
Archiles von Gozet, pewaris keluarga Gozet sekaligus anak pertama Rachiel.
Harus kuakui Rachiel sangat kuat dan bisa dibilang lawan paling kuat bagiku sejauh ini tetapi Archiles sama sekali tak mewarisi karakteristik ayahnya tersebut.
Singkatnya, dia bangsawan muda sombong nan manja tipikial yang mengandalkan kewenangan serta kekuasaan keluarganya.
Salah satu tipe bangsawan menjijikkan yang paling kubenci selain bangsawan korup idiot.
Dan saat ini Risa tengah gelisah mengingat aku jelas-jelas melawan keluarga Gozet sang penguasa kota Rosel.
Tapi, tidak perlu khawatir.
Kalaupun mereka datang target mereka hanyalah diriku.
Aku memandang Risa dengan ekspresi berlawanan. "Jangan dipikirkan. Jika mereka sungguh kembali aku akan mengusir mereka lagi."
Tentu saja aku tak berhasil meyakinkan Risa.
Meski baru lima tahun berkuasa, keluarga Gozet nyatanya membuat seluruh warga Rosel bertekuk lutut melalui kewenangan bangsawan ataupun kekuatan fisik.
Kekuatan serta kebanggaan utama keluarga Gozet sudah kulumpuhkan sehingga setidaknya mereka tak mampu lagi menekan Rosel dengan pajak perlindungan dan sekarang, sentinel lokal dapat beroperasi kembali seperti biasa.
Mengenai kekuatan bangsawan mereka mungkin aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menghancurkan Gozet sekeluarga secara langsung.
Atau setidaknya itulah yang kuharapkan semalam.
"Sentinel Alfain! Keluar kau! Aku tahu kau ada di dalam!"
Ah, pagi-pagi sudah membuat keributan.
"Ada apa? Aku sedang sibuk menyiapkan sarapan anak-anak." Aku membuka pintu dan menemukan orang yang kukenal. "Oh, Pak Penguasa Kota Baji-ngan. Kita berjumpa lagi."
Aku melambai kepada Rachiel yang bersiaga bersama puluhan prajurit bersenjata di depan gedung panti.
Dia terlihat marah meski wajahnya masih terlihat pucat dan kehabisan napas akibat anemia.
"Kau! Apa yang kau lakukan terhadapku?!" Rachiel berseru keras menunjukku. "Kedua lengan dan sebagian skillku hilang semenjak bertarung denganmu kemarin!"
Alamak, dia menyadarinya.
Yah, mustahil seseorang yang mengandalkan kemampuan bertarung tidak menyadarinya.
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?" Aku tersenyum sinis. "Aku telah mengalahkan Metal Manticore dan menyelesaikan masalah serangan monster berkelanjutan di kota ini namun bukannya berterima kasih, kamu justru ingin membunuhku."
"Penguasa tidak berkompeten macam apa dirimu? Aku sampai ragu terhadap pihak istana yang memberikan kuasa kota ini kepadamu," kataku sambil tertawa.
Muka Rachiel makin memerah diisi darah.
__ADS_1
Aku belum puas mengejek dan memutuskan untuk menambah sedikit bumbu cabai lagi. "Hei, Pak Tua, kamu sedang kekurangan darah. Jangan alokasikan semua darahmu ke kepala."
"Kamu bisa pingsan lagi nanti."
Rachiel berseru keras menanggapi ejekanku memerintah prajuritnya maju menangkapku dengan dalih menentang bangsawan.
Hmm, di sini ada banyak anak panti yang menonton dari jendela jadi lebih baik jangan memakai Kinesis yang bisa mencipratkan darah.
Pemandangan itu tidak baik bagi anak-anak.
Mana yang harus kugunakan, ya?
.... Ah, aku dapat ide bagus.
"Gravitokinesis." Aku mengangkat semua prajurit menggunakan gravitasi ke langit, lalu memakai pikiran kedua Multi Mind untuk mengaktifkan satu lagi jenis Kinesis. "Aerokinesis."
Dengan menggabungkan Gravitokinesis dan Aerokinesis aku bisa membuat mereka terbang sekaligus mengocok isi perut para prajurit sekaligus.
Pemandangan ini sekilas nampak tak berbahaya tetapi jika terlalu ekstrem dan lama ... seperti inilah jadinya.
Para prajurit suruhan Rachiel tumbang tidak sadarkan diri di tanah dengan mata berkunang-kunang.
Aku membuat badan mereka ringan menggunakan Gravitokinesis dan membuat mereka terbang ke sana kemari sambil berputar dalam kecepatan tinggi di udara memakai Aerokinesis, membuat keseimbangan mereka hancur disertai pusing hebat akibat perputarannya.
