Ice Princess

Ice Princess
Pulau Mirto


__ADS_3

Selesai berpakaian dengan pakaian santai, Letticia berjalan menyusuri lorong istana. Sudah menjadi suatu kebiasaan baginya menjelajahi istana ini. Bahkan dia menemukan beberapa ruangan rahasia yang hanya diketahui beberapa orang. Dia selalu mengatakan bahwa mengenal tempat tinggal itu penting.


Mungkin kalian bertanya kenapa Letticia ada di istana? Yah, dia sering kabur dari sekolah dan terbang ke istana saat kelas selesai. Para guru bahkan sudah membuat pelindung agar Letticia tidak bisa kabur, tapi apa daya, pelindung itu bukan masalah bagi murid sekuat ini yang mungkin bisa melenyapkan seisi sekolah dalam sekejap. Guru pun tidak ada yang berani benar-benar menghukumnya. Ada beberapa guru yang menghukum Letticia, itupun hanya hukuman kecil.


Hari ini, Letticia berniat mencari Peta Misteri. Konon, raja dan ratu Morton ke 5 membuat sebuah peta yang menunjukkan jalan menuju sebuah pulau yang dinamai Pulau Mirto. Tapi tidak ada yang berhasil menemukannya selama berabad-abad, jadi orang-orang mulai mengira itu hanya dongeng belaka.


Tapi Letticia tetap bertekad mencari peta itu. Dia yakin peta itu ada. Insting Letticia bisa mengatakan semuanya, dan dia yakin pada intsting itu. Instingnya hanya pernah salah sekali, yaitu saat Letticia merasa bahwa Josh akan menembak Amara. Nyatanya pria itu malah menyukai Letticia. Tentu Letticia langsung menolak. Dia sudah lama jijik pada Josh yang suka menggoda perempuan.


Klik!


Pintu terbuka. Letticia tersenyum puas dan memasukkan kunci kembali ke sakunya. Dia memasuki ruangan yang baru ia buka dan menguncinya dari dalam.


Ruangan ini kosong melompong. Tidak ada apa-apa sama sekali. Tapi Letticia tetap menjelajahinya. Dia yakin ada sesuatu. Mana mungkin sebuah ruangan dibuat lalu dikunci tanpa kegunaan dan isi.


"Ketemu!" soraknya dengan suara kecil. Letticia mendorong dinding di depannya dengan agak kuat. Ternyata ini memang bukan sekadar dinding. Begitu Letticia mendorongnya, sepotong dinding terdorong ke dalam dan sepertinya di dalam ada semacam sistem. Setelah beberapa saat, sedikit bagian dinding seperti turun masuk ke tanah dan membuka ruangan lain yang gelap gulita.


Letticia berjongkok dan memasuki lubang tersebut. Di dalam memang sangat gelap dan tidak ada cahaya kecuali dari lubang tempat ia masuk barusan. Letticia menggunakan sihir cahaya. Kini ruangan itu jadi terang.


Ternyata, ruangan itu adalah tempat disembunyikannya berbagai harta kerajaan Morton. Tapi sepertinya ini belum harta yang paling berharga. Mungkin harga yang lebih berharga ada di ruangan lain.


Letticia berjalan ke harta-harta tersebut dan melihat serta mengamatinya satu persatu. Kebanyakan adalah emas dan barang peninggalan lainnya. Tidak terlalu menarik. Bahkan peta yang Letticia cari juga tidak ketemu.


"Sepertinya aku akan mencarinya lain hari sambil berkeliling lagi. Seperti biasa, barang akan ketemu saat tidak dicari. Mungkin aku akan beruntung di pencarian berikutnya," gumam Letticia.


Letticia keluar dari ruangan tersebut melalui lubang yang sama. Ia menutup lubang itu dan membuka pintu lalu keluar dari ruangan, tidak lupa menguncinya kembali.


...****************...


"Ke mana kau akan membawaku?" tanya Amara kesal. Sekembalinya di kamar dan ketika Amara baru saja akan beristirahat di kasur kesayangannya, Letticia langsung menarik Amara entah ke mana.


