
Begitu urusanku di Matildam selesai—atau lebih tepatnya di Perusahaan Daedalus—aku kembali mengerahkan Instant Warp tetapi tujuanku bukan kembali ke Rilet, melainkan panti asuhan Rosel.
"Kak Fain!"
"Wah, Kak Fain kembali!"
"Kak Fain!"
Anak-anak panti langsung berlarian dan memelukku begitu aku menampakkan diri di depan pintu.
Ah, lama aku tak melihat kalian, rasa sakit tamparan dari Elena seketika menghilang.
Senyuman anak-anak tak berdosa memang obat paling manjur sedunia.
"Fain?! Fain kembali?!" Risa dari dalam buru-buru melangkah keluar dan menyapaku dengan senyuman hangat, meski rambutnya terlihat sedikit berantakan. "Fain, kamu benar-benar kembali."
"Hai, Risa." Aku memasang senyum menyindir. "Kamu terlihat kacau. Ada masalah apa?"
"Uhh ... soal itu ...."
Kami masuk ke dalam ruangan pribadi Risa diiringi oleh anak-anak.
Dia bercerita selama seminggu terakhir panti asuhan didatangi oleh banyak pedagang yang berniat membeli tanah panti setelah mengetahui tanaman kebun di belakang gedung sangat cepat tumbuh dan dipanen.
Minggu pertama setelah aku pergi anak-anak panti mulai menjual sayuran hasil kebun tetapi berkat kuantitas serta kualitasnya, hal ini menarik perhatian para saudagar kaya dari berbagai kota karena kabar menyebar sangat cepat di antara pedagang.
Pertama-tama para pedagang atau orang kaya meminta penyerahan tanah baik-baik dengan kompensiasi cukup menggiurkan, namun Risa menolak semuanya dan karena ini, semakin lama semakin banyak pedagang berdatangan dan mulai memaksa.
Beruntungnya, saat mereka hendak mengambil tindak kekerasan, para pedagang ini tiba-tiba menghilang dan menurut kesaksian warga sekitar, mereka mendadak muncul di area sekitar 100 meter di luar kota.
Oh, sistem keamanan Authority of Author kelihatannya benar-benar bekerja.
"Dan sejak saat itu panti disebut-sebut oleh warga sekitar sebagai tanah suci, Sanctuary." Risa menghela nafas berat sesudah menjelaskan. "Ini perbuatanmu, 'kan, Fain?"
Aku mengangkat bahu sembari tersenyum tipis. "Entahlah, bisa jadi dewa sungguh memberkati tanah ini."
Risa memasang senyum kering tak tahu harus bagaimana membalas perkataanku.
Tapi, aku tidak pernah menduga kabar mengenai kebun panti asuhan menyebar begitu cepat sampai ke kota-kota lain, padahal jarak Rosel ke Matildam saja membutuhkan waktu kurang lebih seminggu menggunakan kereta kuda.
Mungkin mereka memanfaatkan merpati atau hewan sejenisnya sebagai pembawa pesan.
Kurasa tidak heran mengapa kabar ini menyebar terlampau cepat ke kota lain jika memakai metode pengiriman pesan seperti itu.
__ADS_1
Aku memang menempatkan kamera pengawas yang terhubung pada superphone namun aku hanya memeriksanya sesekali karena tidak punya waktu, terutama selama beberapa hari terakhir aku disibukkan oleh proses produksi pabrik cokelat yang masih membutuhkan pengawasanku.
Aku baru bebas hari ini dan itupun masih diisi oleh negosiasi penjualan cokelat dengan Elena di Perusahaan Daedalus tadi.
"Kesampingkan itu dulu, Risa, aku punya penawaran untukmu dan anak-anak panti."
Risa memasang wajah bingung.
Aku kemudian menjelaskan tentang usaha cokelat yang tengah dikembangkan keluarga Ardenheim dan kami menghadapi beberapa masalah, salah satunya adalah kurangnya tenaga kerja.
Beberapa hari lalu aku percaya jika kami dapat dengan mudah menemukan orang yang dapat dipercaya untuk mengurus kebun dan pabrik cokelat, tetapi hal sebaliknya terjadi.
Setelah kejadian korupsi walikota dan antek-anteknya, Gustav menjadi lebih waspada dan selektif terhadap pemilihan pekerja sehingga jumlah buruh yang kami dapat untuk dipekerjakan di kebun cokelat hanya ... enam orang.
