Ice Princess

Ice Princess
Wilcox


__ADS_3

Kemarin, Letticia menerima sebuah surat. Isinya adalah undangan dari Alvaro ke pesta ulang tahunnya.


"Apa aku benar-benar harus pergi?" keluh Letticia. Ini berarti dia harus pergi ke istana lagi, pergi ke negara Alvaro, kembali ke istana, dan kembali ke sekolah. Bolak-balik itu merepotkan.


Perjalanan antar negara adalah yang tersulit. Dia membutuhkan waktu setidaknya 3 bulan perjalanan untuk sampai ke Wilcox, negara Alvaro.


"Kau akan menyukainya," Charlotte meyakinkan Letticia.


"Aku masih berpikir kenapa pangeran ini seolah tergila-gila padaku," ujar Letticia, "Aku bahkan tak tertarik padanya."


"Itu karena cinta," jawab Ashley asal.


"Masih banyak gadis yang lebih cantik," balas Letticia.


Teman-teman Letticia tertawa. Sepertinya Letticia tak sadar secantik apa dirinya. Mungkin Letticia tidak tahu, berapa banyak laki-laki yang selalu menatapnya dan memujinya cantik, dan berapa perempuan yang selalu menatap iri.


"Kau harus lihat cermin, sahabatku," saran Amara.


Letticia menghembuskan napas. Dia tidak ingin mengecewakan Alvaro, tapi dia juga tidak bisa memberi hatinya pada orang yang tidak ia cintai.


...****************...


Pagi-pagi, Froze sudah membangunkan Letticia. Letticia tidak terlalu mengeluh dengan hal ini sekarang. Dia sudah cukup terbiasa, walau masih benci bangun sepagi ini. Biasanya dia masuk sekolah siang, jadi tidak perlu bangun pagi.


Froze segera memandikan Letticia. Lalu Sarah memakaikan pakaiannya dan Letticia didandani oleh orang profesional.


Letticia menguap. Dia akan berangkat ke kerajaan Wilcox siang nanti. Dan ini sangat menyebalkan.


Amara keluar dari kamar mandi sambil membalut rambutnya dengan handuk. Ya, kemarin Amara bersikeras ikut dengan Letticia. Letticia hanya mengiyakan dan mengizinkan Amara ikut. Lagipula itu tidak mengganggunya.


Siangnya.


"Ayo, tuan putri," kata Brianna.


Letticia, Amara, dan keempat dayang Letticia menuruni tangga ke lantai bawah. Mereka keluar dari istana dan berjalan ke luar di mana beberapa kereta kuda sudah menunggu mereka.


"Aldrian?" kata Letticia kaget melihat Aldrian hendak memasuki kereta kuda.


"Aku ikut. Aku tidak bisa membiarkanmu bersama pangeran itu," kata Aldrian malu-malu. Wajahnya memerah. Semua orang di sana tertawa, karena ini pertama kalinya mereka melihat Aldrian malu sampai merah seperti itu.


"Ngomong-ngomong, bisakah kita tidak naik kereta kuda?" tanya Letticia, terkesan tidak terlalu mempedulikan Aldrian, yang membuat Aldrian sedikit kesal.


Semua orang di sana jadi bingung. Kalau tidak naik kereta kuda, jadi naik apa? Mereka tidak mungkin jalan kaki untuk jarak sejauh itu.


Letticia membuka portal. Dia memasuki portal tersebut dan sekarang berada di garasi rumahnya.


Setelah menemukan kunci, Letticia membuka pintu mobil dan masuk. Lalu ia menghidupkan mesin dan menunggu beberapa saat sambil memastikan portalnya cukup lebar dan tidak ada yang menghalangi di sisi lain portal.


Mobil melaju menembus portal dan sampai tepat di depan mata orang-orang. Mereka semua terkejut.


"Kita naik ini. Aku akan membawa dua mobil lagi," kata Letticia.


Letticia mengendarai mobil dan memarkirnya beberapa meter dari pintu portal. Kalau tidak, mobil ini dan mobil selanjutnya akan bertabrakan.


Sebelum membawa mobil kedua, Letticia menulis surat untuk Ansley bahwa dia membawa mobil dan meninggalkannya di garasi. Lalu Letticia mengendarai mobil kedua melalui portal. Tidak lupa memberi jarak beberapa meter dari portal untuk memberi ruang bagi mobil ketiga.


