
Pintu orichalcum sihir memang memblokir sihir dari luar namun hal yang sama tak berlaku jika pengguna sihir masuk ke dalam.
Aku melangkah menuju suatu arah di mana Soul Detection-ku mendeteksi jiwa-jiwa yang masih hidup tapi ....
"Ini keterlaluan ...." Aku seketika menggeram melihat kondisi para belasan budak yang masih selamat.
Mereka memang masih hidup tetapi di saat yang sama mereka juga mati.
Mata para budak terlihat kosong di balik sel jeruji dan lingkungan sekitar mereka begitu kotor dipenuhi oleh ampas kotoran mereka sendiri serta ... beberapa jasad tak bernyawa.
Aku memang berdiri tepat di depan sel para budak namun entah karena memang tidak peduli lagi atau efek kemampuan Presence Erasure, mereka sama sekali tak menyadari keberadaanku.
Aku berdecak pelan dan menggunakan Material Shaper untuk membengkokkan sel jeruji selebar mungkin agar aku dapat masuk ke dalam.
"Siapa ...?" Salah seorang budak bersuara tanpa semangat membuat para budak lain ikut menoleh ke arahku.
Aku mengisyaratkan mereka agar tak bersuara. "Aku datang untuk menyelamatkan kalian."
Mereka saling berpandangan sejenak dan kembali menatapku.
Para budak tidak menunjukkan reaksi gembira atau sejenisnya terhadap pernyataanku melainkan hanya pasrah dan tak peduli, kembali memandang lantai atau dinding dengan tatapan kosong tak bernyawa.
Aku menghela nafas dan memanggil Elena melalui superphone. "Hai, Elena. Ruangan untuk para budak sudah beres?"
"Kurang lebih." Elena segera menjawab. "Berapa banyak budak di bawah sana yang masih selamat?"
"Sekitar ... 250-an orang," balasku sigap sesudah memastikan jumlah para budak dengan Soul Detection sekali lagi.
Elena berseru keras kepada seseorang sebelum kembali berbicara kepadaku. "Oke, aku sudah menyiapkan ruangan khusus dan perbekalan darurat masih dalam persiapan."
"Dimengerti." Aku mengangguk. "Aku akan segera mengirim mereka."
Sesudah berkata demikian aku menutup panggilan dan mengalihkan perhatian kepada para budak yang memandangku penuh keheranan.
Tentu saja, mereka pasti mengira aku gila karena berbicara sendiri—mengingat mereka tak mengerti superphone.
Aku memasang senyum selembut mungkin. "Kalian akan baik-baik saja."
Mereka tidak berharap ataupun mengharapkan pertolongan apapun setelah mengetahui nasib mereka akan berakhir menjadi santapan si Setan Makanan.
Itu dapat terlihat dari sorot mata tanpa cahaya mereka.
Tapi, sebelum mengungsikan mereka ke Perusahaan Daedalus ada satu hal yang perlu kulakukan terlebih dahulu.
Aku mengangkat kedua tangan mengarah ke para budak. "Vitakinesis."
Tubuh mereka berangsur-angsur membaik secara fisik berkat Vitakinesis tetapi kondisi kekurangan gizi tak akan terselesaikan hanya dengan ini.
__ADS_1
Vitakinesis memang mampu menyembuhkan berbagai cedera dan penyakit, bahkan menumbuhkan kembali serat daging serta karbon tulang namun kurang gizi bukanlah penyakit.
Aku tak bisa melakukan apa-apa selain memaksa mereka mengonsumsi makanan bergizi.
Para budak seketika melotot melihat perubahan pada tubuh mereka sebelum kembali memandangku dengan tatapan tak percaya.
Tetapi, aku dapat melihat cahaya pada mata mereka sedikit menyala.
Harapan yang telah lama musnah kini kembali berkobar.
"Tuan .... Tidak, apakah kamu dewa?" Seorang budak bertanya.
Aku tersenyum sambil menempatkan jari pada bibirku. "Aku bukan dewa tapi rahasiakan ini, oke?"
Mereka kemudian mulai menangis dan bersimpuh di depan kakiku seakan menyembah.
Secara kemampuan mungkin aku bisa disebut dewa namun aku tidak butuh disembah seperti ini.
"Tidak perlu bersikap demikian." Aku menepuk pundak salah satu budak. "Kalian masih belum terselamatkan."
"Berpeganganlah satu sama lain. Aku akan membawa kalian keluar dari sini," kataku bernada tegas sedikit memerintah.
Para budak saling berpegangan menuruti perkataanku tanpa ragu seakan mempercayaiku sepenuhnya.
Aku mengangguk sebelum mengerahkan Instant Warp menuju Perusahaan Daedalus bersama para budak dalam sekejap.
Begitu sadar tubuh mereka dimandikan sinar matahari, tangisan para budak semakin menjadi-jadi dan menarik perhatian para pegawai Perusahaan Daedalus sekaligus Elena.