"Ikuti saja aku. Kau tidak akan dihukum," Letticia mencoba meyakinkan sahabatnya yang rewel ini. Amara hanya mendengus kesal.


Di luar, Letticia segera menerbangkan mereka berdua. Amara berteriak kencang, membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka. Para guru juga menyaksikan hal itu, tapi diam saja. Mereka bisa menghukum Amara nanti. Itupun tidak terlalu berat walau kemungkinan, hukumannya sedikit lebih berat dari Letticia.


"LETTI! KE MANA KAU MEMBAWAKU?!" jerit Amara. Letticia yang mulai merasa kesal dengan Amara yang berteriak sedari tadi, segera menyegel mulutnya agar tidak bisa bicara. Amara hanya bisa pasrah dan menurut ke manapun Letticia membawanya.


Letticia membawa Amara ke balkon kamarnya di istana. Para penjaga tidak bereaksi dan membiarkan hal itu begitu melihat bahwa yang masuk adalah Letticia. Toh, Letticia sudah ke sini hampir setiap hari.


Pertama kali Letticia datang ke sini, seisi istana heboh dan mengira ada penyusup. Letticia diserang bertubi-tubi. Tapi tentu ia baik-baik saja dan membuat semua orang tidak bisa bergerak lalu menjelaskan bahwa itu adalah dirinya. Sejak saat itu, Letticia jadi sering berkunjung ke istana.


Sesampainya di dalam kamar, Letticia membuka segel mulut Amara. Amara mulai mengomeli Letticia tanpa henti seperti ibu-ibu. Letticia hanya mendengarkan dan membawa Amara ke ruangan yang ia temukan kemarin.


"Di mana kau menaruh kalung yang kakekmu berikan padamu?" tanya Letticia tiba-tiba.


"Di laci kamar," jawab Amara.


Letticia mengangguk, lalu segera membuka portal. Dia menyuruh Amara mengambil kalung itu. Amara hanya menurut. Dia masuk dan kembali dengan sebuah kalung yang bentuknya serupa dengan kalung yang didapat Letticia. Bedanya, yang ini berwarna putih.


"Bagus. Kita bisa mencari pulau itu sekarang," kata Letticia.


"Pulau apa?" tanya Amara.


Letticia tidak menjawab. Dia segera duduk bersila dengan kedua kalung di tangannya. Lalu Letticia melakukan semacam ritual yang tidak bisa dimengerti Amara, jadi Amara hanya duduk memperhatikan. Dia mengambil tempat agak jauh dan memasang sedikit pelindung, untuk berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu.


Tak lama, tiba-tiba kedua kalung tersebut memancarkan cahaya hitam dan putih. Aura keduanya tampak berlawanan. Kedua cahaya bersatu dan muncullah sebuah portal.


Belum sempat Amara bertanya, Letticia sudah memasuki portal. Amara tidak berani masuk. Dia memutuskan menunggu Letticia kembali.


Beberapa saat kemudian, Letticia kembali dengan wajah senang dan sebuah peta di tangannya. Akhirnya dia menemukan apa yang dicari orang-orang selama berabad-abad. Siapa juga yang tidak senang?


"Apa isi kertas itu?" tanya Amara penasaran.


"Ini peta," jawab Letticia.


Letticia membuka portal. Kali ini ke dimensi khusus miliknya. Isi peta ini sangat rahasia, dan kemungkinan tidak ada yang mengetahuinya selain pembuat peta itu sendiri. Jadi Letticia harus benar-benar memastikan tidak ada yang mengintip ketika peta itu dibuka.


Mereka berdua duduk di bawah pohon. Lettica segera membuka peta tersebut dan menunjukkannya pada Amara. Amara sangat terkejut melihat nama peta dan tempat dengan tanda silang di peta tersebut.


"Wow ini Peta Misteri!" seru Amara antusias, "Aku dengar semua orang sudah berusaha mencarinya selama berabad-abad, tapi tidak ada yang berhasil."


"Ya. Dan peta ini menunjukkan jalan menuju Pulau Mirto," Letticia menunjuk tempat dengan tanda silang.