Terakhir, Letticia mengendarai mobil ketiga melewati portal. Tidak lupa membeli dan membawa beberapa puluh jerigen bensin dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan.


"Aku akan mengajari kalian mengemudi," kata Letticia. Walau belum punya SIM, kadang Ansley mengajari Letticia mengemudi. Letticia juga sudah beberapa kali menonton video tutorial mengemudi di internet.


Setelah pelajaran mengemudi singkat, Naomi, salah satu pelayan, mengendarai mobil pertama. Aldrian mengendarai mobil kedua. Keenan, salah satu pengawal, mengendarai mobil ketiga. Walau sebenarnya beberapa tidak setuju kalau seorang pangeran seperti Aldrian mengendarai mobil untuk mereka, tapi Aldrian bersikeras. Menurutnya, seorang laki-laki harus mengendarai mobil untuk perempuan. Itu yang Letticia katakan padanya.


Mereka berangkat. Letticia, Amara, dua pengawal, dan keempat dayangnya berada di mobil pertama. Aldrian dan beberapa pengawal laki-laki berada di mobil kedua. Sisanya berada di mobil ketiga.


...****************...


Setelah menempuh beberapa minggu perjalanan, rombongan Letticia hampir sampai di Wilcox. Berkat memakai mobil, waktu tempuh yang seharusnya beberapa bulan menjadi hanya beberapa minggu saja.


Akhirnya Letticia bisa bernapas lega. Dia benci perjalanan jauh. Bahkan Letticia sudah beberapa kali muntah selama perjalanan. Untungnya, Amara yang sudah memaklumi sahabatnya sejak lama, sudah menyiapkan beberapa plastik untuk menampung muntah Letticia.


Istana sudah terlihat. Letticia memandang ke luar jendela. Kesejahteraan negeri ini tidak buruk. Itu karena ayah Alvaro, raja Varen, mengelola Wilcox dengan baik. Entahlah apa Alvaro akan memimpin dan mengelola Wilcox sebaik ayahnya.


Sesampainya di gerbang istana, mereka langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal. Letticia memasukkan ketiga mobilnya ke dalam ruang penyimpanan agar aman dari pencuri.


Ternyata Alvaro sudah menyiapkan tempat tinggal khusus bagk rombongan Letticia, yaitu di villa kerajaan. Di sana, ada beberapa pangeran dan putri dari negara lain yang juga diundang ke pesta ulang tahun Alvaro. Sementara orangtua mereka, yaitu para raja dan ratu, kebanyakan sibuk mengurus urusan kerajaan. Tapi ada juga beberapa raja dan ratu yang menyempatkan hadir. Lagipula, Alvaro lebih senang kalau yang menghadiri pestanya adalah pangeran dan putri daripada raja dan ratu.


"Hoahmm... Aku tidur dulu," kata Letticia. Sesampainya di kamar tadi, Letticia langsung menghempaskan dirinya ke kasur dan berbaring tanpa peduli apapun lagi. Dia sangat lelah setelah perjalanan panjang.


...****************...

__ADS_1


Sore hari, Letticia mengajak Amara berkeliling villa. Mungkin mereka bisa berkenalan dengan pangeran dan putri dari negara lain. Awalnya Amara tidak mau ikut karena dia bukan dari keluarga kerajaan. Tapi Letticia meyakinkan Amara untuk ikut dan akhirnya dia setuju.


Brak!


"Apa itu?" tanya Letticia.


"Aku tidak tahu," jawab Amara.


Mereka berdua menghampiri sumber suara. Tampak seorang gadis memegangi kakinya. Sepertinya sebuah patung jatuh mengenai kaki gadis tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Letticia sambil berjongkok dan memeriksa kaki gadis itu.


"Ya. Tapi kakiku sakit," jawab gadis itu.


Letticia segera memindai kaki gadis tersebut dan mengobatinya dengan kekuatannya. Selang beberapa detik, gadis itu tak merasakan sakit sama sekali.


"Terima kasih," kata gadis itu senang, "Namaku Everyl Eugene Loana dari kerajaan Loana. Nama kalian?"


