Ice Princess

Ice Princess
Obat


__ADS_3

Angel membuka pintu. Di dalam, nampak seorang gadis terbaring kesakitan dengan bintik merah di sekujur tubuh. Angel sebenarnya tidak tega melihat keadaan ini, namun dia harus menjenguk kakaknya sebelum terlambat.


"Kak..."


Olivia menoleh. Dia tersenyum saat melihat adiknya datang menjenguk. Senyuman Olivia membuat Angel senang sekaligus sedih. Dia tahu, kakaknya sangat kesakitan sekarang. Namun Olivia masih bisa tersenyum di hadapan Angel, seolah dia baik-baik saja.


"Kakak makan ya," Angel meletakkan rantang yang dibawanya di atas meja kecil. Olivia mengangguk.


Angel membuka rantang. Nampak bubur putih hangat yang dimasak sendiri oleh Angel. Angel mengambil sesendok bubur, meniupnya agar tidak panas, lalu menyuapkan ke mulut kakaknya.


"Ini enak. Terima kasih," ucap Olivia.


Angel senang melihat kakaknya suka dengan bubur yang ia buat. Rasanya ingin dia merasakan masa-masa seperti ini lagi. Namun ada kemungkinan waktunya tidak cukup. Waktu hingga Olivia dipanggil menghadap Sang Pencipta.


Olivia menggerakkan mulut seolah ingin bicara. Namun ia mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang obat demam merah. Olivia tidak mau membebani adiknya lagi.


Sepertinya Angel mengerti apa yang ingin kakaknya katakan. Angel menggenggam tangan Olivia.


"Temanku bilang akan membuatkan obat demam merah. Dia pasti akan menepati kata-katanya," kata Angel meyakinkan Olivia.


"Tapi bukankah itu hampir mustahil?" tanya Olivia khawatir.


"Aku percaya padanya."


...****************...


"Wow tak kusangka kau benar-benar mendapatkan daun pohon putih," ujar Ashley takjub.


"Bantu aku meramu obat," kata Letticia tak peduli dengan pujian yang terus dilontarkan teman-temannya.


Letticia menyiapkan panci khusus untuk meramu obat demam merah. Panci ini dibuat oleh seorang ahli bernama Han Qing sekitar dua abad yang lalu.


"Aku harap ini berhasil," gumam Letticia. Dia tidak akan bisa menanggung rasa bersalah jika kakak Angel meninggal karena dia gagal membuat obat.

__ADS_1


Letticia berkonsentrasi penuh dalam membuat obat demam merah. Dia memasukkan air danau Jagiya dan mencampurnya dengan lavender hijau yang sudah dijadikan serbuk halus. Kini air jernih itu berubah menjadi berwarna hijau dan mengeluarkan bau yang khas.


Selanjutnya, Letticia menyiapkan sebuah tungku. Tungku ini dibuat oleh Han Qing, ahli yang sama yang membuat panci tadi.


Amara memasukkan anggrek pelangi ke dalam tungku, sementara Letticia menyalakan api dengan sihirnya. Api menyala, dan Ashley menutup tungku.


Setelah 15 menit, Letticia membuka tungku. Ia memasukkan campuran lavender hijau. Lucia membantu mengaduk. Letticia berusaha menjaga api tetap stabil.


10 menit kemudian, anggrek pelangi dan campuran lavender hijau sudah benar-benar bercampur. Letticia mematikan api dan memindahkan campuran dalam tungku ke panci. Lalu dia memasukkan bahan-bahan lain seperti buah pohon Karten, biji buah Taizun, dan bahan lain.


Kini saatnya bahan yang paling penting, yaitu daun pohon putih. Langkah ini tidak boleh salah, atau seluruh proses akan gagal.


Letticia memfokuskan diri. Dia sudah melatih teknik ini berkali-kali demi membuat obat yang sempurna. Campuran di dalam panci keluar dan terbang ke udara. Daun pohon putih terbang dan bercampur dengan campuran itu. Kemudian samar-samar nampak api yang membakar campuran tersebut.


"Sedikit lagi..." batin Letticia yang sudah keringatan. Teknik ini membutuhkan energi yang cukup banyak.


