
Letticia berguling di kasur. Dia baru pulang dari istana jam tiga subuh dan harus masuk kelas jam enam sampai jam tiga siang. Tentu tubuhnya terasa seperti akan hancur.
"Ugh kenapa aku tidak minta libur?" umpat Letticia pada diri sendiri. Walau dia tidak suka minta libur tanpa alasan yang jelas, tapi dia sangat lelah dan seharusnya libur saja. Lagipula siapa yang berani menolak kalau Letticia minta libur?
Amara keluar dari kamar mandi. Dia baru selesai mandi dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur karena lelah.
"Pakai bajumu dulu," tegur Letticia melihat Amara masih memakai handuk.
"Iya, iya," balas Amara malas.
Setelah memakai baju, Amara pamit keluar. Dia akan menyusul yang lain ke kantin. Walau lelah, tapi Amara lapar dan haus. Dia juga butuh persediaan cemilan.
Sekarang jam tiga lewat sepuluh. Letticia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hanya kebosanan melandanya sekarang.
"Hm sepertinya aku kabur saja."
Letticia pergi keluar. Dia berdiri di balkon dan terbang ke luar asrama. Lebih tepatnya keluar dari Morton Magic School.
Rakyat kerajaan Morton tampak seperti semut dari jarak pandang Letticia saat ini. Dia terbang tinggi dan sengaja membuat dirinya tidak terlihat karena tidak ingin membuat semua orang menengadahkan kepalanya ke atas.
Kini Letticia sampai di area pertokoan. Sesekali, dia ingin berbelanja seperti gadis pada umumnya. Siapapun dia, Letticia tetap seorang gadis remaja yang mengalami masa puber.
Letticia memasuki toko pakaian. Tidak ada yang berani meremehkan Letticia lagi karena sudah mengenal wajahnya. Semua pegawai langsung kalang kabut mencari pakaian terbaik begitu melihat Letticia masuk. Rata-rata pakaian yang mereka bawa adalah pakaian santai yang kabarnya sangat digemari Letticia. Jadi toko-toko mendesain beberapa pakaian seperti itu.
"Aku beli semuanya," kata Letticia. Dia langsung memasukkan semua pakaian yang ia beli ke ruang penyimpanan.
Setelah membayar, Letticia keluar dari toko pakaian. Dia pergi ke pasar dan membeli berbagai jajanan sesuka hatinya. Ada permen kapas, gulali, sate, corndog, dan makanan lainnya.
Bosan belanja, Letticia berjalan tanpa arah. Dia hanya ingin melihat-lihat dan menjelajah.
Setelah berjalan selama kurang lebih setengah jam, Letticia sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar. Dengan penglihatan supernya, dia bisa melihat apa yang ada di balik tembok pagar rumah itu. Di halaman rumah tersebut, terlihat seorang gadis menyiram tanaman sambil bersenandung riang.
Tapi bukan itu yang menarik perhatian Letticia. Saat gadia itu menyibak rambutnya, terlihat sebuah tanda lahir di leher gadis tersebut.
"Aku harus menyelidiki gadis ini," gumam Letticia.
Letticia mengetuk tembok gerbang rumah tersebut. Suara siraman air berhenti, dan pintu terbuka. Seorang gadis mengamati wajah Letticia, kemudian membungkuk hormat.
"Selamat sore, tuan putri. Ada apa gerangan tuan putri kemari?" tanya Georgia sopan.
"Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal. Apa boleh?"
__ADS_1
"Tentu. Ayo masuk."
Setelah Letticia masuk, Georgia menutup gerbang. Georgia membawa Letticia ke dalam rumah dan mempersilahkannya duduk di sofa ruang tamu.
Georgia pergi ke dapur. Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa sebuah nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring bola-bola cokelat, karena kabarnya Letticia sangat suka cokelat.
Letticia mengambil salah satu cangkir dan menyeruputnya. Dia menghela napas dan memperhatikan Georgia. Gadis itu tampak polos dan terlihat seperti orang baik.
"Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan padamu. Tapi kau harus menjawab dengan jujur," kata Letticia serius.