"Letticia Chandealer Morton dari kerajaan Morton. Dan ini sahabatku, Amara," Letticia memperkenalkan dirinya dan Amara.


Mereka bertiga segera jadi akrab. Everyl sudah ada di villa ini sejak seminggu yang lalu. Dia membawa Letticia dan Amara berkeliling.


"Kenapa dari tadi aku tidak melihat laki-laki?" tanya Amara heran.


Everyl tertawa, "Ini villa perempuan. Villa laki-laki ada di tempat lain."


"Oh begitu ternyata," Amara garuk kepala karena malu.


"Aku akan mengajarimu dengan baik nanti," kata Letticia.


"Aku sudah pintar," balas Amara.


"Gak ada pintar-pintarnya," ledek Letticia.


"Huh!"


Everyl tertawa kecil melihat pertengkaran kedua teman barunya. Sorot matanya memancarkan kesedihan.


"Apa ada masalah?" tanya Letticia yang menyadari sorot mata Everyl.


"Tidak. Aku hanya teringat sahabatku," jawab Everyl.


"Dia sudah berada di tempat yang indah dan damai," Everyl menitikkan air mata. Ini membuatnya emosional.


"Ah, maafkan aku," ucap Amara merasa bersalah.


"Tidak apa," Everyl menyeka air matanya.


Everyl membawa Letticia dan Amara ke bagian tengah villa. Di sana adalah area kolam renang yang besar. Beberapa gadis tampak berenang di kolam.


"Apa tidak akan ada laki-laki yang mengintip?" tanya Amara, melihat bagian atas kolam yang tidak beratap.


"Tempat ini sudah diberi sihir penghalang laki-laki sejak lama. Penglihatan mereka juga tidak akan menembus tempat ini," jawab Everyl.


Mereka bertiga mengganti pakaian menjadi pakaian renang, lalu langsung terjun ke kolam.


Tiba-tiba, seorang gadis menghampiri Letticia.


"Hai, kau baru datang? Namaku Alice Lunar Loana. Namamu?" kata Alice memperkenalkan diri dengan bersemangat.


"Namaku Letticia Chandealer Morton," jawab Letticia, "Apa kau saudara Everyl?"


Mendengar namanya disebut, Everyl menoleh ke arah Letticia. Dia melihat Alice yang mengobrol dengan Letticia dan menghampiri mereka.


"Kalian saling kenal?" tanya Everyl. Dia merasa suasana mereka berdua barusan sangat akrab.


"Kami baru berkenalan barusan," jawab Letticia.


"Kak, jangan ganggu kami," Alice cemberut. Dia tidak suka kalau ada orang yang mengganggu pembicaraan yang bagus.


"Baik, aku pergi," kata Everyl sambil tertawa. Dia pergi meninggalkan Letticia dan Alice.


Letticia dan Alice lanjut mengobrol. Ternyata Alice adalah anak ketiga dan Everyl anak pertama. Kakak kedua Alice sedang ada di tempat lain.


Kata Alice, kakak keduanya adalah seorang introvert. Dia tidak suka bersosialisasi dan sebisa mungkin menghindari orang lain. Jadi kakaknya itu lebih suka menyendiri. Jauh berbeda dengan Alice yang supel dan sangat mudah berteman. Buktinya dia berani menghampiri Letticia yang adalah orang asing dan langsung mengajak berkenalan tanpa ragu.


Di sudut kolam, seorang gadis berambut hitam legam dengan poni hampir menyentuh mata mengamati Letticia dan Alice. Ya, gadis ini adalah Lunelicia Loana, atau biasa dipanggil Lune. Dia sendiri dan tidak tertarik berkenalan atau mengobrol seperti gadis-gadis lain.


Seorang gadis menghampiri Lune.

__ADS_1


"Hai, kau sendiri?" sapa gadis itu ramah.


Lune tidak peduli. Dia pergi tanpa menjawab satu patah kata pun. Gadis itu tampak bingung karena reaksi Lune yang seolah menghindarinya.


Alice yang melihat kakaknya mengacuhkan orang lagi, segera menghampiri gadis itu.


"Maaf, dia kakakku. Namanya Lune. Dia lebih suka menyendiri," kata Alice.


"Ah, tidak apa-apa. Namaku Fia Ananda Kile. Nama kalian?"


