
Sesampainya di kediaman Gozet aku disambut sejumlah besar prajurit bersenjata mengarah kepadaku.
Tentu saja mereka bersikap seperti itu.
Akan lebih aneh jika mereka malah membiarkanku masuk tanpa mengancam.
"Kau!" Archiles datang sambil marah-marah. "Beraninya kau membunuh ayahku!"
Dia menarik pedang dan mengacungkan ke arahku berusaha menahan diri agar tidak langsung menerjang. "Aku tidak tahu siapa dan sekuat apa sebenarnya dirimu, tapi akan kupastikan dendam ayahku terbalas!"
"Prajurit, serang dia bersamaan!"
Para prajurit merasa ragu menjalankan perintah Archiles namun tetap bergerak meski enggan.
Sekitar sepuluh sampai dua puluh orang, ya?
Hmm, prajurit-prajurit ini hanya menjalankan tugas mereka jadi sebaiknya tidak kulukai terlalu parah.
Tidak, lebih baik jangan dilukai sama sekali.
Aku bisa dituduh sentinel kejam yang tak pandang bulu oleh warga kota yang tengah menonton.
"Vampire Magic ; Slumber Mist." Aku mengibaskan tangan mengerahkan sihir.
Dalam seketika seluruh prajurit ambruk tanpa kesadaran, beberapa dari mereka bahkan mendengkur.
Slumber Mist memang berguna.
Aku sampai tak perlu menggunakan Kinesis untuk menghentikan ataupun melukai mereka.
Archiles terlihat sedikit gentar tetapi tak menunjukkan ketakutan. "Belatung jelata sialan!"
Dia maju mengayunkan pedang berniat menebas leherku namun sayang, meski aku hanya berdiam diri bilah pedang Archiles tak mampu menembus kulit leherku.
Justru sebaliknya, bagian bilah pedang tersebut malah jadi tumpul.
"Apa-apaan ...." Dia langsung mengambil langkah mundur menyadari serangannya sama sekali tak mempan. "Mengapa pedangku tidak bisa memotong lehernya?!"
Tentu saja kau tak mampu.
Aku bisa jelaskan tiga alasan mengapa seranganmu tidak bekerja.
Pertama, statusmu sangat rendah. Rata-rata hanya mencapai angka 30 sampai 40—paling tinggi pun hanya 50—meski lebih tinggi dari status dasar manusiaku.
Kedua, pedangmu merupakan pedang biasa. Bukan tandingan sisik naga pada leherku yang kurubah sebagian selama beberapa detik menggunakan Form Shifter.
Ketiga, perbedaan status kita bagaikan langit dan bumi.
"Kau harus mengenali dirimu sendiri sebelum menghadapi orang lain, babi ngepet," kataku bernada datar.
Archiles mundur selangkah merasa tertekan tetapi tak berniat menyerah.
__ADS_1
Baik, nampaknya amarah Archiles telah sedikit berkurang. Ini waktu yang tepat.
"Tenang, tuan muda pertama. Aku kemari bukan untuk mencari keributan." Aku kemudian mengeluarkan sebongkar peti es dari Spatial Storage yang berisi jasad Rachiel. "Kamu bisa mengenali kepala ayahmu sendiri, 'kan?"
Archiles ingin segera maju dan menyerang lagi berkat provokasiku yang tak disengaja, namun dia berhasil menahan diri.
Di luar dugaan orang ini tidak terlalu mengandalkan emosi. Dia lebih rasional dari yang kupikirkan.
Aku meletakkan peti es tersebut pada titik terjauh jangkauan Cryokinesis dekat Archiles.
Dia mendekati peti es transparan itu dan memandang jasad Rachiel secara sekilas sebelum kembali menatapku. "Apa sebenarnya maumu sampai membunuh ayahku? Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu!"
"Apa mauku? Sangat sederhana." Aku mengangkat bahu. "Aku hanya ingin pajak perlindungan seharga langit itu ditiadakan. Kota sekecil Rosel jelas tak bisa memenuhi kuota pajak setinggi itu."
Aku menunjuk jasad Rachiel di dalam peti mati es. "Dan dengan ketiadaan ayahmu, Rachiel, yang hendak membunuhku meski telah kuberi kesempatan kedua untuk menebus kesalahannya, pajak perlindungan mahal itu tidak lagi berlaku."
Archiles tidak berkomentar. Dia hanya menghujaniku dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah.
Jika pandangan bisa melukai mungkin pakaianku sudah robek di beberapa tempat.
"Kau ini orang udik dari mana sampai berani mengambil nyawa seorang bangsawan kerajaan?!" Archiles berteriak begitu keras seakan melepas seluruh emosinya. "Ayahku, Rachiel von Gozet, adalah seorang ksatria berharga diri tinggi yang mencurahkan segalanya demi kerajaan dan menaikkan martabat keluarga Gozet!"
"Inilah kenapa aku membenci jelata!" Archiles mengeratkan genggaman pada pedang dan mengambil persiapan untuk menerjang ke depan.
"Jelata rendahan sepertimu tidak akan bisa memahami arti perjuangan seorang bangsawan!"
Archiles maju dan mengayunkan pedangnya lagi tetapi kali ini dia mengincar kepalaku secara langsung.
Aku menghela nafas sejenak sebelum melepas Form Shifter pada lenganku dan menangkap bilah pedang Archiles dengan tangan kosong yang mana membuat pemuda seusiaku bertubuh pendek dan gemuk tersebut memasang ekspresi terkejut sekaligus takut.
"Maka itu berarti kamu memikul semua nyawa dan kehidupan mereka!"