"Jangan bilang kau akan membawaku mencari pulau itu," Amara menaikkan sebelah alis. Dia sudah mengenal Letticia cukup lama dan tahu orang seperti apa Letticia.


"Hehe," Letticia hanya bisa garuk-garuk kepala. Niatnya tertebak. Tapi itu bukan masalah. Toh, cepat atau lambat Amara juga akan tahu.


Tanpa diduga, Amara menggenggam tangan Letticia, "Aku ikut!"


Letticia melongo. Sahabatnya ini tidak suka berpetualang dan sangat penakut. Letticia tidak bisa memastikan bahaya apa yang bisa ada di perjalanan nanti.


"Kau yakin?" tanya Letticia mengonfirmasi.


"Ya," jawab Amara tanpa ragu.


Letticia memegang kedua pundak Amara, "Kau tidak kerasukan atau semacamnya, kan?"


"Hey aku tidak apa-apa. Aku memang mau ikut," Amara melepas pegangan Letticia pada pundaknya.


"Oke. Aku akan menentukan waktunya nanti," kata Letticia.

__ADS_1


...****************...


Siang ini, Letticia dan Amara akan pergi mencari Pulau Mirto. Letticia bilang siang ini adalah waktu yang cukup bagus karena tidak ada kelas dan mereka juga tidak ada kegiatan lain.


Letticia sudah meneliti peta itu semalaman. Kini dia sedikit memahami isi peta itu, walau ada beberapa bagian yang belum ia pahami. Karena peta ini memang cukup ribet dan misterius. Bahkan ada beberapa tulisan yang kemungkinan adalah kode rahasia atau mungkin petunjuk yang ditulis dalam bahasa lain. Sehingga pagi ini Letticia terpaksa pergi ke perpustakaan istana dan meneliti berbagai bahasa serta kode. Akhirnya dia berhasil memecahkan beberapa kode, walau sangat sulit.


"Akhh bagaimana sebuah peta bisa dibuat seperti ini," gerutu Letticia. Peta itu jelas-jelas dibuat oleh seseorang yang sangat pintar dan menyukai teka-teki.


"Pelan-pelan. Tidak perlu buru-buru," kata Amara sambil menggigit cookiesnya.


Beberapa menit kemudian.


"Sepertinya cukup. Sisa petunjuknya kita cari di perjalanan," Letticia segera menggulung peta itu.


Letticia memasukkan peta tersebut ke dalam ruang penyimpanan. Lalu dia keluar dari dimensi miliknya untuk mengambil beberapa bahan. Bunga salju berusia 200 tahun lebih, ilalang hitam, dan bahan lain yang sudah dia siapkan sebelumnya. Setelah mengambil semua itu, Letticia kembali ke dimensi tempat Amara menunggu sambil makan cookies pemberian Maria tadi. Maria memasak terlalu banyak, jadi ia memberikan beberapa ke kamar 17.


Semua barang diletakkan di rumput, kecuali bunga salju dan ilalang hitam. Letticia menaruh kedua bahan paling penting itu ke dalam sebuah pot emas campur es khusus dia buat selama 7 hari 7 malam, tapi belum pernah digunakan.


"Jangan ganggu, atau ini akan gagal," Letticia memperingatkan Amara. Amara hanya mengangguk sambil menelan cookies terakhir.


Letticia memejamkan mata. Dia mentransfer energi spiritual yang cukup banyak pada benda-benda di hadapannya. Energi spiritual di dimensi ini sangat kuat yang menjadi salah satu alasan Letticia melakukan ritualnya di sini.


Tak lama, cahaya keemasan bercampur cahaya putih dari bunga salju dan cahaya hitam dari ilalang hitam muncul dan terbang ke udara. Mereka seperti bercampur dan membentuk sesuatu. Dan sesuatu itu adalah sebuah portal.


Letticia membuka mata. Dia berlari dan menarik Amara tanpa berkata apa-apa, lalu segera memasukkan mereka berdua ke dalam portal.


"Portal tidak bertahan terlalu lama," kata Letticia saat Amara menatapnya dengan raut wajah minta penjelasan.


"Oh," jawab Amara pendek.


