
Setelah hujan proyektil es berakhir sekitar tiga perempat peradaban Rudania berubah menjadi puing-puing reruntuhan, terutama istana megah milik keluarga Salues yang kuhancurkan dengan tanganku sendiri.
Daripada tangan mungkin lebih tepatnya sihir Dragon Ray.
Tentu saja, kastil Salues dilengkapi sihir pertahanan ruang dan waktu agar tidak termakan usia maupun hancur diserang oleh musuh namun, semua itu tidak berguna di hadapan Chrono Breaker.
Saluja di balik Chrono Static Prison hanya bisa melongo sambil bergemetar hebat menyaksikan kota tercinta yang telah dibangun sedemikian selama lebih dari dua ratus tahun terakhir runtuh tak bersisa.
Apa? Aku tidak berniat membunuh Saluja, atau setidaknya belum.
Aku memang mempunyai dendam kesumat terhadap keluarga Salues tetapi, jika lebih spesifik maka dendamku mengarah kepada Salim yang telah dibunuh oleh ayahnya sendiri.
Sungguh ayah yang bajingan.
Terlebih lagi, Saluja berencana mengambil alih Gilard dan tahta raja sehingga jika melakukan hal lebih dari ini, maka aku dapat terseret ke dalam arus politik bangsawan—meski mungkin sudah terseret mengingat aku telah menghabisi keluarga Gozet dan berencana meningkatkan perekonomian Rilet.
Aku berniat menyerahkan Saluja kepada Sain untuk dihukum tapi sebelum itu ....
"Quanta Status Downward," kataku mengarahkan tangan menuju Saluja.
Aku menurunkan seluruh status Saluja hingga ke angka 10 sehingga dia tidak akan bisa lagi menggunakan sihir ruang dan waktu dengan kapasitas Mana-nya yang sekarang.
Hmm? Ada yang mendekat?
Ah, itu Rosetta yang keluar dari persembunyian dan terbang kemari.
Dia memandang reruntuhan Rudania di bawah dengan senyum kecut. "Tak kusangka kamu benar-benar mampu menghancurkan kota sebesar Rudania dan keluarga Salues seorang diri."
"Hmph, itulah yang mereka dapatkan ketika mencari gara-gara denganku." Aku mendengus lalu mengalihkan perhatian kepada Saluja yang masih menangis. "Lagipula, orang ini berencana mengambil alih Gilard."
"Mengambil alih Gilard? Maksudmu dia merencanakan kudeta?" Rosetta mengangkat alis menanggapi perkataanku.
Aku mengangguk kemudian memproyeksikan ingatanku mengenai rencana Saluja menggunakan Mnemokinesis dan Hallucikinesis di udara, membuat Rosetta ternganga sesaat dan memperhatikan kata demi kata yang diucapkan Saluja dalam proyeksi tersebut.
Proyeksi ingatan lenyap begitu mencapai akhir.
Rosetta mengusap dagu berpikir sejenak. "Begitu rupanya. Saluja berniat menggunakan kota-kota yang telah dia kuasai untuk menggulingkan kerajaan sekaligus."
Tepat sekali.
Ingat keluarga Salues memiliki gelar Duke I dan keturunan Saluja menguasai banyak kota berkat jasanya pada perang melawan Guimagista dua ratus tahun lalu?
Itulah yang ingin dia lakukan.
Meskipun dia orang berengsek tak tertolong sampai menghabisi putranya sendiri—Salim—namun, harus kuakui Saluja termasuk golongan bangsawan cerdas.
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, Fain?" Rosetta menatapku. "Apa kamu akan menghancurkan keluarga cabang Salues yang menguasai kota-kota di seluruh Gilard?"
Aku menggeleng. "Tidak, itu peran Yang Mulia Gilard dan Ordo Ksatria Pedang Kabut Emas."
"Aku sudah cukup puas memberi pelajaran kepada mereka yang mencari gara-gara sekaligus peringatan terhadap keluarga bangsawan lain agar tidak macam-macam," ujarku memandang reruntuhan Rudania di bawah.
Benar, aku melakukan ini demi membalas dendam atas anak-anak panti yang telah terbunuh, bukan untuk memadamkan api pemberontakan di sela-sela negeri Gilard.
"Urusan kita sudah selesai di sini." Aku menghela nafas panjang dan menatap Rosetta. "Aku masih ada urusan lain di Ibukota, apakah kamu mau ikut ke Castelan atau kembali ke Rosel?"
Rosetta melirik ke arah Saluja di dalam Chrono Static Prison. "Kamu mau mengantar orang ini ke Ibukota?"
"Begitulah." Aku mengangguk dan memasang senyum gelap. "Sain memintaku membawakan kepala Saluja tapi, aku punya ide lebih bagus untuk orang seperti ini."
Rosetta mengangkat tangan dan memilih kembali ke Rosel sembari mendesah.
Aku dan dia kemudian berpindah menuju Rosel menggunakan Instant Warp, tentunya sambil membawa Saluja yang telah kutahan menggunakan balutan logam hasil kerajinan Quantakinesis dan Material Shaper.
