I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
51. Elias von Ruliand


__ADS_3

Diskusi panjangku dengan Elena telah berakhir dan saat ini kamu asyik mengobrol tentang pengalaman hidup di dunia ini yang telah lama terpendam—terutama diriku.


"Begitu rupanya." Elena terkekeh pelan. "Kehidupanmu pasti cukup sengsara menjadi anak haram bangsawan di kerajaan ini."


"Diam kau, dasar tak tahu berterima kasih telah diberikan kesempatan hidup kedua." Aku mendengus.


Dia mengangkat alis. "Berterima kasih? Kalau kau ingin aku berterima kasih maka lahirkan aku Kerajaan Haltasina agar aku bisa puas memandangi karakter utama tampanmu itu."


"Boleh saja." Aku mengangkat tangan mengarah Elena. "Namun, dirimu yang sekarang harus mati terlebih dahulu."


"Aku hanya bercanda! Tidak usah menanggapinya serius!" Elena berseru menolak tawaranku.


Dia memasang ekspresi cemberut. "Aku sudah cukup puas dengan kehidupanku sebagai direktur utama Perusahaan Daedalus."


"Kau tahu, merajuk dengan wajah imut begitu tak akan membuatku memberikan sesuatu lagi kepadamu." Aku mendengus pelan.


"Ehehe, aku imut?" Muka Elena berubah menjadi berseri-seri. "Terima kasih atas pujianmu, tuan penulis, tapi kamu tak akan mendapatkan hati dan perusahaanku hanya dengan memujiku imut."


Dia menjulurkan lidah. "Aku memang imut dan kaya raya sampai puluhan hingga ratusan orang mengajukan lamaran pernikahan padaku, mau itu kaum bangsawan ataupun pedagang sukses."


"Heh, enak, ya, jadi cewek imut." Aku mencubit pipi Elena.


Elena segera memberontak. "Hei, aku tak pernah ingat memberimu izin menyentuh tubuhku!"


"Jangan mengatakan sesuatu yang membuat orang lain salah paham!" Aku menarik kedua pipinya cukup keras. "Lagipula, aku hanya memegang pipimu! Apa yang salah dari itu?!"


"Setiap bagian tubuh perempuan adalah aset berharga!" Dia berhasil melepaskan diri dan melangkah menjauh. "Kamu akan mengerti kalau kamu menjadi seorang pedagang!"


Aku paham jika badan perempuan itu aset berharga tapi jangan samakan tubuhmu dengan barang daganganmu!


Kau terdengar seperti gadis murahan sekarang!


"Permisi, nona Elena." Suara ketukan terdengar bersama panggilan dari balik pintu tersebut. "Tuan muda Elias datang mengunjungimu."


Tuan muda Elias?


Didengar dari panggilannya ada kemungkinan tuan muda Elias ini adalah anak bangsawan penguasa Matildam atau salah satu putra seorang saudagar kaya yang hendak meminang Elena.


Yah, bagaimanapun juga tidak ada hubungannya denganku.


Elena melirikku dan aku memahami kode tersebut.


Aku segera mengubah bentuk tubuhku menjadi sebuah pena bulu pada meja kerja Elena menggunakan Form Shifter untuk menyamar.


"Begini saja tidak apa-apa, 'kan?" Aku bertanya singkat.


Elena mengangkatku dan memandang kagum wujud pena buluku. "Kau bisa melakukan ini juga, huh? Sangat mengesankan."


Sesudah berkata demikian dia meletakkanku kembali ke atas meja dan berdeham sejenak sebelum mempersilahkan sang tuan muda Elias masuk.


Pemuda bernama Elias melangkah memasuki ruangan.

__ADS_1


Dia terlihat tampan dan perawakan tubuhnya cukup terlatih, lalu cara berjalan serta etiketnya ....


Hmm, tidak bisa dipungkiri lagi Elias ini merupakan keturunan bangsawan dan tebakanku dia merupakan anak penguasa kota Matildam.


"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, nona Elena." Elias memberikan hormat ala bangsawan. "Namaku Elias von Ruliand, putra tertua Kareas von Ruliand sang penguasa Matildam."


Bangsawan penguasa Matildam adalah Ruliand, eh?


Mari catat dalam pikiranku.


Siapa tahu mereka bisa menjadi target bangsawan korupku di kota ini.


"Tuan muda Elias terlalu sopan." Elena menyambut salam Elias dengan senyum lembut.


Gadis ini nampaknya memasuki mode kerja.


Aku tidak bisa melihat bekas ekspresi saat kami berbincang.


Dia kemungkinan menggunakan skill Poker Face untuk mengatur ekspresi wajahnya.


Poker Face (7) ; dapat membuat ekspresi wajah pengguna berubah menjadi apapun yang diinginkan hingga tahap tertentu.


Baik, sekalian aku berada di sini mungkin ada baiknya aku mengorek informasi tertentu mengenai keluarga Ruliand.


Elena mempersilahkan Elias duduk. "Jadi, tuan muda Elias, ada perlu apa dirimu denganku sampai menemuiku kemari?"


"Aku akan singkat saja, nona Elena." Elias mengangguk. "Aku ingin kamu menanggapi lamaranku yang telah kukirim jauh-jauh hari."


Tapi, Eyes of Hidden Truth tak mendeteksi kebohongan dan aku belum merasakan ada niat jahat dalam perkataan Elias.


Mari kita lihat lebih lanjut saja.


