengan .... Huh? Dia terganggu?
Aku memang meminta dia memperhatikan caraku memasak supaya dia dapat menyajikan makanan serupa kepada anak-anak panti setelah aku pergi dari Rosel, tapi dia tak perlu mempelototiku seperti itu, 'kan?
Begitu selesai membagikan makan siang aku berjalan mendekati Risa. "Ada apa? Kau terlalu mempelototiku sepanjang siang ini."
"Apa jangan-jangan ...." Aku berhenti sesaat. "Kamu jatuh cinta padaku?"
"Bukan itu!" Dia langsung menepis tanpa ragu.
Oh, ayolah, aku hanya bercanda.
Tidak perlu menolak secepat itu juga. Hatiku jadi sedikit sakit, tahu.
Aku tertawa kecil melihat reaksi Risa. "Jadi, ada apa? Kamu punya sesuatu yang perlu dibicarakan?"
__ADS_1
Risa merasa gusar sejenak sebelum berkata. "Kamu tahu mereka akan kembali, 'kan? Apa kau punya solusi untuk itu?"