I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
6. Negosiasi


__ADS_3

"Apakah ini tentang pengusiranku dari kediaman ini setelah berusia 15 tahun?"


Sorot mata Gustav seketika berubah menjadi lebih serius. "Oh, jadi kamu masih sadar diri, ya?"


"Tentu saja, Ayahanda." Aku mengangguk menjawab. "Bagaimanapun juga aku hanyalah anak hasil dari seorang pelayan. Aku sadar tempatku bukanlah di sini."


"Hmm, di luar dugaan kamu cukup patuh dan sadar akan posisimu. Jika dulu mungkin kamu akan protes atau sejenisnya." Gustav mengelus janggut panjang sembari berkata demikian.


Jujur saja, aku memang ingin protes namun mengingat sistem kebangsawanan memang seperti ini, aku harus berkata apa? Salah sedikit mungkin aku bisa dipenggal.


Dari yang kulihat latar dunia ini memang seperti kebanyakan cerita fantasi klise, yaitu abad pertengahan, di mana kemonarkian masih merajalela serta nilai sebuah nyawa tidak begitu dipermasalahkan.


Yah, aku belum pernah melihat sihir tapi melihat adanya panel sistem seperti game, aku yakin pasti ada kekuatan ajaib seperti sihir yang tidak ada di bumi.


Maksudku, aku baru beberapa hari bangun di dunia ini dan belum tahu apapun selain identitas, kondisi keluarga serta lingkungan di sekitar keluarga Ardenheim ini.


"Bagus, kalau begitu aku tidak perlu repot-repot menjelaskan mengapa kau harus pergi dari rumah ini." Gustav menganggk puas sebelum kembali meminum anggur merahnya.


Dia kembali berkata sesudah meletakkan gelas. "Sesuai tradisi bangsawan, setiap anak yang lahir dari hubungan antara tuan dan pelayan harus pergi dari kediaman orantuanya begitu mencapai usia dewasa dan kami tidak akan menghidupimu lagi. Kamu mengerti?"


"Aku mengerti, Ayahanda." Aku mengangguk memahami maksud perkataan Gustav. "Tapi, sebelum itu apakah aku boleh mengajukan permintaan kecil?"


"Hmm? Permintaan?" Gustav mengangkat alisnya menanggapi balasanku.


Aku menarik nafas sesaat dan kembali mengangkat suara. "Mengingat aku tidak tahu apa-apa tentang dunia luar, bisakah aku membaca buku di perpustakaan? Untuk sekedar bekal sebelum pergi."


Gustav sekali lagi mengusap janggutnya sembari memainkan jari di gelas anggur kemudian melirik ke arah wanita yang duduk di seberang Seratina dan Leonard.


"Bagaimana menurutmu, Lilia?" Dia bertanya kepada sang wanita bergaun putih.


"Mengapa tidak?" Wanita tersebut—Lilia, setahuku adalah istri kedua Gustav—menjawab. "Lagipula, dia tak bisa membaca ataupun menulis, bukan? Kurasa tidak ada ruginya membiarkan dia bermain di perpustakaan sebelum pergi dari sini."


Wuah, biarpun sekilas terlihat wanita berbudi baik ternyata isinya tidak bisa dibilang serupa. Meski pemilihan katanya terdengar halus namun maksud kalimat tersebut terdengar cukup keras.


Menilai orang dari luarnya saja memang haram, ya.


Gustav mengangguk sekali dan mengalihkan pandangan menuju istri pertamanya. "Bagaimana denganmu, Seratina? Kamu tak keberatan?"

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku tidak begitu peduli terhadap apa yang anak ini lakukan selama tak membawa kerugian bagi keluarga kita." Seratina berkata sesudah mengusap bibirnya menggunakan kain makan.


Ibunda pertama, bukankah kata-katamu sedikit terlalu kejam?


Yah, mau bagaimana lagi, aku hanyalah anak haram. Sejak awal aku memang tidak pantas berada di sini.


"Oh, iya, apakah aku bisa meminta satu hal lagi?"


Dahi Gustav serta kedua istrinya—tidak, bukan hanya mereka tetapi juga Leonard dan sang gadis yang bersama Lilia—mengerutkan dahi mereka mendengar perkataanku.


"Fain, aku memang tidak termasuk bangsawan yang gila harta atau sejenisnya tapi ...." Gustav melotot kepadaku. "Kamu sadar apa yang kau katakan, 'kan?"


"Aku sepenuhnya sadar, Ayahanda." Aku mengangguk. "Namun pada permintaan ini aku tidak berharap akan dikabulkan begitu saja. Tentu aku akan memberi sesuatu yang setimpal suatu saat."


"Oh?" Gustav mengangkat alis merasa tertarik sebelum kembali meminum anggurnya. "Aku mendengarkan."


Aku kemudian mengatakan permintaanku dan balasan yang menurutku cukup setimpal kepada Gustav serta semua yang hadir di tempat ini.


Gustav terdiam mendengar permintaanku, sementara kedua istrinya merasa cukup terganggu. Aku bisa melihat kerutan pada dahi Lilia dan Seratina, meski lebih banyak di dahi Seratina mengingat dia sudah memasuki masa tua.


