I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
30. Ketua Serikat Cabang Rosel


__ADS_3

Saat ini aku tengah duduk berduaan dengan ketua serikat cabang Rosel tanpa gangguan pegawai serikat yang kini terlelap dalam mimpi.


Aku pasti menikmati situasi ini jika bukan karena dia sejak tadi mempelototiku penuh curiga dan sedikit takut, lalu sempat beberapa kali mengerahkan sihir es untuk menyerangku—meski tak ada yang berhasil.


Maksudku, pria mana yang tak mau berduaan dengan wanita secantik ketua serikat sentinel ini?


Kalau harus jujur wajah serta proporsi tubuhnya memang sangat memikat kaum adam.


Yah, kesampingkan candaanku, wanita ini ternyata secara status lumayan kuat walau masih belum dapat menyamai Rachiel.


---


Rosetta Lulagai / Female


Spirit Master (7) / 28 tahun


Str : 110, Vit : 50, Agi : 80, Dex : 100, Mag : 370, Wis : 320, Luk : 200


---


Skill : Ice Magic (7), Wind Magic (6), Water Magic (5), Enhanced Magic (8), Mana Recovery (8), Magic Up (8), Enhanced Sense (5), Elemental Arts (3), Spirit Magic (8), Spirit Possession (2)


Extra Skill : Spirit Blessing (7)


---


Orang ini bisa dibilang jenius telah mencapai angka 370 pada Mag di usia 28 tahun—atau mungkin beruntung mengingat status Luk-nya sampai 200.


Itu status gila sekali. Bagaimana bisa dia mendapat status Luk setinggi itu?


"Apa yang mau kau bicarakan denganku?" Rosetta menggeram tak melepaskan kewaspadaan.


Aku tersenyum. "Tidak ada hal penting. Aku hanya ingin kau percaya terhadap perkataanku."


"Kamu tipe yang tak akan percaya sebelum kau melihat kekuatanku sendiri, bukan?" Aku segera menambah sebelum dia sempat menyatakan protes.


Rosetta menggertakkan gigi merasa enggan setuju tetapi perkatanku memang tepat sasaran.


"Oh, ya, perihal statusku." Aku kemudian menunjukkan status asliku tanpa bagian skill. "Aku mempunyai skill bernama False Data. Jadi, aku bisa memalsukan statusku ketika seseorang mencoba mengerahkan Appraisal kepadaku."


"Paham?" Aku tersenyum sekali lagi sebelum menutup papan status.


Dia tertegun sejenak dan mengangguk.


Sekarang Rosetta tidak lagi bersikap penuh kecurigaan tetapi masih merasa khawatir, takut apa yang akan aku lakukan kepada dirinya setelah dia bersikap kurang ajar terhadap orang yang lebih kuat—secara status.

__ADS_1


"Yah, bawa santai saja." Aku tertawa berusaha mengurangi rasa tegang. "Aku sedikit paham mengapa ketua serikat menuduhku seperti itu setelah melihat status lemah palsuku."


"Lagipula, aku tak memiliki niat buruk terhadap serikat sentinel ataupun Rosel."


Rosetta sekali lagi mengangguk namun kali ini dia menunduk menatap meja.


Mungkin dia merasa malu telah mengambil kesimpulan terlalu cepat.


Butuh beberapa waktu bagi Rosetta untuk menenangkan diri dan berbicara kembali. "Maaf, tak pernah terlintas di benakku bahwa ada skill yang dapat mengelabui Appraisal seperti False Data."


"Skill penangkal Appraisal pun sejauh yang kutahu hanyalah Appraisal Block. Aku sungguh minta maaf." Dia menundukkan kepala meminta maaf.


"Tidak masalah." Aku mengibaskan tangan. "Semua orang juga akan bersikap demikian saat mengetahui orang selemahku mampu mengalahkan Metal Manticore."


Aku tertawa kecil menikmati pemandangan seorang wanita dewasa menahan malu.


Cukup menghibur bagiku.


"Omong-omong mengenai Metal Manticore ...." Dia membuka suara dan menunjuk jasad sang monster. "Apa yang kamu lakukan terhadap makhluk ini sampai hancur lebur begini?"


"Secara sekilas dia seperti dihancurkan oleh sihir tetapi mengingat kamu tak memakai sihir ...." Kalimatnya terhenti dan kembali memandangku.


