Ice Princess

Ice Princess
Hari Pertama


__ADS_3

Letticia bangun dari tidurnya. Dia langsung bangkit dari kasur dan merapikan tempat tidur. Kali ini dia tidur sangat nyenyak karena bisa menyejukkan dirinya sendiri. Saat di bumi, ibu Letticia akan mematikan AC di pagi hari dan itu sebelum Letticia bangun. Saat bangun Letticia sering kepanasan walau pagi hari dan udaranya masih sejuk. Dia memang tipe orang yang mudah kepanasan.


"Tuan putri, kenapa tuan putri merapikan kasur? Tuan putri tinggal meminta saya merapikannya," kata Froze.


"Tidak apa-apa, Baroness. Oh dan bolehkah aku memanggilmu kak Froze?" tanya Letticia.


"Itu semua terserah tuan putri. Tuan putri bisa memanggil saya dengan sebutan apapun yang tuan putri suka," jawan Froze tanpa ragu.


"Kalau begitu aku akan memanggilmu kak Froze mulai sekarang," Letticia tersenyum. Dia merasa lebih nyaman memanggil Baroness Robins dengan namanya.


Tak lama, Amara bangun. Dia melihat Letticia yang sedang merapikan kasur.


"Wah wah rajin juga sahabatku yang satu ini," Amara menepuk pundak Letticia.


"Tentu saja aku rajin," Letticia tertawa.


Setelah merapikan kasur, Letticia segera mandi. Froze yang memandikannya. Setelah mandi, Froze memakaikan pakaian yang tidak terlalu ribet, karena Letticia membenci pakaian seperti itu. Rambut panjangnya diikat satu agar tidak mengganggu.


Kini Letticia sudah cantik dan siap menjalani aktivitasnya. Froze bilang dia akan memberitahu Letticia tentang semua jadwalnya dan akan membuat sebuah catatan agar Letticia tidak lupa.


"Pertama, tuan putri akan sarapan bersama keluarga," kata Froze, "Maaf untuk mengatakan ini. Tapi karena orangtua tuan putri sudah meninggal, tuan putri akan sarapan bersama orangtua angkat tuan putri dan sahabat tuan putri."


"Tidak apa kak, aku sudah mengikhlaskan semuanya," Letticia tersenyum.


"Oh dan tolong jangan panggil mereka orangtua angkat, karena aku sudah menganggap mereka sebagai orangtuaku sendiri," sambung Letticia.


"Maaf kalau saya sudah menyinggung tuan putri," kata Froze.

__ADS_1


"Jangan terlalu takut padaku. Aku bukan orang jahat," kata Letticia, "Tapi kalau ada orang jahat yang berani mengusikku, maka aku tidak akan tinggal diam."


Froze tersenyum mendengar perkataan Letticia. Dia memiliki kepribadian yang cocok sebagai seorang ratu. Lembut tapi tegas.


Froze mengantar Letticia ke ruang makan. Di sana sudah ada Nalie, Robins, dan Emily. Sementara Flo dan Amara masih berpakaian di kamar. Mereka berdua memang susah bangun dan sering terlambat. Tapi Flo tidak pernah bangun terlambat kalau hari sekolah. Tapi dia akan bangun sangat lama di hari libur.


Tak lama, Amara dan Flo datang. Mereka langsung duduk di tempat kosong.


"Maaf kami terlambat," ujar Amara.


"Tidak apa," jawab Letticia, walau sebenarnya perutnya sudah keroncongan saat menunggu mereka berdua.


Pelayan segera menghidangkan makanan yang sangat banyak. Makanan termewah dalam hidup Letticia.


"Kami tidak bisa menghabiskannya," kata Letticia.


"Tuan putri tidak harus menghabiskan semuanya," jawab seorang pelayan.


"Kami tidak bisa makan bersama tuan putri," jawab Sarah menolak.


"Ini perintah. Aku tidak mau makanan ini dibuang," kata Letticia ngotot. Dia tidak suka membuang-buang makanan. Dia tahu, tidak semua orang sejahtera dan bisa makan seperti ini.


"Baiklah kalau tuan putri yang meminta," kata Catherine pasrah.


Keempat dayang Letticia duduk di tempat yang kosong. Mereka makan bersama sambil mengobrol. Awalnya Froze, Brianna, Sarah, dan Catherine agak canggung saat mengobrol bersama keluarga kerajaan. Tapi Letticia meminta mereka untuk mengobrol dengan santai saja.


Tak terasa, semua makanan sudah habis.

__ADS_1


"Terima kasih untuk makanan hari ini," ucap Letticia yang ditujukan kepada para pelayan.


"Memang sudah tugas kami, tuan putri," balas seorang dayang tersenyum. Jarang ada putri yang mau atau bahkan ingat untuk mengucapkan terima kasih.


Setelah Letticia dan yang lain pergi, para pelayan mengambil alat makan kotor dan membersihkan meja. Mereka mengobrol tentang putri baru mereka.


"Dia sangat baik. Aku rasa kita tidak perlu mengkhawatirkan masa depan kerajaan ini."


"Aku setuju. Sepertinya tuan putri Letticia adalah calon ratu terbaik yang pernah kulihat."


"Kerajaan ini akan menjadi semakin sejahtera di bawah kepemimpinannya kelak."


Letticia yang diam-diam mendengar pembicaraan pelayan-pelayan itu hanya tersenyum geli. Dia ingin tahu bagaimana pendapat asli para pelayan tentang dirinya. Ternyata pendapat mereka semua positif.


Letticia kembali ke kamar. Di sana sudah ada Froze yang sedang mencatat jadwal Letticia hari ini di sebuah kertas.


"Tunggu sebentar lagi, tuan putri. Saya akan berusaha mencatat secepat mungkin," kata Froze yang menyadari kedatangan Letticia.


"Tidak usah terburu-terburu. Aku akan menunggu," ujar Letticia.


Beberapa menit kemudian, Froze memberikan kertas berisi jadwal pada Letticia.


"Ini jadwal tuan putri. Hari ini saya akan membimbing tuan putri dalam menjalankan jadwal-jadwal ini. Selanjutnya tuan putri bisa lakukan sendiri."


"Jadwalku sangat padat!" seru Letticia kaget melihat jadwalnya yang sangat banyak.


"Di hari-hari selanjutnya tidak akan sebanyak ini. Karena tuan putri baru datang, jadi ada beberapa acara penyambutan dan lain-lain. Ada juga pembaruan nama pemilik aset-aset kerajaan ini," jelas Froze.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Aku bisa mati kalau jadwalnya sebanyak ink setiap hari," kata Letticia lega.


...****************...


__ADS_2