I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
70. Harta Paling Berharga


__ADS_3

Setelah mengerahkan Nosokinesis melenyapkan virus cacar dan Vitakinesis untuk memulihkan tubuh rentannya, kondisi Lilia dalam sekejap membaik seakan tak pernah ada yang terjadi.


Lilia tak mempercayai apa yang telah kulakukan, namun aku menyarankan agar tidak terlalu banyak bergerak dan beristirahat terlebih dahulu.


Memang benar Vitakinesis juga dapat mengembalikan stamina tetapi, keadaan serta kelelahan mental Lilia masih belum stabil, dan dia masih harus beristirahat untuk berjaga-jaga terdapat bagian di mana Vitakinesis ataupun Nosokinesis tak mempan.


Aku akan menyerahkan perawatan mental Lilia kepada Gustav dan lainnya.


Sesudah kondisi Lilia membaik aku keluar dari ruangan dan berkonsultasi dengan Gustav mengenai istri keduanya tersebut, lalu sebagai pencegahan aku juga mengerahkan Nosokinesis kepada semua penghuni kediaman Ardenheim agar tak terjangkit penyakit sama.


Pada malam hari aku baru bisa bebas merenovasi gudang bobrok tempat tinggalku menggunakan Repair serta Material Shaper.


Tidak lupa juga aku memperbaharui perabotan usang dengan berbagai perabotan baru yang kubeli dari superphone—mengingat aku masih mempunyai koin emas dan puluhan koin perak, aku tak segan mengeluarkannya demi kenyamanan peradaban modern.


"Ah, tak ada yang lebih nyaman dari kasur empuk." Aku berbaring di atas kasur baru.


Gisele yang duduk di kursi tak jauh dari kasur tersenyum kecut. "Aku tahu kamu menjadi seorang sentinel peringkat tinggi, tapi dari mana kamu mendapatkan semua barang-barang ini?"


"Aku tidak pernah melihat barang-barang berkualitas seperti ini." Gisele bergumam sembari mengusap meja halus serta menepuk bantalan kursi yang dia duduki.


Aku terkekeh pelan melihat reaksi Gisele.


Tentu saja, barang-barang dari bumi semuanya berkualitas tinggi jika dibandingkan hasil kerajinan peradaban terbelakang seperti dunia ini.


Memang tidak mustahil namun cukup sulit untuk menemukan perabotan berkualitas seperti ini, dan aku berani bertaruh harganya mungkin hampir menyamai sebuah rumah kecil paling sederhana.


"Gisele." Aku memanggil gadis pelayan tersebut sambil menepuk bantalan kasur disertai senyum genit. "Di sebelah sini masih kosong."


Wajah Gisele segera memerah tetapi tak menolak.


Dia mendekat kemudian berbaring di sebelahku, dan mengingat waktu sudah malam ... aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut apa yang kami lakukan, bukan?


Aku menghabiskan waktu malamku berdua dengan Gisele setelah lama tak berjumpa.


Gisele berusaha tetap tersenyum meski kehabisan nafas tanpa busana di balik selimut. "Fain ... kamu jadi semakin kuat, ya. Dalam berbagai arti."


"Kali ini aku berhasil memuaskanmu, 'kan?" Aku tertawa kecil menanggapi.


"Memang benar sih." Gisele masih mengatur pernafasan. "Tapi, kalau begini caranya aku yang tidak bisa memuaskanmu."


Status Vit-ku bertambah secara signifikan seusai menjadi naga serta titan, dan itu mempengaruhi daya tahan juga staminaku—dalam hal tertentu juga berlaku—sehingga aku yakin mampu bertahan setidaknya selama empat jam tanpa khawatir kehabisan nafas.

__ADS_1


Malam sebelum aku pergi dari kediaman Ardenheim aku tak mampu memenuhi hasrat Gisele, tetapi sekarang ... melihat keadaan Gisele sekarang nampaknya itu tidak perlu kujawab.


Selagi Gisele beristirahat pada bantal lenganku, aku menceritakan seluruh peristiwa yang kualami mulai dari keberangkatan sampai berakhir di kota Matildam—tak terkecuali kejadian mengenai Rosetta dan Risa di Rosel.


Aku juga menjelaskan bahwa aku juga mempunyai skill yang dapat berpindah tempat dalam sekejap selama tempat tersebut pernah kukunjungi agar dia paham mengapa aku bisa kembali kemari secara mendadak.


"Hmm, jadi kamu bertemu beberapa gadis cantik di perjalananmu, huh." Gisele menggerutu.