Bagaimana mungkin dari total penduduk Rilet yang berjumlah sekitar seribu hanya mendapatkan enam orang pekerja?!
Saat aku menyatakan protes tersebut, Gustav tidak berdalih dan bersikeras tak akan menambah pekerja yang tak bisa dipercaya tidak peduli seberapa kurangnya tenaga kerja bagi kebun cokelat.
Aku memang berencana mempekerjakan anak-anak panti tetapi, aku memilih untuk menempatkan pilihan itu sebagai pilihan terakhir.
Dan berkat itu aku terpaksa menawarkan ini kepada anak-anak panti sekarang ....
"Begitu rupanya. Mengapa tidak?" Risa memiringkan kepala.
Dahiku secara refleks mengerut. "Apa tidak masalah? Maksudku, anak-anak akan bekerja dan itu tidak mudah, meski pekerjaan yang akan mereka tangani termasuk ringan."
"Mau!"
"Aku bersedia!"
"Kak Fain, pekerjakan aku di tempat Kakak!"
Wuah, mereka bukannya mengintip diam-diam malah ribut sendiri.
Yah, namanya juga anak kecil. Aku tidak bisa menyalahkan mereka.
"Kak Risa, gawat!"
Harold memasuki ruangan sambil berseru dan kebingungan saat melihatku. "Kak Fain? Kapan Kakak kembali?"
Itu reaksi yang wajar mengingat aku kemari secara mendadak menggunakan Instant Warp.
"Kita bisa bicara nanti." Aku mengibaskan tangan. "Selain itu, apa maksudmu gawat?"
__ADS_1
Harold segera tersadar dan menyampaikan kegawatan yang dia maksud.
Dia menjelaskan bahwa penguasa baru Rosel datang kemari beserta sejumlah pasukan.
Penguasa baru Rosel?
Aku kembali memandang Risa meminta penjelasan.
"Sebenarnya, beberapa hari lalu penguasa Rosel baru ditunjuk dan di hari yang sama, mereka datang menggunakan sihir ruang dan waktu." Risa memasang wajah kecut.
Sihir ruang dan waktu?
Aku baru tahu kerajaan ini mempunyai penyihir sekuat itu sampai mampu memakai sihir ruang dan waktu mengingat sihir tersebut memerlukan banyak Mana, dan membutuhkan pemahaman rumit mengenai sihir ruang dan waktu.
Yah, Gilard merupakan salah satu kerajaan kuat dan luas.
Kurasa tidak perlu diherankan mengapa terdapat beberapa penyihir sekuat itu di kerajaan ini.
Risa juga menjelaskan bahwa dua hari lalu perwakilan keluarga bangsawan yang ditunjuk menjadi penguasa baru Rosel datang dan meminta penyerahan hak lahan, tetapi dia menolak dengan alasan pemilik panti—yaitu aku—sedang bepergian.
Namun, dia bersikeras dan saat dia hendak melakukan kekerasan, sistem keamanan panti Authority of Author aktif yang menyebabkan dia terlempar keluar dari kota.
"Kalau tak salah namanya Salim Salues," ujar Risa menambahkan.
Salim Salues? Dari keluarga Salues?
Gustav sempat memberitahukanku dulu bahwa keluarga Salues merupakan bangsawan bergelar Duke pangkat I dan keluarga tersebut telah menguasai beberapa kota besar di seluruh Gilard, dan hal ini memungkinkan berkat pencapaian mereka di masa lalu.
Kalau aku tak salah ingat ... keluarga Salues memiliki banyak penyihir berbakat dan sebagian kecil dari bakat-bakat ini mampu menguasai sihir ruang dan waktu ... huh.
Itu menjelaskan mengapa mereka dapat tiba di kota ini dalam sekejap.
Dan karena inilah, keluarga Salues sangat berjasa saat perang menghadapi invasi Kerajaan Sihir Guimagista di sebelah timur sekitar 200 tahun lalu yang hendak merebut wilayah luas Gilard.
Sial, aku melupakan keberadaan keluarga Salues karena wilayah kekuasaan utama mereka, Rudania, terletak jauh di sebelah timur dari Rilet maupun Rosel.
.... Hmm? Keributan di luar? Apa mereka sudah sampai?
"Kak Fain!"
Salah seorang anak panti buru-buru memasuki ruangan dan dia ... berdarah?
Aku segera menghampiri anak tersebut. "Hei, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Itu ... itu!" Dia menunjuk ke arah luar panti. "Penguasa kota! Mereka melepaskan panah ke arah kita!"
Apa ... katamu?