"Alice Lunar Loana."


"Letticia Chandealer Morton."


Mereka bertiga cepat akrab. Sekarang mereka berbicara tentang trend pakaian akhir-akhir ini. Entah kenapa, topik itu berubah menjadi apa Alvaro masih single atau sudah punya pacar.


"Ngomong-ngomong, apa pangeran Alvaro sudah punya pacar?" tanya Alice.


"Tentu. Kakakku adalah pacarnya," jawab Fia. Dia tidak tampak seperti sedang berbohong.


Kata-kata Fia bagai menembus hati Letticia. Rasanya agak sakit dan dia merasakan sedikit rasa... sedih dan tidak rela? Padahal secara teori, hal ini tidak ada hubungan dengannya.


Amara mengguncang tubuh Letticia. Dia khawatir Letticia sudah mati karena bengong seperti itu.


...****************...


Malam hari, Letticia, Amara, Everyl, Alice, dan Fia makan bersama di kamar Letticia. Lebih tepatnya di balkon. Mereka lebih memilih makan di balkon karena pemandangannya indah dan agar bisa menikmati angin malam.


"Huh Lune pasti makan sendiri lagi," umpat Everyl, yang terdengar oleh semua orang.


"Apa Lune benar-benar penyendiri seperti itu?" tanya Fia.


"Ya. Kalau kau menyapanya, dia tidak akan menjawab dan akan bertindak seolah kau tidak di sana," jawab Alice, "Bahkan dia mengabaikan adik imutnya ini."


Selesai makan malam, Everyl, Alice, dan Fia memutuskan menginap di kamar Letticia. Kenapa? Karena mereka mau. Mereka adalah putri, mereka melakukan hal sesuka mereka. Tapi tentu tidak semua hal bisa dilakukan sesuka hati.


"Tuan putri semua, hari sudah larut. Ayo tidur," kata Froze.


"Hoahmm... Itu benar. Aku akan tidur sekarang," balas Everyl yang memang sudah mengantuk sedari tadi. Dia langsung memeluk guling dan tidur.


"Dia yang paling cepat tidur di keluarga kami," tawa Alice.


Letticia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan memakai masker sebelum tidur. Ini sudah jadi kebiasaannya sejak dulu.


"Pastikan tuan putri tidak mengagetkan orang di pagi hari lagi," Sarah mengingatkan. Letticia tertawa. Dulu, dia pernah bangun dan berjalan di pagi hari. Saat Brianna membuka pintu kamar, dia hampir terjungkal karena kaget.


Setelah maskernya selesai, Letticia keluar dari kamar mandi dan berlari ke kasur. Dia melompat dan jatuh tepat di samping Amara yang membuat Amara kaget.


"Ihhh awas kau Letti," Amara mencubit gemas Letticia.


"Haha maafkan aku," tawa Letticia.


"Ayo tidur."


"Iya."


...****************...


Keesokan hari, Letticia dkk memutuskan pergi berkeliling kerajaan Wilcox. Setelah semua siap, mereka pergi menggunakan ketiga mobil Letticia. Mereka hanya membawa sedikit orang karena kalau terlalu banyak, mobilnya tidak akan muat.


"Wow dari mana kau mendapat kendaraan seperti ini?" tanya Alice kagum.


"Haha dulu aku sempat diungsikan ke dimensi lain karena perang. Aku mengambil kendaraan ini dari sana. Ini namanya mobil," jawab Letticia.


"Kapan-kapan ajak kami ke sana ya," pinta Fia dengan nada memelas dan puppy eyesnya.


"Kapan-kapan deh," balas Letticia.


Ketiga mobil melaju keluar dari area villa. Mereka mengendarai tanpa tujuan, karena tujuan utama perjalanan kali ini murni bersenang-senang.


"Mau mendaki gunung?" tantang Amara.


"Bukankah itu berbahaya?" tanya Everyl.


"Ide bagus. Ayo mendaki gunung," kata Letticia setuju dengan ide Amara, "Kalian kan putri. Seharusnya kalian punya kekuatan besar."


"Benar juga. Kalau jatuh pun aku bisa terbang dengan kekuatan angin," kata Fia, "Ya sudah, kita mendaki gunung."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2