Ice Princess

Ice Princess
Surat Bibi Ann


__ADS_3

Amara kembali mengingat bibi Ann. Keluarga Chehade dan bibi Ann sudah bertetangga sejak lama. Bibi Ann juga sangat baik pada Amara. Karena tidak memiliki anak, bibi Ann sudah menganggap Amara anaknya sendiri.


Berita kematian bibi Ann sangat mengguncang Amara. Dia bahkan tidak mau makan dan mengurung diri di kamar. Ketika Amara tumbuh besar, akhirnya dia mengerti bahwa kematian bibi Ann memiliki hubungan dengannya. Dengan arti lain, ini salahnya.


Sampai sekarang, Amara masih menyalahkan diri sendiri. Andai dia tidak minta bantuan bibi Ann, maka mungkin bibi baik hati itu masih akan hidup sampai sekarang.


"Tidak ada gunanya merenungi masa lalu."


Amara berbalik. Nampak Letticia yang berjalan ke arahnya.


Letticia sudah membaca pikiran Amara. Sebenarnya dia kasihan pada Amara dan ingin agar Amara melupakan itu semua. Tapi apa daya, semua itu tergantung pada Amara sendiri.


"Aku masih kecil dan sudah menghilangkan dua nyawa," ucap Amara. Bulir air mata mengalir dan jatuh satu persatu.


Letticia memeluk Amara, "Ini bukan salahmu."


...****************...


Portal terbuka. Dua orang tampak memasuki portal. Kini mereka berdua berada di sebuah kamar. Kamar ini sudah ditinggalkan selama beberapa bulan oleh pemiliknya.

__ADS_1


Amara membuka laci kecil di samping tempat tidur. Ia mengacak-acak laci tersebut, sampai akhirnya membawa sebuah kertas kecil yang dilipat. Amara menutup laci itu dan membuka kertas di tangannya.


"Apa isinya?" tanya Letticia penasaran. Karena kertas ini diberi bibi Ann dan mungkin bisa membantu Amara menemukan sang pelaku, kertas ini pasti berisi petunjuk penting.


Aku melihat plat baju yang kutebak adalah inisial namanya. Namanya berinisial M. Dia perempuan dan memiliki tanda lahir di leher. Aku memiliki rahasia yang aku sembunyikan darimu dan semua orang. Aku adalah salah satu rakyat kerajaan Morton. Dan aku bisa merasakan aura wanita itu. Dia juga rakyat kerajaan Morton.


Amara melipat kertas tersebut. Sekarang pikirannya sedang kacau.


"Kita harus menemukan wanita ini," kata Letticia, "Tenang, aku akan membantumu."


...****************...


Georgia menggeliat di kasur. Dia bosan dan ingin jalan-jalan atau melakukan hal lain. Tapi George belum mengizinkannya berjalan karena kondisi Georgia yang masih belum terbilang sehat.


Georgia memilih melihat ke luar. Tampak beberapa anak perempuan bermain bersama. Georgia ingin ikut bermain dengan mereka setelah dia sembuh.


"Kak, aku lapar," kata Georgia dengan agak berteriak. Karena George tidak bisa mendengarnya kalau tidak teriak.


George membuka pintu kamar Georgia.

__ADS_1


"Mau makan apa?" tanya George.


"Sup daging."


"Oke, kakak akan segera membuatkannya.


George keluar dan menutup pintu kamar. Georgia kembali melamun. Dia jadi ingin kembali merasakan masa lalu dimana dia bisa berlari dan bermain sepuasnya.


Georgia menyentuh rambutnya. Entah sudah berapa lama dia tidak menyisir rambut sendiri. George dan nenek Mei selalu mengurus segala hal untuk Georgia sejak dia sakit, termasuk menyisir rambutnya.


Georgia mengambil sisir dan cermin. Untuk beberapa saat, Georgia mengagumi wajahnya yang cantik. Mata besar, bulu mata lentik, kulit putih, pipi merah merona, bibir merah... Yah, semua penampilan terbaik yang bisa diimpikan seorang gadis.


Ketika menyisir rambut, Georgia menyibak rambutnya karena merasa agak panas. Tiba-tiba sebuah tanda di leher menarik perhatian Georgia. Sepertinya tanda lahir.


"Aku tidak pernah memperhatikan tanda lahir ini," gumam Georgia, "Kak George pernah bilang dia sangat menyukai tanda lahir ini."


Pintu kamar Georgia terbuka. Tampak George membawa sebuah nampan dengan semangkuk sup yang diminta Georgia.


"Makanlah," kata George. Dia meletakkan nampan di meja kecil di samping kasur Georgia. Sebenarnya George ingin menyuapi adiknya, tapi beberapa hari yang lalu Georgia bersikeras agar tidak ada yang menyuapinya. Dia merasa sudah bisa makan sendiri.

__ADS_1


"Iya kak."


...****************...


__ADS_2