Ice Princess

Ice Princess
Karin Mahes


__ADS_3

Letticia berjalan tanpa tujuan. Dia memperhatikan setiap orang yang lewat dengan seksama, mencoba menemukan wanita dengan tanda lahir di leher.


"Percuma aku mencari satu persatu seperti ini. Setidaknya ada sepuluh juta orang di kerajaan Morton," keluh Letticia.


Merasa pencariannya tidak membuahkan hasil, Letticia memutuskan beristirahat di sebuah toko. Dia memesan seblak dan greentea. Letticia sengaja memesan greentea untuk obat pedas.


"Aku tidak menyangka di sini juga ada seblak," gumam Letticia.


Seblak adalah salah satu makanan favorit Letticia. Dia bahkan belajar cara membuatnya dan berhasil membuat seblak yang persis sama dengan buatan Nalie setelah dua percobaan saja. Sebenarnya Letticia tidak terlalu kuat pedas, tapi baginya seblak adalah salah satu makanan yany mempunyai rasa 'pedas tapi enak'.


"Ini seblak dan greenteanya,"ujar pemilik toko sambil memberikan semangkuk seblak dan segelas greentea dingin yang segar.


"Makasih bi."


Letticia memakan seblaknya dengan tenang. Sesekali dia menyeruput greentea karena tidak tahan dengan pedasnya seblak ini. Seblaknya enak, walau tidak seenak buatan Nalie.


Tiba-tiba, mata Letticia terfokus pada satu titik. Dia memperhatikan leher sang bibi penjual.


"Tanda lahir?"


...****************...


Sekembalinya di kamar, Letticia melepas jaketnya dan menggantungkan jaket itu dengan rapi di gantungan baju. Lalu ia menghempaskan diri ke sofa. Letticia mengambil salah satu kue dan memakannya.


"Tuan putri menemukan petunjuk?" tanya Catherine sambil duduk di sofa di depan Letticia.


"Tidak juga. Tapi aku menemukan seseorang dengan tanda lahir di leher," jawab Letticia. Lalu ia mengalihkan pandangan ke Lana, asisten Letticia, "Cari semua informasi mengenai bibi pemilik toko makanan di jalan Jiang."


"Baik, tuan putri," balas Lana sambil membungkuk, lalu pergi meninggalkan kamar Letticia.


Letticia terus memikirkan penjual tadi. Apa benar bibi yang terlihat baik dan agak gendut itu sudah membunuh bibi Bell dan bibi Ann? Dia sama sekali tidak terlihat seperti itu.


Tapi sesuai teori, orang yang paling tidak mencurigakan justru adalah pelaku yang sebenarnya.


...****************...


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Masuk."


Lana memasuki kamar Letticia, lalu menghampiri Letticia yang duduk di meja kerjanya. Dia sibuk mengerjakan berbagai dokumen yang menumpuk di mejanya saat ini.


"Saya sudah mengumpulkan semua informasi mengenai Karin Mahes seperti yang tuan putri minta," lapor Lana.


Letticia langsung menghentikan pekerjaannya. "Katakan."


Lana membuka dokumen yang dibawanya dan mulai membaca isi dokumen tersebut, "Karin Mahes, ayahnya bernama Cordon Mahes dan ibunya bernama Ran Mahes. Ayah dan ibunya berpisah dan meninggalkan Karin yang saat itu masih berumur 13 tahun. Karin diasuh oleh bibinya yang bernama Jihan Cakra. Lalu dia membuka toko makanan dan bertemu dengan Ian Corna. Mereka menikah dan memiliki anak bernama Yuna Corna."


Mendengar laporan Lana, Letticia merasa Karin sama sekali bukan pelakunya. Tidak ada yang salah dengan latar belakang Karin mau pun kisah hidupnya. Dia hanya seorang anak yang ditinggalkan kedua orangtuanya, diasuh bibinya, lalu menikah dan punya keluarga. Tidak ada yang mencurigakan dengan ini.


"Sepertinya dia bukan pelakunya," gumam Letticia.


"Saya juga tidak menemukan apapun yang mencurigakan, tuan putri," ujar Lana. Dia bahkan sudah mencari sampai ke akar-akarnya dan latar belakang Karin memang biasa saja. Tidak ada yang istimewa.


"Hentikan pencarian padanya," kata Letticia. Dia yakin Karin bukan pelakunya.


