I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
17. Penyangkalan


__ADS_3

Keesokan paginya aku mengunjungi serikat sentinel untuk mengambil bayaran atas kerja kerasku kemarin membasmi belasan desa Orc, Ogre, serta Troll.


Dari pandanganku memang tidak bisa disebut kerja keras mengingat yang kulakukan hanya memanipulasi elemen menggunakan Kinesis dan ... yah, hasilnya pembantaian satu sisi.


Kekuatan Kinesis sendiri tidak terlalu kuat namun sangat mudah digunakan dan tidak menguras tenaga sehingga amat cocok untuk melawan sekawanan besar monster kroco seperti Goblin, Orc, Ogre, dan Troll dalam jangka waktu panjang.


Jika itu melawan musuh tangguh seperti naga maka Kinesis sekalipun mungkin tak akan bekerja dengan baik terlepas dari kepraktisan dan keefektivan tenaganya selain sebagai pendukung.


Aku benar-benar perlu mempelajari dan melatih sihir mulai sekarang.


"Oh, Fain. Selamat pagi." Resepsionis serikat menyapa dengan mata panda dan wajah letih. "Kamu punya sesuatu untuk dikatakan kepada para pegawai serikat?"


Aku segera mengalihkan pandangan dari senyum menyeramkan sang resepsionis namun ketika aku melihat ke arah lain, yang kudapatkan hanyalah tatapan lelah dan protes tanpa suara dari seluruh pegawai serikat.


Bagaimana ini? Aku benar-benar diperlakukan seperti pembuat masalah oleh pegawai serikat—meski tidak salah sih.


Maksudku, dilihat dari kantung mata mereka sudah jelas bahwa mereka kerja lembur semalaman demi memeriksa seluruh kristal sihir Orc, Ogre, serta Troll yang kukalahkan kemarin.


Itu jelas-jelas salahku.


Hmm? Tunggu sebentar, itu bukan sepenuhnya salahku.


Aku berdeham sejenak sebelum mengangkat suara. "Aku hanya memenuhi permintaan ketua serikat. Kalau kalian ingin protes maka proteslah terhadapnya."


Setelah aku menyinggung Calvin mereka semua gantian mengalihkan pandangan dariku.


Huh, siapa suruh main asal tuduh? Aku hanya mengerjakan tugasku sebagai sentinel.


Si resepsionis menghela nafas panjang dan menyerahkan bayaranku sebesar .... Hmm? Koin peraknya sedikit lebih banyak?


Dan juga, mana koin perunggunya?


"Hei, menurut perhitunganku seharusnya bayaranku hanya sebesar 70 koin perak dan 8 koin perunggu." Aku mengambil koin-koin tersebut secukupnya. "Ada kelebihan sekitar 20 koin perak di sini."


"Ah, soal itu ...."


Resepsionis menjelaskan dengan senyuman kecut bahwa 20 koin perak tersebut adalah imbalanku atas menyelesaikan permintaan Calvin.


Dia juga menambahkan. "Lagipula, membasmi 240 Orc, 178 Ogre, dan 82 Troll seorang diri bayaran sebesar 20 koin perak itu jauh dari cukup, terutama menghancurkan belasan desa ketiga monster tersebut hanya dalam sehari ...."


"Aku tidak tahu lagi, Fain." Dia mendesah. "Logikaku sebagai pegawai serikat sentinel seakan runtuh perlahan jika berhubungan denganmu."


Yah, maaf soal itu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa jika itu masalahnya.

__ADS_1


Tapi, kalau diperhatikan lagi dia ada benarnya juga.


Meskipun aku meminta bayaran atas kristal sihir monster yang kukalahkan, aku tak menghitung biaya jasaku dalam menghabisi desa-desa tersebut.


Jika logika standar dunia ini masih sama seperti novelku maka serangan terhadap desa Orc membutuhkan setidaknya 20 sentinel peringkat hijau atau lebih, sementara desa Ogre butuh tidak kurang dari 50 sentinel hijau, lalu untuk desa Troll memerlukan kurang lebih 30 sentinel kuning.


Kalau dipikir lagi ... bukankah kekuatanku terlalu di luar nalar normal?


Apalagi aku membasmi belasan desa tersebut seorang diri hanya dalam sehari.


Kinesis ini kelewat mengerikan. Aku tidak boleh menggunakannya secara asal-asalan.


Hmm? Kenapa suasana serikat mendadak menjadi hening?


Biasanya ada suara para sentinel berdiskusi mengenai permintaan yang mereka ambil atau setidaknya mengobrol. Mengapa mereka semua tiba-tiba terdiam?


"Ria .... Maksudmu, anak ini .... Dia membasmi ratusan Orc dan Ogre, serta puluhan Troll sekaligus desa mereka seorang diri dalam satu hari ...?" tanya seorang sentinel.


Oh, nama resepsionis ini Ria? Aku baru tahu.


Ria mengangguk dengan senyum kecut. "Yah, kurang lebih."


Dan begitulah bagaimana seluruh sentinel di serikat menjerit keras bersamaan sampai hampir membuat telingaku tuli!


"Mustahil! Hal itu tidak mungkin terjadi!"


Salah seorang sentinel menggebrak meja bersama seruan lantang yang berhasil membungkam semua kegaduhan di serikat.


