I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
35. Orang Baik


__ADS_3

Pada waktu sore menjelang malam aku kembali ke panti asuhan dan disambut oleh anak-anak panti.


"Kak Fain terlambat!"


"Kak Fain dari mana? Kenapa pulang gelap?"


"Peraturan panti tidak boleh keluar dan harus kembali sebelum jam enam sore, kak Fain!"


Aku mencubit pipi Mia yang berucap terakhir. "Kamu tak berhak mengingatkanku tentang itu, Mia."


"Aih, Kak Fain! Jangan cubit pipiku!" Mia berseru memberontak tetapi aku tak melepaskan pipinya yang mulus.


Huh, jangan harap kamu bisa kabur dariku! Makan ini!


Mia berusaha melepaskan diri namun tidak mampu.


Lihatlah wajahmu. Meskipun kau menolak dan memberontak ekspresimu berkata lain.


"Enaknya Mia ...."


"Kenapa selalu Mia?"


"Kak Fain, aku juga mau!"


"Oh?" Aku menyeringai dan berjalan mendekat. "Sini kalian! Persembahkan pipi kalian pada tanganku!"


Mereka kemudian berlarian memasuki panti sambil tertawa dikejar oleh diriku sampai jam makan malam.


Puas terhadap makan malam kali ini mereka pun tertidur pulas sesudah bermain bersamaku sekali lagi.


Aku meninggalkan anak-anak yang telah terlelap di ruangan mereka dan pergi mencari Risa di ruang tengah.


"Risa." Aku menyapa Risa.


Dia memasang senyum membalas sapaanku tetapi bagiku, dia memaksakan diri untuk tersenyum.


Yah, mau bagaimana lagi. Dia satu-satunya selain para prajurit yang menyaksikanku menebas kepala Rachiel.


Aku tak akan heran jika dia menjaga jarak dariku.


"Maaf." Aku duduk di kursi depan Risa. "Aku telah menunjukkan hal mengerikan kepadamu."


Risa buru-buru menjawab dengan wajah panik. "Tidak, Fain tidak perlu minta maaf!"


"Kamu sudah membantu dan melindungi kami. Aku tidak berhak menerima permintaan maafmu." Dia memandang lantai terlihat murung.


Ah, begitu rupanya. Dia bingung bagaimana harus menghadapiku.


Tentu saja, aku tidak heran mengapa dia mengalami konflik batin di dalam.


Pada satu sisi aku adalah sosok penyelamat serta pelindung bagi anak-anak panti yang telah banyak membantu mereka, namun di sisi lain aku merupakan penjahat yang telah membunuh Rachiel sang penguasa kota.

__ADS_1


Aku memang membuat anak-anak tidak bisa menyaksikan kejadian berdarah tersebut dengan sihir vampir Slumber Mist-ku tetapi Risa melihat semuanya dan bagi seseorang seperti dia, membunuh merupakan suatu hal kejam.


Ya, aku pun setuju bahwa merebut nyawa orang lain adalah hal yang tak bisa dibenarkan bagi sebagian orang namun semua tidak sesederhana itu.


Seperti yang pernah kukatakan, jika aku membiarkan Rachiel hidup maka dia dapat membuat warga Rosel serta anak-anak panti lebih sengasara dengan melepaskan dendam serta amarahnya atas diriku kepada yang lain.


Melihat sikap pria paruh baya tersebut, aku tak yakin dia mampu meredakan kebencian dan dendam mengingat aku telah merebut harga diri serta kemampuannya sebagai ksatria.


Hmm? Merebut kemampuan Rachiel, katamu?


Benar, aku memang merebut sebagian skill Rachiel.


---


Alfain / Male


Servant (3) / 15 tahun


Str : 29 (+300), Vit : 23 (+300), Agi : 27 (+190), Dex : 30 (+140), Mag : 35 (+430), Wis : 28 (+350), Luk : 32 (+60)


---


Skill : Cleaning (3), Cooking (5)


Extra Skill : Translation (6), Appraisal (2), Repair (5)


Unique Skill : Authority of Author (3)


Other Skill : Spear Arts (10), Advanced Spear Arts (6), Holy Spear Arts (4)


---


Yep, penglihatan kalian tidak salah.


Aku mempunyai empat skill tambahan—satu dari Authority of Author dan tiga sisanya berasal dari Rachiel.