"Baik, tuan putri."


Setelah Lana meninggalkan ruangan, Letticia memegang kepalanya. Dia pusing memikirkan kasus ini. Apa dia harus melihat leher setiap wanita satu persatu untuk mencari orangnya? Itu tidak mungkin! Dia akan membutuhkan waktu sangat lama kalau seperti itu. Dan pelakunya juga belum tentu tertangkap.


"Jangan terlalu memaksakan diri," kata Amara. Dia merasa sedikit bersalah karena Letticia jadi serepot ini karena kasusnya.


"Aku tidak memaksakan diri," jawab Letticia," Tapi aku benar-benar ingin menemukan b*jingan ini."


Amara menatap Letticia dalam. Dia tahu, tidak akan ada gunanya menghentikan Letticia saat ini. Letticia tidak akan pernah melepaskan siapapun yang menyakiti orang-orang terdekatnya. Dan pelaku satu ini bahkan sudah membunuh dua bibi Amara. Letticia sudah jelas bahkan tidak akan membiarkan pembunuh ini mati dengan tenang.


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Tampak Aldrian berjalan menghampiri Letticia.


"Ekhm aku pergi dulu," pamit Amara. Dia tidak mau mengganggu. Amara segea keluar dan menutup pintu.


"Awas kau Amara," umpat Letticia dalam hati.


"Kau sedang menyelidiki apa?" tanya Aldrian. Dia tahu Letticia sedang menyelidiki seseorang akhir-akhir ini.


"Bukan urusanmu," jawab Letticia dingin. Dia tidak suka orang yang terlalu mencampuri urusan yang bukan miliknya.

__ADS_1


"Baiklah kalau kau tidak mau memberitahuku. Tapi kalau kau butuh bantuan, aku akan membantumu," pesan Aldrian.


"Iya, iya. Cepat per-"


Cup!


Aldrian mencium pipi Letticia. Lalu ia pergi begitu saja, meninggalkan Letticia yang masih bengong.


"ALDRIAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!"


Amara, para dayang, dan beberapa pelayan segera menghampiri Letticia karena mendengar teriakannya.


"Ada apa, tuan putri?" tanya Sarah khawatir.


"Eh? Ti-tidak ada," jawab Letticia gugup. Suasananya sangat canggung baginya sekarang.


"Kalau tidak ada apa-apa, kami izin pergi," ucap Brianna.


"Pergilah."


Setelah semua orang kecuali Amara pergi, Letticia menutup wajahnya dengan tangan. Dia tak bisa membayangkan apa yang Aldrian lakukan barusan. Padahal sepengetahuan Letticia, Aldrian adalah laki-laki dingin yang bahkan tidak tertarik pada wanita, sehingga beberapa orang memanggilnya gay. Tapi apa ini? Aldrian menciumnya dan langsung pergi begitu saja?


Amara tersenyum geli. Tadi dia diam-diam mengintip melalui celah di pintu. Tak disangka ternyata apa yang dilakukannya tidak sia-sia. Dia mendapatkan momen yang romantis dan sangat penting. Andai ada kamera, Amara pasti sudah mengabadikan momen itu dan dia akan menyimpannya untuk dilihat dan menggoda Letticia setiap hari.


"Dia akan membayar semua ini," kata Letticia. Aldrian menciumnya tanpa meminta persetujuan dari si pemilik pipi. Siapa juga yang tidak marah? Walau sebenarnya gadis lain akan bersyukur dan malah minta dicium lagi kalau ini terjadi pada mereka.


"Hoho sepertinya kau mengalami sesuatu yang hebat kawan," tawa Amara.


Letticia menatap tajam, "Kau mengintip?"


"Eh i-itu..."


Letticia menghela napas. Mau ditaruh di mana mukanya sekarang?


"Hey bersyukur saja. Aku akan meminta Aldrian menciumku setiap hari kalau aku bisa," hibur Amara. Walau kata-katanya sama sekali tidak menghibur Letticia dan malah membuatnya tambah kesal.


"Huh dia menciumku begitu saja. Tentu aku marah," kata Letticia. Tapi di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Letticia merasakan perasaan yang sangat nyaman saat Aldrian menciumnya tadi.

__ADS_1


"Jangan marah. Mungkin dia menyukaimu."


...****************...


__ADS_2