Mereka mulai berjalan berkeliling. Tanahnya sangat tandus dan ada kebakaran serta ledakan di mana-mana.


"Hey, tenang sedikit. Ini hanya ilusi," kata Letticia. Dari tadi Amara memegang tangannya dan akan memeluk Letticia lebih erat saat terdengar ledakan di mana-mana. Sepertinya sekarang Letticia merasa sedikit menyesal membawa Amara yang penakut.


Setelah berjalan beberapa lama, Amara berhenti. Matanya mengeluarkan air mata bening yang jatuh ke tanah. Amara melihat sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dia lihat seumur hidup.


"Bibi Mei! Bibi Ann!" seru Amara. Dia melihat dengan jelas kedua bibi yang meninggal karenanya, sedang duduk santai sambil minum teh di sebuah taman. Entah kenapa ada taman indah di tengah tempat ini.


"Sini, Amara," panggil bibi Mei tersenyum ramah. Persis seperti ketika ia memanggil Amara kecil.


Amara hendak berlari ke arah mereka berdua. Namun Letticia menahannya. Amara memberontak, tapi Letticia menahan tangannya dengan kuat.


"Itu ilusi! Jangan tertipu!" Letticia memperingatkan Amara.


"Itu bibi! Apa kau buta?!" balas Amara. Dia hampir tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat melihat kedua bibinya berada tepat di hadapannya. Amara ingin bertemu mereka dan mengatakan banyak hal. Meminta maaf atas apa yang mereka alami. Bertemu seperti dulu!


Letticia memukul pelan bagian belakang leher Amara. Amara langsung jatuh terkulai, Letticia menangkapnya. Lalu ia membawa Amara pergi dari tempat itu.


Selang beberapa saat, sebuah suara memanggil Letticia. Letticia menoleh ke sumber suara. Dia tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat.


"Ayah? Ibu?" Letticia hampir tidak bisa berkata-kata.


Kini di hadapan Letticia, raja dan ratu Morton menyapanya dan mengajaknya berkumpul bersama mereka. Dua orang yang baru pertama kali Letticia lihat dan temui secara langsung setelah perang terjadi. Saat perang, dia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada mereka.


"Kemarilah, Letticia sayang. Kita berkumpul dan jadi keluarga bahagia seperti dulu lagi," kata sang ratu dengan senyum hangat.


"Ayah sangat merindukanmu, putriku," kata sang raja.


Letticia menunduk. Dia memang ingin bertemu kedua orangtuanya. Tapi....


Blar!


"Kalian bukan orangtuaku," kata Letticia dingin, "Mereka tidak ada di sana. Jiwa mereka ada di tempat lain dan tubuh mereka terbaring di tanah. Tapi mereka akan ada di hatiku selamanya."


Berkata demikian, Letticia pergi meninggalkan tempat kedua orangtuanya tadi berada yang kini sudah ia ledakkan menjadi abu. Sepertinya ujian mental ini memang cukup sulit.


Tak lama, muncul sebuah portal. Letticia dengan Amara di gendongannya segera memasuki portal itu tanpa banyak pikir. Sepertinya portal ini memang portal yang benar, karena di peta sendiri tertulis cara keluar dari dimensi ujian mental setelah lulus ujian tersebut.


Dimensi kali ini berupa kota biasa tempat orang berlalu lalang. Letticia membangunkan Amara. Amara yang mulai bangun segera berdiri perlahan.


Tiba-tiba, ingatan mereka berdua hilang begitu saja. Kini yang mereka tahu adalah bahwa mereka hanya jalan-jalan di sini. Mereka benar-benar lupa tentang ujian dan lain-lain. Lebih tepatnya, ingatan mereka menghilang.


Seorang pengemis menghampiri Letticia dan Amara. Pengemis itu pincang dan seperti sudah tidak makan berhari-hari.


"Nak, berbaik hatilah memberi kakek tua ini sedikit uang," pinta pengemis itu dengan nada memelas.


Letticia merogoh sakunya. Dia memberi 50 Mir pada kakek itu. Kakek itu terlihat sangat senang ketika menerima uang dari Letticia.


Mir : Mata uang kerajaan Morton.