Aku memberikan pukulan keras pada pipi pria babi ngepet tersebut hingga terpental beberapa meter menabrak dinding pagar.
Dia meringkuk sembari mengaum keras memegangi pipi gempalnya yang aku yakin terasa sangat sakit.
Tenang saja, walaupun dia adalah tipe orang yang kubenci aku masih bisa menahan diri.
Kalau aku menggunakan kekuatan penuh mungkin isi kepalanya sudah meledak berceceran di tanah.
Itu pemandangan menjijikkan jadi aku ingin menghindari itu.
Lagipula, Archiles pada dasarnya hanyalah seorang anak manja yang mengandalkan nama keluarganya.
Tidak seperti Rachiel, dia tidak bisa apa-apa tanpa keluarga Gozet.
Aku melangkah mendekati Archiles yang masih meringis kesakitan disertai rasa takut. "Kalau kamu tak bisa melakukan itu maka kamu bukanlah bangsawan."
"Kau hanyalah sampah yang kebetulan beruntung mendapatkan posisimu sekarang," tambahku menatap si babi ngepet dingin.
.... Aku sama sekali tak menyangka bisa mengatakan kalimat yang kubuat untuk karakter utama di novelku.
__ADS_1
Kalau diingat lagi latar belakang sang karakter utama mirip sepertiku.
Dia juga seorang anak haram keluarga bangsawan tetapi bertempat tinggal di kerajaan lain.
Mungkin itulah mengapa aku secara spontan berkata demikian.
Setelah menyelesaikan urusan di kediaman Gozet aku berbalik dan hendak pergi menuju serikat sentinel untuk mengambil bayaran atas Metal Manticore kemarin, namun langkahku dihentikan oleh suara wanita.
"Berhenti di sana, sentinel tak tahu diri!" Dia berseru mendekati diriku. "Kamu tahu artinya melawan keluarga Gozet? Kamu bukan lagi sentinel melainkan pemberontak! Kamu kriminal!"
"Pemberontak?" Aku tertawa sinis. "Benar, aku pemberontak khusus untuk bangsawan sombong nan idiot."
"Aku sadar diri terhadap status serta batasanku." Aku kemudian melangkah mendekati sang wanita yang nampaknya adalah istri Rachiel. "Tidak seperti kalian yang menggunakan tangan besi untuk memeras warga kota."
Muka wanita tersebut menjadi merah padam karena marah. "Kamu tidak akan bisa lari dari keluarga Gozet! Kami pasti akan menghancurkanmu dengan segala cara!"
"Benarkah? Kalau begitu aku tidak perlu menahan diri lagi."
Aku kemudian terbang ke langit menggunakan Gravito Flight Sphere dan menciptakan proyektil es seukuran kemarin dengan Cryokinesis, lalu mengambil bidikan terhadap kediaman keluarga Gozet.
"Bagi semua orang yang bekerja atau tinggal di kediaman Gozet! Jika tidak ingin mati maka lekas pergi!" Aku berseru selantang mungkin. "Aku beri waktu sampai hitungan kesepuluh!"
Peringatanku nampaknya cukup efektif.
Aku bisa melihat belasan hingga puluhan orang termasuk penjaga berbondong-bondong keluar dari pintu mansion tersebut.
Dan untuk Archiles, dia terlihat begitu ketakutan memandang bongkahan es yang tercipta di tanganku sementara istri Rachiel mengumpat serta mengutukku dari bawah.
Berkicaulah sesukamu, wahai wanita bodoh. Itu tak akan menghentikan niatku menghancurkan kediaman keluargamu.
Setelah hitungan kesepuluh aku membuat laras gravitasi dan menembakkan Graviton Kinetic Railgun ; Iceberg Falldown—karena tidak kusertai listrik dari Electrokinesis.
Alhasil, kediaman besar keluarga Gozet hancur lebur dihantam oleh bongkahan proyektil esku dan mengguncang seluruh Rosel.
Hmm, kelihatannya Graviton Kinetic Railgun masih terlampau kuat padahal aku tak mengerahkan Aerokinesis sebagai pendorong tambahan, murni menggunakan laras gravitasi dari Gravitokinesis.
Berkat itu istri Rachiel tidak bisa berkata-kata selain menjerit histeris menyaksikan tempat tinggalnya berubah menjadi puing reruntuhan dan Archiles pucat pasi seakan kehilangan seluruh darah.
Aku merasa sedikit kasihan terhadap Archiles tetapi ini pelajaran bagimu serta seluruh bangsawan bodoh dan sombong.
"Namaku Alfain!" Aku sekali lagi berseru keras. "Kalian boleh menganggapku sebagai kriminal atau pemberontak, namun perlu kutekankan aku hanya memusuhi orang arogan bodoh yang memanfaatkan kekuasaan serta kewenangan mereka untuk memeras orang di bawah mereka!"
"Dan aku tidak peduli apakah itu keluarga kerajaan atau bangsawan, jika mereka mencari masalah denganku maka akan kulawan sekuat tenaga!" tambahku mengumumkan identitas serta niatku ke seluruh warga kota.
Benar, aku tak akan bersembunyi.
Aku akan menghadapi semua yang mendatangiku tanpa kecuali, mau itu bangsawan biasa ataupun keluarga kerajaan sekalipun.
Aku tidak takut.
Kalau kalian berani maka keluar dan hadapi aku, orang-orang arogan nan idiot.
__ADS_1
Biar kuberantas kesombongan dan kebodohan yang mengakar di dunia ini.
Ini adalah pernyataan perangku.