Aku tertawa kecut menanggapi. "Yah, aku tak bisa menyangkal itu."


Gisele menggeram dan tiba-tiba menggigit leherku.


"Aduh, apa yang kamu lakukan?" Aku mengusap bagian leher yang digigit Gisele.


"Tidak ada." Dia tersenyum manis. "Aku hanya menandai apa yang menjadi milikku saja."


.... Sial, selama perjalanan aku kekurangan dosis senyum Gisele sehingga hal sesederhana ini membuatku lengah.


Wajahku terasa panas sekarang.


Gisele terkekeh pelan melihat reaksiku dan mengubah sandaran kepalanya menuju dadaku. "Sejujurnya, aku sedikit cemburu mendengar gadis bernama Rosetta dan Risa yang kamu sebutkan barusan."


Tentu saja, tidak ada wanita yang secara sukarela lelakinya direbut dan itu juga berlaku untukku serta para laki-laki lain di dunia manapun.


Jelas dia merasa keberatan—tunggu, apa?


Aku mengangkat punggung merubah posisi menjadi duduk menatap Gisele heran. "Maaf, sepertinya aku salah dengar. Bisa kamu ulangi?"


"Aku berkata tidak keberatan." Gisele bangun menyisir rambutku menggunakan jemarinya. "Fain memiliki wajah tampan, hati baik nan lembut, dan juga sangat kuat."


"Wanita mana yang tak menginginkan lelaki seperti Fain?"


Ehm .... Aku sama sekali tidak menduga jawaban seperti ini.


Aku sudah bersiap menerima tamparan dan melukai hati Risa nantinya, tapi ini ....


Gisele tertawa. "Apa? Kamu pikir aku akan menamparmu sambil berseru 'dasar tukang selingkuh!' dengan keras?"


Uhh, dia membaca pikiranku dengan sempurna.


"Fain akan menjadi orang besar suatu saat nanti." Gisele bersandar pada bahuku. "Memiliki tiga istri atau lebih merupakan hal wajar demi mengamankan garis keturunan."

__ADS_1


Tidak, aku tak berbicara soal keturunan.


Aku membicarakan tentang perasaanmu.


".... Apa Gisele sungguh tidak masalah aku mengambil Rosetta dan Risa sebagai pasanganku?" Aku dengan gugup bertanya.


Gisele menggeleng pelan. "Bohong jika aku sama sekali tak keberatan tapi apa yang bisa kulakukan?"


"Kamu akan terus berkelana, bertemu dan mungkin menyelamatkan banyak orang dalam perjalananmu lalu pasti ada satu atau dua gadis yang terpikat padamu." Senyum Gisele tidak luntur. "Namun, aku tak bisa menghentikan semua itu, 'kan?"


"Selama aku bisa terus berada di sisi Fain dan mendukungmu, maka aku tidak keberatan meski harus berbagi cintamu dengan gadis lain."


"Tetapi, akan lebih baik jika kamu tetap mencintaiku sepenuh hati." Gisele tertunduk merasa sedikit sedih.


.... Aku ingin menangis.


Gisele terlalu baik dan pengertian untuk lelaki bajingan sepertiku.


Apa aku pantas mempersunting wanita sesempurna Gisele sebagai istri?


Aku mengangkat suara sekali lagi merasa ragu. "Gisele, apa kamu sungguh tidak apa-apa bersamaku? Maksudku, aku seorang lelaki berantakan yang suka berbuat seenaknya tanpa berpikir dua kali, dan kamu bisa terseret ke dalam masalah yang kubuat."


"Bahkan kamu bisa terbunuh paling parahnya," kataku makin merasa enggan melibatkan Gisele.


"Bodoh." Gisele mencubit hidungku pelan sambil tersenyum lebar. "Aku tak akan mau bersama lelaki lain selain dirimu."


"Lagipula, sejak dulu sekali aku sudah mendapat restu dari ibumu," tambah Gisele sebelum mengecup ringan pipiku.


Dia memasang senyum manis seperti biasa. "Dan juga, aku sudah terlanjur mencintaimu sejak lama."


"Jadi, jangan berkata seakan kamu tidak pantas untukku, oke?"


Mendengar itu aku merangkul Gisele dan memeluknya erat yang dibalas olehnya.


Pada pelukan tersebut aku berjanji dalam hati akan melindungi Gisele dari segala marabahaya apapun bentuk, resiko ataupun bayarannya.


Gisele adalah orang nomor satuku.


Dia adalah harta paling berharga bagiku.


Apapun akan kulakukan demi Gisele.

__ADS_1


Itulah sumpahku seumur hidup.


__ADS_2