"Kau sangat baik. Pergi dan lanjutkan perjalananmu," kata kakek itu sambil tersenyum. Kakek tersebut merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kantung, "Ini hadiah untukmu."


Setelah menerima kantung tersebut dan mengucapkan terima kasih, ingatan Letticia dan Amara kembali. Tubuh mereka terbang dengan sendirinya menuju sebuah portal.


Di dimensi kali ini, mereka berada di sebuah pantai. Sebuah pulau terlihat di kejauhan. Itu adalah Pulau Mirto.


Saat Letticia hendak membawa Amara pergi ke pulau itu, tiba-tiba tanah berguncang hebat. Sesuatu muncul dari langit. Seekor naga hitam yag sangat besar dengan mata hijau yang menatap tajam. Giginya runcing dan mengerikan. Cakarnya sangat tajam dan mungkin bisa membelah batu dalam sekali tebas.


"Sepertinya ini ujian terakhir," kata Letticia, "Kau pergi ke tempat aman. Aku akan menghadapi monster ini."

__ADS_1


Amara hanya bisa mengangguk dan berlari pergi. Dia khawatir dengan Letticia, tapi kalau dia tetap di sana hanya akan menjadi beban.


Letticia menatap monster itu. Sepertinya ada legenda tentang ini. Naga ini adalah Naga Hitam yang bertugas sebagai ujian terakhir menuju Pulau Mirto. Ujian kekuatan.


Naga Hitam menyerang Letticia dengan cakarnya. Untung reflek Letticia lebih cepat dari cakar naga itu. Cakar Naga Hitam mengandung racun yang sangat kuat. Walau efeknya akan mengecil pada Letticia, tapi tetap saja berbahaya.


"Kau main serang tiba-tiba rupanya," ujar Letticia jengkel.


Letticia segera mengeluarkan pedang yang berhasil menyayat sedikit kulit tebal Naga Hitam, yang membuat Naga Hitam marah dan meraung keras sambil berusaha menyerang Letticia. Letticia hanya menghindar dan berusaha mencari celah untuk menyerang balik.


"Hebat juga. Tapi kau tetap manusia dan semua manusia itu lemah," kata Naga Hitam sombong.


"Hmph lihat saja nanti," balas Letticia kesal.


Karena kesal dan mulai marah, Letticia tanpa sadar sudah gelap mata. Dia mengeluarkan jurus yang sangat kuat tanpa belas kasihan.


Boom!


Bahkan Amara yang bersembunyi di tempat yang agak jauh pun kaget. Ledakan itu sangat besar dan mengguncang daratan tempat mereka berada, sampai tempat yang sangat jauh sekalipun. Pohon-pohon di sekitar arena pertarungan patah dan rata dengan tanah.


Letticia berjalan ke arah Naga Hitam yang sekarang sudah terkulai dan terbatuk. Dia belum mati. Tapi Letticia merasa tidak perlu membunuhnya sekarang.


"Tidak semua manusia itu lemah. Mungkin banyak yang lemah dan bodoh, tapi aku tidak."


Berkata demikian, Letticia pergi meninggalkan Naga Hitam. Dia menjemput Amara.


"Apa tidak berlebihan?" tanya Amara.


"Tidak. Kita harus melewati ujian dengan sebaik-baiknya, bukan?" jawab Letticia.


Mereka berdua terbang ke Pulau Mirto. Memerlukan waktu 10 menit untuk sampai ke sana dengan kecepatan penuh. Pulau ini terletak cukup jauh dari pantai. Amara tidak bisa melihatnya dari jarak sejauh ini, tapi Letticia bisa.


Sesampainya di pulau, terasa aura spiritual dan magis yang sangat kuat. Sepertinya pulau ini cocok sebagai tempat berlatih dan meningkatkan kemampuan.


Letticia dan Amara menjelajahi pulau. Mereka menjelajah dengan jalan kaki, sekalian jalan-jalan. Mungkin bisa menemukan sesuatu yang menarik atau sejenisnya.


"Energi spiritual dan magis di sini sangat kuat. Sayang kalau dilewatkan," batin Letticia. Letticia segera mencari sebuah tempat yang cocok. Setelah menemukanya, ia mulai fokus.