Sesampainya di panti aku segera disambut oleh anak-anak panti yang berlari sambil menangis memelukku.
"Kak Fain!"
"Kakak!"
Oh, kalian ....
Aku memeluk mereka semua sebisaku. "Maaf, karena Kakak kalian harus melalui hal seperti ini."
"Tidak, ini bukan salah Kak Fain!" Salah satu anak panti berseru. "Ini semua salah orang itu! Dia tiba-tiba menyerang panti padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun!"
Anak panti lain mengangguk. "Sejak kedatangan Kak Fain, kami bekerja keras dan tak pernah lagi mengemis atau mengganggu orang lain! Kak Fain tidak salah apa-apa!"
Kalau kalian mengatakan itu perasaan bersalahku bisa hilang sepenuhnya.
Tapi, aku tak bisa melakukan itu.
Aku telah membuat empat anak terbunuh.
Meskipun Salim yang memerintahkan prajuritnya tetap saja itu tidak menutup fakta bahwa akulah penyebab semua ini.
Aku harus bertanggung jawab penuh.
"Fain ...." Risa dengan mata sembab nan bengkak melangkah pelan dan memelukku sekuat tenaga, kemudian mulai menangis keras. "Kenapa harus selalu anak-anak tak bersalah seperti mereka?!"
Tangisan Risa mengundang air mata anak-anak panti lain dan butuh waktu lama bagi mereka semua menenangkan diri.
__ADS_1
Pada malam hari aku menghubungi Gustav memberitahukan kejadian hari ini yang tentu saja disambut oleh omelan panjang, namun begitu aku menceritakan Saluja merencanakan kudeta terhadap Gilard, dia segera berbalik mengutuk keluarga Salues.
Gustav memang orang keras tetapi bukan berarti dia busuk, dan aku paham bahwa itu merupakan bentuk kasih sayangnya terhadap seluruh keluarga Ardenheim.
"Omong-omong, Ayahanda, aku akan bermalam di Rosel. Beritahu Gisele juga mengenai ini." Aku berkata melalui superphone. "Lalu, kabari juga Sain bahwa aku akan membawa Saluja ke Ibukota besok."
Gustav mendesah dari sisi lain panggilan. "Kamu gila seperti biasanya tapi baiklah."
Hei, tidak sopan mengatai anak kandungmu sendiri gila, meski aku hanya sekedar anak haram.
Setelah pembicaraan singkat tersebut aku menutup panggilan dan melangkah masuk ke dalam panti hanya untuk menemukan suasana duka nan berat dari seluruh anak-anak panti, termasuk Risa dan Rosetta.
Risa berkata keempat anak yang terbunuh akan dimakamkan besok.
"Tentang itu ...." Aku memotong Risa dan menarik perhatian anak-anak panti. "Maukah kalian semua pindah ke Rilet?"
Aku kemudian menjelaskan jika mereka terus tinggal di sini kemungkinan besar kejadian seperti ini akan berulang lagi di masa depan, dan demi mencegah hal tersebut terjadi aku ingin memindahkan mereka semua sekaligus gedung panti ke Rilet.
"Ditambah, jika makam keempatnya dekat maka kalian bisa mengunjungi mereka kapapun kalian mau, bukan?" Aku tersenyum tipis kepada anak-anak panti.
Risa terlihat berat tetapi anak-anak dengan cepat menyetujui usulku.
Wanita berusia awal dua puluhan tahun itu terkejut. "Kalian tidak keberatan?"
"Tidak akan!"
"Kalau kita berada di dekat Kak Fain maka kita akan selalu aman!"
"Kak Fain juga memberi kita pekerjaan di Rilet. Bukankah itu akan lebih mudah jika kita semua tinggal di sana?"
Mendengar ketetapan hati anak-anak Risa menghela napas dan memaksakan senyum. "Kalau begitu mari kita semua pindah ke Rilet."
Aku mengangguk dan berkata semua akan pergi besok siang atau sore, dan tentu saja tidak perlu berkemas.
Aku bisa memasukkan gedung panti seutuhnya ke dalam Spatial Storage dan meletakkannya di lahan kosong Rilet nanti, atau mungkin memindahkannya menggunakan Spatiokinesis dari Kinesis.
Mungkin di sekitar perkebunan cokelat kalau Gustav mengizinkan .... Oh, mengapa tidak kujadikan satu saja dengan panti asuhan Rilet?
Toh, mereka sama-sama anak panti kurasa mereka akan rukun.
Omong-omong mengenai anak panti, Brook dan Shena—dua penjaga panti selain Harold—baru terlihat sore ini untuk berburu monster di luar kota karena mereka baru menjadi sentinel dan merasa begitu syok ketika mendengar kabar penyerangan Salim.
Mereka masih mengurung diri merasa bersalah telah meninggalkan panti dan membiarkan Harold berjaga seorang diri.
Harold, kuserahkan mereka berdua kepadamu.
__ADS_1