"Jadi, kau ingin membawa Gisele bersamamu sebagai pelayan dan sebagai gantinya kau akan memberi 30 koin emas di masa depan? Apakah itu benar maksudmu?"


Aku lalu menatap mata Gustav selembut mungkin namun mengandung ketegasan kukuh. "Seharusnya 30 koin emas sudah lebih dari cukup sebagai harga jual Gisele dan pengeluaran untukku selama ini."


Gustav terlihat sedang berpikir memproses permintaanku.


Hmm, jika dia bangsawan serakah dan gila harta klise seperti yang kudengar dari para pelayan, dia mungkin akan langsung setuju atau setidaknya menaikkan jumlah koinnya namun dia nampaknya benar-benar memikirkan hal tersebut.


"Kamu berkata ingin menyerahkan 30 koin emas sebagai ganti menyerahkan Gisele dan biaya kehidupanmu selama ini di masa depan, tapi tepatnya kapan? Setahun? Dua tahun?" Gustav mendadak melontarkan pertanyaan beruntun.


Pria ini ternyata dia bukanlah orang yang seperti dikatakan para pelayan. Gustav von Ardenheim memang pantas menyandang gelar Viscount II, dilihat sejauh ini tentu saja.


Sejujurnya, aku tidak tahu nilai mata uang di dunia ini dan 30 koin emas tersebut hanyalah gertakan dari pengetahuan dunia fantasiku sebagai penulis novel segenre, tapi orang ini ... dia sungguh balik bertanya.


Bisa gawat kalau aku memperlihatkan kebodohan serta gertakanku sekarang. Aku bisa dikira mempermainkan seorang Viscount II dan mungkin akan dihukum mati!


Aku berdeham sejenak. "Ehem, mengingat aku juga tak yakin terhadap kemampuanku menghasilkan uang, mungkin sepuluh tahun?"

__ADS_1


"Terlalu lama." Gustav seketika membalas dengan mata memicing tajam kepadaku. "Tiga tahun."


Ugh, dijawab secepat kilat .... Dia ini bangsawan atau pedagang?!


"Tujuh tahun. Ditambah, setiap tahunnya aku akan menambahkan satu koin emas sampai pembayaran lunas."


".... Lima tahun maksimal." Gustav menyipitkan mata sembari berkata demikian. "Jika kau masih menawar maka lupakan saja."


Wuah, ini dia jurus andalan bangsawan. Kata 'maka lupakan saja' itu terlalu curang, kau tahu?


Meskipun aku mempunyai darah bangsawan dari Gustav aku tetaplah rakyat biasa mengingat ibuku hanyalah seorang pelayan, jadi aku berada di posisi yang tak bisa menentangnya.


Apalagi posisiku adalah anak haramnya .... Ini membuat semua menjadi buruk.


Aku mengangguk. "Baiklah, aku akan membayarnya dalam lima tahun dan selama pembayaran tersebut belum lunas, maka aku akan menambahkan satu koin emas setiap tahunnya."


"Kalau begitu sepakat." Gustav mendengus pelan merasa tidak puas—tapi mengapa aku malah mendengar seperti helaan nafas lega? "Tapi, aku akan memberikan Gisele setelah kau membayar 10 koin emas dan permintaan ini hanya akan berjalan jika dia menyetujuinya. Mengerti?"


"Tentu saja. Aku mengerti, ayahanda." Aku kembali mengangguk namun kali ini sambil membuang nafas perlahan melepas semua ketegangan.


Uwooh, semua berjalan lancar! Aku tidak percaya ini!


Seorang mantan penulis novel berhasil bernegoisasi dengan bangsawan? Itu hanya bisa terjadi dalam kisah-kisah fantasi!


Hmm? Mungkinkah dunia ini bukanlah game melainkan cerita fantasi?


Yah, keduanya sama-sama membutuhkan kisah untuk menggerakkan plot, jadi kurasa tidak perlu dibedakan sedemikian rupa.


"Kalau begitu kau punya waktu dua minggu untuk menggunakan perpustakaan." Gustav berkata sebelum bangkit berdiri, diikuti oleh Lilia dan Seratina serta kedua anak mereka. "Sebagai hadiah ulang tahun kelima belasmu, mulai besok kau dibebastugaskan dari segala macam pekerjaan pelayan."


... Huh?


Aku spontan berdiri mengikuti mereka disertai rasa terkejut. ".... Tunggu sebentar, Ayahanda. Dua minggu? Maksud Ayahanda ulang tahunku dua minggu lagi?"


"Apa? Kamu lupa dengan ulang tahunmu sendiri?" Gustav mengangkat alis dan melihatku dengan tatapan heran. "Aku saja ingat, mengapa kamu sendiri bisa lupa?"


Aku hanya tersenyum kecut sambil menggaruk kepala menjawab pertanyaan kecil tersebut.

__ADS_1


Karena aku lupa ingatan dan berasal dari dunia lain—mana mungkin aku bilang begitu, 'kan?


__ADS_2