Tak lama, campuran yang sudah berwarna putih itu kembali masuk ke dalam panci. Letticia terengah-engah dan ambruk ke lantai.


"Letticia!" Amara berlari ke arah Letticia, "Kau baik-baik saja?"


Charlotte menutup panci dengan tutup khusus yang sudah Letticia siapkan sebelumnya. Sementara Maria membantu memulihkan kekuatan Letticia, walau sebenarnya Letticia bisa memulihkan dirinya sendiri, tapi itu terlalu beresiko.


Setelah semua berkumpul, Letticia membuat mereka semua berteleportasi tepat ke kamar tempat Olivia dirawat.


Angel yang sedang menyuapi Olivia sangat senang melihat kedatangan Letticia. Dia sangat berharap Letticia membawa obat dan bisa menyelamatkan nyawa kakaknya.


"Letticia! Kau sudah kembali. Apa obatnya berhasil?" tanya Angel penuh harap.


"Tentu saja," jawab Letticia.


"Syukurlah. Terima kasih," ucap Angel senang. Kakaknya bisa selamat.


Olivia memperhatikan Letticia. Dia merasa mengenali wajah itu. Tapi otaknya tidak bisa berpikir sekarang. Tubuhnya sedang kesakitan.

__ADS_1


"Aku akan membantumu, kak," ujar Letticia pada Olivia. Olivia hanya mengangguk lemah.


Letticia membuka ruang penyimpanan dan mengambil panci berisi obat demam merah. Isi panci ini cukup banyak, dan kalau dijual bisa menjadi sekitar 5 sampai 10 botol obat. Dan 1 botol sudah bisa membuat seseorang merasakan kekayaan seumur hidup.


"Siap?" tanya Letticia pada Olivia untuk memastikan.


"Ya."


Letticia menerbangkan cairan obat ke dalam mulut Olivia. Dia memberi secukupnya, karena tidak baik kalau terlalu banyak.


"Ahh!" jerit Olivia. Obat itu mulai bereaksi. Seluruh tubuh Olivia terasa seperti dibakar.


"Apa kakakku baik-baik saja?" tanya Angel khawatir melihat kondisi kakaknya yang terlihat jauh lebih kesakitan dari sebelumnya.


"Itu normal. Sakit itu akan segera hilang," jawab Letticia menenangkan Angel.


Bahkan perawat dan dokter sampai datang mendengar jeritan Olivia. Namun Amara menyuruh mereka untuk tidak melakukan apapun. Dan mereka menurut karena melihat Letticia di sana.


Beberapa menit kemudian, Olivia berhenti menjerit. Lengannya terkulai lemah dan dia jadi tidak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi dengan kakakku?!" seru Angel kaget.


"Obatnya berhasil. Tapi prosesnya sangat menyakitkan dan agak berlebihan untuk tubuh kakakmu walau aku sudah memberi sihir penguatan tubuh. Dia akan segera sadar," jawab Letticia yang membuat Angel tenang.


"Terima kasih banyak. Kalau bukan karenamu, mungkin kakakku tidak akan selamat," ucap Angel tulus, "Aku bersedia melakukan apapun."


"Aku ingin kau membantuku untuk rencana yang aku bicarakan beberapa hari lalu," jawan Letticia.


"Tapi..."


"Tenang, aku akan melindungimu," kata Letticia melihat kekhawatiran di wajah Angel. Wajar kalau dia khawatir, karena misi ini bisa saja merenggut nyawa.


Angel mengangguk. Dia berjalan ke arah kakaknya dan memegang tangan Olivia. Angel sangat bahagia sekarang. Kakaknya tidak lagi merasakan sakit. Semua berkat Letticia. Jika kakaknya sampai tiada, mungkin Angel tak akan sanggup hidup di dunia ini. Dan mungkin pemikiran ibunya akan sama dengannya.

__ADS_1


Ibu Angel sehari-hari sibuk menjaga toko. Semua demi hidup Angel dan Olivia setelah ayah mereka pergi. Angel hanya memberitahu ibunya bahwa Olivia sakit flu biasa. Untungnya ibunya tidak curiga dan percaya dengan kata-kata Angel. Angel tidak memberitahu ibunya bahwa Olivia sakit demam merah karena takut mengkhawatirkan ibunya.


...****************...


__ADS_2