"Tadi kamu menggunakan sihir untuk menidurkan pegawaiku, 'kan?" Dia melirik sekilas para pegawai yang tengah terlelap. "Kalau tak salah ... Vampire Magic : Slumber Mist? Kamu vampir?"


"Benar, aku adalah vampir." Aku mengangguk. "Tapi di saat yang sama, rasku juga naga."


"Huh?"


Yah, mustahil dia tak memasang wajah kebingungan seperti itu.


Selain memiliki darah vampir aku juga menyatakan mempunyai darah naga mengalir di pembuluh darahku, tetapi penampilanku sekarang adalah manusia.


Tentu saja dia keheranan.


Aku kemudian menjelaskan hal serupa seperti yang pernah kujelaskan kepada Gustav namun aku sedikit mengubahnya menjadi kemampuan untuk menyerap darah ras lain.


"Jadi, kamu mengatakan bahwa kamu pernah mengalahkan naga dan vampir?" Rosetta melotot hebat.


"Bukan begitu." Aku menggeleng. "Aku hanya kebetulan pernah menemukan jasad naga dan vampir di satu tempat. Mungkin mereka bertarung satu sama lain sampai mati."


Dan begitulah bagaimana cerita karanganku berlanjut.


Aku seorang penulis novel fantasi.


Sudah sewajarnya aku dapat mengarang cerita fiksi secepat kilat.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan kekuatan yang membuat badanku terasa begitu berat?" Rosetta melangkan pertanyaan beruntun. "Itu bukan sihir, 'kan? Kekuatan apa itu? Apa itu kemampuan dari ras vampir? Atau malah naga?"


Jangan bertanya secara berkelanjutan seperti itu!


Aku jadi bingung harus menjawab yang mana dulu!


Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri pertanyaan tersebut dalam dua kalimat. "Itu skillku pribadi. Selebihnya adalah rahasia."


Rosetta sedikit kecewa terhadap jawabanku tetapi tak merasa keberatan.


Kekuatan seseorang pastilah menjadi rahasia tersendiri sehingga tidak mudah untuk dikatakan.


"Yah, bagaimanapun juga tolong persiapkan imbalanku mengenai Metal Manticore." Aku berdiri dari kursi dan melangkah menuju pintu keluar. "Aku akan kembali besok."


Dia segera bangkit dan mencegatku. "Tunggu sebentar, bagaimana dengan pegawaiku? Apa mereka akan tidur selamanya?"


"Ah, bangunkan saja mereka seperti membangunkan orang tidur," kataku sambil tertawa kecil. "Mereka hanya kubuat tidur bukan kuberi kutukan."


Aku kemudian melanjutkan langkah keluar dari gedung serikat sebelum berhenti sejenak. "Oh, ya, kalau misalkan terdapat orang-orang dari keluarga Gozet datang mencariku bilang saja aku berada di panti asuhan di pinggiran kota."


Setelah berkata demikian aku lanjut berjalan menuju panti asuhan meninggalkan Rosetta yang masih terheran-heran.


Hmm? Mengapa aku membeberkan lokasi tempat tinggalku, katamu?


Tentu saja agar serikat tidak terkena imbasnya karena aku mencari gara-gara dengan Rachiel—meski sebenarnya dia yang cari masalah lebih dulu denganku.


Salah satu peraturan serikat petualang dalam memburu monster adalah siapa cepat dia dapat.


Dalam kasus ini aku sudah menemukan dan mengalahkan Metal Manticore lebih dulu dibanding Rachiel tapi dia malah berniat membunuhku sesudah aku menghabisi monster berbadan singa bersayap tersebut.


Kalau dia memang tidak terima dan masih ingin membunuhku maka aku tak akan memberinya kesempatan kedua.


Aku memang berusaha agar tidak merengut nyawa orang lain namun aku tak pernah mengatakan tak akan membunuh.


Jika Rachiel adalah karakter sampah yang tidak bisa diselamatkan maka dia layak mati.


Aku penulis dunia ini dan aku memiliki hak untuk itu meski secara teknis aku bukanlah dewa mahatahu ataupun mahakuasa.


Yah, aku bisa dikatakan mahakuasa berkat kemampuan Authority of Author tapi aku tak searogan itu sampai menyebut diriku sendiri sebagai dewa mahatinggi.


Aku masih sadar diri sebagai manusia fana.


Hmm? Mengapa gerbang panti asuhan terlihat ramai?


.... Tidak, ini bukan sekedar ramai. Itu sekelompok prajurit bersenjata!

__ADS_1


__ADS_2