
BYUR!
SPLASH!
Letticia melompat ke dalam air. Airnya sejuk dan nyaman di hari yang panas. Sepertinya berenang adalah kegiatan yang cocok untuk hari ini.
Sementara itu, Amara hanya duduk di pinggir kolam dan mencelupkan kakinya ke air.
"Gak masuk?" tanya Letticia heran melihat Amara yang seperti takut dengan air.
"Gak," jawab Amara, "Aku punya kenangan buruk tentang itu."
•••••••••
"Ara main sama bibi Bell dulu ya. Mama mau kerja."
"Iya, ma."
Amara berlari riang. Dia menarik bibi Bell ke kolam renang. Air jernih memantulkan wajah cantik Amara yang sedang tersenyum senang.
"Ara mau berenang," pinta Amara sembari menarik rok bibi Bell, seolah dia akan ngambek selama setahun jika keinginannya tidak dipenuhi.
"Iya. Amara ganti baju renang dulu ya," jawab bibi Bell. Bibi Bell mengelus kepala Amara.
__ADS_1
Setelah mengganti baju menjadi baju renang, Amara melompat ke air. Dia menyipratkan air pada bibi Bell. Bibi Bell hanya tertawa melihat kelucuan Amara.
Tiba-tiba, seseorang datang dari belakang dengan cepat. Dia memukul bibi Mei. Kepala bibi Bell mengeluarkan darah yang membuat Amara merinding ketakutan.
Untungnya, orang jahat itu tidak melihat Amara. Mungkin dia terlalu fokus mengawasi bibi Bell. Kesempatan tersebut digunakan Amara untuk bersembunyi di balik semak yang berada di pinggir kolam. Amara pindah ke semak-semak secepat kilat. Sejak dulu, Amara memiliki kekuatan pergerakan secepat cahaya.
Setelah orang jahat itu pergi dengan membawa mayat bibi Bell, Amara keluar. Dia memanjat pagar, karena Amara tidak mau mengambil risiko jika orang itu ternyata masih ada di dalam rumah.
Di luar pagar, Amara berlari ke rumah bibi Ann, tetangga keluarga Chehade. Amara menceritakan semuanya secara detail sambil menangis.
Mendengar cerita Amara, bibi Ann bergegas membawanya ke kantor polisi. Dia melaporkan semua yang Amara ceritakan. Amara juga memberi kesaksiannya.
"Kami akan menyelidiki lebih lanjut," jawab polisi tersebut.
"Bibi, maafkan aku. Ini salahku," Amara menangis di pinggir ranjang rumah sakit bibi Ann.
"Tidak apa. Ini bukan salahmu," jawab bibi Ann, tersenyum dengan bibir pucatnya.
Bibi Ann merogoh saku. Dia mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat dan memberikannya pada Amara.
"Temukan dia dan balaskan dendamku."
Tuuuuuuuuuttt
__ADS_1
"Bibi!"
...****************...
Amara menangis sambil menutup matanya dengan tangan, mengenang bibi Bell dan bibi Ann yang dia anggap meninggal karenanya. Meninggal pun dengan cara tragis.
"Hey, jangan menangis," kata Letticia. Dia naik ke pinggir kolam dan memeluk Amara.
"Aku... Aku merasa bersalah sejak hari itu..." ujar Amara di sela tangisnya.
Sepertinya Letticia mengerti apa yang dimaksud Amara. Amara pernah menceritakan hal ini padanya. Rasa bersalah atas hilangnya dua nyawa hanya karena dirinya.
"Aku pasti akan membantu membalaskan dendammu. Jadi jangan menangis lagi," Letticia mencoba menenangkan Amara.
Amara menyeka air matanya. Dia tidak ingin menangis lagi. Dia harus menemukan pembunuh itu dan membunuhnya! Kalau perlu, Amara akan menyiksanya terlebih dahulu.
"Kau masih simpan kertas itu?" tanya Letticia. Kertas yang diberikan bibi Ann seharusnya adalah petunjuk yang sangat penting.
"Masih," jawab Amara. Amara sendiri hampir lupa dengan kertas itu karena terlalu berduka. Tapi ia masih menyimpannya dengan baik.
"Kita cari pembunuh itu."
...****************...
__ADS_1