Dia berbadan besar dan botak—agak mirip Calvin namun struktur badan serta bentuk wajahnya sangat jauh.


Dia kemudian menunjuk ke arahku dengan ekspresi marah. "Kau hanya seseorang berkelas Servant! Jangankan desa Orc, aku yakin kamu melawan seekor Orc pun tak mampu!"


"Kau antara menipu atau menggunakan suatu trik!" Dia menggeram melepaskan amarah. "Benar! Kemarin kau bersama ketua serikat menuju lantai dua! Kau pasti menyuap ketua serikat pada saat itu!"


Hmm, dilihat secara sekilas spekulasinya tidak salah.


Calvin tiba-tiba datang dan mengajakku ke ruangannya, lalu tak ada yang tahu kami melakukan apa dan setelah pencapaian atas ratusan monster serta belasan desa yang kuhabisi hari ini terkuak, mereka dengan cepat mencapai kesimpulan tersebut.


"Kalau kamu tak menyuap ketua serikat maka tidak mungkin kamu mampu melakukan mustahil seperti mengalahkan ratusan monster sekuat Orc ataupun Ogre seorang diri, apalagi Troll!"


Memang benar Troll sedikit merepotkan mengingat mereka adalah monster unik yang mempunyai kekuatan regenerasi mengerikan.


Aku bahkan perlu menggunakan Pyrokinesis dari Kinesis untuk membakar mereka semua agar tak mampu beregenerasi lagi.

__ADS_1


Mereka bukanlah monster yang bisa ditangani oleh sentinel peringkat biru berkelas Servant.


Aku menghela napas sambil berkacak pinggang menatap sentinel botak tersebut. "Lalu, apa hubungannya pencapaianku denganmu? Aku tak pernah ingat meminta pendapatmu."


Sentinel botak semakin geram mendengar tanggapanku, bahkan beberapa sentinel lain nampaknya juga ikut terprovokasi dan mulai membuat keributan dengan ejekan serta cacian.


"Sudah? Begitu saja?" Aku tersenyum mencemooh balik mereka. "Kalau kalian hanya bisa berceloteh maka burung pun mampu. Nyanyian mereka bahkan lebih merdu dari suara kalian."


Kata-kataku berhasil membuat para sentinel yang tadinya hanya berceloteh menghinaku di kursi sekarang bangkit dan mendatangiku seolah ingin membuatku babak belur.


Aku mendongakkan dagu sedikit memandang mereka. "Kalian mau menghajarku karena aku membalas hinaan kalian yang tidak jelas asal-usulnya? Kalau begitu bagaimana denganku yang kalian hina?"


"Berarti aku boleh menghabisi kalian, bukan?" kataku memasang senyum dingin.


Meski aku berkata menghabisi bukan berarti aku ingin membunuh mereka.


Tentu saja, sebagai manusia—atau setidaknya secara jiwa—yang masih memiliki moral, sebisa mungkin aku menghindari pembunuhan sia-sia.


Aku hanya ingin melepaskan unek-unekku terhadap para idiot tak tahu diri ini dan menanamkan sedikit pemahaman di otak mereka bahwa peringkat dan kelas bukanlah tolak ukur kuat atau tidaknya seseorang—setidaknya bukan untukku.


"Fain, kalau mau membuat keributan jangan di sini!" Ria memperingatiku dari konter resepsionis. "Kalau ada properti serikat rusak karena keributan yang kamu sebabkan maka bayaranmu akan dikurangi sebagai ganti rugi!"


Oh, jadi itu sebabnya aku tidak diminta ganti rugi oleh serikat kemarin lusa walau telah menghancurkan beberapa perabotan saat melempar sentinel yang menantangku, ya?


Aku mengangguk dan menyerahkan kartu sentinelku kepada Ria. "Tenang saja, aku tak akan membuat keributan di sini. Lalu, tolong diurus kartuku selagi aku meladeni mereka."


Ria belum sempat berkata apa-apa ketika aku meninggalkan konter resepsionis.


"Ayo ikut aku ke luar, kerumunan udang!" seruku keras kepada para sentinel. "Biar kuladeni kalian semua sekaligus!"


Para sentinel tidak bisa menahan kesabaran mereka setelah mendengar kata-kataku dan segera maju menyerangku tetapi sebelum itu aku mengangkat jari telunjuk ke atas dan di saat yang hampir bersamaan, mereka semua melayang beberapa sentimeter dari lantai.


Ekspresi mereka seketika berubah dari penuh amarah menjadi terkejut saat aku mengangkat puluhan dari mereka tanpa perlu menyentuh.


Ya, kalian bisa menebak ini adalah Gravitokinesis, 'kan? Aku malas menjelaskannya ulang.


"Baiklah, ayo kita pergi keluar."


Aku dengan santai berjalan meninggalkan gedung serikat bersama para sentinel idiot yang kubawa menggunakan Gravitokinesis.


.... Hmm? Ke mana mereka? Padahal aku yakin aku menarik gravitasi mereka ke arahku.


Ah, mereka semua tersangkut di pintu serikat, huh?

__ADS_1


Maaf, kali ini aku yang bodoh tidak mengeluarkan mereka satu per satu.


__ADS_2