Ingat apa yang kulakukan sesudah menyambungkan kembali tubuh bagian atas dan bawahnya menggunakan Vitakinesis?


Sentuhan terakhir tersebut adalah merebut tiga skill Rachiel dengan Skill Glutton. Hebat, bukan?


Skill Glutton (1) ; dapat merebut tiga skill dari target secara pasti. Skill yang telah direbut dapat dikorbankan untuk menaikkan level skill lain atau diberikan kepada target lain. Hanya bisa digunakan sekali sehari.


Begitulah bagaimana caraku mengambil ketiga skill Rachiel yang berhubungan kekuatan tempurnya.


Skill Glutton sangat luar biasa, 'kan? Authority of Author memang terlalu di luar nalar.


Omong-omong tentang Authority of Author, aku menggunakan sisa jatah kemarin untuk membuat kolom Other Skill agar aku tak pusing melihat koleksi skillku yang berantakan.


Memang sedikit mubazir namun begini daftar skillku terlihat lebih rapi dan nyaman dipandang.


"Fain ...." Risa memanggil tapi tetap menunduk tak berani menatap mukaku. "Apa kamu akan membunuh orang lagi?"

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. "Ya, jika mereka adalah manusia yang kunilai tak pantas hidup dan membahayakan keluarga serta teman-temanku."


".... Apa aku tak bisa menghentikanmu?" Risa kini memandang mataku secara langsung.


Aku dapat melihat ketegasan serta keberanian dalam sorot matanya tetapi Risa tampak dapat menangis kapan saja.


Terdapat air mata menggenang di tepi kelopak matanya.


Aku melengkungkan senyuman tipis pada bibirku dan mendekati Risa, menepuk kepalanya sekali. "Tidak, kamu tak akan bisa menghentikanku membunuh orang-orang yang kuanggap layak mati."


Risa mulai tak kuasa menahan tangis.


Gadis ini sungguh baik dan naif.


Tapi, aku tidak membencinya sama sekali.


Orang-orang seperti Risa justru adalah orang yang ingin kulindungi sama seperti anak-anak panti.


Jika memungkinkan mereka tidak perlu mengotori tangan mereka dan hidup sebagaimana orang biasa nan baik, namun dunia ini dipenuhi oleh niat serta sifat kelam dari manusia bernurani gelap.


Aku tak bisa mengharapkan mereka hidup damai tanpa tahu wajah asli dunia dan ketika aku kembali kemari hanya akan menemukan mereka telah kembali ke tanah akibat akal bulus orang-orang berhati hitam di luar sana.


Jika itu sampai terjadi ... entah apa yang akan kulakukan.


Aku tidak mau membayangkannya sedikitpun.


"Tapi Risa, kamu adalah orang baik." Aku berjongkok dan menepuk pundak Risa. "Kamu bisa menjadi patokanku agar aku tidak membunuh terlalu jauh."


Isak tangis Risa berhenti sejenak. ".... Aku? Menjadi patokanmu?"


"Benar." Aku mengangguk. "Memang benar di luar sana banyak orang jahat dan berbahaya, tetapi kamu tetap menjadi orang baik dan pengampun terlepas dari semua kekejaman Rachiel serta keluarganya."


"Kamu merupakan tipe orang yang ingin kulindungi meski tanganku harus bersimbah darah."


Aku kemudian menepuk kepalanya sekali lagi sesudah berdiri dan memasang senyum. "Jadi, biarkan aku melindungi orang-orang sepertimu dengan segenap tenagaku."


Risa lalu tak kuasa menahan air mata dan kembali menangis namun kali ini dia menangis bukan karena sedih melainkan merasa lega serta bahagia.


Aku memeluk Risa perlahan berusaha menenangkan gadis tersebut.


Butuh beberapa waktu sampai tangisan Risa berhenti dan setelah itu senyumannya kembali merekah. "Fain, kamu orang yang baik."


Tentu saja, meski tanganku telah merengut nyawa seseorang hari ini aku tetaplah aku.


Aku tetaplah Fain.


"Omong-omong, mengapa aromamu lebih wangi dari biasanya? Apakah kamu mulai menggunakan parfum?"


.... Sial, parfum Rosetta masih menempel di pakaianku.


Aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut mengapa aku pulang pada sore hari padahal matahari masih tinggi saat aku pergi ke serikat sentinel, 'kan?

__ADS_1


__ADS_2