Mereka mungkin tak akan bisa berjalan normal selama beberapa jam dan efek berkelanjutannya bisa jadi tidak hilang sampai seharian penuh.
Aku mendapat ide ini dari wahana tornado dan roller coaster di taman hiburan bumi.
Maka dari itu aku akan menamakan teknik Kinesis tak berbahaya ini sebagai Twister Coaster!
"Wah, tampaknya asyik!"
"Aku juga mau!"
"Kak Fain, biarkan kami mencobanya juga nanti!"
Hei, jangan ribut—hei, jangan dorong-dorong di dekat jendela!
Bagaimana kalau salah satu dari kalian jatuh?!
Aku memang bisa menggunakan Vitakinesis agar menyembuhkan cedera tapi kalau kalian sampai jatuh dengan leher lebih dulu maka aku sekalipun tak mampu membawa jiwa kalian kembali alam fana!
Risa terlihat kerepotan mengurus anak-anak di dalam panti yang asyik menontonku dari jendela.
.... Aku bukan menggunakan Twister Coaster untuk hiburan kalian, tahu.
"Kekuatan itu ...." Rachiel terperanjat mendapati semua prajurit yang diperintah tumbang tanpa perlawanan. "Apa sebenarnya kekuatanmu?! Bagaimana kau bisa memanipulasi elemen tanpa sihir?!"
__ADS_1
Aku memasang senyum mengejek. "Kamu pikir aku akan memberitahumu?"
Rachiel tidak bisa menahan diri lagi.
Dia merebut salah satu tombak prajurit di dekatnya menggunakan mulut dan maju seorang diri.
Harus kuakui langkahnya masih teramat cepat terlepas dari kondisi anemia akibat kehilangan sejumlah besar darah kemarin, tapi ....
"Aih, Pak Tua. Apa kau menjadi begitu bodoh sampai menerjang musuh tanpa lengan ataupun kemampuan tombakmu?" Aku mengejek sekali lagi.
"Diam!" Rachiel mengacuhkan provokasiku dan menghunuskan tombak menuju dadaku.
Aku mempertahankan senyuman di bibir dan menyandung langkahnya membuat Rachiel jatuh tersungkur di tanah.
Dia segera bangkit dan kembali menerjang dengan gagang tombak terhimpit di antara gigi-giginya. "Kau ... kau .... Hanya kau yang tak bisa kumaafkan!"
"Begitu." Aku menghela napas berat. "Padahal aku sudah memberikan kesempatan kedua agar kau berubah menjadi lebih baik."
"Sungguh sangat disayangkan, Rachiel von Gozet."
Aku kemudian mengangkat tangan menuju anak-anak panti yang menonton di jendela sebelum mengerahkan sihir. "Vampire Magic ; Dark Mist."
Mereka seketika menjerit begitu mata mereka tak dapat melihat apa-apa berkat sihir vampirku namun, ini lebih baik daripada mereka harus melihat pemandangan selanjutnya.
Aku tanpa ragu mengibaskan sebelah lengan lain sambil mengerahkan Aerokinesis. "Aero Blade."
Sepersekian detik kemudian badan pria tersebut terjatuh ke tanah tanpa nyawa dengan kondisi kepala terpisah dari tubuhnya.
Pada saat-saat terakhir pun matanya dipenuhi kemarahan serta kebencian.
Aku tidak mempunyai dendam pribadi terhadapmu, Rachiel, tetapi kalau aku membiarkanmu menjalani kesempatan ketiga maka aku yakin nasibmu pun tak akan jauh berbeda selama kau tidak merubah sikap arogan dan mahatinggimu itu.
Ditambah, warga Rosel akan lebih menderita jika kau melampiaskan amarahmu kepada mereka.
Aku kemudian memandang prajurit yang tersisa dengan mata dingin. "Jadi, kalian masih mau maju?"
Puluhan prajurit tersebut tanpa ragu melarikan diri meninggalkan area panti asuhan.
.... Hei, rekan-rekanmu yang tak sadarkan diri masih di sini, tahu.
Hmm, ya sudahlah. Biar kuantar mereka ke kediaman Gozet beserta jasad Rachiel.
Aku lalu mengumpulkan darah di rerumputan menggunakan Hemokinesis dari Kinesis dan menumpahkan semuanya pada tubuh Rachiel sebelum kubekukan dengan Cryokinesis.
"Aku pergi dulu membawa mereka." Aku berkata kepada Risa yang kini terlihat ketakutan sambil memasang senyum kecil.
Sesudah melepaskan Dark Mist dari anak-anak panti aku mengerahkan Telekinesis terhadap para prajurit yang tak sadarkan diri bersama peti es Rachiel, kemudian melangkah menuju kediaman keluarga Gozet.
__ADS_1