
Angin berhembus meniup rambut Letticia yang tergerai indah. Dia melamun di balkon, memikirkan siapa pelaku pembunuhan kedua bibi Amara.
Mungkin ini terdengar berlebihan bagi beberapa orang bahwa Letticia dan Amara terlalu serius mencari pembunuh tersebut. Tapi bayangkan seseorang membunuh dua orang tersayang kalian tanpa alasan yang jelas. Tentu kalian akan sangat marah, apalagi pembunuh itu kabur begitu saja. Terlebih lagi kalian tahu bahwa ini semua salah kalian. Kalian akan menyalahkan diri sendiri seumur hidup.
Sebagai sahabat, tentu Letticia membantu Amara mencari sang pembunuh. Maka dia berusaha mencari petunjuk setiap hari dan sebisa mungkin segera menemukan pembunuh itu.
"Kenapa aku sangat curiga dengan Georgia?" pikir Letticia. Secara teori, seharusnya dia tidak terlalu memikirkan gadis polos itu sebagai tersangka. Apalagi gadis itu sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia bahkan tidak tahu ada dimensi lain.
Amara melihat Letticia dari pintu yang terbuka. Sebenarnya dia merasa bersalah sudah membuat Letticia repot mencari pembunuh kedua bibinya. Dia menyesal tidak cukup kuat untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Kenapa aku selalu jadi beban? Kenapa aku selalu menyeret orang lain ke dalam masalah yang aku buat?" pikir Amara. Bulir air mata jatuh dari mata indahnya. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi. Bahkan malah menyebabkan masalah bagi mereka.
Amara tahu, penyesalan tidak ada gunanya. Tapi penyesalan terus menghantuinya dan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri. Bibi Bell dan bibi Ann sangat baik padanya, dan mereka mati karenanya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Letticia yang langsung merangkul Amara.
"Tidak ada," jawab Amara. Dia menyeka air matanya dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Letticia tidak mudah dibohongi. Dia tahu, Amara pasti memikirkan sesuatu. Tapi Letticia memutuskan untuk diam dan tidak bertanya lagi.
Letticia memotongkan apel dan memberinya pada Amara. Amara memakannya dengan diam. Wajahnya agak merah bekas menangis.
Tiba-tiba, Letticia memeluk Amara.
"Jangan menyesali apapun."
Amara menangis di pelukan Letticia. Dia tahu semua sudah berlalu. Tapi Amara tidak bisa membiarkan pembunuh keji itu berkeliaran.
...****************...
"Apa aku sakit?" tanya Georgia pada diri sendiri. Tapi dia merasa dirinya benar-benar bangun, waras, dan sehat walafiat. Georgia tidak merasa ada apapun yang salah pada dirinya.
Sementara, Letticia sibuk menguntit Georgia. Ya, yang selama ini mengikuti Georgia adalah Letticia. Dia sengaja menggunakan sihir menghilang agar tidak ketahuan menguntit orang.
Kehadiran makhluk tak kasat mata membuat Georgia ketakutan. Dia selalu meminta George menemaninya saat tidur. George akan duduk di pinggir kasur Georgia sampai Georgia tertidur. Dia sering mendengar Georgia mengigau dan itu membuatnya khawatir.
__ADS_1
George sendiri bingung apa yany menyebabkan Georgia ketakutan. Georgia menjawab dia merasa ada yang mengikutinya. Tapi George sudab mengamati Georgia selama beberapa hari dan tidak melihat siapapun.
"Apa yang mengikutinya benar-benar hantu?" pikir George, "Bukankah hantu itu tidak ada?"
Setelah seminggu lebih menguntit Georgia, Letticia menyimpulkan bahwa gadis ini hanya gadis biasa yang menjalankan keseharian biasa. Georgia tidak melakukan hal yang pantas dicurigai dan dia bahkan terlalu polos untuk menjadi pembunuh. Dalam beberapa kejadian, Letticia bisa melihat Georgia yang terkadang bertindak ceroboh, sementara pembunuh kedua bibi Amara bisa dibilang sangat cerdas dalam memilih waktu, tempat, dan momen.
Letticia kembali ke asrama. Dia kesal karena tidak menemukan pelakunya. Amara hanya geleng-geleng kepala melihat Letticia yang selalu mengikuti Georgia sejak sekitar seminggu yang lalu. Amara sudah melihat Georgia dan bahkan hanya dengan satu penglihatan cepat saja dia sudah bisa mengetahui bahwa gadis ini bukan pelakunya.
Otak Letticia mengatakan hal serupa. Tapi hati dan perasaannya punya kata-kata berbeda. Dan Letticia punya insting yang kuat. Perasaannya jarang salah.
"Hahhhh... Apa yang harus aku lakukan," Letticia menghembuskan napas panjang. Dia benar-benar pasrah dengan kasus buntu ini. Tidak ada petunjuk sama sekali.
Letticia juga sudah beberapa kali mengelilingi kerajaan sambil jalan-jalan. Tapi dia tidak menemukan orang lain dengan tanda lahir di leher.
"Tapi aku juga merasa instingmu benar. Mungkin kau harus menyelidiki isi tubuh Georgia dulu. Bisa jadi ada petunjuk seperti cairan hitam atau semacamnya," saran Amara.
"Ide bagus."
__ADS_1
...****************...