"Ah, benar, mengenai lamaran tuan muda Elias .... Sekitar empat bulan lalu, bukan?" Elena tetap tersenyum manis.


Elias menggelengkan kepala masih memasang senyum tampan terbaiknya. "Ya ampun, nona Elena, bagaimana bisa kamu melupakan surat lamaranku?"


"Aku telah mengirim surat tersebut setahun lalu namun dikau masih belum membalas perasaanku," kata Elias merangkai kalimat serta nada indah berusaha meyakinkan.


Yep, itu jelas bohong.


Eyes of Hidden Truth berkata dia baru mengajukan surat lamaran kepada Elena sekitar empat bulan lalu sesuai jawaban Elena.


Elena terkekeh pelan. "Ya ampun, bagaimana aku bisa melupakan hal sebesar itu. Maafkan aku, tuan muda Elias."


"Permintaan maaf diterima, nona Elena." Elias mengibaskan rambut pirang sepundaknya memamerkan ketampanan.


Aku sadar wajahku mencukupi standar ketampanan lelaki di dunia ini maupun bumi tapi entah mengapa aku merasa kesal dan ingin memberikan satu bogeman setengah kekuatanku terhadap orang tampan satu ini.


Apa karena dia terlihat begitu narsis dan percaya diri?


Mungkin saja begitu.

__ADS_1


Oh, omong-omong perkataan Elena barusan jauh dari benar.


Dia sama sekali tak mempedulikan lamaran Elias sejak awal.


"Kalau begitu mari kita bicara soal bisnis, tuan muda Elias." Elena mengatupkan dua tangan sebagai sandaran dagu. "Bagaimanapun juga aku adalah seorang pembisnis. Mohon maaf jika terdapat perkataanku yang menyinggung tuan muda."


"Tentu saja, nona Elena." Elias mengangguk tanpa melepas senyum tampan nan narsisnya.


Bagaimana ini? Aku ingin sekali kembali ke wujud manusia dan memberikan satu tamparan keras agar dia menghentikan sikap narsis itu.


"Aku akan langsung pada intinya, tuan muda Elias." Elena mengangguk. "Apa keuntungan yang bisa kudapat dari menerima lamaran tuan muda dan bergabung ke dalam keluarga Ruliand?"


"Aih, nona Elena, dikau terlalu frontal." Elias mengedipkan bulu mata lentiknya kepada Elena.


Cukup, aku akan menghajar mukanya satu kali.


Saat aku hendak membuka diri, Elena memegang badan penaku dan mengelusnya perlahan.


.... Kalau aku bukan sedang menjadi pena mungkin aku sudah merinding merasa ngeri tiba-tiba dia menyentuhku seperti ini.


"Maafkan aku, tuan muda." Senyum Elena belum memudar. "Bisakah dirimu menjelaskan kepadaku?"


Elias terlihat enggan membicarakan hal tersebut namun berakhir mengalah.


Keluarga Ruliand merupakan keluarga bangsawan berpangkat Count III dan tengah menjalankan bisnis turun-temurun di bidang pangan semenjak dua generasi lalu.


Ruliand memiliki pabrik pengolah gula khusus yang sangat manis dan terbuat dari kristal gula berkualitas tinggi, lalu Elias menambahkan dia bisa berbagi koneksi antar bangsawan menggunakan gelar Count III keluarga Ruliand.


Terbuat dari kristal gula? Jangan bercanda.


Eyes of Hidden Truth-ku bisa melihat kebenaran di balik senyum bodohmu itu, Elias.


Jangan harap kau bisa kabur dari kehancuran yang akan kubawa nanti.


"Begitu." Elena mengangguk. "Memang benar gula dari wilayah Matildam sangatlah diminati oleh banyak bangsawan Gilard, bahkan negeri sebelah tergiur terhadap rahasia di balik pemrosesan gula khusus milik keluarga Ruliand dan terus meminta hak impor gula dari wilayah ini terhadap pasar Gilard."


"Tapi, kalau tak salah permintaan mengenai produksi gula keluarga Ruliand hanya baru-baru saja ini meledak, bukan?"


"Selain faktor pemasaran dan pengiklanan melalui koneksi antar bangsawan, mungkinkah terdapat hal lain yang mempengaruhi?" Elena terus menekan tanpa ampun.


Elias tertawa dan mengangguk. "Tentu saja. Kualitas gula meroket drastis berkat metode terbaru pemrosesan gula kami."


"Dan sayangnya, meskipun aku ingin memberitahukan resepnya kepada nona Elena, rahasia keluarga bangsawan tidak mudah diucapkan." Elias mengedipkan sebelah mata. "Apalagi bangsawan berdarah setengah pedagang seperti kami."


Kini giliran Elena mengangguk sekali. "Sebagai seorang pedagang dan pembisnis aku memahami bagian itu."


"Baik, aku akan mempertimbangkan lamaranmu, tuan muda Elias." Elena memasang senyum manis sesudah berkata demikian.


Elias tertawa puas dan bangkit dari sofa. "Terima kasih atas waktu serta diskusi bermanfaat ini, nona Elena."


"Aku harap kita bisa mendapatkan hubungan dan keuntungan yang mutual." Elias melangkah menuju pintu. "Daku akan menunggu jawaban positif darimu, nona Elena."

__ADS_1


Dia memberi hormat ala bangsawan sekali lagi sebelum pamit undur diri.


__ADS_2