"Sudah kukatakan aku akan menyelamatkan siapapun yang bisa dan pantas diselamatkan, bukan?" Aku tersenyum kecil menanggapi Elena.
Aku lalu menyipitkan mata kepada para pegawai. "Bagaimana dengan mata-mata keluarga Ruliand di antara pegawai? Apa kamu sudah mengurus mereka?"
"Tentu saja." Elena membusungkan dada berukuran besarnya dengan bangga. "Aku memenjarakan mereka semua ke ruang hukuman tepat sesudah kamu pergi."
Itu melegakan.
Semua akan jadi lebih merepotkan jika mereka masih berkeliaran.
Memang benar kami sepakat membiarkan para mata-mata tersebut bekerja di gedung perusahaan sebelumnya tetapi demi menghindari mereka berkontak dengan keluarga Ruliand, Elena mengusulkan untuk menangkap mereka tepat pada sesudah operasi dimulai.
Oh, omong-omong, Elena menutup perusahaan Daedalus hari ini demi melancarkan operasi penyelamatan budak agar tidak kejadian ini tak terekspos oleh mata publik.
Para pegawai pun mungkin perlu kuhapus ingatannya menggunakan Mnemokinesis nanti.
Aku mengangguk pelan. "Kalau begitu aku akan pergi lagi."
"Kuserahkan perawatan mereka kepadamu," kataku sebelum kembali ke fasilitas rahasia keluarga Ruliand dengan Instant Warp.
__ADS_1
Dua ratus lima puluh orang bukanlah jumlah sedikit dan ini akan membutuhkan waktu yang tak sebentar.
Aku harus bergerak secepat mungkin sebelum pengurus fasilitas rahasia menyadari 'bahan' membuat gula terlarang mereka hilang.
***
Butuh sekitar dua jam bagiku untuk menyelamatkan semua budak yang masih hidup.
Fasilitas ini dibuat seperti labirin rumit dan yang lebih merepotkan lagi, semua dindingnya dilapisi sihir sehingga tidak memungkinkanku memotong jalan dengan wujud roh hantu.
Dan juga, aku sempat ketahuan beberapa pengurus fasilitas yang tentunya segera kuhabisi tanpa suara—menggunakan Audiokinesis sebagai peredam suara.
Aku duduk di lantai menghela nafas panjang sesudah menyelamatkan budak terakhir. "Ini cukup berat."
Kinesis serta skill mungkin tidak mengonsumsi stamina maupun Mana, namun masalah mental itu lain cerita.
Rasku secara fisik memang bukan lagi manusia tetapi jiwa serta pikiranku tidak berubah.
"Kelelahan mental sungguh tidak mungkin dihindari," gumamku menyelonjorkan kaki.
Hmm? Aku terlalu santai di markas musuh, katamu?
Tenang saja, aku membuat waktu di area sekitar tiga meter dariku berjalan sepuluh kali lebih cepat menggunakan Chronokinesis dari Kinesis—aku menyebutnya Chrono Static Field.
Jika mereka menyadari keberadaanku maka mereka akan terlihat sangat teramat lambat di mataku dan memungkinkanku beristirahat.
Lagipula, pikiran ketiga Multi Mind secara konstan mengawasi daerah sekitar.
.... Tidak, kalau kalian mengira aku dapat memutarbalikkan waktu atau menjelajahi masa lalu dengan Chronokinesis maka kalian salah besar.
Chronokinesis memang mampu memanipulasi waktu tetapi teknik kinesis ini sangatlah rumit dan sulit dikendalikan.
Aku bahkan memerlukan bantuan pikiran kedua hanya untuk membuat Chrono Static Field yang melingkupi area tiga meter dariku ini.
Dan juga, kalau aku bermain dengan masa lalu maka aku dapat menyebabkan paradoks yang tak sepenuhnya kupahami dan itu bisa membuat dunia ini menjadi lebih kacau.
Aku tak ingin itu terjadi.
Chronokinesis untuk sementara akan kubatasi dengan mempercepat dan melambatkan waktu saja sampai aku benar-benar dapat menguasai teknik Kinesis satu ini—itupun sudah sangat rumit memanipulasi arus waktu normal dalam lingkup kecil.
"Baiklah, waktu istirahat sudah cukup." Aku bangkit dan meniadakan Chrono Static Field. "Aku beristirahat selama satu jam namun dari pandangan orang lain hanya enam menit."
"Chronokinesis sangat berguna," kataku sembari meregangkan badan.
Kinesis memang tak ada lawan.
Tidak, mungkin tepatnya Authority of Author mengingat skill inilah yang memungkinkanku mempunyai Kinesis.
__ADS_1
Yah, apapun itu hampir semua skillku mengakar dari Authority of Author.
Authority of Author memang tak ada lawan.