"Baiklah. Lagipula mana berani aku berbohong pada tuan putri," jawab Georgia tanpa ragu. Toh, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Apa kau pernah pergi ke dimensi lain?"
"Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa ada dimensi lain selain dimensi tempat kita berada sekarang," Georgia langsung menjawab.
Dari ekspresinya, Letticia tahu Georgia sama sekali tidak berbohong. Tapi firasat bahwa Georgia adalah pelakunya tidak bisa ia sembunyikan.
Setelah berada di rumah Georgia dan mengobrol selama beberapa menit, Letticia pamit pulang. Georgia memberinya sekeranjang apel sebagai buah tangan. Letticia menerimanya dengan senang hati.
"Dia tidak terlihat seperti orang jahat," gumam Letticia. Sulit membayangkan gadis seperti Georgia membunuh dua wanita tanpa ampun. Dan itu juga hampir tidak mungkin.
"Mungkin cuma perasaanku saja."
Sesampainya di asrama.
Amara menghentakkan kakinya di lantai beberapa kali sambil melipat tangan di dada. Letticia sama sekali tidak terganggu dan masih membaca novel sambil memakan apel pemberian Georgia seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau kabur lagi?" tanya Amara.
"Ya," jawab Letticia singkat. Dia bahkan tidak mencoba berbohong.
Amara hanya geleng-geleng kepala. Sahabatnya yang satu ini tidak pernah berubah. Lagipula tidak ada yang berani menghukum Letticia di sini, jadi Amara tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ke mana saja kau pergi?" tanya Amara penasaran. Dia menggigit sepotong apel, yang dibalas tatapan maut Letticia.
"Aku belanja, lalu bertamu ke sebuah rumah," jawab Letticia.
"Rumah siapa?"
"Namanya Georgia. Awalnya aku mencurigai dia adalah pembunuh kedua bibimu, tapi rasanya itu tidak mungkin."
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin?"
"Dia terlihat terlalu polos untuk hal seperti itu."
Amara mengerutkan dahi, "Justru orang yang terlihat polos biasanya adalah pelaku yang sebenarnya."
"Itu tidak berlaku untuk semua orang," Letticia menggelengkan kepala.
Sementara itu, di rumah George dan Georgia.
George pergi ke dapur. Dia melihat dua cangkir teh dan piring dengan noda cokelat. George mengerutkan dahi. Nenek Mei pergi belanja bersamanya, dan hanya ada Georgia di rumah. Georgia juga tidak terlalu suka cokelat.
Pintu kamar Georgia terbuka. Tampak George yang menatap adiknya dengan tatapan menyelidik.
"Apa ada yang datang tadi?" tanya George curiga.
"Iya," jawab Georgia singkat dan terkesan tidak peduli sambil membaca novelnya dengan pose telungkup.
George semakin curiga. Dia mendekati Georgia dan berjongkok di depannya, membuat wajah mereka berdekatan. Georgia jadi tidak nyaman. Tapi dia berusaha tetap tenang dan melanjutkan membaca novel, seolah George tidak ada di sana.
"Hey, perhatikan aku," tegur George.
"Apa?" Georgia menaikkan kepala dari novelnya. Kini ia menatap George serius, padahal jantungnya berdebar-debar jauh di dalam sana.
"Siapa tamu yang datang? Apa itu seorang pria?"
Georgia menatap George aneh. Seorang pria? Apa kakaknya protektif atau cemburu?
"Tuan putri yang bertamu ke sini," Georgia menghela napas.
"Tuan putri? Untuk apa tuan putri bertamu ke rumah kita?" tanya George kaget.
"Dia menanyakan apa aku pernah pergi ke dimensi lain. Dan aku jawab tidak pernah."
Mendengar kata-kata Georgia, George langsung membatu. Dia jelas tahu sesuatu. Tapi George memutuskan tidak memberitahu hal ini pada Georgia.
George berdiri dan pergi dari kamr Georgia tanpa mengatakan apapun. Dia ketakutan. Takut Letticia mengetahui apa yang sudah dilakukan adiknya. Walau sebenarnya itu bukan sepenuhnya perbuatan Georgia, tapi tetap saja.
"Apa yang harus aku lakukan?"
...****************...
__ADS_1