Sementara itu, Amara yang melihat Lettica sedang sangat fokus tidak berniat mengganggunya. Dia lebih memilih menjelajahi pulau ini sendirian, melupakan sebesar apa risikonya dengan kekuatannya saat ini.


Sepanjang perjalanan, banyak benda menarik yang Amara temui. Mulai dari siput bercangkang transparan, padang rumput biru, bunga pelangi, dan lain-lain. Amara mengambil beberapa barang yang menurutnya langka dan berharga. Tentu saja dia mengambil secukupnya agar tidak terkesan tamak. Amara sudah membaca bangak cerita yang menunjukkan orang tamak selalu mendapat nasih buruk. Karena itu Amara selalu takut dan tidak mau melakukannya. Yah, walau terkesan kekanak-kanakkan, setidaknya hal ini berdampak baik bagi kehidupannya.


Setelah berjalan beberapa kilometer, Amara sampai di sebuah danau. Air danau ini sangat jernih dan belum terjamah manusia.


"Ada baiknya aku mandi," gumam Amara. Dia merasa gerah dan cuaca hari ini sangat panas.


Amara meninggalkan pakaiannya luarnya di pinggir danau setelah melihat kanan kiri, memastikan tidak ada orang. Lalu ia masuk perlahan ke danau.


"Nyaman sekali... Apa danau ini juga sudah diberi sihir?" pikir Amara. Dia merasa air danau ini sangat nyaman. Seperti berbeda dari danau lain.


Krasak!


"Siapa itu?!" Amara reflek keluar dari danau dan mengambil pakaiannya.


Tiba-tiba, seseorang keluar dari balik semak-semak. Untungnya, orang itu tidak terlihat seperti orang jahat. Untungnya lagi, dia perempuan.


"Siapa kau?" tanya Amara yang mulai menenangkan diri.


"Aku Arin, satu-satunya penghuni pulau ini. Aku hanya ingin mandi seperti biasa," jawab Arin.


Mereka mandi sambil mengobrol. Ternyata Arin sudah tinggal di pulau ini sejak lama. Dia dibesarkan bibinya yang sudah meninggal. Arin tidak tahu kenapa dia bisa ada di pulau ini. Dia selalu berusaha agar bisa menyeberangi lautan dan tinggal di tempat bersama orang lain.


"Temanku bisa membawamu dalam sekejap," kata Amara.


"Benarkah?" tanya Arin penuh harap.


"Iya. Dia juga bisa membawamu ke dimensi lain," jawab Amara.


Arin tersenyum bahagia. Akhirnya ada secercah harapan untuk keluar dari tempat ini. Sebenarnya Arin tidak punya masalah tinggal di sini. Dia tinggal dengan baik. Tapi hati kecilnya ingin pergi dan tinggal bersama orang-orang. Terlebih, Arin kesepian.


Setelah mandi dan berpakaian, Amara membawa Arin ke tempat Letticia. Kebetulan Letticia sudah selesai dan sedang duduk santai di sebuah batu sambil makan apel yang dia petik dari sebuah pohon.


"Siapa ini?" tanya Letticia kaget melihat ada orang lain di Pulau Mirto.


"Namaku Arin. Aku penghuni pulau ini," jawab Arin.


"Dia sudah tinggal di sini sejak lahir. Apa kau bisa membawanya ke tempat dia bisa tinggal bersama orang-orang?" pinta Amara pada Letticia.


"Tentu. Kau bisa pergi bersama kami. Tapi bisakah tunggu beberapa hari lagi?"


"Iya, aku akan tunggu," jawab Arin.


...****************...


Arin memandu Letticia dan Amara berkeliling Pulau Mirto. Pulau ini cukup luas dan ada banyak hal unik. Mulai dari babi hijau, bunga bangkai berbau harum, dan lain-lain. Bahkan danau tempat Arin dan Amara mandi kemarin bisa diatur panas dan dinginnya sesuai keinginan.


Di kaki gunung, Letticia merasakan sesuatu. Seperti... sebuah energi?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2