I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
12. Aku Sungguh Jenius!


__ADS_3

Setelah kegaduhan di serikat berakhir aku segera pergi mengambil permintaan tipikal ala tokoh utama cerita bertema 'isekai'.


Tepat! Permintaan yang kuambil adalah berburu Goblin. Tipikal sekali, bukan?


Alasan mengapa aku mengambil pekerjaan ini sebenarnya cukup sederhana daripada yang kalian pikirkan.


"Rupa Goblin yang sebenarnya itu seperti apa, ya?" tanyaku terhadap diriku sendiri sambil berjalan.


Goblin adalah makhluk yang memiliki badan serupa manusia namun tidak mempunyai kepintaran untuk berpikir dan tingginya paling mentok hanya sekitar 100 atau 120 sentimeter, lalu memiliki warna kulit kehijauan pucat.


Lalu, Goblin juga disebut-sebut sebagai salah satu monster paling lemah dalam dunia fantasi selain Slime, makhluk ajaib yang seluruh badannya terdiri dari lendir.


Aku hampir selalu melihat rupa Goblin dan makhluk fantasi lainnya melalui deskripsi tulisan semata seperti sebuah dongeng, jadi jelas sebagai penulis novel bergenre fantasi aku penasaran setengah mati seperti apa bentuk Goblin yang sebenarnya.


Oh, satu Goblin ketemu! Aku beruntung!


Aku segera mengarahkan tanganku ke depan tanpa banyak bersuara dan sebuah anak panah es tercipta secara perlahan melayang di atas tanganku. "Cryo Arrow!"


Dalam sekejap dan tanpa suara Goblin soliter tersebut ambruk di tanah dengan lubang sebesar anak panah pada dada sebelah kiri.


"Hmm ... sama sekali tidak menantang," kataku datar.


Aku tahu aku menyerang diam-diam tapi aku sama sekali tak menduga serangan sesederhana Cryo Arrow dapat menewaskan Goblin dalam satu kali serang.


Yah, aku juga membidik area jantungnya, jadi kurasa wajar makhluk selemah Goblin mati dengan satu serangan sesederhana ini.


Kesampingkan itu, sesuai dugaanku skill ini sangat berguna.


Aku tidak menyesal menggunakan jatah Authority of Author hari ini untuk menciptakan skill serba guna ini!


Kinesis (1) ; dapat memanipulasi berbagai elemen dunia hingga tahap dan jarak tertentu menggunakan energi kinetik dan potensial.


Benar, baik pisau angin di serikat maupun anak panah es yang kugunakan barusan bukanlah sihir melainkan skill Kinesis!


Seperti deskripsinya, Kinesis memungkinkanku memanipulasi berbagai macam elemen dunia hingga tahap dan jarak tertentu dengan energi kinetik serta potensial sebagai bahan bakarnya, jadi secara teknis ini bukan sihir melainkan kekuatan supranatural atau bisa dibilang kekuatan esper.

__ADS_1


Sebagai penulis fantasi sekaligus dunia ini, tentu terdapat kekuatan sihir yang mengandalkan energi sihir atau sesuatu yang disebut Mana, namun bukankah itu agak membosankan dan tidak efisien?


Maksudku, tentu sihir tetap hebat mengingat kekuatan dahsyatnya yang mampu menghancurkan berbagai negara jika digunakan secara tepat dan efektif, tetapi jika untuk melawan individual seperti manusia atau monster maka menurutku Kinesis lebih cocok.


Dengan satu skill ini aku bisa mengendalikan hampir segala elemen dunia ini mulai dari angin yang disebut Aerokinesis dan juga Cryokinesis yang kugunakan untuk menghabisi Goblin tadi.


Selain dapat memanipulasi hampir semua elemen, Kinesis tidak memerlukan stamina atau Mana terlalu banyak seperti sihir karena Kinesis menggunakan energi kinetik dan potensial.


Lalu, jika ditelusuri lebih dalam menurut aturan mutlak semesta, jumlah energi adalah absolut yang tak akan berkurang ataupun bertambah.


Itu artinya aku bisa dengan bebas menggunakan Kinesis tanpa perlu takut terbatas oleh kapasitas Mana atau status sihirku yang terbilang kerdil!


Hebat, bukan? Aku memang jenius!


Huh? Mengapa aku tadi di serikat menyebut kekuatan ini sihir, katamu? Tentu saja itu hanya gertakan.


