
Setelah mengerjakan jadwal yang cukup banyak, Letticia merasa kelelahan. Dia ingin istirahat dan menikmati hidupnya seperti biasa, bukan bekerja seperti ini!
"Apa benar sebanyak ini?" tanya Letticia putus asa.
"Tenang saja, tuan putri. Sekarang kita akan pergi ke pesta minum teh Georgia Galley Fallen, putri Marquis Fallen," kata Froze menenangkan Letticia.
"Tapi aku belum pernah ke pesta minum teh sebelumnya. Apa yang harus kulakukan?" tanya Letticia. Dia khawatir salah bertindak dan akan mempermalukan dirinya dan keluarga kerajaan.
"Tuan putri adalah orang yang cerdas dan lembut. Saya yakin anda bisa melakukannya dengan baik," jawab Froze tanpa ragu.
"Baiklaah kalau begitu."
Letticia diantar ke kediaman Marquis Fallen dengan kereta kuda. Dari jarak beberapa puluh meter, Letticia bisa melihat mansion keluarga Marquis Fallen yang besar dan megah.
Sesampainya di depan gerbang, Letticia turun dengan dibantu oleh pengawal. Froze juga ikut bersamanya.
Para penjaga langsung mempersilahkan Letticia masuk tanpa bertanya lagi. Tadi, Georgia memang sudah memberitahu daftar tamu pesta tehnya dan meminta penjaga untuk langsung membiarkan mereka masuk, khususnya Letticia.
"Di sini, tuan putri!" seru Georgia melambaikan tangannya saat melihat Letticia yang sudah datang.
Letticia balas melambaikan tangannya dan berjalan ke arah Georgia, diikuti dengan Froze. Di sekitar Georgia, sudah ada beberapa putri bangsawan lain yang tampak menunggu Letticia.
"Akhirnya tuan putri sudah datang. Silahkan duduk," kata Georgia senang.
Letticia duduk di kursi kosong, sementara Froze berdiri satu meter di belakangnya. Ini sudah menjadi aturan dan kebiasaan, seorang dayang harus berdiri di dekat orang yang dilayaninya.
__ADS_1
"Karena tuan putri sudah datang, ayo langsung kita mulai saja pesta tehnya," kata Georgia dengan senyum manis.
Mereka menyeruput teh masing-masing dengan anggun dan memakan kue serta makanan manis lain yang tersedia. Tentu saja sambil menggosipkan berbagai hal.
Beberapa menit kemudian, mereka merasa agak kepanasan. Itu disebabkan matahari yang memang sedang bersinar lebih terik dari biasanya.
Letticia yang mengetahui apa yang teman-teman barunya rasakan itu langsung menjentikkan jari.
"Wow apa ini? Aku merasa sejuk," kata Lana.
"Ini pasti sihir tuan putri. Konon, tuan putri memiliki kekuatan es," kata Georgia.
"Apa kalian mau bermain?" tanya Letticia, "Nona Georgia, tolong tunjukkan sebuah ruang besar yang bisa dipakai.
Walau agak bingung, Georgia mengantar mereka ke sebuah aula kosong yang cukup luas. Aula itu digunakan untuk acara-acara khusus dan sudah jarang digunakan.
"Wow!"
Letticia memutar telunjuknya lagi. Seketika, sebuah istana kecil dari es muncul. Dia juga membuat sebuah lampu es yang sangat indah.
"Cantik sekali," kata Georgia berbinar. Dia tak menyangka Letticia mampu mengubah aula berdebu itu menjadi sebuah mahakarya.
Tanpa ragu, para putri bangsawan langsung bermain di arena yang dibuat Letticia. Ada juga seluncuran es dan arena ice skating.
"Aku sudah lama tidak merasakan bisa bermain bebas seperti ini," kata Alison. Sebagai putri bangsawan, tentu saja mereka harus selalu menjaga image sejak kecil.
__ADS_1
"Tenang saja. Aku sudah membuat orang lain tidak bisa masuk ke sini," kata Letticia. Kini dia sedang berlomba ice skating dengan Sally.
Setelah puas bermain, Letticia menghilangkan semua es tanpa bekas. Seolah tak pernah terjadi apapun di sana.
"Ayo kita ke kamarku," ajak Georgia.
Mereka semua pergi ke kamar Georgia. Kamarnya sangat luas, walau tak seluas kamar Letticia. Tentu saja, Letticia adalah seorang putri jadi kamarnya tentu sangat luas dan mewah dibanding kamar siapapun.
Pelayan membawakan mereka susu cokelat panas. Sebenarnya pelayan itu agak heran, kenapa mereka meminta cokelat panas di saat matahari bersinar terik seperti ini.
"Para bangsawan memang aneh," batin pelayan itu lalu pergi meninggalkan kamar Georgia.
Setelah meminum cokelat panas, mereka berbaring dan membaca buku sesuka hati. Letticia juga sudah menyihir pakaian mereka dengan pakaian santai yang biasa ia pakai di bumi. Pakaian ini tentu jauh lebih nyaman ketimbang gaun yang ribet.
Karena hari sudah mulai sore, mereka berniat pulang. Letticia menyihir pakaian mereka kembali menjadi gaun.
"Ini untuk kalian," kata Letticia.
Letticia memberi masing-masing orang sebuah patung es kecil yang sangat cantik.
"Patung ini tidak akan pernah meleleh," kata Letticia.
"Terima kasih, tuan putri," ucap mereka semua senang. Patung es ini tentu adalah patung istimewa yang dibuat dengan kekuatan Letticia, karena tidak akan pernah meleleh.
"Sama-sama."
__ADS_1
...****************...