Ice Princess

Ice Princess
Memilih Senjata


__ADS_3

Letticia, Amara, Flo, dan Emily mengikuti Miss Charissa ke ruang senjata. Hari ini, mereka akan memilih senjata mereka.


"Wow banyak sekali," ujar Amara kagum begitu Miss Charissa membuka pintu ruang senjata.


"Pilih senjata kalian dengan bijak. Karena senjata adalah salah satu hal penting dalam perkembangan sihir kalian. Pilihlah senjata yang paling cocok dengan kalian," kata Charissa, "Dan ingat, bukan hanya kalian yang akan memilih senjata. Senjata juga akan memilih kalian. Kalau mereka merasa tidak cocok dengan kalian, maka mereka akan menolak."


Letticia dan Amara masuk ke ruang senjata dan berkeliling mencari senjata bersama. Letticia sangat bosan, karena menurutnya tidak akan ada senjata yang cukup bagus untuknya di ruang senjata sekolah ini.


"Sepertinya kau akan cocok dengan tombak atau busur," kata Letticia.


"Aku juga berpikir begitu," Amara melihat-lihat tombak terlebih dahulu.


"Pilihlah senjatamu. Aku akan mencari senjataku," pamit Letticia. Amara hanya mengangguk dan membiarkan Letticia pergi.


Letticia berkeliling sendirian. Dia melihat Flo dan Emily di bagian pedang.


"Sepertinya pedang itu cocok untuk Emily," kata Letticia tiba-tiba yang membuat Flo dan Emily terkejut.


"Kau mengagetkanku," Emily mengelus dada.


Letticia berjalan maju. Dia mengambil sebuah pedang dari rak. Pedang itu tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat tajam. Dan Letticia yakin instingnya yang tajam tak akan pernah mengecewakan.


"Ini," Letticia menyodorkan pedang itu pada Emily, "Kau bisa mengambil pedang ini sebagai salah satu kandidat senjatamu. Kau bisa menggantinya dengan yang lain kalau kau mau."


Emily menerima pedang itu. Benar saja, dia merasa pedang itu cukup cocok dengannya dan berinisiatif mencoba pedang itu langsung.

__ADS_1


Dengan bantuan Letticia, Emily terbang keluar melalui jendela besar. Lalu dia mendarat dengan aman di tanah.


Emily menghentakkan pedang itu ke tanah. Seketika, tanah bergetar. Dia mengarahkan pedang itu ke langit dan mengucapkan mantra yang sudah Letticia ajarkan. Seketika, langit mengeluarkan petir yang menyambar-nyambar. Emily mengangguk puas. Letticia mengembalikannya ke ruang senjata.


"Aku akan mengambil ini. Tapi aku akan melihat senjata lain dulu," ucap Emily senang.


"Baguslah kalau begitu. Aku akan membantu Flo mencari senjatanya," kata Letticia.


Setelah Emily pergi, Letticia menemani Flo mencari senjata. Mereka berdua berkeliling ruangan yang besar itu. Kadang Letticia mengambil sebuah senjata, menimang-nimangnya, dan meletakkan senjata itu kembali.


Akhirnya, Letticia mengambil sebuah busur. Dia mencoba busur itu sebentar.


Syutt!


Busur itu berubah menjadi sebuah pedang. Letticia mengangguk puas dan memberikan busur yang sudah menjadi pedang itu pada Flo.


"Sebaiknya kau menggantinya," kata Charissa yang tiba-tiba datang.


"Kenapa, Miss?" tanya Flo heran.


"Busur yang bisa berubah menjadi pedang yang kau pegang sekarang itu memang bagus. Tapi benda ini memiliki kekurangan. Dia akan menjadi sangat lemah jika kau belum menguasainya. Tapi dia akan sangat kuat saat kau sudah menguasainya. Dan senjata ini sangat sulit dikuasai," jelas Charissa.


"Miss, aku bisa mengajari Flo," kata Letticia.


"Maaf, Letticia. Miss bukan meremehkan kemampuanmu. Tapi Miss yang seorang guru saja agak sulit menguasainya," kata Charissa.

__ADS_1


Letticia tidak marah. Dia tahu, Charissa hanya mengkhawatirkan Flo dan tidak ada maksud meremehkan.


"Tenang saja Miss. Aku bisa membuat Flo menguasainya dalam waktu sebulan," Letticia tersenyum.


"Sa-satu bulan?!" seru Charissa kaget, "Normalnya waktu minimal yang diperlukan untuk menguasai senjata ini adalah satu tahun."


"Aku yakin," kata Letticia dengan percaya diri.


Setelah Flo setuju dengan senjata itu dan senjata itu juga menerima Flo sebagai pemiliknya, Letticia mulai mencari senjatanya sendiri. Charissa menemaninya, karena kebetulan dia memang tidak punya kegiatan lain yang harus dilakukan sekarang.


Di area busur, Letticia menemukan sebuah busur yang dipajang di tempat tersendiri. Busur itu berwarna hitam dan bertaburkan permata-permata kecil yang membuatnya bersinar bagai langit malam.


"Sebaiknya jangan pilih busur itu," kata Charissa saat melihat ketertarikan Letticia dengan busur tersebut.


"Kenapa?"


"Busur ini hanya akan mau dipegang dan digunakan oleh keturunan murni kerajaan Morton," jawab Charissa.


Letticia tersenyum misterius. Dia berjalan mendekati busur itu dan memegangnya dengan santai.


Charissa terkejut. Namun keterkejutannya tak sampai disana saja.


"Apa kau menerimaku sebagai pemilikmu dan kau sebagai senjataku?" tanya Letticia pada busur itu.


"Aku menerima tawaranmu, Letticia Chandealer Morton. Putri dari Aexander Yahdza Morton dan Cordelia Amely Morton."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2