Dunia ini tidak memiliki pengetahuan sains yang maju dan satu-satunya hal yang bisa warga dunia ini terima mengenai manipulasi elemen adalah sihir.


Mau tak mau aku harus menyamakan kata-kataku dengan dunia ini agar dapat lebih mudah dimengerti.


Yah, kesampingkan perbedaan sihir dan Kinesis ....


Aku memandangi makhluk berkulit hijau pucat setinggi 100 sentimeter yang tergeletak tak bernyawa di depanku.


Dalam novel aku menuliskan setiap monster mempunyai kristal sihir di dalam jantung mereka dan menurut latar tersebut, kristal sihir merupakan katalis bagi monster tak berintelegensi untuk menggunakan sihir.


Semakin kuat monsternya maka semakin besar ukuran tubuh serta kristal sihir mereka—atau setidaknya itu menurut latar yang kubuat di novelku.


Aku yakin terdapat perbedaan di beberapa bagian yang tidak kujelaskan secara mendetail.


Aku berjongkok dan memandang mayat Goblin dari dekat. "Apa aku harus membedah badan menjijikkan ini untuk mendapatkan kristal sihir di jantungnya?"


Ugh, itu menjijikkan. Aku tidak mau berurusan dengan hal bedah-membedah secara mendetail—meski mungkin tak masalah jika aku memutilasinya menggunakan Kinesis.


Memutilasi? Benar juga, aku 'kan mempunyai Kinesis.

__ADS_1


Mengapa aku harus repot-repot membedah dan mencari kristal sihir monster menggunakan tangan?


"Aero Blade!"


Aku mengerahkan belasan pisau angin dengan Aerokinesis dari Kinesis untuk memotong-motong bagian tubuh sang Goblin hingga menjadi belasan bagian, lalu membelah jantungnya dan mengambil kristal sihir Goblin tersebut.


"Menjijikkan. Kenapa aku harus menuliskan kristal sihir terletak di jantung monster di novel? Ini sangat tidak nyaman dipandang," gerutuku seusai mengambil kristal sihir.


Seingatku serikat akan memberikan imbalan pada setiap kristal sihir Goblin seharga 10 koin besi per satuannya, ya?


Hmm, bukan angka yang memuaskan tetapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan harian.


Kurasa harus perlu mencari Goblin lain agar aku tak perlu khawatir mengenai situasi keuangan dan pengeluaran harianku.


Lagipula, dengan berburu Goblin aku bisa sekalian menguji sejauh mana kemampuan Kinesis dan kontrolku terhadap kekuatan curang ini.


Hehehe, aku tidak sabar! Tunggu aku, monster hijau kroco sekalian!


***


Begitu matahari sudah hampir terbenam aku menghentikan perburuan Goblin-ku dan berniat kembali ke kota untuk menukarkan semua kristal sihir goblin ini.


"Tidak, daripada perburuan goblin, ini sih lebih seperti pembantaian goblin." Aku bergumam sembari memandang tumpukan mayat Goblin yang menggunung tinggi.


Sial, aku terlalu larut dalam menguji kemampuan Kinesis terhadap gerombolan Goblin yang bermukim di area dekat kota sampai-sampai tak sadar berapa desa Goblin yang telah kuhabisi.


Kalau begini caranya sentinel pemula selain diriku tidak dapat menghasilkan uang layak mengingat Goblin merupakan monster lemah yang sering diburu sentinel pemula.


Maafkan aku, sentinel pemula sekalian namun tenang saja, siklus reproduksi Goblin lima kali lebih cepat dari manusia. Jadi, kalian bisa berburu Goblin kembali seperti biasa dalam 2,4 bulan lagi.


Aku menengadahkan dagu memandang langit oranye dihiasi awan kemerahan sembari menghela nafas berat. "Hari yang sungguh panjang."


Sesudah berkata demikian aku kembali menuju gerbang kota menggunakan Gravito Flight Sphere—teknik Kinesis yang kukembangkan sebagai peningkatan mobilitas.


Aku memakai Gravitokinesis dari Kinesis untuk membuat sangkar gravitasi tak terlihat di sekitarku dan menarik badanku menggunakan daya gravitasi yang cukup untuk membuatku melayang.

__ADS_1


Hebat, bukan? Dengan Gravito Flight Sphere ini aku bisa berpergian ke manapun aku mau tanpa merasa lelah!


Aku sungguh jenius!


__ADS_2